7

708 Kata
-- Pernikahan telah terlaksana,tamu yang diundang lumayan banyak yang menghadiri. Tamu ini bukan tamu biasa,melainkan yang di undang itu ialah tamu penting penting semua. Seperti teman perusahaan,CEO,dan beberapa orang terkenal lainnya. "Mataku berat banget sialan" gumam ku terus menerus merutuk didalam hati,make up yang tebal dan lensa semua itu memberatkan sekali. "Kenapa?" Tanya Daniel,ia menyentuh pundakku dan mengusapnya perlahan. Rifia menggeleng perlahan dan menepis tangan Daniel yang berada di bahunya pada saat ini. "Kamu lelah? Istirahat saja. Yang penting acara sudah selesai" timpal Daniel, Rifia mengabaikan perkataan Daniel dan memilih tetap duduk di singgasana pernikahan. --- "Astaga! Matamu merah!" Teriak seorang wanita paruh baya,ia sangat terkejut begitu melihat warna kedua mata Rifia memerah. "Daniel!!" Panggilnya,ia sangat sangat panik, ia pada akhirnya memilih keluar dari kamar dan mencari Daniel. Rifia meraih sebuah cermin mini yang terletak diatas meja dan dengan singgap karena ia juga begitu penasaran untuk  melihat kondisi matanya. "Benar benar memerah" kata Rifia,ia menarik sudut matanya. Kemudian menghebuskan nafas kasar "Sudah kubilang padahal,aku gamau pakai lensa kontak. Gila ga sih,full ac mau pakai softlens,kering lah lensa nya. Buta nanti mataku  dibuat lensa ini" BRAK! Sebuah pintu kamar terbuka dengan sangat kasar,terpampanglah seorang Pria berbahu lebar yang di ikuti oleh Ibundanya dibelakang. "Perlihatkan matamu" pinta Daniel,ia terlihat ngos ngosan karena ia sangat terburu buru menuju ke arah sini. Rifia menggeleng perlahan "Tidak apa apa,jangan khawatir" Rifia beranjak dari kasur. Ia berniat mau ke kamar mandi dan membasuh wajahnya "Tidak apa apa dengkul mu!" Daniel menarik lengan Rifia. Terpampang jelaslah kedua bola mata Rifia yang begitu memerah. Daniel mengangakan mulutnya beberapa saat "Akan ku telponkan dokter kenalanku" Ibu langsung mengangguk setuju. -- "Hei,apa aku datang terlambat?" Seorang pria muda berjalan masuk kekamar dan langsung menaruh tas dokternya di atas meja. "Hei Ratra! Perhatikan waktumu lain kali,kenapa kau selalu telat?" Oceh Daniel,ia menatap sinis ke arah Ratra. Teman nya yang satu ini memang tidak disiplin terhadap waktu "Terserah dong" balas Ratra dibarengi dengan cengiran khasnya. "Kan gratis" imbuhnya lagi. Rifia hanya menatap kedua pria yang tengah berdebat di hadapannya itu,bukannya mempercepat proses pemeriksaan,ini malah memperlambat. "Gratis matamu" Ujar Daniel, ia memelototi temannya itu. Ratra masih mempertahankan cengirannya dan mulai mengeluarkan senter kecil di sakunya. "Jadi,matanya merah semua karena terlalu lama menggunakan lensa kontak?" Tanya Ratra sembari menyentuh wajah Rifia perlahan dan memeriksa kedua bola matanya. Rifia mengangguk perlahan "Apa berbahaya?" Tanya Rifia. Ratra menatap Rifia perlahan dan menampilkan seutas senyum manisnya. "Untung saja bapa Daniel cepat memanggil saya. Sebenarnya,ini hanya masalah kecil. Tapi masalah ini tidak boleh diremehkan juga" jelas Ratra,ia meraih beberapa obat didalam tas dokternya. Rifia melirik Daniel,Daniel pun melirik ke arah Rifia,mereka mencoba mencerna perkataan dokter tersebut,dan pada akhirnya mereka berdua mengangguk paham. "Tapi ada satu hal dan ini berbahaya sekali" tambah Ratra. Daniel mengangkat alisnya,"Apa itu?" "Iya apa?" Tanya Rifia penasaran. "Ketika saya menatap mata anda Airi, saya merasa saya mulai merasakan getaran-getaran cin--- BRUK Sepaket buku berkecepatan seperti cahaya berhasil mendarat ke arah kepala Ratra, dengan tepat sasaran. "Pergi sana,biaya nya ku transfer" kata Daniel,ia mendorong Ratra keluar dari kamarnya. "Eh! Eh! Matanya jangan lupa sering dikasih obat tetes mata dan beberapa salep yang aku kasih tadi ya!" Pekik Ratra. "Berisik! Enyahlah kau sialan!" --- "Eh Tin,aku ada dengar kalau di daerah sini ada yang ngadain pernikahan ya kemarin?" Tanya Zahra,ia mendekati Titin yang sibuk berkutat dengan Telepon genggam nya. "Ngga tau" jawab Titin singkat. "Toh aku ga diundang,buat apa aku tau" tambahnya. Zahra mendecih dan memukul bahu Titin perlahan. "Rifia belum pulang loh bambangg" Kata Zahra,ia sedari tadi masih memikirkan dimana Sahabatnya berada. "Aku tau Ra,aku udah minta bantuan Derren kok buat bantu cari Rifia" jelas Titin. "Terus?" "Bentar lagi juga Rifia pasti ketemu. Kamu tau kan kekuatan uang itu seperti apa" Ujar Titin dengan santai. Zahra menarik nafasnya dalam dalam,ia menggepal tangannya dengan sangat kuat. "Mau kau kubuat masuk rumah sakit?" Ancam Zahra. "G" Balas Titin singkat. "Kita dengar aja dulu kabar dari Derren baru kita cari,aku juga ada pasang Iklan di Instakilogram kalau Rifia hilang. Netizen bakal kasih tau kok kalau ketemu" "Lo udah cek lagi belom komentar dari Instakilogram?"Tanya Zahra lagi "Belom,ini coba aku lihat dulu" kata Titin yang langsung diangguki oleh Zahra. INSTAKILOGRAM (Telah disponsori) (Foto)  ❤️ derrensatuduatiga,yrk.21,titinfarestha and 10.938 others @titinfarestha bantu cariin temen gue dong:") dia ngilang dah ampir 4hari. Namanya Rifia Haebi Grizelda. Buat yang berhasil temuin dm gue,dan mobil gue buat lo dah:) View all 10k comments @donatduaribuan yah kok bisa hilang? Kesian yang nyulik,Rifia kan makan banyak:( @jualkoyocabe loh? Kok? @mukaemakemak Bukannya ini yang kemarin nikah ya? Sama @danielganteng "Loh loh?!!" "NIKAH?!!!" To Be continued! Voment yaa!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN