6

510 Kata
Pemotretan prewedding telah berlalu,rasa penat langsung menyerang kedua tubuh kedua insan tersebut. Pinggang keram,mata berat dan keringat yang membasahi daerah punggung, yang menjadi bukti betapa penatnya mereka hari ini. "Aku mau tidur,jangan ganggu aku" Ujar Daniel tiba-tiba,ia langsung masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamar tersebut "Lah,aku gimana dong? Kamu pikir kamu saja yang mau tidur?" Tanya Rifia ia menahan pintu yang akan ditutup oleh Daniel "Lah? Urusanmu itu" Kata daniel dengan nada ketus,ia terlalu penat sampai sampai ia lupa kalau Daniel sangat membutuhkan jasa Rifia. "Oh,urusanku? Kalau begitu aku juga tidak mau mengurusi urusanmu,pergi sana nikahi mayatmu cih" Ujar Rifia tidak kalah ketus. "Eh!! Iya iya!" Dan pada akhirnya Daniel memilih untuk mengalah daripada ia menanggung akibat yang akan diakibatkan oleh Rifia,karena ia tidak mempersilahkan Rifia untuk tidur dikamar. "Kamu mau tidur juga kan? Kamu dikursi saja" Ujar Rifia sembari berjalan masuk kedalam kamar dan rebahan dikasur. Kasur memang adalah tempat terbaik, saking terbaiknya terasa seperti surga. Jika kalian ingin bertanya seperti apa surga dunia, kalian bisa berbaring saja dikasur. ----- "Tumben sendiri temanmu mana?" Tanya pria berpostur badan tinggi,ia menatap seorang wanita yang sedang berada di hadapannya pria itu Derren. "Entahlah,aku pun lagi cari dia. Dia kemarin izin denganku mau pergi ke suatu tempat tapi ga balik balik sampe sekarang" jelas Titin ia memasang tampang khawatir dan terus menggigit ujung kukunya. "Diculik kah?" Tebak Derren. Titin menggedikkan kedua bahunya,sebagai jawaban. "Titin!!" Pekik dua orang disebrang sambil melambai lambaikan tangan,ia memasang wajah sumringah. "Loh Zahra! Niken! Kapan kalian balik?! Kok ga ngabarin lagi?!" Titin langsung menghampiri Zahra dan Niken yang berada di sebrang. Ia otomatis mengabaikan Derren. "Baru kemarin sih,niatnya mau kasih tau tapi lupa" Kata Niken. "Ga juga sih,Aku sengaja engga mau kasih tau biar suprise" tambah Zahra,ia membenarkan perkataan Niken. "Is,ngapain sih" Ujar Titin sembari memutar bola matanya,ia bete karena sahabatnya itu tidak memberitahunya lebih awal. Kan kalau mereka kasih tau Raeri bisa jemput. "Oh ya,Rifia dimana?" Tanya Niken. "Jual tahu orok kah? Ga ada dia muncul ku tengok,padahal tiap ada Titin pasti ada si babi" Celetuk Zahra,ia menengok nengok ke arah belakang,namun yang ada hanya pacarnya Titin yang masih setia menunggu Titin selesai bercakap cakap dengan temannya diseberang. "Eh bambang,pacar kau masa ko tinggalin disana sendiri?! Kesian anjir dah macam patung liberti pun ku tengok dia berdiri disana" Tambah Zahra dengan logat khasnya. Titin menoleh ke arah belakang, dan Derren hanya melihat ke arah Titin sembari tersenyum manis. Ia memberi kode bahwa ia bisa menunggunya sampai selesai,dan itu tidak masalah sama sekali. --- "Eh? Kalian kenapa tidur sih?" Ujar Seorang wanita paruh baya sayup sayup, masuk kedalam kamar yang tengah di isi oleh Rifia dan Daniel. "Daniel!" Wanita itu menampar p****t Daniel yang sontak membuat Daniel terkejut dan terbangun dari tidurnya. "Apa sih bu? Cape tau" Oceh Daniel,ia mengacak ngacak rambutnya,ia lelah. "Tidak boleh tidur kecuali ibu suruh tidur" Ujar Ibunda Daniel dengan tegas. Daniel memasang wajah memelas,ia lelah lelah dan lelah sekali karena harus menuruti perkataan ibunya terus menerus. "Iya aku tidak tidur,ibu keluarlah. Aku sedang mengumpulkan nyawa" Ujar Daniel sembari menguap. Wanita itu mengangguk paham,dan berjalan keluar dari kamar tersebut dengan wajah berseri seri. Ia bahagia karena anak tunggalnya akan segera menikah. . . To be continued Jangan lupa voment!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN