"Bos, apa yang sebenarnya kita lakukan di sini malam-malam begini? Bukankah kasus ini sudah dilimpahkan ke tim lainnya?"
Dendi bertanya ke arah Lingga malam itu saat mereka tiba di Rumah Sakit Immaculata. Setelah selesai melakukan perayaan atas kasus Bos Kalajengking bersama tim Jatanras, pria itu ditelepon oleh Lingga dan diminta untuk datang ke Rumah Sakit Immaculata tepat jam sepuluh malam.
"Ya, file kasus ini sudah dilimpahkan ke tim lain karena aku ditugaskan untuk menangani kasus Alhine. Namun seseorang mengatakan kepadaku kalau saat ini Siska sedang sendiri karena orang tuanya ayahnya pulang untuk beristirahat di rumahnya. Jadi ini kesempatan kita untuk bertanya kepadanya," kata Lingga.
"Bukannya ayah gadis itu adalah dokter onkologi di sini?" tanya Dendi lagi.
"Mungkin jadwalnya sedang off, jadi dia pulang sebentar. Tanpa penjagaan ayahnya, kita akan punya kesempatan untuk masuk ke tempat gadis itu dan bertanya kepadanya."
"Bos, kau ... selalu agresif untuk hal-hal seperti ini," ucap Dendi sambil menghela napas pasrah.
Dendi sebenarnya beberapa saat sebelum itu sudah sampai ke rumahnya. Namun karena Lingga memanggilnya, mau tidak mau ia terpaksa datang ke sana. Bagaimanapun, pria itu selalu bersikap setia kepada teman sekaligus atasannya sejak sepuluh tahun lalu tersebut.
"Kondisi rumah sakit sudah sedikit sepi," ucap Lingga sambil memandangi area depan rumah sakit tersebut. "Mungkin karena jam besuk hanya dari jam tujuh sampai jam sembilan malam. Ini saat yang tepat bagi kita untuk masuk."
"Dia ada di kamar VIP, kan?"
Lingga mengangguk ke arah Dendi lalu mematikan mesin mobilnya dan membuka pintu mobilnya. "Ayo kita masuk sekarang!"
Lingga kemudian melompat turun dari sisi pengemudi dan langsung diikuti oleh Dendi. Keduanya kemudian berjalan menyusuri area parkir dan menembus masuk melalui pintu depan rumah sakit yang masih sedikit ramai.
Setelah memasuki pintu lift, Lingga segera menekan tombol lantai kedua teratas dari gedung rumah sakit besar dan megah tersebut.
"Rumah sakit ini juga salah satu milik Alhine, wanita gila tadi, kan?" tanya Dendi sambil berbisik ke arah Lingga.
"Setahuku dia memang pemegang saham mayoritas di Yayasan Immaculata. Jadi, seharusnya dia memang bisa disebut sebagai salah satu pemilik rumah sakit ini," jawab Lingga dengan ekspresi wajah yang datar.
"Wah, dia kaya sekali dan sepertinya sangat tertarik kepadamu," ucap Dendi sambil tertawa. "Kalau begini terus, kau bisa melupakan tunanganmu."
"Diam kau!" desis Lingga dengan jengkel.
"Tapi ke mana kalian berdua tadi? Kenapa tidak bergabung dengan kami di tempat makan? Kami tidak bisa menghubungimu sama sekali, Bos."
"Ponselku kehabisan baterai dan wanita itu menolak bergabung dengan rombongan kepolisian karena merasa tidak nyaman. Jadi kami terpaksa makan di tempat makan lainnya. Ada satu maasalah yang tadi terjadi di sana jadi kami terlalu sibuk untuk memberikan kabar kepada ketua tim Jatanras atau kepadamu," jawab Lingga.
"Ada sesuatu yang terjadi? Ini tidak berkaitan dengan romansa panas, kan? Kalian menghilang sama sekali tadi. Apalagi di Hotel Kamboja saat proses penggerebekan pagi tadi, kalian sempat ditemukan pingsan sambil berpelukan." ledek Dendi dengan wajah cengengesan.
"Tutup mulut kotormu! Kami hanya makan seperti dua orang normal dan asing lainnya," desis Lingga sambil melotot. Ia lalu keluar dari lift bersama Dendi dan menyusuri lorong di sebelah kirinya.
"Ngomong-ngomong, ada informasi yang kau dapat darinya?"
Lingga menghela napas dan terlihat gelisah sendiri. "Wanita itu ... benar-benar aneh. Saking anehnya, aku bahkan lupa untuk mempertanyakan beberapa hal penting kepadanya seputar kasus-kasus aneh di sekitarnya dan anaknya."
"Apa yang terjadi?"
"Dia berbicara seputar hal-hal seperti dunia fantasi. Sepertinya dia butuh pertolongan psikolog atau psikiater. Isi kepalanya tidak terlalu waras, tapi...."
"Tapi?" tanya Dendi melanjutkan ucapan Lingga dengan wajah penasaran.
"Aku punya firasat kalau dia tidak seberbahaya yang kuperkirakan sebelumnya. Dia sedikit pemarah, arogan, dan sinting. Namun di luar dari itu dia seperti wanita kesepian, penuh kesedihan dan kemarahan, dan juga sangat ekspresif. Kurasa dia mungkin bukan orang jahat."
"Bos, apa ada hal-hal tertentu yang dia ucapkan kepadamu?" tanya Dendi sekali lagi.
"Dia seperti bersikeras menganggapku suaminya dan bahwa aku mungkin jelmaan reinkernasi dari almarhum suaminya. Siapa namanya ... Zegerux? Ah, sesuatu seperti itu," jawab Lingga dengan raut aneh.
Dendi langsung meledak dalam tawanya dan menatap ke arah Lingga dengan geli. "Harus aku akui, dia sangat cantik. Terlalu cantik, kaya, dan single, tetapi ternyata benar bahwa tidak ada yang sempurna di bumi ini. Bayangkan jika dia tidak sinting, kurasa akan banyak pria yang mengincarnya."
"Aku tidak tertarik ke arah itu," ucap Lingga dengan wajah serius. "Hanya saja aku sedikit kasihan kepadanya entah karena apa. Lagi pula, aku masih meraba-raba tujuannya merekrutku sebagai orang untuk menyelidiki ancaman pembunuhan terhadapnya dan keluarganya."
"Semua orang di kantor kita tahu kalau itu hanya akal-akalan wanita itu untuk menempel kepadamu. Itu terlihat jelas."
"Aku tahu, tapi ... ada satu dua perkataanya yang sebenarnya masuk akal dan memang tidak bisa terjawab dengan normal."
"Jangan-jangan dia yang memberikan bocoran kepadamu soal kondisi di kamar Siska malam ini?" tanya Dendi sebenarnya bercanda, tetapi melihat wajah Lingga yang langsung terdiam dan tak membantah. Dendi langsung melongo di tempatnya. "Yang benar saja?! Kau memanfaatkan pemilik rumah sakit ini untuk bisa memberikan bocoran informasi seputar Siska dan masuk ke sini?"
"Ya."
Dendi kembali tertawa dan menepuk-nepuk pundak Lingga dengan bangga. "Bos, kau memang bisa diandalkan. Ini adalah hal yang bisa menguntungkan kita."
"Wanita itu tadi menelepon petugas rumah sakit dan menyuruh kita masuk setelah ayah Siska keluar dari sini. Satu-satunya yang memberi perintah larangan masuk adalah ayah gadis itu sendiri jadi Alhine tidak bisa ikut campur. Meski begitu, dia memberikan bocoran waktu kapan kita bisa mendatangi kamar Siska dan ternyata malam ini saatnya."
"Wanita bernama Alhine itu tahu apa yang terjadi kepada Siska?"
"Tidak terlalu banyak," ujar Lingga. "Dari pembicaraannya dengan petugas medis yang merawat Siska, terungkap bahwa kondisi tubuh anak itu sedikit kritis. Ia tertolong dengan bantuan donor organ yang sesuai dan pergerakan cepat orang-orang di sekitar ayahnya sendiri. Katanya, ayah gadis itu sedikit pendiam dan tertutup. Ia juga hanya memberikan akses masuk ke dalam kamar Siska bagi beberapa perawat di bawah kendalinya saja."
"Kenapa bisa sampai serumit itu? Dia bahkan melarang kunjungan ke tempat anaknya dari berbagai pihak. Ini sedikit aneh."
"Sebenarnya cukup masuk akal mengingat secara psikologis, ternyata anaknya sedikit depresif dan dulunya sering melakukan percobaan bunuh diri," kata Lingga. "Mungkin ayahnya hanya berusaha melindungi putri satu-satunya itu dari rentetan pertanyaan yang akan membuat gadis itu stres dan memperburuk kondisinya."
"Alhine juga yang mengatakan itu kepadamu? Dia membocorkan rekaman medis dan psikologis gadis itu kepadamu?"
Lingga mengangguk. "Kita polisi dan berhak tahu soal itu."
"Tapi kita belum punya surat perintah dari pengadilan untuk membuka catatan rahasia seperti itu. Wah, wanita itu sangat bermanfaat untuk kita dan dia bersedia melakukan apa pun untukmu.
"Pssst, kita sudah sampai," ucap Lingga sambil memegang gagang pintu kamar VIP 1 dan menoleh ke arah Dendi.
"Ngomong-ngomong, kenapa lorong lantai ini sedikit lebih gelap dari rumah sakit kebanyakan dan sepi sekali," bisik Dendi sambil memeluk tubuhnya sendiri yang mendadak merasa sedikit kedinginan. Bulu kuduknya berdiri. "Kenapa aku seperti merasa memasuki wilayah sangat angker?"
Lingga mengacuhkan ucapan Dendi dan segera membuka pintu kamar rawat inap Siska dengan cepat. Betapa kagetnya pria itu dan Dendi ketika mereka masuk ke kamar Siska yang sangat gelap, gadis itu tengah berdiri dengan posisi tubuh miring dan kepala yang menunduk.
Yang membuat pemandangan di depan mereka menjadi sangat seram adalah ... bola mata gadis itu menatap ke arah mereka dari posisi kepala yang menunduk. Ia melotot tajam ke arah Lingga dan Dendi sampai mempertontonkan urat-urat matanya sendiri.