Suara seperti petir menggelegar mendadak mengagetkan Fori yang sedang mendengar penjelasan Capella seputar Sol. Seorang pria berambut pirang pucat dan sepasang mata yang sangat tajam berwarna kebiruan mendadak terlihat memasuki wilayah ruang tengah bersama Alhine.
Keduanya sama-sama seperti terlibat pembicaraan serius. Saking luar biasanya orang-orang yang baru muncul di sana, Fori merasa bak melihat lukisan yang sedang berjalan.
"Itu yang disebut Panglima Sirius selama ini. Dia Panglima Perang Kiklios pengganti Zegerux. Dia yang tadi disebut sebagai salah satu bintang paling terang di langit manusia selama ini," kata Capella setengah berbisik di telinga Fori.
"Aku sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya," gumam Fori ke arah Capella.
"Ya, dia memang terlihat cukup jelas dan mudah dilihat secara kasat mata bagi manusia. Manusia sering menyebutnya dengan nama lain, yaitu The Greater Dog. Dia memang sering berada cukup dekat dengan bumi."
"Bukan, maksudku, aku pernah bertemu dengannya secara personal sebelumnya," ucap Fori lagi.
Mata Capella terbelalak. "Kau sudah bertemu Sirius?"
"Ya, saat masih kecil, dulu aku menerobos masuk ke rumah ini untuk bertemu Sega. Ada dia dan Xynth di dekat taman labirin dan dia adalah kaum bintang pertama yang menghapus ingatanku."
"Ah, aku ingat sekarang. Mereka bilang kau sudah pernah masuk ke sini sebelumnya dan pernah sampai hampir diterkam Skyloz, kan?"
Fori mengangguk. "Benar. Bagaimana mungkin dia tidak terlihat berubah sama sekali? Perawakannya masih sama persis dengan yang kulihat dulu."
"Sebenarnya ... selain Xynth, kami semua seperti itu hanya kau mungkin tidak sadar saja. Kami tidak mengalami perubahan apa pun setelah memasuki usia dewasa di langit. Kondisi akan berbeda cerita ketika usia kami mencapai milyaran tahun. Kami baru akan mengalami perubahan sampai akhirnya akan terlihat seperti Pak Tua Sol."
Fori melihat Capella bergidik ngeri membayangkan dirinya berubah menjadi seperti Sol. Pria botak itu kemudian pamit dari sisi Fori setelah melihat Vega muncul di sana dan kemudian mendekat ke arah Alhine dan Sirius.
Fori memperhatikan mereka sejenak dari ujung ruangan sebelum akhirnya berjalan keluar dari sana. Ia tidak melihat kehadiran Alpheratz, Xynth, dan dua pengawalnya sejak tadi. Meski begitu, ia mendengar suara-suara tawa mereka dari arah dalam ruangan yang berada di sebelah mereka.
Gadis itu pun berjalan mendekat sedikit ke arah pintu kaca di sebelah koridor lantai satu dan mengintip ke bagian dalam ruangan tempat ia mendengar suara Antares tertawa dan suara-suara orang lainnya di sana.
Begitu menempelkan wajahnya di kaca untuk melihat, ia bisa melihat Xynth dan yang lain-lain sedang duduk mengelilingi seorang gadis berambut pirang pucat bergelombang yang halus dengan kulit pucat. Meski hanya melihat dari bagian punggung saja, namun ia langsung tahu kalau gadis itu seumuran dengan mereka semua yang di dalam.
Xynth terlihat sedang duduk di sofa dengan kaki bersila sambil menghadap ke arah wanita itu dengan wajah ceria. Bahkan Alpheratz yang biasanya menjauh dari Xynth juga ada di sana dan ikut mendengar perbincangan mereka dari sudut ruangan sambil sesekali tertawa.
Fori pun mendadak merasa lebih asing berada di sana. Dengan perlahan gadis itu melangkah mundur dan berjalan menyusuri lorong di sana untuk kembali ke kamarnya. Namun sebelum ia sempat membelok ke arah tangga lantai dua, seseorang mendadak memanggilnya dengan suara yang sangat halus dari arah belakangnya.
"Kau yang bernama Fori?"
Fori menoleh dan menatap lurus ke arah seorang gadis luar biasa cantik yang tampak baru saja keluar dari pintu ruangan tadi. Gadis itu melangkah mendekat ke arah Fori dengan langkah yang seolah melayang dengan ringan.
Gadis yang menyapa Fori itu memiliki bentuk dan warna bola mata persis seperti Sirius dan Rigel. Meskipun begitu wajahnya terlihat sangat mungil dengan hidung bangir yang juga sama kecilnya.
Kalau ia pernah menganggap Alhine sebagai wanita tercantik yang pernah dilihatnya di bumi, Fori bisa melihat gadis di depannya saat ini terlihat hampir sama cantiknya. Tubuhnya yang tinggi dan langsing serta gaunnya yang berwarna tosca dan terlihat seperti melambai ditiup angin membuat gadis itu benar-benar terlihat seperti lukisan hidup.
Ucapan Capella benar. Gadis yang jelas bernama Shaula ini sangat feminim. Jauh berbeda dengan Alhine yang terlihat galak dan sedikit judes. Shaula lebih terlihat lembut dan memiliki wajah yang ramah dan seperti murah senyum.
"Aku benar, kan?" ucap Shaula sekali lagi dengan mata yang berbinar cerah ke arah Fori. "Kau manusia yang bernama Fori dan sedang tinggal di rumah ini karena Xynth?"
"Karena Xynth?" Fori mengulang ucapan Shaula dengan bertanya bingung.
"Ah tidak. Lupakan ucapanku," seru Shaula sambil tertawa ringan. "Kau sudah tahu tentang kami semua, kenapa tidak ikut bergabung saja ke dalam? Kami akan segera makan malam bersama sebentar lagi."
"A-aku merasa agak lelah dan tidak terlalu lapar. Kurasa aku akan kembali ke kamarku saja dan beristirahat," jawab Fori berbohong.
Sebenarnya, ia merasa sangat sungkan dan risih berada di antara begitu banyak orang-orang asing yang jelas jauh berbeda dengannya. Ia tahu berada di sana justru akan mengundang sorotan mata ke arahnya dan memilih menghindari itu semua.
"Baiklah kalau begitu," ujar Shaula dengan ramah. "Aku juga hanya keluar sebentar untuk mencari toilet."
"Toilet di lorong lantai satu ini ada di sana, tidak jauh dari posisimu berdiri," tukas Fori berusaha membantu memberi tahu Shaula.
Shaula mengembangkan senyumnya yang indah dan memandangi Fori tanpa bergerak. "Kalau kau belum tahu, namaku Shaula. Aku kakak Rigel dan juga teman masa kecil Xynth dan Antares. Kurasa aku akan bisa berteman baik denganmu. Aku berniat melihat-lihat dunia manusia dan butuh pendampingan darimu."
"Kau akan lama tinggal di bumi?" tanya Fori dengan hati-hati.
"Ya, kurasa begitu. Antares tadi juga mengajakku masuk ke kampus tempat manusia semuanya belajar, termasuk Xynth dan yang lain. Kurasa ini akan sangat menyenangkan bagiku yang seumur hidup hanya selalu berada di Kiklios. Kau manusia pertama yang kukenal, kuharap kita bisa langsung berteman dengan baik."
Shaula mendadak mendekati Fori dan menarik salah satu tangan Fori untuk menjabatnya. Dengan kikuk, Fori kemudian membalas jabatan erat dari tangan Shaula yang memiliki tekstur kulit sangat lembut seperti bayi.
"Jadi, kau manusia perempuan bernama Fori yang berusaha dilindungi oleh Xynth sampai ia terluka oleh serangan quasar saat ini?" bisik Shaula di telinga Fori secara tiba-tiba dengan nada berbeda sampai membuat Fori langsung bergidik entah karena apa.
"Aku akan mengamatimu baik-baik mulai saat ini," lanjut Shaula lagi sambil tersenyum manis, tetapi langsung membuat Fori terkejut. "Kuharap kau tidak terlalu terpengaruh dengan sikap Xynth yang seperti itu. Dia memang terkadang melakukan hal-hal yang mengejutkan, tetapi tidak ada maksud apa pun di balik itu. Kuharap kau sendiri paham dengan ini."