Sosok Pak Tua Sol

1067 Kata
Satu jam setelahnya, kondisi di rumah Xynth mendadak berubah sangat ramai. Lebih dari seratus prajurit dari Kiklios tiba di sana dan sempat mengakibatkan guncangan gempa ketika mereka menapakkan kaki di rumah tersebut. Fori tampak terbengong-bengong melihat orang-orang Kiklios yang ternyata memang rata-rata bertubuh tinggi besar. Namun yang paling membuat Fori tercengang adalah ketika ia melihat Alhine kembali tiba di rumah tersebut bersama dengan Sol. "Ada yang aneh denganku, Nona Muda? Kau terus memandangiku," ucap Sol dengan mata keriputnya yang memancarkan senyuman geli ke arah Fori yang tak berhenti menatapnya. "Ka-kata Capella, kau adalah Sang Matahari," ucap Fori dengan suara nyaris tertelan karena gugup. "Kau bisa memanggilku dengan Sol atau Pak Tua Sol seperti yang lain-lainnya," jawab Sol sambil memilin janggut putih panjangnya. "Ya, dia salah satu yang paling tua di antara kami," timpal Capella setelah membaca isi pikiran Fori. Pria itu sejak tadi berdiri di samping Fori dan memberi keterangan atas siapa-siapa yang hadir di sana. "Pak Tua Sol tidak sepanas yang kau sangka, jadi tenanglah, kau tidak akan meleleh hanya dengan berada di dekatnya." "Dia berpikir seperti itu tentangku?" tanya Sol ke arah Capella sambil tertawa. Ia selalu menoleh lagi ke arah Fori sambil berbisik. "DI langit, aku bukan apa-apa. Kaisar dan putra mahkota adalah dua orang yang memiliki derajat panas tertinggi dan cahaya yang paling terang. Meskipun begitu orang-orang di bumi hanya bisa melihat cahaya Sirius sebagai bintang paling terang saat ini." "A-aku sudah pernah melihat cahaya Ahine dan Xynth," ucap Fori dengan polos. Sol kembali terkekeh. "Ya, itu yang membuatmu sangat spesial bagi kami. Itu juga yang membuatmu berada di sini saat ini." Fori terdiam sesaat. Ia kembali teringat rasa kesalnya kepada Beth dan orang-orang lainnya di rumah itu seputar kecurigaannya terhadap mereka semua. "Aku dan kaisar tadi sempat dengar kalau Betelgeuse sempat seolah terbangun untuk memberikan visual kepadamu. Itu luar biasa, pasti dia menganggapmu istimewa jika ia sampai hanya berbicara kepadamu," kata Sol lagi. "Dia teman baikku tapi menipuku selama ini," ucap Fori kepadanya dengan wajah masam. Sol berdeham. "Aku tidak akan bisa memberi jawaban pasti kepadamu tentang itu tetapi dia punya tanggung jawab yang tinggi yang harus diembannya untuk langit. Melihatmu muncul dengan segala hal yang misterius bagi kami jelas membuatnya terbeban untuk tahu dan kemudian mempelajarimu. Memberi tahu kepadamu mengapa ia melakukannya jelas akan membuatmu akan langsung syok, kan?" "Tetapi tidak memberi tahu juga adalah penipuan dan pengkhianatan," kilah Fori dengan tegas. "Kau benar, aku tidak bisa memperdebatkan itu." kata Sol sambil terkekeh. "Tapi Nona Muda, apakah seumur pertemananmu itu kau tidak pernah berbohong kepada Betelgeuse? Fori terdiam. Ia teringat bahwa ia sebenarnya pernah mengiri kepada Beth yang terlebih dahulu diadopsi oleh orang tua angkat dibanding dirinya yang lebih lama. Fori tidak pernah memberi tahu soal itu kepada Beth selama ini karena merasa malu. "Apa kau seperti Capella yang bisa membaca isi kepala orang lain?" tanya Fori kepada Sol lagi setelah terdiam cukup lama. "Ah, tidak. Itu hanya keistimewaan yang hanya dimiliki oleh Sol dan klannya saja, tapi ... aku sangat mengenal manusia. Tidak ada satu pun manusia yang tidak memiliki sisi gelap. Mereka hanya tidak selalu memilih melihat ke ruangan terang dalam diri mereka saja karena itu membuat manusia merasa nyaman dan lebih baik." "Ada dia memang orang yang baik? Maksudku Beth ... apa di tempat kalian dia juga wanita baik?" tanya Fori dengan wajah muram. "Aku tidak bisa mengatakannya seperti itu karena dia sedikit bengal dan judes. Namun ... meski sering hilang dan kerap berjalan sendiri tanpa kendali, dia termasuk orang yang paling loyal terhadap Kiklios." "Sudah kuduga," gumam Fori sambil menundukkan kepalanya. "Setidaknya aku lega karena itu. Sikapnya sebagai Beth dan Betelgeuse ternyata tidak jauh berbeda." "Pak Tua, kaisar tampaknya sudah selesai berbicara dengan rombongan panglima. Apa kita akan bergabung ke sana?" tanya Capella secara tiba-tiba. "Aku akan menyusul setelah ini. Pertama-tama aku akan membawa para prajurit ini ke tempat lain di mana mereka bisa beristirahat selama di bumi," ucap Sol. "Jumlah mereka cukup banyak. Di mana mereka akan menginap?" tanya Capella lagi. "Salah satu hotel di dekat sini." "Ah, itu sebabnya kau membawa banyak bus pariwisata ke sini?" tanya Capella sedikit menahan tawanya. "Bagaimana pun mereka harus terlihat normal selama mereka berada di bumi," jawab Sol dengan cuek. "Mereka tidak akan pernah terlihat normal," ucap Capella menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat gerombolan prajurit Kiklios merudung dua pengawal Alpheratz di sana sambil tertawa-tawa. "Tidak satu pun dari kita yang pernah terlihat normal, bahkan sampai saat ini. Apalagi mereka yang baru kali ini keluar dari Kiklios." "Kau benar," jawab Sol tanpa terlihat peduli. Ia kemudian melenggang pergi dari hadapan Capella dan Fori dengan santai sambil masih tertawa-tawa sendiri. "Dia ... pria tua yang cukup eksentrik," kata Fori ketika melihat Sol sudah pergi mendekati para prajurit Kiklios yang dengan iseng mengganggu dua pengawal Alpheratz. "Sol? Dia memang aneh dan lebih sering bercanda. Hati-hati kepadanya. Mungkin dia terlihat ramah dan mudah tertawa, tetapi meski tua, dia salah satu kaum bintang yang sangat-sangat jahil dan iseng," kata Capella dengan dahi berkerut. "Dulu aku selalu jadi korban kejahilan Sol. Kakek tua itu benar-benar sedikit gila." "Di mana selama ini ia tinggal?" tanya Fori penasaran. "Dia tidak pernah punya rumah," jawab Capella dengan ekspresi wajah yang serius. "Sama seperti Betelgeuse, dia lebih sering menghilang dan melakukan perjalanan wisata ke mana-mana karena dia suka bersenang-senang. Pria tua itu selama ini menginap di berbagai hotel mewah dan senang berpesta pora seperti manusia. Itu makanya dia sangat dekat dengan ayah Antares" "A-aku tidak menyangka. Dia terlihat sangat bijaksana dan cukup dihormati di sini," kata Fori dengan wajah bingung. "Memang benar, dia dihormati karena dia, ayah Antares, dan ayah Betelgeuse adalah para tetua Kiklios yang berada di sekeliling kaisar. Bahkan kaisar pun mendengarkan mereka. "Sol sedikit berbeda kalau sedang diperlukan," lanjut Capella lagi. "Dia selalu hadir cepat dan sangat serius menangani masalah-masalah di antara kami. Dia juga sangat ketat dan tegas kalau sudah perkara peraturan langit. Hanya saja ... di luar dari itu dia sedikit ... hedon -- keduniawian." Fori manggut-manggut. "Ah, aku mengerti. Ngomong-ngomong di mana anak dan istrinya?" "Sol? Dia tidak pernah menikah, apalagi punya anak." "Apa? Bukankah semua orang di Kiklios memiliki pasangan yang digariskan kepada mereka? Yang aku dengar seperti itu." "Kau benar sekali. Seharusnya begitu, tetapi kasusnya beda dengan Sol. Pasangan yang ditakdirkan menikah dengannya dulu tewas di tangan quasar. Itu makanya di balik sikap ceria Sol, dia sangat-sangat benci quasar. Ada darah permusuhan abadi di antara semua tetua di Kiklios dan para quasar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN