Beth or Betelgeuse?

1519 Kata
"Lima Belas, apa yang kau lakukan di kamar ini?" Rigel yang duduk di atas kursi rodanya berada tepat di depan pintu kamar Betelgeuse bersama Capella dan menatap dengan tajam ke arah Fori yang terjatuh di lantai dengan wajah pucat pasi. Keduanya lalu berjalan mendekati Fori yang masih terlihat sedikit gugup. "Fori, ada apa?" tanya Capella ikut berjongkok di samping gadis itu. "Siapa Beth yang terus menerus kau sebut di dalam kepalamu?" "Di-dia Beth, temanku. Gadis ini Beth!" ucap Fori setengah memekik. "Beth?" ulang Capella dengan bingung. "Kanapa Beth bisa ada di sini? Kenapa dia bisa terluka parah seperti ini? Apa yang sudah kalian lakukan kepadanya?!" "Lima Belas, tenang dulu," ucap Rigel berusaha menenangkan Fori. "Dia adalah orang kami, namanya Betelgeuse. Dia terluka karena serangan quasar." "Be-betelgeuse? Apa maksudmu? Di-dia Beth!" Rigel menoleh ke arah Capella dan langsung menarik napas panjang. "Kurasa ada hal-hal yang bisa kau utarakan kepada kami tentang temanmu Beth ini. Sebagai gantinya kami juga akan menjelaskan kepadamu siapa gadis ini bagi kami dan kenapa dia bisa sampai seperti ini." Fori terdiam sejenak dan menelan ludahnya sambil mengikuti Rigel dan Capella duduk di atas sofa tak jauh dari ranjang Betelgeuse. Ia berusaha menenangkan dirinya sejenak di sana sebelum kemudian memandang ke arah Rigel dan Capella yang masih menatap ke arahnya dan menunggu. "Aku mengenal Beth sejak kecil," kata Fori menjelaskan. "Tidak berapa lama setelah Sega diadopsi di keluarga ini dan mengubah nama menjadi Xynth, dia muncul di panti asuhan kami. Kami berteman dengan sangat baik lalu Beth kemudian diadopsi oleh keluarga lain dan pindah ke Jakarta. "Meskipun begitu, kami masih sering bertemu. Beth masuk ke universitas yang sama denganku, jurusan Psikologi. Kami satu kamar di asrama kampus. Sekitar seminggu lalu dia mendadak menghilang dan bilang akan kembali sebentar ke rumah keluarganya, tetapi dia tidak pernah kembali sejak saat itu." "Kau berteman baik dengannya sejak kecil? Betelgeuse ... maksudku Beth? Dia sudah bersamamu sejak dulu?" tanya Capella dengan mata terbelalak. "Ya," jawab Fori dengan cepat. "Aku tidak curiga saat dia menghilang karena memang Beth selalu seperti itu. Dia sering menghilang begitu saja dan terkadang susah untuk dihubungi. Tapi ... bagaimana dia bisa ada di sini dan dalam kondisi seperti ini?" "Ceritakan dulu kepada kami bagaimana kau bisa sampai ke kamar ini?" tanya Rigel dengaan tatapan curiga. "Aku mengerti sekarang," ucap Rigel tiba-tiba. "Dulu Betelgeuse memang pernah mengatakan kalau ia sedang menyelidiki sesuatu. Kemungkinan karena memergoki Fori dan merasa ada sesuatu pada Fori, ia mulai menyelidiki detail kehidupanmu dari dekat dan menyamar sebagai Beth." "Me-menyamar?" "Lima Belas, orang yang kau panggil dengan nama Beth ini adalah bagian dari kami. Nama aslinya adalah Betelgeuse," ujar Rigel dengan perlahan. "Dia adalah anak satu-satunya dari orang yang sangat penting di Kiklios dan selama ini berada di bumi bersama kami. Pantas saja dia pun sering menghilang dari kami begitu saja." "Ta-tapi ... kenapa dia harus menyamar sebagai Beth, temanku?" tanya Fori lagi dengan wajah mulai terlihat marah. "Jadi kau pernah bilang kalau kau dulu melihat apa yang terjadi kepada Xynth dan Sega, kan?" kata Rigel ke arah Fori lagi. "Itu bukan hal yang wajar bagi kami semua. Manusia seharusnya tidak melihat proses ritual itu karena saat itu semua terjadi, kami membekukan waktu manusia. Seharusnya kau tidak sadar." "Mungkin karena kau mampu bergerak dan melihatnya, Beth menjadi penasaran denganmu," lanjut Capella. "Dia semacam visual bagi kami. Orang bumi menyebut orang seperti Betelgeuse semacam dukun. Dia akan merasa aneh jika ada hal-hal yang tidak ia ketahui dan akan menyelidikinya dengan seksama sampai mendapatkan jawaban yang ia mau." "Bertahun-tahun berpura-pura menjadi sahabatku ternyata ia hanya menipuku karena ingin tahu sesuatu tentangku? Begitu maksud kalian? Jadi, kebaikan yang dia tawarkan selama ini sebagai satu-satunya sahabatku hanyalah hal palsu? Dia seseorang yang sama dengan kalian?" tanya Fori dengan suara bergetar. Tampak jelas wajahnya menyiratkan perasaan terpukul dan sangat tersinggung. "Lima Belas, tenang dulu," timpal Rigel. "Kau mungkin akan terkejut dengan hal-hal seperti ini tetapi Betelgeuse bukan orang jahat. Dia hanya punya banyak beban berat di pundaknya karena memang diwajibkan untuk mengetahui banyak misteri terkait apa pun dan kau ... kau adalah kasus yang cukup unik. Seperti kubilang, ada sesuatu tentangmu yang tidak dimiliki oleh manusia-manusia lain pada umumnya." "Selama belasan tahun bersamaku dia tetap tidak bisa mengetahui ada apa denganku? Itu tidak mungkin, kan?" desis Fori menggeram. "Ada yang sedang kalian sembunyikan dariku, kan? Kalian semua sedang menutupi sesuatu tentangku. Aku sangat yakin tentang itu." "Fori---" "Capella, katakan kepadaku," ucap Fori menyela Capella dengan cepat. "Sebenarnya ada apa dengan semua ini? Beth yang menyamar belasan tahun di dekatku ... mereka semua yang kerap memanggilku dengan sebutan Lima Belas ... aku yang ditempatkan di rumah ini ... Ada apa dengan semua ini? Pasti ada hal besar yang kalian sembunyikan dariku, kan?!" "Itu karena kau bisa melihat kami dan---" "Hentikan berbohong kepadaku!" jerit Fori dengan wajah merah padam dan emosi meluap. "Kalian semua berbohong kepadaku secara terus menerus dan menganggapku mainan? Apa aku terlihat sangat bodoh di depan kalian semua? Jelas ada sesuatu yang sedang kalian sembunyikan dariku selama ini. Ada yang kalian inginkan dariku, kan?" Rigel dan Capella tegang dan membisu di hadapan Fori. Namun sebuah suara cekikikan mendadak muncul dari arah pintu dan ketiganya kemudian menoleh ke arah pintu dan melihat Alpheratz tengah bersandar di pinggiran pintu sambil tertawa. "Manusia Lima Belas, rupanya mereka bahkan tidak sedikit banyak memberitahukan kepadamu kenapa kau bisa ada di sini? Mereka tidak memberi tahu kepadamu kenapa mereka ... maksudku, kami semua memanggilmu hanya dengan sebutan Lima Belas?" "Alpheratz!" desis Rigel dari sela-sela mulutnya yang terkatup. "Apa maksudmu, Alpheratz?" tanya Fori ke arahnya dengan wajah tegang. "Bahkan kau juga tahu ada apa di sini?" "Aku melihatmu berjalan seperti patung dari ruangan bawah tadi," kata Alpheratz lagi. "Aku sudah yakin ada sesuatu yang terjadi di sini karena merasakan aura aneh dari kamar paling ujung ini. Tak kusangka ternyata Betelgeuse sedang memanggilmu. Setelah itu, aku melihat mereka berdua masuk dan sejak tadi terpaksa hanya berdiam di sini dan mendengar semua ucapan kalian." "Tunggu dulu. Betelgeuse memanggil Fori?" tanya Capella dengan bola mata yang membesar. "Ti-tidak mungkin, dia tidak pernah terbangun selama ini." "Lima Belas, apa yang dikatakan oleh Alpheratz benar? Betelgeuse tadi memanggilmu?" tanya Rigel dengan wajah sangat serius dan tegang. Fori yang masih kesal mendengus. "Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadaku tadi. Mendadak aku melihat sinar temaram berwarna merah di ujung koridor saat akan turun untuk makan malam dan entah kenapa ada suara sayup-sayup yang memanggil namaku dari sini." "Suara memanggilmu?" ulang Capella. "Tanpa sadar aku sudah melangkah ke sini dan melihat Beth ... atau Betelgeuse kalian ini sedang terbaring seperti saat ini. Namun dia sempat terbangun sesaat dan menyentuh lenganku untuk berbicara. Katanya, ada yang akan mati dan quasar akan hadir di antara kita. Kupikir itu hanya halusinasi karena setelah itu aku melihatnya kembali dalam kondisi tak sadarkan diri lagi." Capella dan Rigel terdiam sejenak. Keduanya kemudian saling memandang dan Capella segera beranjak dari tempatnya dengan cepat. "Aku akan menyampaikan hal ini kepada kaisar dan Vega," ucap Capella dengan gugup sambil melesat hilang begitu saja. "Aku akan segera menemui Xynth dan Antares," kata Rigel sambil mendorong kursi rodanya dan menghilang dari pintu kamar dengan sama cepatnya dengan Capella. "Sebenarnya ada apa dengan ini semua?" tanya Fori ke arah Alpheratz dengan bingung. "Mereka bahkan belum menjawab pertanyaanku tadi. Alpheratz, kau tahu jawaban atas pertanyaanku tadi? Kenapa sepertinya ada sesuatu tentangku yang disembunyikan keluarga ini dariku?" Alpheratz hanya menatap Fori dengan tajam. "Manusia Lima Belas, tidak akan etis bagiku untuk memberitahukan kepadamu rahasia mereka meski aku mau. Sebaiknya kau bertanya langsung kepada mereka karena kakak iparku akan langsung membunuhku jika aku besar mulut." "Ta-tapi ... tidak satu pun dari mereka mau memberi tahu kepadaku." "Tentu saja karena ini bukan saat yang tepat untuk itu. Rumah ini dalam kondisi yang sangat genting," ucap Alpheratz sambil mendekat ke arah Betelgeuse dengan wajah yang langsung merengut. "Ah, aku benci sekali dengan gadis ini. Tidak di langit ... tidak di bumi ... dukun Kiklios ini memang selalu membuatku merinding. Tidak akan mengagetkan bagiku jika kau juga akan membencinya. Rasa ingin tahunya terlalu tinggi!" "Kau juga mengenal Beth?" tanya Fori kepadanya. "Tentu saja aku tahu Betelgeuse," ucap Alpheratz dengan nada tinggi. "Para tetua di Andromeda sudah mengatur semua pasangan para bangsawan di langit dan gadis ini ... kata mereka dia orang yang ditakdirkan sebagai istriku. Namun para tetua di Kiklios memasangkannya dengan Rigel. Aku sendiri tidak berharap akan menikah dengan gadis ini!" Fori terbelalak dan melihat Alpheratz bergidik ngeri saat mengucapkan kalimat tersebut. "Beth calon istrimu?" "Aku bahkan tidak akan sanggup membayangkannya. Dia wanita yang judes dan mengerikan karena tahu banyak hal!" ucap Alpheratz kepadanya. "Dia memang judes sejak dulu," kata Fori dengan pandangan menerawang. Beberapa saat setelah berpikir sejenak, gadis itu kemudian menoleh ke arah Alphertaz dengan wajah masih marah. "Kalau kupikir-pikir, kau juga memanggilku dengan sebutan Lima Belas. Kenapa kau juga memanggilku dengan sebutan Lima Belas?" Alpheratz tidak lagi mendengar suara Fori yang mencecarnya dengan kesal. Bola mata pria itu mendadak memutih dan ia menatap ke arah atas langit dengan pandangan tajam. "Mereka datang," ucap Alpheratz mendadak. "Gerombolan besar orang-orang dari Kiklios termasuk panglima perang mereka dan putrinya sudah memasuki bumi dan sedang menuju ke rumah ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN