Suara Betelgeuse

1303 Kata
"Xynth, ceritakan kepadaku, apa yang terjadi kepadamu saat kau memasuki tubuh Lima Belas?" tanya Antares sambil tertawa cengengesan. Saat itu Xynth sedang melakukan konsultasi bersama Vega. Sementara Rigel membantu Capella untuk mempersiapkan kedatangan ayahnya malam itu. "Dari mana saja kau?" tanya Xynth malah balik bertanya kepada Antares. "Aku? Tentu saja menganggu Alpheratz sepanjang hari. Kini dia menjadi objek mainan terbaruku setelah Rigel," jawab Antares sambil tersenyum lebar. "Kata Rigel tadi kau dan Lima Belas sama-sama tidur seharian. Baru kali ini aku melihatmu tidur selama itu. Apa mungkin ini ada kaitannya dengan pertukaran jiwa kalian?" Vega menoleh ke arah Antares. "Lima Belas juga masih tertidur?" "Ya," jawab Antares singkat. "Kau belum mengunjunginya dan memeriksanya?" "Seharusnya begitu, tetapi tadi kaisar dan Capella memanggilku ke luar. Ada hal yang sedang dilakukan mereka di luar tadi," kata Vega. "Lima Belas belum terlihat malam ini." "Dia dan Xynth sama-sama terlihat sangat letih. Apa memang seperti ini jika memakan obat pertukaran jiwa itu? Mereka akan sama-sama lelah setelahnya?" "Sepertinya begitu," jawab Vega lagi. "Baik Putra Mahkota Xynth dan Lima Belas sama-sama menghabiskan banyak waktu untuk tidur setelah makan cukup banyak pagi tadi." "Apa Lima Belas tidak curiga sama sekali? Dia tidak sadar kalau Xynth membajak tubuhnya selama hampir tujuh jam?" tanya Antares lagi sambil meletakkan tubuhnya di atas sofa ruang bersantai dan memandangi Xynth dan Vega secara bersamaan. "Dia sedikit bodoh. Jelas dia tidak akan terlalu sadar dengan ini," jawab Xynth seenaknya. Ia lalu melihat tongkat di sebelah kursi Antares. "Ngomong-ngomong, aku baru sadar kalau kau sudah mulai bisa berjalan dengan tongkat." "Aku sudah bisa berjalan dengan tongkat. Kau sudah mulai bisa berjalan tanpa menggunakan tongkatmu. Hanya Rigel yang masih tetap menggunakan kursi roda saat ini. Lukanya memang yang paling parah," jawab Antares dengan ekspresi wajah yang serius. "Betelgeuse yang paling parah. Sampai saat ini dia belum juga terbangun," timpal Vega ke arah Antares. "Kalau dia terus seperti ini, dia bisa sama seperti Methuselah, ayahnya. Mereka berdua bisa sama-sama koma dalam jangka waktu yang lama dan Kiklios akan kehilangan visual kita." "Aku mengerti kalau Betelgeuse koma karena serangan dahsyat quasar kepadanya," ucap Xynth, "tapi sebenarnya apa yang terjadi dengan Methuselah selama ini? Apa memang quasar yang juga menyerangnya hingga ia tidak juga sadar sampai saat ini?" "Dia masih sadar saat raja quasar dan ayahmu sama-sama tewas dalam pertempuran mereka. Katanya dia bahkan masih mengingat apa pun yang terjadi saat itu meski langit memasuki masa hitam dan kaum bintang lainnya kehilangan ingatan. Namun tidak ada yang tahu kenapa mendadak Methuselah terjatuh pingsan di tempatnya sendiri dan mendadak koma panjang. Seseorang konon menyerangnya dengan brutal dan membuatnya sekarat." "Aku tidak bisa membayangkan kalau suatu saat Methuselah bisa tersadar, rahasia besar apa saja yang ada padanya dan kemungkinan bisa diutarakannya," ucap Antares dengan alis mata yang mengernyit. "Methuselah bukan orang yang akan membuka apa pun yang merupakan rahasia besar langit begitu saja," jawab Vega. "Dia tidak bahkan mengucapkan hal-hal seperti itu secara sembarangan kepada kaisar, panglima, maupun kepada kita. Meskipun begitu menurut Betelgeuse sebelumnya, ayahnya terkadang mengirimkan visual kepadanya melalui alam bawah sadarnya. Sepertinya meski sedang koma, sesekali Methuselah memberikan informasi khusus kepada Betelgeuse saat gadis itu belum koma." "Mengingat tidak seorang pun bisa merawat Methuselah, kurasa ia akan cukup lama koma dan tidak sadarkan diri," gumam Antares. "Apa Betelgeuse akan berakhir seperti ayahnya sendiri? Tidak ada yang bisa kau lakukan untuk mempercepat pemulihannya?" tanya Xynth ke arah Vega dengan sorot mata yang tajam. "Kondisi Betelgeuse sebenarnya tidak separah ayahnya. Hanya saja ... sepertinya Betelgeuse sedang mengalami trauma karena kehilangan sinarnya. Tentunya meski mengalami koma dan tertidur panjang, ia jelas bisa mengetahui apa pun yang terjadi di sekitarnya selama ini." "Sama seperti Methuselah?" tanya Antares sekali lagi. "Itu artinya ia pun mungkin bisa mengirimkan visual kepada pihaka lain melalui alam bawah sadar orang di sekelilingnya?" "Ya," ujar Vega. "Ia tentu bisa melakukannya." ___ Fori terbangun di atas tempat tidurnya dan langsung menguap lebar. Setelah meregangkan sedikit tubuhnya, ia melihat ke arah luar jendela kamarnya dan langsung berseru tertahan ketika melihat kondisi luar yang sudah gelap. Gadis itu lalu melirik ke arah jam dinding dan baru sadar kalau saat itu jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam lebih sedikit. Setelah sarapan pagi tadi, ia merasa sangat letih dan mengantuk. Sepertinya tubuhnya terasa sangat pegal-pegal dan dan seolah baru saja melakukan pekerjaan sangat berat dalam satu waktu sekaligus. Ia menganggap dirinya hanya merasa pegal, kurang nafsu makan dan selalu mengantuk karena sedang datang bulan. Ia sama sekali tidak tahu kalau jiwa Xynth baru saja merasukinya sehari sebelumnya. Biasanya Capella sudah akan mendatanginya di jam-jam seperti ini untuk menyuruh gadis itu bersiap makan malam bersama. Namun sepertinya Capella mungkin sedang semakin sibuk untuk menyambut kedatangan orang-orang yang disebut seluruh isi rumah itu dengan panglima perang mereka dan beberapa orang lainnya. Karena merasa seluruh rumah itu sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing, Fori kemudian beranjak sendiri dari tempat tidurnya. Setelah menenggak segelas air dingin dan membasuh wajahnya sebentar, Fori kemudian melangkah keluar dari kamarnya. Ia melihat situasi di luar cukup sepi seolah tidak ada siapa pun di rumah itu. Gadis itu pun berjalan untuk menuruni tangga. Namun sebelum ia menjejakkan kakinya di anak tangga teratas untuk turun, mendadak ia seperti mendengar sebuah gema suara wanita di sebelah terujung lorong yang sederet dengan kamarnya sendiri. Fori menoleh dengan dahi berkerut. Ia melihat ke bagian ujung lorong itu dan langsung terbelalak kaget saat melihat sekelebat sinar merah yang sangat terang dari dalam sebuah kamar di sana. Bulu kuduk Fori meremang saat ia mendengar suara-suara seperti desisan mantra dari langit-langit koridor. Seseorang atau sesuatu tampak sedang mengucapkan berbagai mantra dengan suara berbisik yang cepat, namun bergaung di sepanjang lorong yang sepi. Dengan memberanikan diri, Fori pun melangkah ke arah kamar yang bersinar merah tersebut secara perlahan, setelah menoleh ke kiri dan ke kanannya. Langkah kakinya terasa sedikit berat seseolah ada sesuatu yang menahan tubuhnya dan sekaligus membawa tubuhnya ke arah ujung koridor tersebut. "Fori...." Sebuah suara bak angin menyapa gadis itu dari ujung koridor, seolah tengah memanggil Fori untuk mendekat. Fori pun mengikuti suara yang entah bagaimana terasa sangat familiar di telinganya itu, seolah ia sedang terhipnotis untuk datang. Gadis itu kemudian melangkah mendekat dengan tatapan kosong dan langsung mengarah ke posisi kamar terujung yang penuh cahaya seperti lembayung kemerahan. Begitu tiba di pintu kamar yang sedang setengah terbuka tersebut, Fori langsung melangkah masuk. Ia melihat ada seorang gadis sedang terbaring di sana dengan bantuan peralatan dan terpaku. Setengah alam bawah sadarnya terbangun dan ia melangkah perlahan untuk mendekati ranjang tempat seorang gadis sedang tergeletak tak sadarkan diri dengan aura kemerahan yang bersinar dari arah luar tubuhnya. Fori mendadak merasakan sesuatu bergejolak di dalam kepalanya. Ada sesuatu yang membuatnya merasa sangat terkejut tetapi sebuah kekuatan membuatnya terpaku dan tidak bisa bereaksi cepat. Fori berusaha keras menggerakkan tubuhnya dan begitu ia bisa mengangkat jari-jarinya, sebuah tangan dengan cepat mencengkeram lengan Fori dari ranjang tersebut. Gadis yang tadinya terlihat tergeletak itu mendadak mengangkat tubuhnya dengan cepat dari atas tempat tidur dan melotot ke arah Fori dengan bola matanya yang putih. "Akan ada kematian," bisiknya lirih ke arah Fori. "Akan ada kematian dan quasar terkuat akan hadir bersama kita di sini. Sang raja ... akan datang." Begitu selesai mengucapkannya, gadis tersebut kemudian terjatuh lagi ke atas tempata tidurnya dan kembali tak sadarkan diri. Sementara sinar samar kemerahan yang dilihat Fori tadi kemudian menghilang kembali dan membuat situasi di dalam kamar itu mendadak kembali normal. Fori tercengang di tempatnya, tetapi bukan karena apa yang sudah diucapkan oleh gadis yang sedang koma tersebut kepadanya. Fori tidak cukup mengerti apa yang gadis tersebut tadi ucapkan kepadanya. Ia terdiam kaku dengan mata terbelalak karena hal lainnya. Ia sangat mengenal gadis yang sedang tergeletak kaku tidak sadarkan diri di atas tempat tidur itu dan langsung terjatuh di lantai karena kaget setengah mati. "Beth...," gumamnya dengan wajah pucat pasi. "Beth ... bagaimana kau bisa sampai ada di rumah ini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN