Alhine Lingga #11

2075 Kata
"A-apa?! Kenapa aku harus melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan Capella setiap hari?!" teriak Alhine membahana di seluruh kedai tersebut. "Ini benar-benar penghinaan!" "Aku tidak tahu siapa Capella yang kau maksud! Yang jelas kau harus melakukannya!" balas pemilik kedai dengan napas tersengal-sengal dan urat syaraf yang mulai tegang karena jengkel kepada Alhine. "Dengan harga segitu, aku bisa menyewa tiga orang jasa pembersih sekaligus yang tidak akan mengaku-aku diri mereka sebagai kaisar langit kaya raya!" "Sudahlah ... sudahlah," lerai Lingga ketika melihat pemilik kedai mulai darah tinggi. "Biar aku yang akan melakukannya. Bisa tunjukkan kepadaku di mana letak dapur?" Mau tidak mau, Lingga langsung melepaskan jaketnya dan segera mengikuti instruksi sang pemilik kedai meski masih merasa malu. Ia melesat menuju ke arah dapur sebelum banyak pengunjung lainnya masuk ke dalam kedai itu dan melihat mereka bersitegang karena hal yang memalukan. Begitu masuk, wajah pria itu langsung tercengang melihat banyaknya tumpukan piring kotor dan kondisi dapur yang sangat kotor dan sempit. Ia menoleh ke arah Alhine yang menyusul di belakangnya dan melihat wajah wanita itu masih bersungut-sungut kesal. "Apa-apaan ini?! Bagaimana mungkin dapur manusia bisa sejorok ini?!" umpat Alhine begitu melihat situasi di sana. "Apa tidak ada badan kesehatan yang mengawasi hal-hal seperti ini di bumi?! Kita bahkan tadi sudah makan di tempat semenjijikkan ini!" Pemilik kedai langsung meletakkan bekas tumpukan mangkuk Alhine di depan wajah wanita itu dan mendelik dengan sorot mata bertegangan tinggi. "Ingat, Kaisar Langit, kau bahkan sampai memakan empat mangkuk sup, satu piring nasi, dan dua botol minuman dingin." desisnya dengan geram ke arah Alhine. "Kurasa kau setidaknya harus malu setelah mengucapkan kalimatmu tadi!" Wajah Alhine merona merah melihat bekas-bekas piring kotornya. Namun ia melirik jengkel ke arah pemilik kedai yang kemudian berjalan keluar meninggalkan keduanya. Wanita itu masih sempat mendengar celotehan kesal sang pemilik kedai yang menggema dari bagian depan kedai sup iga tersebut. "Kau benar-benar akan melakukan ini?" tanya Alhine sambil berjongkok di lantai dengan wajah yang suram. "Tanganmu baru saja terluka dan diperban. Kau akan membukanya hanya untuk mencuci piring? Itu akan terasa sedikit perih." "Tidak apa-apa, jangan khawatir. Tubuhku sudah sering terluka. Anggap saja ini salahku," jawab Lingga dengan tenang. "Duduk saja di sana dan aku akan melakukannya." "Tapi ini sudah malam. Apa tidak sebaiknya salah satu dari kita pergi mengambil uang saja dan kembali ke sini untuk membayarnya?" tanya Alhine dengan ekspresi wajah yang masih kesal. "Kalau tidak menutup mulut manusia itu, dia akan anggap kita benar-benar sengaja melakukan ini dan bermulut besar. "Bagaimana mungkin pemimpin tertinggi langit disuruh mencuci piring akibat tidak bisa membayar makanan di kedai kecil manusia. Apa jadinya kalau lawan-lawanku mendengar hal memalukan seperti ini?! Mereka akan menertawakanku habis-habisan dan aku akan menjadi bulan-bulanan kaum bintang di langit hingga jutaan tahun ke depan!" "Dia tidak akan membiarkan kita pergi. Sudahlah, tenang saja. Tidak ada seorang pun yang akan tahu kalau kita mengalami ini. Kau tidak perlu malu." "A-aku tidak malu," ucap Alhine dengan wajah yang justru semakin merona merah. Ia melihat Lingga mulai mengangkat semua piring ke wastafel dan mencucinya satu persatu. "Apa kau sering melakukan hal seperti ini?" tanya Alhine tiba-tiba dengan pandangan iba ke arah Lingga. "Melakukan apa? Mencuci piring?" ujar Lingga kepadanya. "Tentu saja. Aku tinggal sendiri di rumahku. Hal-hal seperti ini adalah hal normal yang dilakukan semua orang di rumah mereka sendiri." "Tapi ... tidak seharusnya kau melakukan ini. Kau bukan manusia biasa," gumam Alhine dengan sedih. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupanmu di bumi selama ini. Apa memang hidupmu selalu begini? Kau selalu mengalah dan melakukan apa pun untuk menghindari konflik?" "Ini bukan hal yang susah dibanding harus menghadapi pertengkaran yang memalukan. Ibu pemilik kedai ini sepertinya tinggal dan bekerja sendiri selama ini. Tidak ada satu pun karyawan di tempatnya karena kedai ini sepertinya sepi meski rasa makanannya enak. Tidak bahkan ada sanak keluarganya yang juga membantunya. Padahal, kakinya sedikit bermasalah," jawab Lingga sambil terus mencuci piringnya. "Kenapa dengan kakinya?" "Kau tidak lihat? Kaki wanita pemilik kedai ini bengkak. Kemungkinan dia memang sakit jadi ... kita anggap saja kita sekadar membantunya. Aku akan tetap membayar tagihan makanan kita besok ke sini." Alhine memandangi punggung Lingga dengan wajah terpaku. "Kau ... pria manusia yang sangat baik. Orang tuamu di bumi pasti mendidikmu dengan benar." "Aku tidak punya orang tua," ucap Lingga setelah terdiam sesaat. "Mereka sudah meninggal saat aku aku masih kecil. Dua-duanya terkena kanker. Dari kecil sampai menjelang dewasa aku tinggal bersama keluarga dari pihak ayahku dan begitu usiaku sudah delapan belas tahun, aku mulai tinggal sendiri. Orang tuaku meninggalkan sedikit uang untukku dan aku menggunakannya untuk hidupku selama ini." Bola mata Alhine melebar. "Jadi ... bahkan di bumi pun kau tidak terlalu bahagia?" "Aku bahagia," jawab Lingga dengan dahi berkerut sambil menoleh sekilas ke arah Alhine. "Aku tidak menganggap itu cerita bahagia. Aku bisa membayangkan bagaimana menjadi dirimu karena seluruh keluargaku tewas tebunuh saat aku menginjak dewasa. Tidak ada satu pun yang tersisa. Sendiri tanpa siapa pun itu sangat menyedihkan. Meskipun begitu tidak lama setelah itu mereka menikahkanku dengan suamiku." Lingga terdiam sesaat di tempatnya. "Dia Zegerux tadi, ayah dari anakmu Xynth, kan? Boleh kutahu kenapa kau tidak bisa benar-benar mengingat tentang suamimu? Apa dia orang yang sangat buruk?" "Entahlah," jawab Alhine dengan pandangan mata yang menerawang. "Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Kau boleh percaya atau tidak, tetapi potongan demi potongan ingatan tentangnya baru muncul setelah aku bertemu denganmu. Yang kutahu, dia dulu adalah orang yang kuat dan sangat hebat, tetapi pernikahan kami adalah pernikahan politis. Yang kuingat hanyalah kami tidak terlalu sering berbicara. "Melihat punggungmu saat ini aku seperti mengingat kembali apa yang sering dilakukannya dulu kepadaku. Dia selalu membelakangiku dan sepertinya tidak banyak berbicara kepadaku. Mungkin saja dulu aku pernah bertepuk sebelah tangan karena suamiku sendiri." "Bagaimana dia meninggal?" tanya Lingga dengan hati-hati. "Aku tidak tahu dan tidak seorang pun tahu karena kematiannya menimbulkan masa hitam di langit. Satu-satunya pihak yang masih mampu mengingatnya, hingga saat ini dalam kondisi koma dan tidak pernah terbangun. Meskipun begitu, seperti yang tadi kuutarakan kepadamu ... banyak yang bilang kalau aku yang membunuhnya untuk mengambil apa pun miliknya. Tidak berapa lama setelah kematiannya, Xynth lahir." "Mungkin kau tidak bisa mengingatnya karena itu membuatmu sedih?" tanya Lingga lagi. "Aku tidak merasa sedih saat itu. Entah mengapa setelah terbangun pasca kematiannya, aku tidak ingat kepadanya dan mendadak merasa sangat membencinya. Selama jutaan tahun aku begitu membencinya, tapi ... saat melihatmu aku mengingatnya dan menangis." Lingga menarik napas panjang. "Bisa jadi karena ada kemiripan di antara kami, kau jadi menganggapku sebagai almarhum suamimu." Alhine kemudian berdiri dan berjalan mendekati Lingga dari belakang. Wanita itu mendadak merengkuh sebuah botol minuman kosong dari kaca dan mengarahkannya ke kepala Lingga. Namun sebelum ia berhasil memukul kepala Lingga, pria itu berbalik cepat dan mendadak botol di tangan Alhine pecah begitu saja dan membuat wanita itu terjatuh ke lantai. Kedua bola mata Lingga terlihat gelap sesaat sebelum akhirnya ia berjongkok cepat ke arah Alhine dan menyentuh tangan wanita itu. "Apa yang terjadi barusan? Tanganmu terluka?" tanya Lingga dengan ekspresi wajah yang seolah terkejut. "Bukan, tetapi kau melakukannya lagi," ucap Alhine dengan suara bergetar. "Kau melakukannya sekali lagi." "Apa yang kulakukan?" tanya Lingga seperti tidak sadar dengan apa yang baru saja terjadi. "Tidak apa-apa, sudah lupakan saja," ucap Alhine sambil tersenyum. "Mungkin memang lebih baik kalau hanya aku yang tahu soal ini." "Aku akan memanggil ibu pemilik kedai tadi untuk meminjamkan iodine untuk tanganmu yang berdarah," ucap Lingga dengan cepat. "Aku saja yang menemuinya. Kau di sini saja." "Kau yakin tanganmu benar-benar baik-baik saja?" tanya Lingga dengan pandangan khawatir. Alhine mengangguk. Ia kemudian membersihkan bagian belakang roknya dan berdiri. "Dibanding luka di tanganmu, ini hanya goresan kecil yang sama sekali tidak berpengaruh kepadaku sama sekali. Meskipun begitu, aku akan menemui pemilik kedai ini sebentar untuk meminta iodine untuk tanganku." Setelah mengucapkannya, Alhine kemudian menghilang dari pandangan Lingga untuk ke arah depan. Namun wanita itu tidak pergi ke arah pemilik kedai tadi sama sekali melainkan ebrjalan keluar dengan cepat dari dalam kedai itu. Alhine mencari-cari posisi paling tepat untuknya bisa menggunakan kekuatannya sendiri dan kemudian berdiri di dekat deretan tumpukan besar sampah yang tak jauh dari sana. Berkali-kali ia mencoba kekuatannya sendiri, namun sepertinya ia masih berlum berada di jarak yang sesuai dari Lingga untuk menggunakan kekuatannya sendiri. Tanpa di sadarinya, sang pemilik kedai sejak tadi mengintai pergerakannya dengan curiga dari belakangnya. Alhine baru sadar kalau ia diikuti setelah melihat pantulan cermin cembung lalu lintas di atas tiang dan melihat kehadiran sang pemilik kedai di sana. "Ada apa? Kenapa kau membuntutiku?" tanya Alhine dengan tatapan dingin ke arah pemilik kedai di belakangnya. "Kau berencana untuk kabur, kan? Jujur saja, kau akan menimpakan semua pekerjaan tadi kepada laki-laki malang tadi seorang diri, kan?!" Alhine melirik dnegan jengkel ke arah pemilik kedai tersebut. "Apa manusia sepertimu memang selalu bersikap paranoid dan menyebalkan seperti ini?!" "Aku tidak melihat ada yang berbeda juga dengan dirimu saat ini!" balas pemilik kedai itu dengan sinis. Darah Alhine mulai kembali mendidih. Ia sudah mulai kembali meradang, tetapi mendadak ia merasakan seluruh tubuhnnya mendadak menjadi ringan seperti biasa saat ia melangkah maju untuk mendekati sang pemilik kedai. Kekuatanku kembali di titik lokasi ini? Alhine menggumam dalam hati. Sambil tersenyum lebar, ia kemudian menatap ke arah sang pemilik kedai . "Tunggu sebentar di sini, aku hanya akan menghilang dalam tempo waktu satu menit saja!" ucap Alhine kepadanya. Wanita tua pemilik kedai itu terlihat berusaha untuk meraihnya, tetapi yang terjadi kemudian malah membuatnya menganga dengan sangat kaget. Alhine menghilang mendadak dari hadapannya! Pemilik kedai tersebut mengucek-ucek matanya dengan bingung. Ia berusaha menyentuh udara kosong di depannya dengan sedikit syok. Ia yakin melihat Alhine menghilang dari depan matanya sendiri, tetapi ia mulai curiga apa yang dilihatnya salah. Wanita itu kemudian memutuskan untuk kembali ke kedainya lagi karena yakin Alhine sebenarnya masih ada di sana, tetapi baru saja ia akan berbalik, Alhine mendadak muncul lagi di depan matanya secepat kilat. "A-apa ini?!" teriak sang pemilik kedai dengan histeris. Wajaha wanita tua itu terlihata syok seketika. "Sudah kubilang aku tidak mengada-ngada!" desis Alhine ka arahnya. "Wanita manusia, aku baru saja pulang ke rumah kami untuk mengambil uang dengan cepat. Terima ini!" Sang pemilik kedai tersebut menatap sesuatu yang diletakkan Alhine di tangannya dengan pendangan histeris. Satu batang emas murni yang jelas berbobot satu kilogram kini berada di telapak tangannya dengan nyata. "Ini untuk membayar makanan tadi!" ucap Alhine kepadanya. "Sekarang kami akan pergi dari sini." "Tu-tunggu sebentar! A-apa ini emas 24 karat asli?" tanya wanita itu dengan tampang melongo tidak percaya. Sebuah ledakan kecil mendadak terjadi di tumpukan tempat sampah tadi dan Alhine menatap sang pemilik kedai tersebut dengan tajam. "Kau lihat itu, Manusia? Aku bisa meledakkan apa pun di sini dan membuat gempa berkali-kali kalau aku mau. Sudah kubilang, jangan bermain-main denganku, aku adalah kaisar langit." Wanita tua di hadapan Alhine kembali melongo. Ia masih menatap tidak percaya ke ara Alhine meski tangannya masih menggenggam emas batangan besar dari Alhine. Karena jengkel, Alhine kemudian meledakkan satu tong sampah lagi di sana dan emmbuat sang pemilik kedai langsung menjerit melengking dengan histeris. Matanya melotot ke arah Alhine dengan tatapan kaget luar biasa. "K-kau...," ucapnya ke arah Alhine dengan tubuh bergetar. "Kau ... setan?" Alhine mendelik dengan tensi darah yang langsung naik. "Wanita tua, sudah kubilang baik-baik, aku adalah kaisar langit!" teriak Alhine sambil menciptakan ledakan sekali lagi ke salah satu tong sampah di sana dan juga gempa kecil sesaat. Wanita tua itu tidak menjawab ucapan Alhine dan langsung pingsan tanpa komentar lagi di tempatnya dengan mulut yang terkatup rapat. Alhine memandang ke arah jalanan tempat wanita tadi tergeletak jatuh dengan puas dan ekspresi wajah yang congkak. "Dasar manusia menyebalkan! Bagaimana mungkin aku sudah melakukan semua ini dan mereka tidak juga puas dan meragukanku?! Apa aku harus membakar semua yang ada di sini hanya untuk membuat mereka percaya?!" Alhine kemudian berniat untuk mengangkat wanita tua tadi tetapi sebuah ledakan hasil reaksi api di dekat sebuah kaleng gas kosong mendadak terjadi. Tubuh Alhine mendadak ambruk di atas jalan saat sebuah hempasan kuat kaleng gass mengarah kencang ke arahnya. Wanita itu menganga dan menoleh ke arah seseorang yang baru saja menolongnya. Lingga ada di atas tubuhnya dan baru saja melindunginya dari ledakan beruntun yang tidak sengaja disebabkannya sendiri. "Wa-wanita ini," ucap pemilik kedai tadi yang baru kembali sadar ke arah Lingga dari samping tubuh mereka berdua. "Di-dia ... bukan manusia. Dia siluman!" "Apa?!" teriak Alhine dengan suara meledak. "Kau bilang aku siluman?!" "Sudahlah," ucap Lingga ke arahnya. "Kaisar langit ataupun bukan, hentikan terus berada dalam bahaya. Entah kenapa kau selalu membuatku terpaksa melakukan hal-hal seperti ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN