"Maaf terlambat," ucap pemilik kedai sop iga tersebut memecahkan ketegangan di antara Alhine dan Lingga. Wanita tua yang baru selesai merapikan pecahan piring itu kini meletakkan dua mangkuk sup, dua piring nasi dan dua minuman kemasan botol ke arah masing-masing sambil tertawa. "Silakan dinikmati."
Setelah pemilik kedai kembali meninggalkan mereka, Alhine menghela napasnya dengan emosional dan mengusap air matanya dengan angkuh. "Kita akan kembali membicarakan ini kapan-kapan saja. Sekarang aku akan mencoba makanan manusia yang sering kau makan saja."
"Itu ide yang bagus." ucap Lingga dengan kaku. Sedikit banyak ia merasa lega karena Alhine berhenti membicarakan topik tadi.
Pria itu masih menganggap Alhine wanita delusional yang mempercayai halusinasinya sendiri. Meski masih sedikit terganggu dengan ucapan Alhine, ia juga merasakan iba pada Alhine dan ada perasaan tertentu dalam dirinya yang khawatir akan ucapan-ucapan Alhine kepadanya.
"Bagaimanapun, menganggapku sebagai wanita gila juga adalah kesalahan terbesar," gumam Alhine lagi setelah dirinya cukup tenang. Ia yang sangat lapar kemudian mencoba fokus dengan makanannya sendiri.
Wanita itu lalu memandangi makanan di depannya dengan sedikit bingung. Ia mengaduk-aduk sopnya sendiri dan terlihat kesusahan untuk memakan tulangan iga di mangkuk supnya. Mau tidak mau, Lingga menyembunyikan tawanya ketika melihat reaksi Alhine yang kewalahan untuk memakan sup iga miliknya.
"Aku akan mengajarimu cara memakan ini," ujar Lingga sambil memperlihatkan dirinya menuangkan beberapa bumbu lagi ke dalam mangkuk supnya dan melihat Alhine mengikuti caranya. Ia memisahkan daging dari tulangan tersebut dengan perlahan.
Alhine kemudian memasukkan sebagian sup itu ke mulutnya dan terdiam sesaat. "Ini ... rasanya ternyata tidak terlalu buruk."
"Bagaimana rasanya? Enak?" tanya Lingga dengan senyum terkulum.
"Lumayan, tetapi tetap saja ini makanan yang tidak layak untuk dimakan kalangan kami," jawab Alhine sikap arogan. "Bagaimana mungkin manusia memesan makanan tulang-tulangan seperti ini hanya untuk membuangnya dan memakan hanya sedikit saja bagian dagingnya?"
"Karena seni memakan sup iga atau sup buntut ya seperti ini," ujar Lingga dengan santai. "tetapi rasanya akan hangat di tenggorokanmu."
Meskipun terlihat keberatan dan gengsi, rupanya Alhine yang kelaparan sangat menikmati makanannya. Tanpa peduli lagi, ia memesan lebih banyak sup iga dan sup buntut dan membuat Lingga menjadi bengong.
"Di balik sikap elegan dan kelas atasmu, rupanya porsi makanmu cukup banyak," gumam Lingga dengan suara hampir berbisik.
"Apa?" tanya Alhine yang tidak mendengar ucapan Lingga karena sibuk mengiri mulutnya hingga penuh.
"Tidak ... tidak. Lupakan saja," jawab Lingga kembali mengulum senyumnya. "Melihat seorang wanita tahu keinginannya dan memakan dengan baik tanpa malu-malu adalah hal yang sangat baik. Protein juga baik untuk tubuh kurusmu."
"Aku akan menyuruh Capella untuk mempelajari cara memasak seperti ini. Ternyata tulang hewan ini tidak terlalu buruk untuk dinikmati," ucap Alhine sambil meletakkan mangkuk keempatnya yang kosong di atas meja mereka. "Sekarang, aku sudah kenyang."
Lingga menoleh ke arah luar pintu kedai dan melihat langit yang sudah gelap. "Ada yang akan menjemputmu dari sini nanti?"
"Hmmh? Tidak, aku bisa tiba di rumah kami kapan saja. Tidak perlu ada yang menjemputku karena kami semua bisa teportasi," jawab Alhine sambil mengusap mulutnya.
"Maksudmu mungkin 'teleportasi'?" koreksi Lingga dengan pandangan geli.
"Ya, semacam pergi begitu saja dan menghilang lalu tiba di tempat lain yang kami mau dengan cepat," jawab Alhine dengan santai.
Lingga tertawa karena menganggap Alhine bercanda. "Aku mengerti. Aku akan mengantarmu pulang nanti. Ini sudah malam dan kau baru saja berurusan dengan Gank Kalajengking. Akan sangat berbahaya pulang sendiri tanpa ada yang mengantarkanmu ke rumah."
"Kau ... baik dan sopan sekali," kata Alhine dengan tatapan terpaku sesaat. "Ternyata ada manusia yang benar-benar menarik di bumi."
"Kau juga manusia," ucap Lingga ke arahnya dengan pandangan geli sekali lagi.
"Aku bukan manusia. Aku kaisar langit, penguasa alam semesta," jawab Alhine tanpa ekspresi sama sekali.
Wanita itu lalu menoleh ke arah pemilik kedai yang sejak tadi berdiri di samping meja mereka untuk menyerahkan tagihan makanan mereka ke arahnya dengan wajah terkesima. Tampak jelas di wajah sang pemilik kedai kalau ia menganggap Alhine sedikit tidak waras.
"Total 346 ribu? Ini murah, aku akan membayarnya," ucap Alhine dengan enteng.
"Aku saja," jawab Lingga cepat. "Berikan tagihannya kepadaku. Ini sebagai ucapan terima kasih karena kau dan pelayanmu sudah membantu kami di Hotel Kamboja tadi."
"Aku saja. Aku tidak akan membiarkan manusia golongan jelata yang membayar untuk makananku. Kami punya banyak uang di bumi yang cukup hingga jutaan tahun ke depan dan...."
Mendadak Alhine terdiam. Ia melongok dan menyentuh seluruh tubuhnya dengan bingung.
"A-apa ini? Di mana tas dan dompetku?" ucap Alhine sambil menyentuh seluruh tubuhnya. "Aku jelas-jelas membawa...."
"Ada apa?" tanya Lingga kepadanya setelah melihat Alhine mendadak terdiam dan pucat pasi.
"Aku menyuruh Capella yang memegang tasku tadi dan dia pulang tanpa menyerahkannya kepadaku lagi! Dasar pria botak bodoh sialan!"
Lingga tertawa sekali lagi saat melihat Alhine mengumpat-umpat dengan wajah yang merona merah karena malu. "Sudahlah. Aku sudah bilang kalau aku yang akan membayar tagihan ini...."
Lingga mendadak ikut terdiam. Wajah pria itu juga langsung pucat pasi saat ia merogoh kantong di belakang celananya.
"Ada apa?" tanya Alhine mulai panik. Firasat wanita itu mendadak buruk.
"Sepertinya aku meletakkan dompetku di laci meja ruang kerjaku di kantor tadi dan lupa membawanya ke sini," jawab Lingga dengan intonasi suara yang merendah.
Pemilik kedai yang sedang berdiri di samping meja mereka berdeham dengan keras. Wajahnya mulai terlihat dongkol seraya memandang tajam ke arah Alhine dan Lingga yang sama-sama terlihat panik.
"Tunggu sebentar, aku akan menghubungi Dendi secepatnya," ucap Lingga sambil mengeluarkan ponselnya dengan cepat. Sayangnya ponselnya ternyata dalam kondisi mati akibat kehabisan baterai.
"Maaf, tunggu di sini sebentar. Aku akan berlari ke kantor dan mengambil dompetku," ucap Lingga dengan nada suara yang ikut merasa malu.
"Kita sudah berjalan terlalu jauh dari tempatmu tadi. Berlari ke sana akan memakan waktu. Aku akan kembali ke rumah dengan cepat dan mengambil uang. Tunggu di sini dan menjauhlah dariku agar aku bisa menggunakan kekuatanku untuk teleportasi," kata Alhine kepadanya.
"Nona Alhine, rumahmu di kawasan Sentul. Akan lebih jauh mengarah ke sana dibanding aku berlari ke kantor sebentar dan mengambil dompetku."
"Sudah kubilang, berhenti berbicara formal denganku. Panggil saja aku Alhine!"
Wanita tua pemilik kedai tersebut sengaja batuk dengan keras di tempatnya berdiri. "Maaf, tadi Anda bilang apa? Kaisar langit...? Memiliki uang hingga jutaan tahun ke depan...? Makanan rakyat jelata...?"
"Aku tidak berbohong," jawab Alhine ke arah sang pemilik kedai dengan ekspresi wajah yang polos.
"Tentu saja," desis sang pemilik kedai dengan senyum bengis. "Lalu ... aku akan percaya kepada kalian dan membiarkan kalian pergi begitu saja dengan berbagai alasan gila dan mengada-ada?"
"Manusia, aku punya uang bahkan untuk membeli seluruh hidupmu," tukas Alhine mulai merasa tersingggung.
"Lalu kau akan bisa membayar semua ini sekarang, Nona Muda?" tanya sang pemilik kedai lagi setengah menyindir.
"Nona Muda?" ucap Alhine dengan pundak bergetar ke arah wanita tua tersebut. "Aku lebih tua darimu! Apa tidak ada yang menyuruhmu untuk bersikap sopan menghadapi orang-orang yang lebih tua di bumi ini?!"
"Apa?!" Wanita tua tersebut mendelik ke arah Alhine. "Apa kau sedang menghina wanita tua sepertiku?!"
"He-hentikan," gumam Lingga mulai berdiri dari kursinya dengan panik. Ia lalu sengaja mendekat ke arah sang pemilik kedai. "Tolong abaikan dia. Dia agak sedikit kurang---"
"Kau mau bilang aku kurang waras?!" cetus Alhine memotong ucapan Lingga dengan cepat.
"Bu-bukan begitu. Aku hanya sedang berusaha.... Aduh, bagaimana harus mengucapkan ini dengan tepat?"
Pemilik kedai tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya dengan frustasi. "Pantas saja tadi ada gempa. Bahkan langit saja memberi peringatan kepadaku untuk tidak menerima mereka di sini. Rupanya lagi-lagi ada seorang penipu bermulut besar yang berusaha meminta makanan gratis dari tempatku."
"Langit memperingatkanmu...? Manusia bodoh, aku itu langit!" teriak Alhine dengan emosi penuh. "Untuk apa aku mengemis dan meminta makanan gratis kalau aku bahkan bisa menghanguskan satu bumi tempat kalian berada saat ini?!"
"Dia-dia baru berteriak memakiku dengan kata bodoh...?" tanya pemilik kedai itu lagi sambil menoleh ke arah Lingga. "Dia sedang memaki wanita tua sepertiku dengan ucapan 'bodoh'?!"
Lingga menjadi serba salah. "Maaf, dia hanya---"
"Kurang waras!" teriak pemilik kedai itu dengan kesabaran yang sudah habis. "Berani-berani sekali dia mengucapkan kalimat-kalimat sombong kepadaku kalau akhirnya dia tidak bahkan bisa membayar tagihan makanan ini! Aku tidak mau tahu! Kalian berdua harus mencuci semua piring di sini dan membersihkan kedai ini sampai sangat bersih sebelum kalian pergi atau aku akan memanggil polisi dan mempermalukan kalian!"
"Dia polisi!" balas Alhine tak kalah keras sambil menunjuk ke arah Lingga yang sedang menutupi wajahnya dengan sebelah telapak tangannya dengan eksprei wajah yang malu. "Kau mau melaporkan polisi ini kepada polisi lainnya?!"
"Tentu saja! Kau kaisar langit yang kaya sejuta turunan dan dia adalah polisi terbaik di sini! Aku akan percaya semua kata-katamu, karena itu ... lakukan perintahku dengan cepat! Cuci piring dan bersihkan semua kedai ini sampai sebersih mungkin!"