"Maksudmu?" tanya Lingga menatap Alhine dengan pandangan ngeri. "Kau sedang mengancam akan membunuh tunanganku?"
"Ya," jawab Alhine tidak peduli. "Sudah kubilang, aku yakin kalau kau adalah seseorang yang sangat penting bagiku. Seseorang yang mungkin ditakdirkan langit menjadi milikku tidak akan mungkin bisa bersama dengan wanita lainnya."
"Kau ... mengucapkan hal yang gila sambil menangis," ucap Lingga mendadak merasa sedikit gusar. Entah mengapa laki-laki itu mendadak merasa risih dan iba sekaligus terhadap Alhine.
Pria itu kemudian mengambil kotak tisu di depan mejanya dan kemudian menyerahkan beberapa lembar tisu kepada Alhine. Karena Alhine terdiam membisu sambil menatapnya, Lingga kemudian mengarahkan tisu itu ke wajah Alhine dan mengusap air mata yang bergulir jatuh ke pipi wanita itu.
"Kenapa kau mendadak menagis?" tanya Lingga dengan sedikit canggung.
"Aku tidak tahu," kata Alhine sambil sedikit menundukkan kepalanya. "Ini bukan yang pertama terjadi setelah aku bertemu denganmu. Terkadang aku merasa sangat merindukanmu tanpa sebab. Terkadang ... entah mengapa aku juga merasa seperti pernah melakukan kesalahan besar kepadamu. Apa mungkin di kehidupanmu dulu aku yang membunuhmu?"
Lingga terdiam di tempatnya dengan heran kemudian berbicara dengan lebih pelan. "Kau wanita yang aneh. Bagaimana mungkin seorang wanita asing bisa mengucapkan hal-hal seperti ini kepada pria yang baru dia kenal sambil menangis. Apa pun yang dulu pernah terjadi kepadamu, semoga itu tidak akan membuatmu terus seperti ini. Nona Alhine, kau butuh pertolongan."
Alhine tidak menjawabnya. Ia segera menyentuh tangan Lingga di samping wajahnya dan memandangi perban yang membalut tangan pria itu dengan sedih.
"Tanganmu saat ini sudah memberikan jawaban atas segalanya," gumam Alhine. "Kau berusaha melindungiku sekali lagi dengan tanganmu. Ini pernah terjadi sebelumnya."
"Maksudmu?" tanya Lingga dengan ekspresi bingung.
"Di ruang karaoke tadi, kau memelukku dan melindungiku. Itu makanya tanganmu saat ini terluka," jawab Alhine kepadanya.
Lingga mematung di tempatnya. "Tanganku terluka karena aku menyentuh potongan cermin kaca yang pecah. Itu jawaban paling masuk akal untuk menjawab keganjilan yang terjadi di Hotel Kamboja tadi."
"Kau bisa menjawab bagaimana kau, mereka yang lain, dan aku bisa mendadak sama-sama pingsan?" Alhine bertanya kepada Lingga dengan sorot mata yang misterius. "Kau bisa menjawab bagaimana bos para penjahat itu bisa mendadak menghilang dari sana? Kau tidak bisa menjawab bagaimana Capella bisa sampai tahu di mana gudang penyimpanan barang-barang terlarang mereka?"
Lingga langsung terlihat seperi linglung. "Itu ... pasti ... karena---"
"Karena kebetulan?" potong Alhine sambil melepaskan tangan Lingga.
"Nona Alhine, sebenarnya apa yang sedang berusaha kau katakan kepadaku saat ini?" tanya Lingga dengan dahi berkerut.
"Meski aku tidak mampu mengingat wajahmu dulu, tapi aku sudah hampir yakin sepenuhnya kalau namamu dulu adalah Zegerux," ucap Alhine dengan nada suara yang bergetar. "Kau berasal dari Andromeda dan kemudian menjadi panglima perang dua kerajaan sekaligus --- Kiklios dan Andromeda --- karena kau adalah kaum bintang terkuat yang pernah ada di langit."
"Zegerux? Kiklios? Androme...."
Lingga tidak melanjutkan ucapannya. Ia memandang Alhine dengan mata terbelalak dan sedikit merasa geli.
"Nona Alhine," lanjutnya, "apa kau seorang penulis cerita fantasi? Ini terdengar seperti cerita mengada-ngada dan tidak masuk akal sama sekali."
"Menurut desas-desus di langit, aku membunuh pria yang bernama Zegerux ini," ucap Alhine lagi dengan kepala mulai menunduk. "Kata mereka aku melakukannya kepada suamiku sendiri. Zegerux ... dia adalah pria yang dinikahkan denganku. Ayah dari anakku, calon Raja Andromeda yang memiliki aura raja terkuat di masa itu. Konon kami seperti musuh dalam selimut karena pernikahan kami dulu hanyalah pernikahan bermuatan politis."
Alhine tertawa getir sebelum melanjutkan ucapannya sendiri. "Mereka bilang aku selalu membencinya karena dia berasal dari Andromeda. Katanya, pria itu memiliki tujuan untuk merebut segalanya dariku dan tidak pernah mencintaiku. Katanya kami saling membenci dan berusaha untuk terus saling membunuh.
"Entah bagaimana aku tidak bisa mengingatnya sama sekali. Tidak seorang pun mampu melakukannya. Pria itu sudah mati terbunuh dan membawa hampir seluruh memori di langit tentang dirinya bersama dengan kematiannya sendiri. Rumor yang beredar mengatakan kalau aku yang membunuhnya terlebih dahulu untuk mencuri semua kekuatannya.
"Kau tahu ... kurasa itu cukup masuk akal. Seingatku dan banyak orang yang mengenalku, aku adalah kaisar langit terlemah saat itu. Bagaimana mungkin setelah kematian suamiku, secara tiba-tiba aku menjadi orang terkuat di langit? Bagaimana mungkin aku bisa menjadi seperti saat ini kalau memang bukan karenanya? Sejak dulu aku merasa semua rumor tentangku dan Zegerux benar. Mungkin kejadiannya memang seperti itu."
Alhine mengangkat wajahnya dan kini memandang lurus ke arah Lingga sambil kembali meneteskan air matanya. "Tapi aku tidak mengerti satu hal. Kalau memang aku membencinya dan membunuhnya dulu, bagaimana aku bisa merasa sangat sedih setiap aku memandang wajahmu semakin lama? Bagaimana kau bisa membuat dadaku terasa sangat sesak sampai aku menangis tanpa sebab seperti saat ini dan sebelumnya?"
"Hentikan...."
Lingga mendadak terlihat terganggu dengan ucapan Alhine. Tubuh pria itu bergerak mundur dari kursinya dan terlihat tidak lagi nyaman. Sorot matanya tiba-tiba berubah menjadi sedikit gelap.
"Hentikan, Nona Alhine. Ini sudah berlebihan," ucapnya dengan napas yang mendadak memburu dan kepala yang tiba-tiba terasa pusing.
"Aku berharap ini salah, tapi setelah menemuimu untuk kedua kalinya ... aku semakin yakin kalau kau memang milikku. Potongan ingatan tentangmu sedikit demi sedikit kembali masuk ke dalam kepalaku. Kau pernah melakukan hal yang sama sebelumnya untukku. Kau berusaha melindungiku dari seseorang yang berusaha membunuhku dengan tanganmu."
"Hentikan!" teriak Lingga secara mendadak.
Secara tiba-tiba, cahaya lampu yang mewarnai ruangan itu mendadak seperti bermasalah. Gelas-gelas dan piring-piring yang terletak tak jauh dari mereka pecah sendiri secara misterius.
Keduanya kemudian memandang ke arah sekelilingnya dengan wajah terperanjat. Setelah kekacauan mereda, Alhine dan Lingga kini sama-sama saling terdiam membisu.
"Ma-maaf, sepertinya ada gempa barusan," ucap wanita tua pemilik kedai sup iga itu sambil mendatangi meja mereka dengan tegopoh-gopoh. "Belakangan kondisi di sini memang sering aneh. Banyak gempa mendadak yang terjadi dan mengakibatkan hal-hal seperti ini."
Wanita tua itu kemudian berjongkok cepat di lantai dan memungut perlahan pecahan benda-benda di sana dan membersihkannya dengan terburu-buru. Sementara Lingga dan Alhine sendiri masih sama-sama saling menatap dalam diam.
"Yang barusan itu bukan karena gempa. Kau yang melakukan itu, kan?" tanya Alhine sambil mengusap air mata di pipinya. "Ini karenamu, Zegerux?"
"Hentikan memanggilku dengan nama Zegerux. Nona Alhine, aku bukan almarhum suamimu. Kau hanya menganggapku seperti itu karena mungkin kami memiliki kemiripan tertentu tapi aku bukan suamimu atau orang yang bernama Zegerux tersebut. Dan ... gempa adalah fenomena alami bumi. Tidak ada satu pun manusia yang mampu menyebabkannya."
"Tapi ... apa kau benar-benar manusia?" tanya Alhine dengan tatapan lurus ke arah Lingga.