"Sebentar, kau jalan duluan saja ke restoran itu," ucap Lingga ke arah Dendi sambil memandangi Alhine yang bersembunyi di balik sebuah tiang listrik, beberapa meter dari mereka.
"Bos,"---gumam Dendi tiba-tiba dengan wajah yang serius dan hati-hati---"ingat, kau punya tunangan dan akan segera menikah. Jangan sampai kau jatuh cinta kepada wanita cantik itu hanya karena sering menemuinya."
Lingga menarik napas panjang. "Wanita sinting itu sangat cantik, tapi aku hanya berusaha menyelidikinya. Tenang, aku tidak pernah bermaksud untuk tertarik kepadanya sejak awal. Kau tahu pasti kalau aku tidak terlalu suka berkenalan dengan wanita-wanita baru dalam hidupku. Aku orang yang konservatif dan tidak suka perubahan ekstrim dalam hidupku selama ini."
Dendi mengangguk. Teman dari tunangan Lingga itu kemudian berjalan meninggalkan Lingga, sementara Lingga sendiri berjalan ke arah tiang listrik tempat Alhine bersembunyi.
"Nona Alhine, percuma bersembunyi. Kami sudah melihat Anda mengikuti kami sejak tadi," ucap Lingga sambil memiringkan kepalanya melihat ke arah wajah Alhine yang terlihat sedang memejamkan matanya erat-erat.
Alhine awalnya hanya terdiam, tetapi kemudian ia membuka matanya secara perlahan dan menoleh ke arah Lingga. "Ka-kapan aku mengikuti kalian? Aku hanya sedang mengamati...."
Alhine tidak meneruskan kalimatnya. Ia memandangi wajah Lingga dan mendadak wanita itu tidak lagi bisa melanjutkan kata-katanya.
"Sudah makan?"
Lingga mendadak bertanya kepadanya dengan wajah yang terlihat iba. "Kalau belum, ikutlah dengan kami. Bagaimanapun, Anda dan pelayan Anda berjasa dalam membantu kasus kami tadi. Anda juga pasti belum makan dan pasti sudah sangat lapar, kan?"
"Berbicaralah santai denganku," gumam Alhine kepadanya secara tiba-tiba. "Aku merasa aneh jika kau berbicara formal seperti itu. Itu membuatku sangat tidak nyaman."
"Apa?"
"Berhenti berbicara secara formal denganku, usia kita tidak terlalu berbeda jauh --- dulu dan sekarang," ucap Alhine mempertegas ucapannya.
Alis mata Lingga mengernyit bingung. Namun kemudian ia mengangguk sambil tersenyum simpul. "Baiklah, No... ah, tidak, Alhine. Aku akan berbicara santai denganmu."
"Aku juga tidak mau makan bersama mereka," ujar Alhine lagi dengan tampang gengsi dan malu-malu.
"Hmmh?"
"Aku lapar, tapi aku tidak mau bergabung dengan kumpulan manusia itu. Aku mau makan di tempat yang lainnya. Aku tidak mudah merasa nyaman dengan banyak orang di sekitarku terlebih manusia laki-laki."
Lingga melongo. Tidak saja bingung kenapa Alhine terus mengucapkan kata 'manusia' kepada orang-orang lain di luar kelompoknya sendiri, ia juga merasa permintaan Alhine cukup berani.
"Kau mau aku menraktirmu makan di tempat lainnya?" tanya Lingga berusaha mencerna ucapan Alhine.
"Aku yang akan membayar makananmu. Kau saat ini sudah resmi bekerja untuk untukku," kata Alhine dengan intonasi suara pelan cenderung menghilang. "Kita makan berdua saja."
"Aku bekerja untuk kepolisian, bukan untukmu. Tapi ... ya sudahlah."
Lingga memandangi wanita Alhine dengan wajah aneh sesaat, tetapi kemudian ia hanya menarik garis bibirnya sekilas. Baginya sedikit wajar jika Alhine tidak nyaman ikut bersama dengan rombongan Lingga dan yang lainnya. Tidak ada wanita sama sekali di sana dan semua yang di restoran adalah kaum laki-laki.
"Baiklah, tapi kuharap kau tidak menganggap ini seperti kencan," jawab Lingga dengan tenang. "Meskipun begitu, aku tidak terlalu suka ditraktir oleh perempuan. Aku saja yang akan menraktirmu."
"Kata mereka itu ciri-ciri patriarkis," ucap Alhine asal. Ia sendiri tidak terlalu familiar dengan istilah-istilah manusia di bumi. "Kalau kau menganggap traktiran pemberian makanan dari perempuan tidak wajar, mungkin saja kau yang menganggap ini sebagai kencan."
Lingga terdiam sesaat. Meskipun begitu ia tidak menjawab ucapan Alhine itu.
"Kalau begitu, di mana kita akan makan?" tanya Lingga sambil berusaha menyembunyikan senyum gelinya.
"Tempat yang pantas untukku. Aku kan tidak sama dengan kalian," ucap Alhine dengan tegas.
Sayangnya, setelah berkeliling di wilayah itu sampai waktu yang lama, tidak satu pun tempat makan yang ditawarkan oleh Lingga yang dianggap layak oleh Alhine. Wanita itu terus menolak masuk restoran apa pun yang ditawarkan Lingga kepadanya.
"Kalau begini terus, sampai langit sudah gelap kita tidak akan makan apa pun," ucap Lingga sambil menarik napas panjang dan berusaha bersabar dengan tingkah Alhine.
"Kau sudah lapar?" tanya Alhine malah khawatir dengan raut wajah yang bingung.
"Nona, aku tahu kau konglomerat dan terbiasa hidup mewah," ujar Lingga, "tapi aku sangat yakin di sekitar sini kita tidak akan menemukan tempat makan apa pun yang sesuai dengan seleramu."
"Apa restoran-restoran di sekitar sini semuanya hanya untuk orang rakyat jelata?" tanya Alhine sebenarnya dengan polos, tetapi Lingga malah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memandangi Alhine.
"Kau mau kubawa ke hotel bintang lima saja? Kita bisa makan di sana saja."
Alhine yang mendengar ucapan Lingga langsung memeluk pundaknya sendiri dengan gugup. "A-apa rencanamu?"
"Jangan berpikiran kotor," cetus Lingga dengan jengkel. "Aku hanya berusaha menawarkan opsi yang paling cocok untukmu. Semua tempat makan di sini adalah standar kami, bukan standarmu. Kami sudah terbiasa dengan gaya hidup seperti ini karena kami polisi, bukan konglomerat. Kalau harus meladenimu, aku terpaksa harus membawamu ke hotel bintang lima terdekat hanya untuk makan."
"Aku akan ikut dengan seleramu saja!" jawab Alhine dengan cepat. Ia baru sadar kalau sikapnya membuat Lingga menjadi kesusahan.
"Seleraku? Tapi---"
"Tidak masalah!" potong Alhine cepat. "Aku akan mencoba mengikuti gaya hidupmu saja. Apa saja yang kau makan selama ini?"
Dahi Lingga berkerut. "Kenapa kau mudah sekali berubah pikiran. Kalau dari tadi kau ikut denganku, mungkin kita tidak perlu berputar-putar selama hampir dua jam dengan berjalan kaki begini. Kita sudah cukup jauh dari kantorku."
"Apa tempat makan itu punya makanan menarik?" tanya Alhine tidak mempedulikan ocehan Lingga. Wanita itu tiba-tiba mengarahkan telunjuknya ke arah sebuah kedai makanan sederhana, tetapi terlihat sepi dan cukup bersih.
"Kalau kau terbiasa makan sup tulang iga maka restoran itu tidak terlalu buruk. Baiklah, kita makan di sana saja," jawab Lingga sedikit merasa lega karena Alhine akhirnya mau menentukan pilihan.
Keduanya lalu memasuki kedai tempat makan sederhana di dekat mereka dan segera mengambil tempat duduk ternyaman. Namun begitu pemilik kedai yang merupakan ibu-ibu tua bertubuh gempal memberikan daftar menu mereka kepada Alhine, lagi-lagi Lingga harus terbengong-bengong dan menahan dirinya.
"Aku mau medium steak, kalau bisa wagyu," ucap Alhine tanpa melihat menu sama sekali ke arah pelayan tersebut.
"Maaf, kami tidak punya steak di sini," jawab pemilik kedai tersebut dengan bingung.
"Kenapa? Bukankah ada lambang hewan sapi di sini?" tanya Alhine seperti bersikeras dengan keinginannya.
"Nona, kedai kami menjual sup tulang sapi. Entah itu iga atau buntut, Anda bisa memilihnya dari menu kami ini saja," jawab pemilik kedai itu lagi.
"Buntut? Tulang-tulangan?" Alhine mendadak berbicara dengan intonasi yang dalam. "Manusia, apa kau sedang menghina seorang kaisar langit? Kami tidak pernah makan apa pun yang berjenis tulang-tulangan apalagi buntut hewan. Kau mau dihukum mati karena menyajikan makanan seperti itu kepadaku?"
Pemilik kedai tersebut langsung melongo di tempatnya dengan bingung. Setelah terpaku sesaat di tempatnya dengan sedikit jengkel, ia memalingkan wajahnya ke arah Lingga untuk meminta bantuan.
"Berikan saja dia sup iga terbaik di sini," ucap Lingga dengan cuek. "Maaf, dia tidak sedang dalam kondisi sehat. Aku juga akan memakan makanan yang sama dan es teh kemasan yang dingin."
Pemilik kedai tersebut kemudian mengangguk dan segera berlalu dengan wajah tersinggung. Sementara Alhine langsung memandangi Lingga dengan wajah yang mendadak penasaran.
"Kau memakan makanan seperti ini di bumi selama ini?" tanya Alhine kepadanya dengan ekspresi yang mendadak berubah drastis.
"Apa memakan tulang-tulangan seperti itu membuatku sedemikian rendah? Orang kaya mana yang tidak pernah memakan sup iga atau sup buntut selama ini?" tanya Lingga sambil sedikit tertawa ke arahnya.
Alhine terdiam sesaat dan terlihat muram. "Bagi kami, disajikan makanan seperti itu adalah penghinaan. Kami terbiasa diberikan bagian terbaik dari semua makanan yang ada, tapi karena kau sudah terbiasa dengan ini ... baiklah, aku akan mencoba makan makanan yang sama denganmu di bumi."
"Kau mau mencoba makan sup iga disini karenaku?" tanya Lingga sedikit heran. "Kenapa?"
"Karena aku harus beradaptasi denganmu. Aku sangat yakin kau adalah seseorang yang dulu sangat dekat denganku," jawab Alhine lagi dengan ekspresi wajah yang serius.
"Maksudmu?"
"Kau milikku," ujar Alhine kepadanya. "Aku sudah hampir yakin soal ini. Kau bukan manusia biasa. Kau pasti dulu milkku."
Lingga terdiam dan berusaha mencerna ucapan Alhine dengan baik. "Tunggu sebentar, Nona Alhine. Kita akan bekerja sama secara profesional dan kau mulai mengucapkan kata-kata yang aku yakini sebagai ... ucapan yang mengarah ke hubungan khusus."
Alhine mengangguk. "Ya, memang seperti itu."
Lingga menatap balik Alhine dengan sorot mata yang tajam. "Mungkin kau sedang salah paham. Aku tidak berminat untuk dekat denganmu di luar wilayah pekerjaan. Nona Alhine, aku punya tunangan dan kami berencana akan segera menikah dalam tiga bulan ke depan."
"Kalau begitu, aku akan membunuh wanita itu," ucap Alhine mendadak dengan bola mata yang tiba-tiba berkaca-kaca setelah lama terdiam. "Aku tidak akan membiarkan pria milikku disentuh oleh wanita mana pun di sini, terlebih manusia."