"Bos, kau baik-baik saja, kan?"
Dendi menoleh ke arah Lingga dari balik meja kerjanya dengan tatapan cemas sore itu. Baru kali ini ia melihat atasan sekaligus teman baiknya itu pingsan di lokasi penggerebekan dan mendapat teguran keras dari Kapolres mereka bersama ketua tim Jatanras.
Meski berhasil, saat itu baik Lingga dan ketua tim Jatanras, semuanya dalam posisi yang sulit. Tidak saja telah melibatkan dua warga sipil ikut dalam operasi mereka, kedua warga tersebut juga kemudian ditemukan dalam kondisi terluka. Jelas ini akan membuat situasi di dalam kantor mereka menjadi heboh, meski warga sipil tersebut yang sebenarnya menyodorkan diri untuk membantu.
Memang situasi terburuk akan lebih menimpa tim Jatanras sendiri. Namun keberadaan Lingga di TKP atau Tempat Kejadian Perkara jelas akan menyeret nama dirinya yang selama ini terkenal disiplin dan juga adalah andalan dalam bekerja.
Belum lagi, Lingga sendiri ditemukan dalam kondisi pingsan dengan kondisi tangan yang terluka. Tidak saja itu, Bos Kalajengking --- target utama mereka --- entah bagaimana juga mendadak menghilang begitu saja dari lokasi begitu saja tanpa terdeksi sama sekali keberadaannya.
Tidak ada satu pun CCTV hotel yang merekam kepergian sang Bos Kalajengking dari dalam ruang karaoke tersebut dan hal itu jelas membuat banyak orang jadi kebingungan. Selain itu, kondisi banyak personel penggerebekan yang ditemukan pingsan di area bawah hotel atau tepatnya area parkir saat berlangsungnya operasi, membuat kasus ini menjadi luar biasa aneh.
Mereka beruntung meski Bos Kalajengking menghilang mendadak, banyak dari anak buahnya yang berhasil tertangkap. Selain itu gudang tempat mereka menyembunyikan sejumlah besar n*****a, personel penjaga di sana, serta pengedar dan daftar list penerima barang juga sudah mereka dapatkan. Karena itu meski kesal, mereka semua juga dianggap berhasil dalam menjalankan tugasnya.
Oleh sebab itulah meski ketua tim Jatanras mendapat hukuman skorsing selama seminggu dan Lingga ditugaskan penuh untuk mengurus kasus ancaman terhadap keluarga Alhine, tim Jatanras tetap mengundang mereka untuk bersenang-senang malam itu. Rencananya, mereka semua akan merayakan keberhasilan besar mereka dengan makan malam bersama di sebuah restoran --- di wilayah terdekat dengan kantor mereka.
"Aku tidak habis pikir, ketua tim Jatanras mendapat hukuman skorsing selama satu minggu penuh dan sanksi pemotongan gaji, tapi dia masih bisa merencanakan pesta bersama kita," ucap Dendi ketika akhirnya ia dan Lingga berjalan keluar dari kantor mereka untuk menuju restoran tempat tim Jatanras mengundang mereka.
"Mereka semua sudah ada di sana?" tanya Lingga akhirnya membuka suara setelah sempat lama terus terdiam dan seperti tengah berpikir keras.
Dendi mengangguk. "Kau tidak masalah, Bos, dipekerjakan untuk menangani khusus kasus wanita aneh bernama Alhine tadi mulai besok?"
Lingga tidak menjawabnya. Ia terlihat menatap lurus ke depan dengan pandangan yang mengawang.
"Dendi, apa yang sebenarnya terjadi kepadaku di TKP tadi?" tanyaa Lingga secara tiba-tiba kepadanya.
"Bos, kau benar-benar tidak ingat sama sekali apa yang terjadi?" tanya Dendi dengan dahi berkerut. "Kukira keterangan hampir kosong yang kau berikan dalam BAP atau Berita Acara Perkara tadi hanya siasatmu saja. Ternyata kau benar-benar lupa dengan apa yang terjadi?
"Mereka menemukanmu dalam kondisi berdarah dan sedang memeluk wanita itu. Semua orang di ruangan tersebut pingsan, termasuk kalian berdua di dalam kamar mandi dan kami yang berada di wilayah parkir. Kasus tadi memang sangat aneh. Bagaimana mungkin tidak ada dari kita yang tahu persis apa yang terjadi tadi termasuk Gank Kalajengking sendiri?"
"Bagaimana wanita bernama Alhine itu bisa naik ke atas? Bukankah seharusnya dia bersama denganmu di bawah tadi?" tanya Lingga lagi dengan raut wajah yang serius ke arah Dendi. "Dia tidak seharusnya naik ke area target, kan? Apa salah satu dari kalian ada yang menyuruhnya naik?"
"Kami tidak tahu soal itu karena mendadak tidak satu pun dari kami yang sadar. Aku terbangun karena tim Jatanras juga dibangunkan oleh banyak petugas hotel di bagian bawah. Para petugas hotel itu merasa bingung karena melihat kita semua serempak tertidur saat menjalankan tugas penting dan curiga sesuatu terjadi kepada kami."
"Kau tahu mengapa tanganku bisa terluka dan bagaimana kaca di dalam kamar mandi itu sampai pecah?" tanya Lingga dengan wajah misterius. Pria itu terlihat seperti bingung dengan kondisi dirinya sendiri.
"Tidak. Sama sekali tidak. Bukankah seharusnya kau lebih tahu soal itu? Kau yang berada di sana, Bos."
"Aku tidak bisa mengingat apa pun sama sekali. Aku bahkan tidak ingat apa yang membuatku berada di ruangan itu lagi. Terakhir yang kuingat hanya aku sedang pergi ke toilet untuk mengabarkan situasi di dalam kepada kalian dan meminta backup," jawab Lingga dengan jujur.
"Tapi...," lanjt Lingga, "aku masih bingung kenapa Bos Kalajengking mendadak sudah tidak ada di sana sama sekali. Seingatku aku melihatnya di dalam ruangan dalam kondisi mabuk bersama Capella sebelumnya."
"Kesaksianmu sama dengan yang diucapkan para bawahan Bos Kalajengking. Mereka semua bersikeras bahwa bos mereka ada bersama mereka sebelumnya, tapi Capella dan wanita bernama Alhine mengatakan kalau mereka tidak melihat Bos Kalajengking ada di sana sejak awal. Level akhohol di dalam darah semua personel Gank Kalajengking menunjukkan kalau mereka semua mabuk berat. Itu makanya kesaksian mereka tidak digubris."
"Bagaimana dengan level alkohol dalam darah pria bernama Capella?" tanya Lingga lagi.
"Dia tidak mabuk sama sekali. Darahnya bersih dari pengaruh alkohol," ucap Dendi dengan tenang.
"Ini aneh sekali," gumam Lingga semakin merasa curiga. "Aku sangat yakin kalau orang bernama Capella itu tadi mabuk berat. Ia menenggak habis satu botol minuman beralkohol dari botolnya secara langsung. Ia juga sempat bertengkar karena Bos Kalajengking melecehkannya. Aku juga tidak minum alkohol sama sekali. Kau tahu persis kan aku tidak pernah merusak diri dengan alkohol atau apa pun saat sedang bekerja, kan?"
"Aku percaya kepadamu, Bos," jawab Dendi. "Tapi mereka menemukan kadar alkohol tinggi dalam darahmu tadi. Kurasa itu sebabnya meski kau dianggap tidak bersalah dalam kasus ini, Pak Derajat tetap menghukummu untuk menjalani pekerjaan lain sementara ini. Semuanya karena kau terbukti mabuk."
"Berurusan dengan wanita itu dan pelayannya sudah cukup aneh. Ini semakin membuatku curiga dengan mereka semua," gumam Lingga sambil terus berjalan. "Lalu sekarang Kapolres menyuruhku untuk menangani kasus ancaman terhadap keluarga mereka. Ini di luar tugas normal yang sering kulakukan."
"Kau masih keberatan menangani kasus ini? Kalau kau merasa keberatan, aku akan mengajukan diri ke Pak Derajat untuk menggantikanmu," tanya Dendi dengan hati-hati kepada Lingga.
"Tidak, justru sekarang aku merasa wajib melakukannya," jawab Lingga dengan yakin. "Selalu ada yang aneh dengan mereka. Aku yakin sekali kalau ada sesuatu yang memang layak untuk diselidiki dari mereka semua --- terlebih setelah kasus sangat ganjil yang terjadi hari ini. Akan sangat aneh untuk orang realistis sepertiku berbicara begini, tapi ... mereka semua memang seperti benar-benar bukan manusia."
"Sejak dulu sebenarnya aku berpikir hal yang sama tentangmu, Bos," ujar Dendi dengan polos dan sambil lalu. "Kau juga bukan seperti manusia normal. Kau terlalu kuat dan pintar sampai membuat yang lain sering takut kepadamu."
Begitu menyadari kalau Lingga meliriknya dengan jengkel, pria itu lalu tertawa di tempatnya sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Ahaha, lupakan ucapanku, aku hanya bercanda saja."
"Aku harus menemui wanita itu sekali lagi. Ada yang membuatku merasa sangat aneh tadi," ucap Lingga sambil melangkah lurus ke depan.
"Emh, kalau soal itu sepertinya kau tidak perlu menunggu. Wanita itu sejak tadi mengikuti kita dari belakang."
Lingga langsung menghentikan langkahnya dengan ekspresi terkejut. "Hah? Apa maksud ucapanmu?"
"Itu...," ujar Dendi sambil menggerakkan kepalanya ke arah belakang mereka dan menunjuk ke arah Alhine yang ternyata sejak tadi berjalan mengikuti mereka dengan sembunyi-sembunyi. "Sejak tadi dia diam-diam mengikuti kita."