"Ka-kaisar, kau sudah bangun?"
Capella memandangi Alhine yang tengah tergeletak di dalam mobil ambulans dan sedang ditangani beberapa petugas medis. Keduanya sama-sama masih berada di area pekarangan parkir Hotel Kamboja dan sedang dalam penanganan tim kepolisian.
Situasi di sekitar mereka tampak ramai. Riuh orang-orang berseragam coklat lalu lalang dan penangkapan gembong mafia n*****a besar dari Gank Kalajengking terlihat menyita perhatian masyarakat setempat. Berjubel orang tampak memadati area itu sampai polisi terlihat harus membatasi wilayah hotel dan parkirannya dengan garis polisi.
Alhine mengerjapkan kedua bola matanya saat petugas medis selesai mengecek luka di tubuhnya dan pergi dari sana. Ia seolah tengah berusaha mencerna situasinya sesaat sebelum kemudian menoleh ke arah Capella yang kini mendapat perban di bagian kepala botaknya.
"Kenapa kita bisa ada di sini?" tanya Alhine sedikit kebingungan. "Bukankah kita semua tadi masih ada di atas?"
"Aku di sini sepertinya karena mabuk dan terluka di kepalaku, tapi ... aku tidak tahu apa yang terjadi kepadamu, Kaisar," jawab Capella dengan raut wajah yang cemas melihat Alhine. "Aku tidak ingat kau pernah pingsan dalam puluhan juta tahun terakhir ini.
"Itu sebabnya aku tadi langsung menghubungi Vega. Sepertinya ini sangat aneh jika kau bisa pingsan hanya karena tindakan seorang manusia. Kau orang terkuat di langit saat ini."
"Bagaimana dengan mereka semua? Kelompok manusia ubur-ubur itu ... apa yang terjadi kepada mereka?"
Capella tampak terdiam sesaat. "Kaisar ... apa tadi ada yang terjadi saat aku dan yang lainnya pingsan?"
"Kenapa?" tanya Alhine dengan suara serak sambil memegangi lehernya yang masih terasa nyeri.
"Semua anak buah penjahat tadi sudah dibawa ke kantor polisi. Para personel kepolisian juga sudah menghubungi kantor kepolisian di Tangerang untuk mengecek wilayah Teluk Naga saat ini. Tapi kata mereka ... tidak ada penampakan Bos Laba-laba sama sekali di hotel ini tadi saat kira semua ditemukan," jawab Capella dengan hati-hati.
"Apa maksudmu?" gumam Alhine dengan alis mata mengernyit. "Sebenarnya mereka kelompok laba-laba atau ubur-ubur?"
"Seluruh anak buah Bos Laba-laba bersaksi bahwa atasan mereka itu ada bersama mereka tadi. Kepolisian juga tadi bertanya kepadaku soal ini, tetapi karena kau melakukan sesuatu kepadanya, aku menjawab kepada para polisi manusia kalau aku juga tidak melihatnya sejak awal. Aku khawatir kau melakukan sesuatu kepadanya."
"Aku ... melakukan sesuatu kepada Bos Ubur-ubur?" ulang Alhine dengan bingung.
"Dia menghilang sama sekali," ucap Capella dengan wajah bimbang. "CCTV Hotel memperlihatkannya masuk ke wilayah hotel ini tetapi tidak satu pun orang melihat dia pernah keluar dari sini atau dari ruangan karaoke kita tadi. Dia tidak pernah keluar sama sekali, tetapi dia juga tidak ada di mana pun. Kupikir ini karena...."
Capella tidak meneruskan ucapannya. Wajahnya terlihat memandangi Alhine yang tampak sedang berpikir dan semakin bingung.
"Di mana polisi manusia itu?" tanya Alhine mendadak teringat sesuatu setelah terdiam cukup lama. "Polisi manusia yang bernama Lingga itu masih ada di sini?"
"Dia juga sedang mendapat perawatan medis seperti kita. Tadi dia juga ditemukan dalam kondisi pingsan dengan kondisi tangan yang terluka parah," jawab Capella lagi. "Kata mereka, dia ditemukan bersamamu dalam kondisi terluka di kamar mandi ruang karaoke. Anehnya, kata mereka kalian sedang berpelukan saat mereka masuk ke saana."
"Aku harus menemuinya," ucap Alhine dengan cepat sambil melepaskan berbagai alat medis dari tubuhnya. "Aku harus mencarinya secepatnya. Firasatku benar, Capella. Sepertinya ada yang aneh dengan manusia itu. Dia jelas bukan manusia biasa!"
"Ka-kaisar, sebaiknya jangan dulu keluar dari sini karena Vega sebentar lagi akan sampai untuk mengecek kondisimu," seru Capella mengingatkan Alhine. "Aku tadi menghubunginya untuk datang karena ada hal ganjil yang terjadi kepadamu. Berbeda denganku yang berada di bawah pengaruh alkohol, kau tidak seharusnya bisa pingsan hanya karena seorang manusia biasa. Kurasa ini kasus yang lumayan serius."
Alhine tidak mempedulikan ucapan Capella dan segera beranjak turun dari ranjang besi kecil yang berada di dalam mobil ambulans mereka. Namun begitu ia bermaksud akan melesat pergi, seseorang mendadak menahan tubuhnya.
Alhine mendongak dan melihat Vega sudah ada di depannya. Tangan Vega kini menahan pundak Alhine sambil memandanginya dengan wajah yang sangat serius dan bola mata yang memandak memutih.
"Kaisar, wajahmu sangat pucat dan energi di tubuhmu saat ini sedang berkurang drastis. Jelas ada hal sangat serius yang bisa sangat membahayakanmu," ujar Vega dengan intonasi suara yang tenang meski dahinya tampak bekerut. "Kekuatan dalam tubuhmu sepertinya sedikit melemah."
"Tentu saja melemah. Ini karena pria manusia itu berada di dekat kita saat ini," jawab Alhine kepadanya.
"Manusia bernama Lingga tidak ada di sini. Dia tadi sudah tersadar dan pergi kembali ke markas mereka karena harus memberikan keterangan. Kasus ini ternyata disorot oleh atasan mereka karena melibatkan kalian hingga membuat kalian terluka," kata Vega sambil menatapnya. "Meskipun begitu aku sempat berbicara sejenak dengannya tadi saat ia tersadar."
"Kau berbicara dengannya?" tanya Capella dengan raut wajah yang kaget.
Vega tidak menjawab pertanyaan Capella dan masih menyentuh bahu Alhine. "Kaisar, sebaiknya untuk sementara kau tidak berada dekat dalam radarnya. Aku khawatir ada masalah serius yang akan terjadi kelak jika kau terus berusaha mendekatinya. Aku setuju denganmu, kurasa dia bukan orang biasa dan cukup berbahaya."
"Kenapa kau bisa mendatanginya terlebih dahulu padahal kau tidak tahu apa pun tentang apa yang sedang terjadi kepadaku dan Capella?" tanya Alhine secara tiba-tiba ke arah Vega setelah teringat sesuatu. "Vega, apa ada sesuatu yang sedang kau rahasiakan dariku? Apa kau memang mencurigainya sejak awal?"
"Ada sesuatu yang sedang kuselidiki sejak kemarin, tetapi ini bukan sesuatu yang penting," jawab Vega sambil menarik napas panjang.
"Itu yang membuatmu menghilang setelah makan malam kemarin? Kau menyelidiki pria bernama Lingga itu?" tanya Alhine dengan tatapan mata tajam ke arah Vega. "Sesuai dugaanku, dia ... bukan manusia, kan?"
"Kaisar, dia benar-benar seorang manusia," jawab Vega ke arahnya. "Namun sepertinya ada yang pernah terjadi kepadanya dulu sampai dia tidak memiliki warna tubuh seperti manusia pada umumnya. Ada sesuatu tentangnya yang berkaitan denganmu hingga jika berada di dekatnya, kau akan kehilangan semua kekuatanmu."
"Dia bukan quasar, kan?" tanya Capella mengikuti perbincangan serius kedua wanita tersebut.
"Aku tidak cukup yakin soal itu. Kurasa dia bukan quasar," jawab Vega kepada Capella. "Namun memang aku merasakan sisa-sisa energi lain ada bersamanya tadi. Sesuatu yang berbeda. Kurasa memang ada yang memasuki tubuhnya sesaat. Anehnya, dia tidak ingat apa pun yang terjadi kepadanya saat bersama kaisar di dalam ruangan itu tadi."
"Vega, dulu kau pernah hampir menusukku dengan potongan kaca karena dulu kau sangat membenciku. Kau masih ingat soal itu?" tanya Alhine setelah terdiam kaku di tempatnya selama beberapa saat. "Saat itu, ada seseorang yang terluka karena berusaha melindungiku. Apa ... dia yang melindungiku dulu adalah suamiku atau ada orang penting lainnya dalam kehidupanku saat itu?"
"Kaisar, aku tidak bisa mengingat apa pun yang terjadi dulu," jawab Vega dengan raut wajah yang misterius.
"Jawab pertanyaanku dengan jujur atau aku akan membunuhmu," desis Alhine marah dengan bola mata mulai berkaca-kaca. "Apa yang melindungiku dulu adalah seseorang yang kau kenal? Jawab pertanyaanku karena ini perintah langsung dariku!"
Vega terdiam sesaat dengan sorot mata yang mendadak kelam dan menerawang. Setelah lama berdiam diri, wanita itu kemudian menatap langsung ke arah mata Alhine dengan kesedihan yang tersembunyi.
"Ya, aku mengenalnya. Dia ... Panglima Zegerux. Suamimu, sekaligus ayah Putra Mahkota Xynth."