Alhine & Lingga #5

1622 Kata
Alhine berniat bergerak untuk melumpuhkan Bos Kalajengking lagi karena kesal, tetapi entah bagaimana mendadak tidak ada kekuatan yang keluar dari tangannya sendiri. Wanita itu memandangi tangannya sendiri dengan heran dan kemudian menoleh ke arah Capella. "Capella kekuatanku kembali menghilang. Polisi manusia itu pasti sudah siuman dan sedang menuju ke sini," ucap Alhine sedikit panik. "Hapus ingatan mereka semua dengan cepat sebelum orang itu menangkap semua manusia kriminal ini dan menginterogasi mereka soal apa yang sebenarnya terjadi di ruangan ini!" "Ka-kaisar, kau lupa, aku bukan Vega dan yang lain-lainnya. Aku hanya mampu membaca isi pikiran, menghilang, dan menerbangkan barang-barang. Aku tidak bisa menghapus ingatan manusia sama sekali," ucap Capella kepada Alhine. Ia mulai curiga Alhine mungkin bahkan tidak pernah sadar akan hal itu selama ini. Rupanya dugaan Capella benar. "Hah? Jadi selama ini kau tidak bisa melakukannya? Kau setidak berguna itu?" tanya Alhine dengan ekspresi wajah yang kaget. "Ka-kaisar, kita sudah seratus juta tahun saling mengenal dan kau sama sekali tidak tahu tentangku selama ini sama sekali?" tanya Capella dengan ekspresi wajah yang terpukul. "Aku bahkan sudah bersamamu sebelum putra mahkota lahir!" "Tunggu sebentar, Capella, fokus dulu! Kekuatanku menghilang, tolong pukul pria ubur-ubur itu!" "A-aku? Memukul Bos laba-laba m***m itu?" tanya Capella dengan nada ragu. "Siapa lagi?! Kau mau menyuruhku mengotori tanganku? Aku tidak sudi melakukannya lagi pula kekuatanku kan menghilang!?" Bos Kalajengking mendelik. "Kekuatanmu menghilang? Apa yang sebenarnya sedang kalian bicarakan?" Bos Kalajengking mengangkat tiang mic di dekatnya dan kemudian mendorong Alhine menggunakan alat itu dengan was-was. Kedua bola matanya terbelalak ketika melihat Alhine langsung terseret mundur beberapa langkah. "Kenapa dengan manusia bodoh ini?" tanya Alhine dengan kesal sambil memegangi pinggangnya yang terkena sodokan tiang mic. "Kau ... benar-benar sudah tidak punya kekuatan sihir tadi?" tanya Bos Kalajengking dengan mata yang kini mulai berkilat-kilat senang. "Kalian sudah tidak lagi seperti tukang sihir di film-film aneh atau semua ini karena aku akhirnya tersadar dari mabukku dan semuanya tadi hanya khayalanku semata?" "Ka-kaisar, kita toh sudah tahu lokasi gudang n*****a mereka," bisik Capella mengacuhkan ucapan Bos Kalajengking. Ia berusaha berjalan mendekat ke arah Alhine. "Sekarang kita pergi saja karena kita tidak boleh berurusan dengan manusia terlalu dalam." Capella yang khawatir Alhine akan meledak marah jika terus berbicara dengan Bos Kalajengking segera menarik badan Alhine yang memandangi Bos Kalajengking dengan ekspresi datar. Dengan perlahan, ia berusaha membawa Alhine kabur, tetapi Bos Kalajengking dengan cepat langsung menahan keduanya. "Tunggu dulu, tadi kalian mengatakan barang kami ada di Teluk Naga?" tanya Bos Kalajengking sambil menyeret kembali keduanya masuk ke ruangan karaoke dan mendorong mereka dengan keras ke lantai. "Bagaimana kalian bisa tahu soal Teluk Naga? Hanya ada empat orang bawahanku yang tahu lokasi gudang kami dan tidak satu pun dari mereka yang ada di sini tahu soal itu. Katakan kepadaku, bagaimana kalian bisa tahu soal lokasi gudang kami?" "Te-teluk Naga? Apa itu Teluk Naga? Apa itu kota di buku dongeng?" tanya Capella berusaha berkelit. Ia sengaja memasang tampang bodoh tetapi Bos Kalajengking langsung tertawa sinis. "Apa kau sedang berusaha melucu kepadaku, Banci Botak Sialan?! Apa kau pikir kau akan bisa mengelabuhiku? Kalian tadi sudah menyebutkannya dengan jelas. Kalian tahu kalau barang-barang kami ada di Teluk Naga. Kalian bahkan tahu kalau kami akan memindahkannya ke Tanjung Pasir hari ini." "Kau salah mendengar---" Buuukk! Bos Kalajengking membenturkan kepala Capella ke lantai dengan tangannya dan langsung membuat suasana hening seketika. Darah segar langsung mengucur dari hidung Capella yang kini memandang dengan serius ke arah wajah Bos Kalajengking. "Manusia, apa yang kau lakukan kepada orangku?" desis Alhine dengan sangat serius dan sinar mata yang mulai marah. "Tidak ada satu pihak pun boleh melukai mereka selain aku!" Plaaakk! Kini bos Kalajengking menampar keras wajah Alhine hingga wanita yang terduduk di lantai itu terjatuh tengkurap ke lantai. Alhine menoleh ke arah Bos Kalajengking lagi dengan mata yang kini berkilat-kilat murka. "Kau berani menamparku?" desis Alhine dengan intonasi suara yang dalam. "Kau berani menampar langit?!" Buuukk! Pemimpin kelompok Kalajengking itu kini juga membenturkan kepala Alhine ke lantai seperti yang ia lakukan kepada Capella. Pria itu tertawa lepas saat melihat darah juga mulai keluar dari hidung Alhine. "Aku tidak peduli meski kau wanita dan sangat cantik, tetapi tidak seharusnya kalian berani menghadapi kami. Kami di sini bukan orang-orang sembarangan," ujarnya sambil menyeringai lebar. Capella yang terkejut melihat Alhine dipukul, segera bangkit dengan marah. Ia kemudian balas memukul Bos Kalajengking dengan kepalan tangannya. "Tidak boleh ada satu pun dari kaum bintang boleh menyentuh kepala satu sama lain, tapi kau baru saja melakukan kesalahan terbesar untuk nyawamu, Manusia! Kau baru saja menyentuh kaisar kami dengan tangan kotormu. Apa kau pikir kau akan selamat setelah ini?!" Bos Kalajengking mengusap wajahnya yang baru saja dipukul oleh Capella sambil meludahkan darah dari mulutnya. Dengan gerakan cepat, pria itu kemudian segera mengambil botol alkohol kosong dari atas meja ruang karaoke dan langsung memukul kepala Capella dengan menggunakan benda itu. Capella yang tanpa persiapan sama sekali dan masih lengah karena setengah mabuk, ambruk seketika ke lantai dengan kepala penuh darah. Alhine yang masih berusaha mencerna situasi yang jarang terjadi kepadanya itu pun langsung terbelalak kaget. "Capella ... kau ...?" "Ka-kaisar, lari dari sini," ucap Capella sesaat sebelum tergeletak pingsan di lantai dengan darah bersimbah dari kepalanya. "La...ri." "Aku mengutukmu, Manusia," ucap Alhine mendadak setelah melihat Capella pingsan, dengan penuh amarah dan pundak yang bergetar hebat karena marah. "Jika langit tidak membunuhmu dalam satu kali 24 jam setelah ini, aku sendiri yang akan mendatangimu kelak dan membuatmu mati mengenaskan! Kau punya waktu untuk berhenti melakukan apa pun yang berusaha kau lakukan saat ini!" "Kau? Kau yang akan membunuhku?" teriak Bos Kalajengking dengan tawa geli ke arah Alhine. Pria itu kini menjambak rambut halus dan indah Alhine lalu menyeret kepala Alhine ke arah pintu kamar mandi. Ia kemudian menghempaskan Alhine di lantai kamar mandi sebelum mulai membuka ikat pinggangnya dengan perlahan. "Wanita sepertimu harus dibungkam! Lebih baik lagi jika kau tahu batasan antara pria dan wanita dan tidak banyak bicara atau ikut campur dalam masalah kami," ujar pria itu kini sambil berjongkok dan menarik paksa cardigan Alhine dari tubuh kaisar langit tersebut dan melucutinya. Alhine berusaha memukul kepala Bos Kalajengking yang berusaha menyentuh tubuhnya. Namun mendadak tangan Bos Kalajengking langsung mencengkeram batang leher Alhine yang kecil dan mulus. Pria itu kemudian mendorong tubuh Alhine ke dinding sambil mencekik leher Alhine keras-keras. "He-hentikan...." Kedua kaki Alhine menggelepar di dinding. Ia berusaha melepaskan cengkeraman kuat tangan Bos Kalajengking dari lehernya, tetapi tangannya terasa lemah karena ia mulai tak bisa bernapas. "He-hentikan kataku..." Alhine sekali lagi berusaha bersuara untuk menghentikan pria itu. Sayangnya, Bos Kalajengking malah membekap mulut Alhine yang sudah kekurangan oksigen dan membuat wajah Alhine yang kini mulai seperti membiru terlihat lebih bengap. "Lepaskan dia!" Suara bisikan seperti menggema mendadak terdengar dari dalam kamar mandi ruangan karaoke tersebut dan seketika mengejutkan Bos Kalajengking yang masih mencekik Alhine. Pria itu menoleh ke kiri dan kanan tetapi tidak melihat siapa pun ada di sana. "Lepaskan dia." Gaung suara seseorang kembali menggema dan kali ini Alhine memanfaatkan kelengahan Bos Kalajengking tersebut dengan langsung menggigit pinggiran telapak tangan pria itu keras-keras. Begitu sang bos Kalajengking berteriak kesakitan, Alhine menendang s**********n pria itu dan segera berusaha berlari keluar dari sana. Betapa terkejutnya Alhine ketika ia membuka pintu kamar mandi, sudah ada Lingga berdiri mematung di bagian luar kamar mandi dengan tubuh kaku. Kepala pria itu terlihat menunduk ke bawah dalam diam. "Ka-kau...." Ucapan Alhine terhenti. Wajahnya terpaku saat melihat Lingga mengangkat wajahnya dan menatap Alhine yang sudah dalam kondisi berdarah dan acak-acakkan dengan ekspresi yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Warna kedua bola mata pria itu terlihat mendadak kebiruan dengan sorot mata yang kosong saat ia menarik badan Alhine dan memeluknya dengan erat. Alhine terkejut ketika sudah berada di dalam pelukan Lingga. Sekujur tubuh Alhine langsung bergidik. Dalam tempo sangat singkat wanita itu bisa merasakan energi luar biasa dari seluruh tubuh Lingga yang membuat lututnya seketika melemah. Wanita itu hampir tersungkur di depan Lingga, tetapi pria itu menahannya dan langsung mengusap darah dari bawah hidung Alhine dengan sorot mata yang kini sedih. Pria itu mengangkat lagi Alhine dengan mudah dan membiarkan Alhine mengatur napasnya yang tersengal-sengal. "Si-siapa kau?" tanya Alhine dengan suara serak. "Siapa kau sebenarnya?" Bos Kalajengking yang melihat keduanya langsung menyelimuti tangannya dengan cardigan Alhine tadi. Ia lalu memecahkan kaca cermin kamar mandi dan mengambil potongan kaca cermin tertajam. Dengan langkah cepat, ia segera berlari untuk menusuk badan Lingga yang sedang memeluk Alhine. Sayangnya, Alhine menangkap pergerakan Bos Kalajengking dan segera memutar tubuhnya secara refleks untuk melindungi Lingga. Hanya dalam beberapa detik kemudian, Bos Kalajengking itu menusukkan potongan tajam kaca di tangannya ke arah Alhine dengan sekuat tenaga. Namun, entah bagaimana sesuatu menahannya dengan cepat dan membuat tubuhnya mendadak ikut tertahan tanpa bisa bergerak sama sekali. Alhine melongok ke arah bawah perutnya dan melihat tangan Lingga sedang mencengkeram kuat potongan kaca tersebut untuk melindungi Alhine. Wanita itu menahan napas saat melihat begitu banyak darah membanjiri bagian dalam telapak tangan Lingga. Mendadak kepalanya terasa pusing. Alhine melangkah mundur dengan pandangan mengarah ke wajah Lingga dengan ekspresi limbung. "Ini pernah terjadi sebelumnya, kan? Kau pernah melakukan hal yang sama kepadaku jauh sebelumnya?" gumam Alhine dengan jantung berdebar kencang. Sesuatu mendadak terlintas ke dalam kepalanya dan ia langsung menangis tanpa sebab di tempatnya berdiri. Ada sesuatu yang sangat familiar dalam kepalanya sejak dulu yang selama ini tertutup rapat, mendadak berusaha menguak keluar begitu saja. "Siapa kau sebenarnya dalam hidupku dulu?" Suara Alhine mengalir begitu saja dari mulutnya yang tiba-tiba tersedak dalam tangisan. "Siapa kau---" Bruuuk! Tubuh Alhine mendadak ambruk sendiri di tempatnya akibat merasakan aura energi yang sangat berbeda dan begitu besar dari dalam tubuh Lingga. Wanita itu kemudian terjatuh ke lantai sekali lagi. Matanya masih memandang ke arah Lingga yang sedang menatap tajam ke arahnya dengan bola mata yang sangat biru, sebelum akhirnya wanita itu menutup matanya dan tak sadarkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN