Bos Kalajengking terbangun perlahan dengan mata setengah memicing. Setelah membangun kesadarannya sendiri dengan susah payah, bola matanya kini menatap ke arah Alhine dengan pandangan sedikit bingung.
"Siapa kau?" tanya pria itu sambil mengucek matanya dan berusaha mengangkat tubuhnya dari tempatnya tergeletak di atas sofa di ruangan karaoke tersebut dan mulai duduk.
"Manusia ubur-ubur, di mana kau menyimpan semua barang bukti kejahatanmu?" tanya Alhine dengan nada tajam.
"Ubur-ubur...? Apa maksud wanita ini? Siapa dia?" tanya Bos Kalajengking dengan bingung ke arah semua bawahannya.
"Aku tidak punya banyak waktu, di mana kau simpan barang-barang kotormu?" desis Alhine lagi dengan tidak sabaran.
Bos Kalajengking terbengong-bengong di tempat. Ia melirik ke arah para bawahannya lagi dan baru menyadari bahwa Bu Laksmi yang ia temui sebelumnya adalah Capella, pria berkepala botak yang saat ini tengah ditahan oleh para bawahannya di lantai ruang karaoke mereka.
Pria itu pun membangun kesadarannya secara penuh dan kini menatap ke arah Alhine dengan raut wajah yang mendadak dingin. "Rupanya kalian orang-orang suruhan kepolisian? Kalau kalian ingin mencari barang bukti di sini, kalian akan sangat kecewa karena kami tidak membawa apa pun ke sini.
"Kau lihat, Nona," lanjutnya lagi, "kami di sini semua berkumpul hanya untuk senang-senang saja. Tidak ada seorang pun yang ada di sini memiliki tujuan untuk berbuat onar selain kalian. Bahkan jika polisi datang sekalipun, mereka hanya akan mendapatkan kami membawa senjata api, tetapi tentunya kami juga bisa menyerahkan surat ijin kepemilikan senjata kami. Dunia bisnis memang kejam dan menakutkan, jadi ... kami perlu untuk sedikit melindungi diri kami."
"Cerewet!" desis Alhine cuek.
"Apa kau bilang?!" Wajah Bos Kalajengking mulai murka.
"Kau banyak mulut," kata Alhine lagi dengan santai. Wanita itu kemudian menoleh ke arah Capella yang masih meringis ketakutan di lantai.
"Capella, baca isi kepalanya sekarang! Di mana gudang penyimpanan mereka?!"
"Ka-kaisar, aku masih kesusahan," jawab Capella sambil berusaha bergerak pelan dari bawah lantai. "Kepalaku masih terasa pusing dan mereka sedang menekanku."
Bruukk!
Seluruh orang di sekeliling Capella mendadak melepaskan tangan mereka dari Capella dan serempak terjatuh ke lantai dan langsung berlutut. Tubuh mereka tiba-tiba mematung dengan kaku dan tidak satu pun dari mereka mampu mengangkat kepala mereka ke arah wajah Alhine.
"Si-siapa kalian sebenarnya?!" tanya bos Kalajengking dengan mata mendelik ngeri ke arah Alhine. Wajahnya bergantian memandangi Alhine dan Capella, lalu kembali melihat ke arah semua anak buahnya yang mendadak terlihat tidak mampu bergerak sama sekali.
"Aku adalah kaisar langit, pemilik langit," jawab Alhine kepadanya dengan intonasi mencekam. "Bagi kami di atas sana, manusia yang tidak tunduk kepada langit biasanya adalah orang-orang quasar atau manusia murtad yang perlu dihukum. Kau adalah salah satunya yang pantas mati."
"A-apa?!"
"Di mana barang-barang kalian? Jangan mempersulit para polisi manusia dalam bekerja. Hidup mereka sudah sulit dengan gaji kecil dan aku cukup marah kalau harus membayangkan kerja mereka setiap hari akan terus bertemu dengan manusia-manusia kriminal seperti kalian," kata Alhine lagi dengan ekspresi jengkel.
"Kau salah, kami tidak melanggar hukum sama sekali. Kau bisa menyuruh semua personel dari kepolisian untuk naik dan mengecek situasi kami di sini. Tidak ada apa pun yang bisa membuat kami bisa ditangkap," jawab Bos Kalajengking sambil tertawa geli ke arah Alhine.
"Itu makanya aku kasihan kepada polisi manusia itu," gumam Alhine sambil teringat Lingga. "Dia pasti bekerja siang dan malam untuk menangkap orang-orang tidak tahu diri seperti kalian. Nyawanya juga terancam karena kelompok manusia seperti kalian. Kurasa ... aku akan membunuhmu saja untuk meringankan beban polisi manusia itu."
"Ka-kaisar, kau tidak boleh melakukannya," ucap Capella mendadak memperingatkan Alhine. "Kau tidak diperbolehkan membunuh manusia lagi. Kutukan langit sudah jatuh sangat banyak kepadamu. Itu akan membahayakanmu nantinya."
"Kau masih saja percaya dengan mitos-mitos murahan langit seperti itu?" tanya Alhine sambil mengernyitkan alis matanya ke arah Capella dan memutar bola matanya. "Manusia satu ini layak mati."
Bos Kalajengking tertawa lagi. "Kalian tidak bahkan memegang senjata saat ini. Bagaimana kalian berpikir akan dapat membunuh kami?"
"Dengan cara begini," ucap Alhine sambil mendadak menerbangkan Bos Kalajengking dari atas sofanya dan kemudian membanting badan orang tersebut dengan keras ke dinding ruang karaoke.
Bos Kalajengking berteriak keras saat tubuhnya terjatuh kembali ke atas sofa. Ia lalu menatap ke arah Alhine dengan pandangan bingung dan ketakutan.
"Ba-bagaimana kau bisa....?"
Plaaakkkk!
Sebuah tamparan keras dari kejauhan melayang ke pipi sang Bos Kalajengking. Pria pemimpin kelompok mafia penjualan obat-obatan terlarang itu melihat dengan jelas sinar berwarna keperakan mendadak menyelimuti seisi ruangan itu dan kemudian terbelalak ngeri.
"Si-siapa kalian? Kalian bukan manusia?" tanyanya dengan suara bergetar dan wajah yang mulai memucat. Seluruh badannya kini mulai gemetaran. "A-atau kalian kelompok dukun dengan kekuatan hitam?"
"Sudah kubilang, kami dari langit. Kami berkuasa atasmu dan kelompokmu saat ini ... dan bisa membuatmu mati jika kami mau," bisik Alhine ke arahnya dengan tatapan sadis. "Aku mempunyai batas kesabaran. Kalian sama sekali bukan lawanku jadi jangan menghabiskan waktuku sembarangan! Katakan, di mana barang-barang itu dan aku akan membiarkan kalian semua hidup!"
"A-aku tidak tahu apa maksudmu!" teriak Bos Kalajengking dengan keringat bercucuran.
"Kau tidak tahu? Baiklah. Kalau begitu kau mati saja," ucap Alhine dengan ringan sambil mengangkat sekali lagi tubuh Bos Kalajengking ke udara.
"Ka-kaisar, tunggu sebentar, aku sudah bisa membaca isi kepalanya!" seru Capella dengan panik. Pria botak itu khawatir Alhine akan membunuh manusia di bumi dan mengakibatkan hal fatal terjadi kepada mereka semua kelak. "Di Teluk Naga! Gudang mereka ada di Teluk Naga!"
"Teluk Naga? Di mana itu?" tanya Alhine sambil mengangkat alis matanya ke arah Capella.
"Teluk Naga, Tangerang. Tepatnya di hutan bakau dekat desa di Teluk Naga. Mereka menyimpannya di sana. Saat ini sebagian barang baru saja diambil keluar dari wilayah itu dan sedang dalam perjalanan menuju ke tempat lain. Mereka bermaksud memindahkannya ke wilayah Tanjung Pasir."
"Wilayah Tanjung Pasir? Di mana itu?" tanya Alhine lagi dengan bingung.
"Kaisar, kita tidak punya banyak waktu! Biarkan saja para polisi manusia yang mencari lokasi persisnya!" Capella berseru dengan wajah tegang. "Semua itu ada di dalam kepala Bos Laba-laba ini.
"Itu ... yang tertera di kepala orang ini saat ini?" tanya Alhine berusaha mendapat kepastian dari Capella.
"Itu ... dan dia juga berpikir kalau kau wanita yang mengerikan," jawab Capella dengan polos.
Sontak, Alhine mencubit keras pipi Capella yang berwajah serius sampai pria itu menjerit kesakitan.
"Ka-kaisar, kenapa kau mencubitku?! Bukan aku yang mengatakan kau mengerikan, tapi manusia penjahat itu!"
"Tapi kau yang mengucapkannya dari mulutmu," tukas Alhine dengan jengkel seperti biasa.
"Itu karena kau bertanya kepadaku mengenai isi kepalanya. Aku hanya berusaha memberitahu selengkapnya apa yang ia pikirkan saat ini. Ia juga berpikir kau wanita mengerikan seperti nenek sihir dan dia juga sedang berpikir kalau mungkin seorang siluman."
"Siluman? Aku disamakan dengan jenis makhluk setengah manusia yang murahan seperti siluman?" tanya Alhine dengan nada mulai meninggi dan mata yang melotot tajam ke arah Capella.
"Ti-tidak, maksudku, bukan aku yang---"
Plaaakk!
Tangan Alhine sudah memukul kepala botak Capella dan membuat pria itu sekali lagi meringis kesakitan.
"Berani sekali kau bilang aku siluman!"
"Bu-bukan aku, Kaisar. Itu dia yang mengucapkannya," cetus Capella dengan air mata berderai dramatis akibat frustasi.
Bos Kalajengking yang menganga melihat Alhine sedang menyiksa Capella mendadak tersadar bahwa itu saat yang tepat baginya untuk kabur. Dengan perlahan, pria itu pun berjingkat keluar dan berusaha menyelinap keluar dari ruangan itu.
Sayangnya, Capella melihat pergerakannya. Pria botak itu pun langsung memberi isyarat ke arah Alhine bahwa Bos Kalajengking sedang mencoba untuk kabur dari mereka. Dengan gerakan cepat, Alhine kemudian menarik kerah baju pria itu dari belakang dan melemparkannya kembali ke atas sofa.
"Mau ke mana kau?" desis Alhine ke arahnya. "Kau harus bersedia ditangkap oleh polisi manusia tampan itu dan semua teman-temannya!"
"Po-polisi manusia tampan?" tanya Bos Kalajengking kebingungan setelah tertangkap basah akan kabur.