Alhine & Lingga #3

1419 Kata
"Bu Laksmi, Anda tidak apa-apa?" tanya seseorang kepada Capella di dalam ruangan karaoke yang sangat ribut tersebut. Capella yang masih menyamar terlihat membungkuk dengan wajah mual seperti ingin muntah. Ia melompat turun dari atas meja sambil menutupi mulutnya. "Tidak apa-apa," jawab Capella sambil menggoyangkan kepalanya dengan lemas. Pria itu kemudian mengambil satu teko air es dan menenggaknya sampai habis dengan cepat. "A-anda sepertinya terlihat sangat haus sejak tadi," jawab bawahan Bos Kalajengking dengan mata melotot kaget. "Bukan haus, aku merasa sangat kepanasan. Apa AC ruangan di sini tidak bekerja dengan benar? Panas sekali di dalam ruangan ini," jawab Capella sambil mengusap mulutnya. "Bos kalian masih belum juga sadar?" "Dia baru saja jatuh tertidur," kata orang itu lagi dengan masih mengamati wajah kemerahan Capella. "Kenapa dia tertidur? Dia tidak boleh tertidur. Aku harus tahu di mana lokasi dia menyimpan barang-barangnya," ucap Capella sambil bergerak mendekat ke arah bos Kalajengking yang sedang tergeletak di sofa. "Tadi sudah kami katakan kalau kami akan mengirimkan barangnya secara langsung. Anda tidak perlu khawatir dengan prosesnya atau di mana selama ini kami menyimpan barang kami. Tidak bahkan kami di sini tahu persis di mana letak lokasi gudang bos kami. Bos cukup paranoid dan sangat berhati-hati." Capella mengangkat kerah baju pria tadi dengan kesal. "Tutup mulutmu! Sudah kubilang aku harus tahu di mana letak gudang kalian karena alasan lain!" Pria bawahan Bos Kalajengking tadi langsung terdiam. Ia melirik ke arah bawahannya yang lain dan secara serempak, mereka langsung mengamati dengan tajam gerak-gerik Capella yang kini lanjut mendekati sofa tempat Bos Kalajengking tergeletak tidur. "Bu Laksmi," seseorang dari barisan bawahan Bos Kalajengking yang dari tadi berkaraoke dengan Capella mendadak berlari ke arah Capella dan menarik tangan pria itu sambil tertawa. "Katamu tadi kau akan menyanyi dan menarikan lagu 'What Is Love'-nya Twice?" "Twice?" ulang Capella setengah sadar. "Tapi ... aku sedang sibuk saat ini." "Tadi kau sudah berjanji," ucap orang tersebut sambil menarik lengan Capella dengan keras. "Ayolah, kita kembali bersenang-senang saja!" "Tu-tunggu, aku sedang merasa tidak---" Kreett ... brukkk! Mendadak baju yang dikenakan oleh Capella robek di bagian tengahnya karena ditarik terlalu kuat oleh orang tadi. Baju di bagian d**a Capella semuanya tersingkap seketika dan langsung memperlihatkan d**a telanjang Capella yang dibalut dengan perban. Ada busa d**a palsu di dalamnya, sekaligus tempat untuk meletakkan clip on wireless pihak kepolisian. "A-apa itu?" tanya orang yang menarik baju Capella dengan bola mata yang mendadak terbelalak lebar. Sementara Capella sendiri baru tersadar akan situasinya dan langsung terdiam kaku di tempatnya berdiri. "Di-dia bukan wanita," ucap bawahan Bos Kalajengking lainnya dengan wajah terperangah kaget. "Hah? Tidak mungkin, dia mungkin hanya wanita berdada rata," ucap orang yang menarik Capella tadi tidak mampu menerima kenyataan. "Lihat saja wajahnya cantik, kulitnya mulus dan rambutnya sangat indah." Serrrt ... buuk! Seakan sudah nasib, baru saja orang tadi selesai bicara, rambut palsu Capella mendadak tergelincir jatuh begitu saja dan kini menunjukkan kepala botak Capella yang mengilap. Kini, semua orang di dalam ruangan itu menahan napas saat melihat orang yang mereka sangka adalah Bu Laksmi, tengah berdiri dalam kondisi setengah b***l dan sedang berusaha menutup bagian dadanya sendiri dengan malu. "A-apa yang kalian lakukan?! Kalian sedang melecehkanku secara seksual?!" jerit Capella panik dan berusaha tetap berakting. Bruuuk! Kali ini, gaun pria botak yang tengah berusaha berkelit itu tergelincir jatuh dari pundaknya dan menyisakan Capella hanya dengan kolor semata. Rupanya karena ditarik paksa tadi, tali gaun Capella terputus. Pria itu pun melongo di tempatnya berdiri. "A-apa-apaan ini?! Kenapa semua yang menutupi onderdil tubuhku mendadak serempak terlepas sendiri?!" ucap Capella dengan bengong sambil memandangi wajah pucat seluruh isi ruangan yang mendadak kembali hening dan mematung menatap Capella. "Kau punya burung...," gumam orang yang menarik baju Capella tadi dengan wajah syok dan mulut berbusa, sambil mengarahkan telunjuknya ke s**********n Capella. "Dia ternyata banci jadi-jadian," ujar yang lain dengan wajah sama terpukulnya. "Ka-kalian salah paham," tukas Capella dengan gugup. "A-aku sebenarnya---" Capella tidak sempat menyelesaikan kelimatnya. Bunyi senjata di kokang secara serempak terdengar dari seluruh penjuru ruangan dan kini hampir semua orang di dalam ruangan itu mengarahkan senjata mereka ke kepala Capella. "Rupanya kau hanya seorang laki-laki yang menyamar," ujar bawahan bos Kalajengking dengan senyum getir. "Kau sengaja mempermainkan kami? Kau dari tim kepolisian? Pantas saja tadi kau berusaha membangunkan bos kami dan ingin mencari tahu di mana letak tempat penyimpanan kami. Rupanya kau bekerja untuk para polisi k*****t itu!" "Ja-jangan salah paham," ucap Capella mulai melangkah mundur dengan gugup. "Aku benar-benar tidak tahu apa-apa dan hanya berusaha untuk mencari tahu soal ini karena ada seseorang yang menyuruhku. Jangan khawatir, seseorang yang menyuruhku itu sama sekali bukan dari kepolisian." "Begitu...?" tanya bawahan Bos Kalajengking tadi mendengarkan penjelasan Capella sambil tertawa geli. Ia melirik ke arah Capella dengan mata yang berkilat-kilat marah. "Ya, bosku bukan orang dari kepolisian, tapi memang dia sedang bekerja sama dengan pihak polisi dan mengajakku ikut bersama dengan mereka pada operasi penangkapan bos kalian ini," cerocos Capella tanpa sadar membongkar aibnya sendiri. Pria itu kemudian menampar mulutnya sendiri setelah melihat seisi ruangan mendadak kembali hening dan menatapnya dengan jengkel. Capella pun tertawa kikuk sambil menggaruk-garuk kepala botaknya dengan canggung. "A-aku pasti salah bicara," gumam Capella kehabisan akal dan mulai merasa terancam. "Ya itu artinya kau memang berasal dari pihak kepolisian! Menyebalkan!" teriak salah satu dari mereka dengan gemas dan jengkel. "Kita bunuh saja dia dan segera kabur dari sini," celetuk yang lain dengan panik. Sebagian dari mereka langsung mengangkat barang-barang mereka dari ruangan itu untuk mencari cara kabur begitu tahu kalau mereka diincar oleh pihak kepolisian. Jika ada Capella di tengah-tengah mereka saat itu, orang-orang di sana tahu pasti --- berarti polisi yang merencanakan operasi tersebut juga sudah bersiap untuk meringkus mereka semua. "Tu-tunggu sebentar," ucap Capella sambil memakai wig dan beha palsunya sekali lagi. "Aku...." Capella tidak menyelesaikan kalimatnya. Begitu selesai memakai pakaiannya yang robek lagi, pria itu segera berusaha mengambil langkah seribu. Sayangnya, baru saja ia akan membuka pintu untuk kabur, tangan para bawahan Bos Kalajengking langsung menarik kencang pundak Capella dan membanting pria botak itu ke lantai dengan keras. Capella pun mengaduh kesakitan di lantai dengan tampang mulai bertambah panik. "Kau mau lari ke mana, banci sialan?!" Braaakk! Pintu ruangan karaoke mereka tiba-tiba didobrak dari luar. Seorang wanita sangat cantik lainnya mendadak muncul di pintu dan menatap dengan dingin ke arah semua orang di ruangan tersebut. "Ka-kaisar! Tolong aku!" Capella langsung berseru lega saat melihat kedatangan Alhine. Pria itu berusaha segera melepaskan dirinya, tetapi para bawahan Bos Kalajengking masih menahan tubuh Capella di lantai. "Siapa wanita itu? Namanya Kaisar? Dia banci temanmu yang lainnya?" tanya orang yang menahan tubuh Capella ke lantai sambil memandangi Alhine. Alhine tidak mempedulikan semua senjata yang sedang mengarah kepadanya dan malah berjalan dengan santai ke arah Capella. Ia kemudian secara mendadak mengangkat tubuh Capella dan menampar wajah pria botak itu dengan ekspresi jengkel. Plaaak! "Pria botak sialan, kau membuatku malu! Kau benar-benar tidak berguna! Bagaimana mungkin untuk hal-hal seperti ini saja aku harus turun tangan langsung?!" Capella meringis ke arah Alhine sambil mengelus pipinya seperti biasa. "Ta-tapi Kaisar..., kenapa sejak awal bukan kau saja yang melakukannya?" Alhine mencubit paha Capella dengan sangat keras sampai pria itu menjerit dengan suara melengking nyaring. Di sekeliling keduanya, semuanya melongo memandang ke arah Alhine yang justru sibuk sendiri terus menyiksa Capella tanpa mempedulikan situasi di dalam ruangan itu sama sekali. "Apa kau bodoh?! Kau tahu jelas kalau aku tidak akan bisa menggunakan kekuatanku kalau berada di dekat polisi manusia bernama Lingga itu. Ini saja karena yakin kau akan gagal, aku terpaksa memukul pingsan mereka semua yang berada di bawah, termasuk pria itu sendiri saat dia ke toilet!" "Ma-maaf, Kaisar, tapi Bos Laba-laba mereka sedang mabuk. Aku tidak bisa membaca isi pikirannya," gumam Capella berusaha membela diri. "Kalajengking, bukan laba-laba!" timpal salah satu bawahan Bos Kalajengking dengan wajah tersinggung. "Mana dia?!" teriak Alhine dengan tidak sabar. "Mana Bos Ubur-ubur itu?!" "U-ubur-ubur?" gumam bawahan Bos Kalajengking yang lain merasa syok dan terhina. "Kami Gank Kalajengking, bukan ubur-ubur! Kau pikir kami makanan laut yang mengandung omega tiga tinggi?!" Alhine mengacuhkan pria yang berteriak keras tadi dan melepaskan Capella dari cengkeramannya. "Capella, di mana dia?" Setelah melihat ke arah Capella yang menunjuk ke arah seorang pria yang tergeletak di atas sofa, Alhine kemudian segera berjalan ke sana. Semua orang lainnya di sana pun segera mengarahkan senjata mereka ke arah Alhine dengan raut wajah murka. Namun dalam hitungan detik, semuanya langsung melotot kaget karena melihat senjata mereka mendadak meleleh hancur begitu saja. "Hei, kau, bangun! Bangun manusia ubur-ubur!" Alhine berseru keras sambil menepuk-nepuk pipi bos Kalajengking tanpa mempedulikan reaksi riuh di sekelilingnya. "Bangun, ada yang harus kutanyakan kepadamu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN