"Kenapa jadi seperti ini?"
Lingga menenggelamkan wajahnya di satu tangannya sambil menggelengkan kepalanya di Hotel Kamboja, dua jam setelahnya. Di depannya saat ini ada Capella, pria botak yang merupakan pelayan di rumah Alhine. Capella tampak sedang mendandani dirinya sendiri bak wanita dengan riang dan santai atas perintah cepat dari nyonya rumahnya, Alhine.
Semua personel kepolisian yang berada di sana serempak tepuk tangan setelah melihat hasil merias diri yang dilakukan oleh Capella dengan sangat sempurna. Pria botak itu kini mendadak berubah menjadi bak seorang model wanita cantik dan membuat pangling siapa pun yang melihatnya.
"Sudah kubilang, Capella akan bisa melakukannya dengan baik," ucap Alhine secara tiba-tiba dari arah belakang punggung Lingga.
Lingga menoleh dengan kaget. "Bagaimanapun, Anda dan dia tetap adalah warga sipil! Akan sangat berbahaya jika ia ikut terjun dalam operasi penangkapan penjahat seperti ini. Mereka semua yang ada di lantai atas saat ini kemungkinan besar memiliki senjata api. Bagaimana kalian bisa santai dan tidak takut sama sekali mendengar hal ini?!"
"Lingga, pria bernama Capella itu ternyata juga mahir bela diri dan pernah mengikuti pelatihan militer sebelumnya," ucap pemimpin tim Jatanras sambil melihat sebuah clip on wireless sedang dimasukkan anak buahnya ke bagian dalam baju Capella.
"Iya, Bos, tadi aku juga melihatnya," tambah Dendi di sampingnya. "Capella pria yang cukup kuat dan percaya diri. Kurasa ia akan baik-baik saja."
"Kalian mau bertanggung jawab jika ada sesuatu yang menimpanya nanti?" desis Lingga sedikit kesal. "Kita benar-benar sedang melanggar aturan baku operasi."
"Tapi, Bos ... selama ini kita semua memang selalu melanggar aturan baku apa pun," ucap Dendi dengan polos dan langsung disambut dengan tatapan melotot dari Lingga.
"Capella tidak akan bisa mati, dia bukan manusia," bisik Alhine membuat Lingga lagi-lagi kaget dan bengong. "Tenang saja, aku akan bertanggung jawab atas Capella. Kau cukup bersiap menuaikan janjimu kepadaku nanti."
"Kapan aku menjanjikan sesuatu kepadamu?!" tanya Lingga dengan raut wajah yang heran.
"Jangan menolaknya. Kaisar tidak bisa menerima penolakan," bisik Capella tiba-tiba ikut muncul di belakang Lingga dan membuat pria itu kembali terkejut.
"Kenapa kalian semua selalu mendadak muncul mengagetkan seperti ini?" Lingga bertanya sambil memegang dadanya yang hampir meloncat keluar dari tempatnya itu.
"Capella, kau ternyata pria yang bisa secantik ini," ucap pemimpin tim Jatanras sambil menepuk-nepuk pundak Capella dengan wajah sumringah. "Walaupun tubuhmu tinggi dan bagian pundak hingga dadamu bidang, tapi kurasa mereka hanya akan menganggapmu serupa model catwalk saja."
"Kalau kau benar-benar perempuan, aku pasti akan memacarimu," ucap Dendi sepakat kepada ucapan pemimpin tim Jatanras.
"Hentikan, istrimu sedang hamil anak kedua di rumahmu," gumam Lingga dengan tatapan sinis ke arah Dendi.
"Ahaha, tenang, Bos! Aku kan hanya bercanda," ucap Dendi berkelit sambil tertawa. Ia lalu memasangkan clip on yang sama seperti Capella di bagian dalam d**a Lingga. "Kurasa kalian berdua sudah siap."
"Lingga, kau sudah siap?" tanya ketua tim Jatanras.
"Tidak," jawab Lingga dengan menarik napas panjang.
"Bagaimana denganmu, Capella?"
"Sangat siap! Ini akan menyenangkan dan mewarnai hari-hariku yang selama ini sedikit membosankan!" seru Capella sambil menyengir lebar.
"Kalian ingat tugas kalian, kan?" tanya pemimpin tim Jatanras yang bertubuh gempal itu sekali lagi ke arah Lingga dan Capella. "Capella, kau akan menjadi orang yang akan membeli shabu dalam jumlah besar, namamu di sini Laksmi. Kau berencana akan segera membuka tempat karaoke di daerah Tangerang dan butuh kerja sama dengan pemasok n*****a seperti Gank Kalajengking."
"Baiklah."
"Kalau kau," lanjut sang pemimpin tim Jatanras, "Lingga, kau adalah pengawal pribadi Laksmi. Hanya itu saja. Tidak perlu berbicara banyak. Kemampuan fisikmu yang nantinya akan melindungi Capella."
"Aku mengerti, kau sudah mengulangnya ratusan kali," jawab Lingga ke arah pemimpin tim Jatanras sambil merapikan kemejanya lagi.
Capella mengangkat jempolnya ke atas. "Tenang, ini mudah. Berakting adalah bakat alamiku. Aku mungkin lebih pantas berprofesi sebagai aktor."
Ucapan narsis Capella tidak sepenuhnya salah. Pria botak itu memang mahir berakting. Begitu ia dan Lingga naik ke atas hotel dan bertemu dengan gerombolan penjahat di lantai teratas gedung hotel itu, keduanya langsung mampu bersikap tenang dan menjawab pertanyaan beberapa orang di sana dengan mudah. Sayangnya, itu hanya berlangsung singkat.
"Bagaimana ini, mereka semua ternyata tidak ada yang tahu di mana lokasi gudang tempat bos mereka menyembunyikan n*****a dalam jumlah besar," ucap Capella mengirim telepati ke Alhine dengan tangan mulai berkeringat. "Lalu bos mereka --- satu-satunya yang tahu soal ini --- malah dalam kondisi setengah mabuk. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa membaca isi pikiran orang mabuk."
Lingga menatap ke arah Capella dengan bingung. "Kau sedang berbicara dengan siapa?"
Capella tidak mendengar pertanyaan Lingga dan masih tampak bergulat dengan sesuatu di kepalanya sendiri. "Apa? Kau tidak mau tahu? Ka-kaisar, a-apa aku harus melakukannya sampai seperti itu?"
"Nona Laksmi, Anda sedang berbicara dengan siapa?" tanya bos Gank Kalajengking dengan mata setengah sayu.
Pria itu jelas sedikit curiga kepada Capella. Dia tidak sendirian, bahkan Lingga sekalipun juga melirik curiga ke arah Capella.
Capella yang tengah ditekan oleh Alhine dari dalam kepalanya dan sedang dipandangi oleh seisi ruangan dengan tatapan curiga, mendadak melakukan improvisasi. Berharap sang pemimpin Gank Kalajengking sadar dari mabuknya lebih cepat, ia refleks mengguyur kepala sang pemimpin tersebut dengan segelas air.
Byuuur!
Seluruh isi ruangan kini terperanjat. Situasi mendadak hening saat mereka semua melihat ke arah Capella yang nekad menyiram bos mereka dengan air hingga kepalanya basah kuyup.
"K-kau ... jangan berani-berani melecehkanku!" teriak Capella asal mengucap untuk membela diri dari tatapan sangar semua orang di sana. "Apa kau tidak bisa menunggu sebentar?! Tanganmu nakal sekali berani menyentuh bokongku!"
Bos Kalajengking mendadak bengong. "H-hah? Kapan aku...."
Ucapan sang ketua gank itu pun segera terhenti. Matanya melotot kaget saat melihat tangannya entah bagaimana mendadak sudah mencengkeram b****g Capella dengan kencang. Pria itu pun melompat mundur dengan wajah kaget sambil melihat tatapan menghakimi dari seluruh orang di ruangan itu.
"Bos, apa yang Anda lakukan terhadap calon buyer besar kita?" tanya beberapa orang di sana dengan sama terkejutnya. "Nona ini bukan petugas perempuan dari hotel ini, dia pengusaha besar yang akan menjadi klien kita!"
"Ma-maafkan aku," ujar Bos Kalajengking ke arah Capella, "tapi aku tidak merasa pernah berniat untuk---"
Plakkk!
Capella yang tiba-tiba terlalu menjiwai aktingnya mendadak menampar keras wajah sang Bos Kalajengking. Ia berpikir dengan memukul kepala pria itu, ia akan mampu menyadarkan pria itu dari mabuknya lebih cepat dan membaca di mana letak lokasi tempat mereka meletakkan berbagai barang bukti. Sayangnya, pria botak itu melakukannya dengan sangat berlebihan.
"Sadarlah, wahai pria berotak m***m! Kenapa kau melecehkan dan mempermalukanku sampai seperti ini? Tidakkah kau bisa bersabar sampai transaksi ini selesai lebih dulu, baru bermain-main denganku?!"
Capella mengguncang-guncang tubuh sang ketua Kalajengking sambil memukuli kepalanya dengan brutal. Ia membuat seisi ruangan itu termasuk Lingga seketika menganga lebar. Mereka semua sudah berpikir bahwa sang ketua gank akan membunuh Capella, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Pria itu ternyata malah terpana dengan tindakan Capella.
"K-kau ... galak dan liar. Kurasa aku akan suka kepadamu," ucap pria setengah mabuk itu sambil nyengir lebar ke arah Capella. "Rupanya begini rasanya bertemu dengan klien wanita pertama kita. Dia sangat s*****l!"
Buukk!
Kepala Capella secara refleks memukul jidat sang ketua gank yang berniat menciumnya. Tubuhnya bergidik jijik sesaat, sebelum akhirnya ia memukuli lagi pria tersebut dan membuat situasi di sana kembali tegang.
"Hentikan," ucap seseorang dari mereka tiba-tiba mengacungkan senjatanya ke arah kepala Capella. "Kau tidak sedang menghormati ketua kami."
Lingga mendadak maju dengan senjata yang juga terangkat ke arah kepala pria yang mengancam Capella tadi. "Bos kalian juga tidak sedang menghormati bos kami."
Bola mata Capella melebar. Ia melihat semua orang kini sudah berdiri di tempatnya masing-masing karena melihat Lingga sudah mengangkat senjatanya.
"Ahaha, tenang dulu semuanya," ucap Capella dengan butiran-butiran besar keringat di dahinya. Ia kemudian membuang badan sang Bos Kalajengking dari tangannya ke atas sofa begitu saja. "Kita semua harus lebih luwes untuk melanjutkan perbincangan kita dan tidak perlu bersitegang seperti ini hanya karena salah paham. Mungkin kita perlu lebih banyak minum."
Mendadak Capella menurunkan moncong senjata bawahan sang Bos Kalajengking tadi secara perlahan dan dengan gugup langsung mengambil satu botol besar alkohol di atas meja ruang karaoke itu dan meneguknya. Ia menghabiskan seisi botol itu dengan cepat dan membuat seisi ruangan yang tadinya tegang kini bertepuk tangan dengan keras ke arahnya dengan wajah sangat terpukau.
"Wah, hebat sekali! Anda baru saja menenggak habis satu botol Absinthe yang berkadar 74 persen alkohol tanpa pingsan sama sekali!" ucap salah satu dari mereka, diikuti sorakan riuh seisi ruangan yang lainnya ke arah Capella.
Capella pada dasarnya adalah peminum sejati. Ia sering meminum wine di kala senggang dan saat sedang menikmati hari-harinya di rumah Alhine. Namun, tidak sekalipun ia pernah menenggak minuman apa pun yang kadar alkoholnya di atas 45 persen tanpa campuran apa pun.
Yang tidak banyak orang tahu, kaum bintang memiliki suhu yang panas di bagian dalam tubuh mereka. Meminum alkohol dengan kadar yang berlebihan akan mampu membuat mereka lebih cepat mabuk dari manusia kebanyakan.
Capella tahu benar soal itu, tetapi ia tidak tahu kalau botol yang diminumnya tadi bukanlah liqueur biasa dengan persentase alkohol rendah. Pria itu baru sekali ini meminum satu botol minuman paling keras di dunia tanpa menyadarinya.
Saking merasakan panas di seluruh tubuhnya dalam waktu singkat, pria itu kini mulai melangkah dengan oleng ke depannya sambil mengibaskan rambut di wig-nya. Ia bahkan tidak mendengar saat Alhine mengirim telepati ke arahnya untuk menyuruh Lingga menjauh dari ruangan itu secepatnya.
"Jadi ... di mana barang kami?" tanya Capella ke arah orang-orang di sekeliling Bos Kalajengking tadi. "Kami sudah membayar penuh biaya dari perjanjian kita. Sekarang setidaknya kami harus melihat barang kami, kan? Ini etika wajar di dunia bisnis seperti ini atau aku akan mengubah supplier bar kami."
"Sabar sedikit, Bu Laksmi," ucap bawahan Bos Kalajengking sambil tertawa kikuk. "Sebaiknya kita menjalin hubungan baik dengan bersenang-senang terlebih dahulu. Mungkin karaoke akan mencairkan suasana di sini yang tadi sempat tegang."
"Karaoke?" gumam Capella dengan kepala yang mulai pusing tujuh keliling. "Kita masih harus bernyanyi dulu?"
"Tenang, bos kami sudah menyiapkan pengiriman dari lokasi tertentu," lanjut bawahan Bos Kalajengking tadi. "Gaya kinerja kami sedikit berbeda dari pesaing kami kebanyakan. Itu makanya kami susah tersentuh oleh pihak kepolisian. Percayakan saja kepada bos kami, dia pasti akan mengirimkan paket Anda dengan aman nantinya."
"Kami butuh barang itu dengan cepat," ucap Lingga setengah berteriak sambil melirik ke arah banyak anggota tim Kalajengking yang kini mulai berkaraoke dan membuat suara di sana menjadi bising dengan lantunan musik yang menggema keras di seluruh ruangan.
"Kami mengerti. Itu sebabnya bos kami mengundang pihak kalian ke sini agar kalian bisa berkenalan langsung dengannya dan memiliki jaminan hubungan personal yang baik. Mengenai barangnya sendiri, di akhir hari ini, pihak Anda jelas akan sudah mendapatkannya," jawab orang tersebut ke arah Lingga dengan senyum lebar. "Ngomong-ngomong, kenapa dengan Bu Laksmi?"
Lingga menoleh ke arah Capella yang mendadak terdiam sambil setengah membungkukkan badannya. Pundak pria itu tiba-tiba terlihat terus bergetar dengan misterius.
"Kau baik-baik saja?" tanya Lingga sambil berbisik mendekat. Pria itu melihat Capella mulai mengerjapkan matanya berkali-kali seakan ia sedang berusaha keras fokus dengan situasi di sana.
"Orang itu tidak pandai menyanyi," jawab Capella mendadak dengan suara berintonasi dalam dan menghina.
"Hah? Apa?" tanya Lingga dengan ekspresi bingung. Lingga melirik ke arah tim Kalajengking yang sebagian kini mulai kembali ceria dengan bernyanyi karaoke di bagian meja paling ujung.
"Selera musik manusia belakangan ini buruk sekali," desis Capella setelah mendadak terhuyung jatuh ke lantai.
Dengan perlahan, pria itu berdiri kembali dari tempatnya dan berjalan tertatih-tatih sambil mendekat ke arah mesin karaoke itu. Capella yang jengkel tanpa sebab mendadak mematikan musik yang mengalun di ruangan itu dan menekan sesuatu untuk menggantinya --- sampai mengakibatkan suasana di ruangan itu kembali hening seketika.
"Berikan mic itu kepadaku," ucap Capella mendadak dengan raut wajah yang mengerikan dan nada mengancam ke arah orang yang sedang memegangi mic sambil menatap ke arah Capella dengan bengong sejak tadi. "Anak muda, serahkan mic itu atau aku akan membakarmu hidup-hidup!"
Dengan ketakutan, orang itu segera memberikan mic-nya ke arah Capella dan semua orang di ruangan itu kini memandangi Capella dengan saling menatap ngeri. Mereka yakin Capella mungkin tidak suka musik hingar bingar dan akan segera menggantinya dengan musik klasik jaman dahulu kala sesuai usianya. Namun yang terjadi ternyata malah sebaliknya.
"Blackpink in your area...." senandung Capella dengan suara sember dari mulutnya secara perlahan.
Sontak, seluruh ruangan pun terjengkang kaget saat mendengar Capella mendadak menyanyikan lagu K-pop. Entah bagaimana, Capella mendadak mendapatkan energi untuk menyanyikan lagu sebuah girlband dengan semangat sambil meniru jogetannya.
Anehnya, orang-orang tadinya terdiam dengan tegang malah kini ikut bersorak bersama Capella dan bertepuk tangan saat melihat Capella mulai bergerak lincah di atas meja kosong di sana. Mereka semua pun kemudian disibukkan dengan lagu dan dance khas ala K-pop.
"Aku tidak mengerti lagi operasi ini akan berjalan ke arah mana," gumam Lingga sambil tertunduk lesu di tempatnya berdiri.
"Bosmu menarik sekali," ucap salah satu bawahan bos Kalajengking tadi ke arah Lingga sambil memandangi Capella dengan terpana.
"Permisi, aku mau ke toilet sebentar," ucap Lingga tanpa mempedulikannya.
Pria itu segera bergerak ke arah luar ruangan dan mengacuhkan pria bawahan Bos Kalajengking tadi yang sedang menunjuk ke arah toilet di dalam ruangan mereka. Lingga pun membuka pintu ruangan karaoke itu dengan cepat dan langsung keluar dari ruangan itu, sebelum bergerak cepat ke arah sebuah toilet sepi yang terletak di bagian ujung koridor di sana dan memasukinya.
Pria itu kemudian memeriksa cepat semua deretan bilik di dalam sana. Begitu yakin bahwa situasi aman dan tidak ada siapa pun di dalam toilet itu, ia segera membuka komunikasi dengan orang-orang di bawah.
"Dendi, katakan kepada tim Jatanras kalau kita harus segera mengganti rencana kita," kata Lingga ke arah unit clip on wireless yang menempel di bagian dalam kemeja di balik jasnya. "Ini berjalan lebih buruk dari dugaanku. Kalau terus begini, identitas kita akan terbongkar dan ini akan berbahaya. Capella mabuk dan mulai berbuat onar di sini."
Tidak ada jawaban dari Dendi atau siapa pun dari tim kepolisian di area bawah. Lingga mencoba berkomunikasi sekali lagi dan masih tidak ada jawaban apa pun dari tim Jatanras dan Dendi dari area parkir hotel. Firasat Lingga mendadak buruk dan ia yakin sesuatu telah terjadi kepada tim mereka di bawah tadi.
"Dendi...?"
Buuukkk!
Sebuah pukulah keras dari belakang punggungnya mendadak menghantam jatuh Lingga. Pria itu langsung tersungkur di lantai toilet dan melihat sepasang sepatu berhak tinggi tiba-tiba berjalan mendekat dan sebuah sosok berjongkok ke depan wajahnya. Samar-samar, pria itu melihat wajah Alhine muncul di atasnya sambil menatapnya dengan ekspresi wajah yang misterius.
"Maaf, tapi aku harus melakukan ini agar dapat menggunakan kekuatanku. Tidurlah sebentar dan biarkan kami yang menyelesaikan ini dengan cara kami," bisik Alhine ke arahnya, sebelum kemudian menyeret tubuh Lingga secara perlahan untuk keluar dari toilet tersebut.