Alhine & Lingga #1

2623 Kata
Kompol Sakalingga terbiasa berangkat lebih pagi ke kantornya di Polres Kabupaten Bogor. Sebelum memulai pekerjaannya, biasanya pria itu akan terlebih dahulu berlatih fisik dengan cara berlari dan melakukan sit up, serta mengasah kemampuan bertinjunya dengan menggunakan pasir tinju atau samsak yang berada di belakang ruangannya. Ia terkenal pintar, tenang, penuh perhitungan, dan tentunya sangat kuat. Dalam banyak proses penggerebekan kepolisian, Lingga akan ada di sana dan selalu diandalkan. Itu karena selain memang sangat kuat dan hebat, ia juga tidak kenal rasa takut sedikit pun dan cenderung nekad. Ada empat bekas tembakan di tubuhnya dan beberapa luka tusukan. Namun tidak sekali pun Lingga pernah jera. Ia bahkan semakin agresif jika ada luka bersarang di tubuhnya. Berkali-kali, ia menghancurkan samsak dan berbagai alat di ruang pelatihan fisik yang sebenarnya. Itu sebabnya Lingga kini memiliki ruangan berlatihnya sendiri. Di ruangannya sendiri pun, ia kerap terus mengganti beberapa alat yang sudah tidak lagi bisa dipakai akibat rusak oleh tenaganya sendiri. Karena berkali-kali berhasil memimpin operasi penggerebekan, ia mendapat pangkat Kompol lebih muda dari kebanyakan koleganya. Tidak hanya itu, banyak rekan bahkan atasannya sendiri takut membuat masalah dengan Lingga. Tidak banyak yang dekat dengan Lingga dan seluruh hidupnya selalu fokus terhadap pekerjaannya sendiri. Itu makanya pagi itu suasana di kantornya menjadi sangat heboh ketika seorang wanita super cantik datang ke sana untuk menemuinya. Lingga mengangkat wajahnya dari dokumen yang ada di tangannya dan kini kembali menatap wanita di hadapannya dengan bingung. "Jadi, Bu Alhine---" "Panggil saja aku Alhine," potong Alhine dengan santai ke arah Lingga. "Baiklah, Nona Alhine,"---ucap Lingga sambil menarik napas panjangnya---"Anda saat ini ingin melaporkan kepada saya bahwa Anda merasa hidup Anda terancam dan ada yang ingin membunuh Anda, lalu ... Anda meminta saya untuk melindungi Anda?" Alhine mengangguk cepat. "Ya, saat ini ada quasar yang sedang mengincar hidup saya dan keluarga saya. Kau lihat sendiri, kan, tembok rumah kami hancur beberapa hari lalu?" "Qua...." Lingga tidak sanggup menyelesaikan kata-katanya dan langsung menunduk dengan lemas. Tidak beberapa lama, ia kembali mendongak dengan sedikit kesal. "Nona Alhine, saya perlu menjelaskan kepada Anda mengenai tugas kepolisian," ujarnya lagi sambil berusaha tetap tenang dan bersikap profesional. "Kami polisi dan bukan badan penyedia jasa pengawal pribadi atau bodyguard. Kedua, jabatan saya tidak memungkinkan saya untuk memberikan perlindungan pribadi kepada Anda." "Kapolres di sini tadi sudah setuju," jawab Alhine dengan sikap cuek. Ia melipat kedua tangannya di dadanya dan duduk dengan menyilangkan kedua kakinya. "Dia memberikan perintah kepadamu untuk melakukannya. Bukankah tugas utama kalian memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat?" Lingga menoleh ke arah Dendi --- bawahan sekaligus temannya --- yang sejak tadi ada di ruangan Lingga bersama mereka. Temannya itu mengangguk ke arahnya dan terlihat sedang berusaha keras menahan tawanya. "Kau yakin?" tanya Lingga setengah berbisik ke arah Dendi dengan wajah frustasi. "Kau yakin Pak Kapolres Derajat memintaku menangani kasus wanita ini? Aku...?" "Tadi dia sendiri yang mengantar Nona Alhine untuk masuk ke ruanganmu, Bos," jawab Dendi sambil senyum-senyum. "Ini penghinaan terhadap pangkat kepolisianku," kata Lingga dengan wajah nyaris tak percaya. Dendi menepuk-nepuk pundak Lingga dan berbisik, "Kata Pak Derajat, kau bisa melakukan ini sambil menyelidiki keluarga mereka. Kau selalu terobsesi dengan misteri di rumah itu sejak dulu kan, Bos?" Lingga tidak menjawabnya. Ia kemudian menarik napasnya sekali lagi dan kembali menoleh ke arah Alhine dengan ekspresi pasrah. "Bagaimana Anda bisa membuat Pak Derajat menyetujui permintaan Anda dengan cepat?" tanya Lingga lagi kepada wanita di hadapannya itu. Ia curiga Alhine telah merayu Kapolresnya dengan menggunakan kecantikannya, atau ... Alhine mungkin menyodorkan segepok uang kepada atasannya yang terkenal mata duitan itu. Bagaimanapun, wanita di hadapannya saat ini adalah konglomerat yang luar biasa berkelimpahan secara finansial. "Dia orang yang baik dan mampu langsung mengerti kasus ini," kata Alhine. Padahal, sebelum bertemu dengan Lingga, wanita itu terlebih dahulu mempengaruhi isi kepala atasan Lingga tersebut dengan kekuatannya untuk tunduk pada keinginan personalnya. "Saya harus memikirkan ini terlebih dahulu dengan baik karena saya tidak mengerti siapa quasar yang Anda maksud," jawab Lingga dengan intonasi melemah. "Lagi pula, saya masih menangani kasus lain yang mungkin berkaitan dengan putra Anda saat ini." "Xynth tidak punya kaitan dengan kasus itu sama sekali. Sudah kubilang, ini ulah para quasar. Kenapa manusia di bumi semuanya begitu bodoh dan keras kepala?" ucap Alhine dengan ekspresi wajah yang serius. "Lagi pula, kenapa kau mendadak berbicara seformal ini? Sebelumnya ketika datang ke rumah kami kau berbicara dengan lebih santai kepadaku. Umur kita tidak berbeda jauh." Lingga tidak menjawab celotehan Alhine dan melirik kesal ke arah semua polisi pria yang sejak tadi menempel di pintu kaca ruangan Lingga hanya untuk mengintip Alhine. Ia kemudian berjalan ke sana dan menutup tirai jendelanya secepat kilat dengan pandangan mengancam ke arah semua polisi yang dengan tidak tahu malu tetap berada di sana. "Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda dan setelahnya ... Anda bisa segera pulang dan nanti saya akan mengabarkan keputusannya kepada Anda secara menyusul," ujar Lingga lagi sambil berjalan cepat ke arah kursinya, lalu kembali duduk menghadap ke arah Alhine. "Nona Alhine, Anda mau kopi dulu sebelum pulang?" tanya Dendi iseng sambil mengucurkan kopi panas dari mesin kopi pribadi Lingga ke cangkir kosong di tangannya. Pria itu kemudian mengantarkan cangkir kopi panas tersebut ke arah Alhine meski wanita itu belum menjawab apa pun. "Hati-hati, ini panas," ucap Dendi saat menyodorkan kopi tersebut ke tangan Alhine. "Panas? I created hotness. Aku yang menciptakan panas dan cukup ahli soal ini," jawab Alhine dengan angkuh sambil kembali menyilangkan kedua kakinya di atas kursi tamu Lingga. Maksud Alhine adalah yang sebenarnya, tetapi dua pria di depannya sudah menganga dengan pikiran kotor yang mendadak melintas di dalam kepala mereka. Keduanya pun terbelalak melihat kaki jenjang dan mulus Alhine yang tersingkap dari cardigan panjangnya di atas kursi --- tepat di hadapan Lingga. "Lap ilermu!" bisik Lingga kesal setelah tersadar --- sambil memukul pelan wajah Dendi yang melongo ke arah Alhine. Lingga sendiri langsung mengusap keringatnya dan berusaha keras untuk bersikap tenang. "Jadi Anda...." Sekali lagi ucapan Lingga terhenti begitu saja. Pria itu dan Dendi kini sama-sama tercengang saat melihat Alhine meneguk kopi panas itu begitu saja ke dalam mulutnya dengan santai. "Ro-rongga mulut Anda tidak terbakar?" tanya Dendi dengan mulut menganga lebar ke arah Alhine. "Hah?" Alhine menatap Dendi dengan wajah bingung setelah meneguk habis kopi panasnya. "Ti-tidak, ahaha, lupakan saja," tukas Dendi cepat dengan wajah meringis kesakitan setelah merasa Lingga sedang mencubit kulit pahanya diam-diam dari bawah mejanya. Lingga kemudian kembali berdiri dari kursinya dan mengambil sebuah jaket dari dalam lemari di ruangannya. Dengan sopan, pria itu kemudian menyelimuti kaki Alhine dengan jaketnya sambil memandang lurus ke wajah Alhine. "Maafkan kelancangan saya, tapi AC di ruangan ini sangat dingin. Saya takut Anda akan masuk angin nanti." Pria itu kemudian duduk di ujung atas mejanya sendiri, mengacuhkan Alhine yang memandang terpaku ke arahnya dengan kedua pipi yang merona merah. Setelah itu, Lingga kemudian menyuruh Dendi untuk mulai mengetik semua keterangan yang akan diberikan Alhine kepada mereka. "Nama panjang Anda?" tanya Lingga ke arah Alhine. "Alhine," jawab Alhine kini berusaha fokus setelah lama memandang dengan raut terpana ke arah Lingga. "Hanya Alhine?" "Ya," jawab wanita itu kini dengan ekspresi wajah yang berusaha serius. "Baik, Nona Alhine, berapa usia Anda saat ini?" lanjut Lingga. "280 juta tahun," jawab wanita itu dengan cepat. "Bisa lebih serius?" tanya Lingga sambil mengerutkan dahinya. "Aku tidak bisa mengingat dengan pasti bagaimana aku akan menghitungnya dengan usia manusia," ujar wanita itu lagi sambil berpikir keras. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya begitu saja kepada Lingga. "Dataku secara manusia ada di sini." Lingga mengambil kartu identitas Alhine dari tangan wanita itu dan mengamatinya baik-baik. "Hmmh, usia Anda 35 tahun. Berarti Anda melahirkan putra Anda di usia 15 tahun?" "Kurasa ... mungkin begitu," jawab Alhine tidak begitu yakin. Lingga terdiam sejenak sebelum melanjutkan pertanyaannya lagi. "Di sini Anda tertulis sebagai wiraswasta. Apa bidang usaha Anda?" "Hmmh...?" "Pekerjaan Anda?" tanya Lingga mempermudah maksud pertanyaannya. "Pekerjaanku? Aku pemilik langit saat ini dan memimpin segalanya dari langit," jawab Alhine sekali lagi dengan maksud jujur. Sayangnya, jawaban Alhine malah membuat Lingga dan Dendi lagi-lagi bengong. Kedua pria itu kini kembali saling memandang. "Dia cantik, tetapi sepertinya cukup bodoh dan agak kurang waras," bisik Dendi ke telinga Lingga. Sebuah pukulan pelan ke wajah Dendi langsung dilancarkan Lingga dengan jengkel. "Nona Alhine, Anda pemilik Yayasan Immaculata, kan? Kami bisa menulisnya seperti itu saja di data kami?" tanya Lingga berusaha memaklumi jawaban-jawaban aneh dari mulut Alhine. Alhine mengangguk. "Ah ya, ternyata maksudnya dari mana asal uang kami di bumi? Benar, aku pemilik Yayasan Immaculata dan juga memiliki banyak saham di berbagai perusahaan manusia." "Kenapa dia terus menerus mengucapkan kata manusia seolah-olah dia bukan manusia?" bisik Dendi lagi dengan heran. Lingga mengacuhkan ucapan Dendi kepadanya dan tetap fokus dengan rentetan pertanyaannya kepada Alhine. "Status pernikahan Anda di sini adalah cerai mati. Jadi, saat ini Anda hanya hidup berdua dengan putra Anda yang bernama Xynth di rumah Anda?" "Ya, suamiku meninggal sebelum putraku lahir. Namun kami tinggal bersama orang-orang lainnya," jawab Alhine. "Bagaimana suami Anda meninggal?" tanya Dendi penasaran dan keluar dari topik pertanyaan mereka. "Entahlah," gumam Alhine tanpa ekspresi. "Aku tidak terlalu ingat soal itu. Aku bahkan tidak ingat dengan tepat bagaimana wajahnya dulu. Tidak ada satu pun potret dirinya di Kiklios yang bisa aku ingat dengan baik." "Wanita dingin," bisik Dendi lagi ke dekat wajah Lingga. "Dia pasti sangat membenci suaminya sendiri sampai berbicara soal ini dengan begitu ringannya." "Apa yang membuat Anda merasa ada yang sedang mengincar Anda sampai Anda meminta perlindungan khusus dari pihak kepolisian?" tanya Lingga kembali mengacuhkan ucapan Dendi. "Sebenarnya, ini untuk keseluruhan keluarga kami," jawab Alhine. "Belakangan, ada beberapa pihak yang ingin mencelakai kami sampai aku terpaksa melarang anakku dan dua pengawalnya pergi ke kampus mereka. Kau tahu kan dia dan teman-temannya dalam kondisi terluka saat ini? Quasar menyerang mereka semua dan aku khawatir kejadian ini akan terulang." "Maaf, tapi ... siapa Quasar yang sebenarnya Anda maksud sejak tadi?" tanya Lingga mulai pusing dengan semua jawaban-jawaban Alhine. Wanita itu mendadak mencondongkan setengah badannya ke arah Lingga dan berbisik, "Monster jahat. Dia yang membakar jantung mahasiswi yang tewas itu." Lingga pun kemudian menundukkan kepalanya dengan lemas. "Tunggu sebentar di sini." Pria itu lalu mengajak Dendi keluar dari ruangan itu dengan wajah sangat frustasi. "Kau mau menangani kasus wanita sinting ini?" Dendi langsung tertawa dengan canggung. "B-bos, Pak Derajat tidak meminta saya, tetapi menyuruh Anda yang menangani kasus wanita itu. Aku akan dianggap lancang jika aku mengambil tugas ini dari Anda meski ... aku tidak akan keberatan karena wanita itu cantik sekali. "Lagi pula, Bos," lanjut Dendi, "bukankah kau selama ini selalu berambisi untuk tahu apa pun terkait rumah mereka? Ini bisa menjadi kesempatan bagimu untuk melakukan penyelidikan lebih mendalam terhadap mereka semua." "Ya, tapi ... ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman berada di dekat wanita itu," ucap Lingga dengan wajah yang serius. "Bos, pria mana pun akan merasa canggung berada di dekatnya. Dia wanita yang sangat cantik, kaya raya, single, dan seksi. Meskipun dia sedikit kurang waras, aku yakin dia tidak seberbahaya rumor 'Vampire Sentul' yang terdengar selama ini." "Kenapa aku sangat meragukan ucapanmu saat kau mengatakan kalau wanita itu tidak berbahaya?" gumam Lingga dengan dahi kembali berkerut. "Kalau tim lain yang mengambil kasus ini, wanita itu akan dipermainkan habis-habisan. Mereka semua di sini haus wanita cantik dan seksi seperti Nona Alhine," kata Dendi lagi sambil menggerakkan kepalanya ke arah deretan polisi pria --- yang dengan nekad masih mengintip dari luar dinding kaca ruangan Lingga ke arah dalam sambil bersiul-siul. "Mereka benar-benar seperti binatang buas," ucap Lingga sambil memandangi pria-p****************g di depan ruangannya itu dengan tatapan jengkel. "Kompol Lingga!" Sebuah suara mendadak terdengar dari arah belakang mereka. Seorang pria dari divisi kejahatan dan kekerasan atau Jatanras, mendadak mendatangi mereka dengan tergopoh-gopoh. "Tim kami baru menemukan jejak pemimpin kelompok bandar n*****a terbesar di Bogor. Kepala tim kami menyuruh saya bertanya kepada Anda, apa Anda bersedia ikut dalam operasi penangkapan pemimpin Gank Kalajengking tersebut pagi ini? Kami membuat janji pertemuan dengan mereka malam ini, tetapi dia tiba-tiba mengubah waktunya menjadi pagi ini." "Ini kasus Gank Kalajengking? Mereka benar-benar Gank Kalajengking yang sering mengedarkan sejumlah besar n*****a di bawah bebatuan atau rerumputan daerah pemukiman sepi dan meresahkan masyarakat sekitarnya?" tanya Lingga dengan wajah yang mendadak tertarik. "Ya, jejak pemimpin mereka sudah ditemukan. Kami rencananya akan berangkat ke lokasi pertemuan sebelum mereka tahu kalau kita sudah mengendus mereka dan kembali mengubah waktu dan lokasi pertemuan," kata orang dari tim Jatanras tadi. "Kalau Bos Lingga bergabung, aku juga akan bergabung," kata Dendi ikut bersemangat. "Jam berapa kita akan berangkat?" "Secepatnya, tetapi kami masih kesulitan mencari salah satu intel wanita kami untuk menjadi pemancing. Yang biasanya ikut dengan kami saat ini masih diopname di rumah sakit karena masih terluka. Intel lainnya sendiri masih berada di wilayah Serang dan kami belum tahu kapan dia akan tiba di sini." "Kenapa harus memakai intel wanita?" tanya Lingga dengan ekspresi wajah yang heran. "Karena sejak awal kami telanjur melakukan transaksi dengan mengaku sebagai wanita kepada mereka. Intel wanita kami ini berpura-pura sebagai pengusaha bar dan karaoke dan butuh pasokan tetap n*****a. Gank Kalajengking jelas akan menyembunyikan bukti terlebih dahulu sebelum benar-benar bertemu dengan pihak kami." "Kita tidak bisa meminta bantuan kepada Satlantas soal ini? Mereka punya banyak personel wanita," kata Lingga lagi. "Jam sepuluh pagi seperti ini mereka semua jelas masih berada di lapangan," jawab orang dari tim Jatanras itu lagi. "Kami masih mencoba untuk menghubungi orang kami di Serang lagi. Siapa tahu dia bisa tiba lebih cepat di sini." "Serang ke Bogor di jam-jam awal kerja seperti ini? Itu mustahil," gumam Lingga sambil seolah berpikir dan memperhitungkan waktu. "Sekalipun lewat tol, kemungkinan ia baru akan tiba pukul dua siang karena tol di sana sering macet." "Kalau kalian gagal menemuinya saat ini, aku rasa mereka akan curiga dan potensial membatalkan rencana kerja sama penting ini," cetus Dendi tiba-tiba. "Memangnya di mana rencana pertemuan kalian dengan mereka nanti?" "Lantai teratas Hotel Kamboja Sentul, tempat karaoke VVIP." Dendi terlihat terperanjat kaget. "Mereka ingin bertemu di tempat seperti itu pagi-pagi begini?" "Mereka bandar n*****a. Mereka jelas tidak mengenal waktu untuk bersenang-senang," komentar Lingga. "Orang-orang seperti itu bahkan bisa tidak keluar selama berhari-hari dari tempat hiburan 24 jam seperti itu." Personel dari tim Jatanras tadi mengangguk. "Ini momen paling sempurna bagi kami untuk menangkap pemimpin Gank Kalajengking. Selama ini dia selalu licin seperti belut dan sangat susah untuk ditemukan. "Semua anak buahnya terlalu setia kepadanya dan lebih baik memilih mati dibanding membongkar identitas sang pemimpin. Semoga kami bisa menemukan jalan keluar soal ini secepat kilat dan bisa segera meluncur ke sana dalam satu atau dua jam ke depan." Baru saja selesai mengucapkannya, keajaiban mendadak muncul di tengah-tengah mereka. Pria dari Jatanras tadi tiba-tiba terpaku ketika melihat sebuah sosok muncul dari balik punggung Lingga dan Dendi dan menatap ke arahnya dengan tajam. "Permisi," ucap Alhine mengagetkan Dendi dan Lingga yang sejak tadi tidak menyadari kehadiran wanita itu di belakang mereka. "Dari tadi aku mendengar ucapan kalian dari balik pintu ini. Kurasa ... aku bisa membantu kalian soal ini." Pria dari Jatanras tadi menatapnya dengan penasaaran sambil mengangkat sebelah alis matanya. "Anda...?" "Alhine, aku teman baik Kompol Lingga," ucap wanita itu dengan asal. Lingga mendelik kaget. "Sejak kapan kita---" "Terima kasusku dan aku akan membantumu," potong Alhine berbicara ke arah Lingga dengan nada memaksa. "Kalian tidak perlu bersusah payah. Cukup berbicara sebentar saja dengannya dan aku akan langsung memberi tahu kalian di mana mereka menyembunyikan barang apa pun yang sedang kalian cari." "Apa maksudmu?" tanya Lingga kepadanya dengan ekspresi tegang. "Kami tidak bisa memakai sembarang orang sipil untuk hal-hal seperti ini. Apalagi kau perempuan yang tidak terlatih untuk hal-hal berbahaya seperti ini dan tidak paham kondisi lapangan sama sekali." "Bukan aku. Hal seperti ini terlalu mudah untukku," ujar Alhine lagi dengan wajah congkaknya. "Ada orangku yang mungkin bisa kalian gunakan dan membantu kalian dengan cepat. Dia laki-laki yang berwajah seperti wanita. Namanya Capella."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN