Jiwa Detektif Capella

2626 Kata
Pagi hari selalu menjadi hari yang menyenangkan bagi Capella. Pria botak tersebut akan selalu bangun paling pagi di antara semuanya dan menjadi orang pertama yang membuka semua tirai jendela di rumah itu untuk menunggu sinar matahari menyeruak masuk. Itu juga terjadi pagi itu. Begitu turun dari tempat tidurnya, pria botak itu akan selalu langsung menuju ke kamar mandi kamarnya untuk membersihkan diri. Ia paling benci tampil buruk di depan yang lain. Selesai menggosok giginya dan membersihkan wajahnya, ia kemudian mengenakan pelembab dari produk terkenal di wajahnya dan melapisi kulitnya dengan tabir surya. Setelah itu, ia akan menggoreskan pensil alis ke alis matanya yang botak, sebelum memoleskan lipbalm di bibirnya sendiri. Aku memang tampan! Capella berujar dalam hatinya sambil menyunggingkan senyum bangga di depan cermin kamar mandinya seperti biasa. Setelah puas mengagumi dirinya sendiri yang ia anggap tampan dan bersih, Capella akan keluar untuk mengganti pakaiannya. Pagi itu ia menarik keluar setelan baju Fendi miliknya yang berwarna cokelat muda dari lemarinya dan segera mengenakannya. Setelah menyemprotkan cologne Jo Malone Oud and Bergamot ke beberapa bagian tubuhnya, ia pun mulai melangkah keluar dari kamarnya sambil bersiul-siul senang. Hal pertama di pagi hari yang selalu ia lakukan belakangan adalah berjalan menuju ke lantai satu dan menendang sebuah pintu kamar yang sedikit tersembunyi di dekat ruang dapur bersih mereka. Di sana, ia akan membangunkan dua pengawal Alpheratz yang biasanya masih molor di tempat tidur mereka masing-masing. Entah mengapa mood sempurna Capella selalu turun satu angka setiap melihat dua pengawal Alpheratz yang tidurnya mengorok tersebut tidur dengan gaya urakan. Ia kemudian memukul keras kepala kedua orang itu dan mengernyit kesal melihat keduanya masih selalu tidur dengan menggunakan cadar mereka. "Aku tidak tahu mana yang Marka dan mana yang Tarka di antara kalian berdua tapi bangunlah!" seru Capella dengan nada sewot. "Entah mengapa kalian berdua suka sekali membingungkan orang-orang di sini dengan menggunakan cadar tanpa henti. Apa kalian bisa bernapas tidur dengan cadar seperti itu? Lihat cadar kalian sudah basah penuh dengan iler! Menjijikkan!" Setelah mengomel dengan oktaf tinggi di sana, Capella kemudian akan menyuruh mereka bersih-bersih seperti biasa. Ia tahu meski kesal, ia tidak boleh memaksakan keduanya melepaskan tradisi pengawal di Kerajaan Andromeda yang memang diwajibkan bercadar. Setelah memberikan perintah kepada kedua orang itu. Capella lalu akan berjalan menuju ke bawah untuk memastikan pintu rumah mereka terbuka bagi anjing Rigel, Syloz, untuk buang air ke arah taman. Pagi itu ia Skyloz terlihat sudah duduk di depan pintu samping rumah mereka yang besar dan menunggu Capella di sana. Begitu Capella membuka pintu samping mereka, Skyloz langsung berlari keluar untuk bermain di pagi hari. Karena itu sambil tersenyum senang, Capella akan langsung membuka semua tirai jendela di rumah itu sambil bersiul-siul ceria. Begitu Capella membuka jendela di sisi kiri rumah yang menghadap ke arah garasi, pria itu sedikit mematung. Ia mengangkat alis matanya dengan heran melihat pintu garasi raksasa rumah mereka dalam kondisi masih terbuka lebar dan dengan lampu menyala. Sepertinya ada yang lupa mematikan lampu di sana dan menutup kembali pintu garasi, pikir Capella dalam hatinya. Ia kemudian segera berjalan keluar dari pintu kiri rumah mereka dan berlarian menembus taman kecil untuk menuju ke arah bagian dalam garasi tersebut. Betapa kagetnya Capella ketika masuk ke dalamnya, ia melihat Alpheratz tengah tidur meringkuk di salah satu kandang lama Skyloz sambil mengemut sebelah jempolnya. Dengan kesal, pria botak itu kemudian mengguncang-guncang tubuh Alpheratz di dalam kandang Skyloz untuk membangunkannya. Ia tidak mengerti mengapa kebiasaan tidur semua orang Andromeda begitu buruk. Hanya Vega di sana yang tidurnya selalu rapi --- terlalu rapi bahkan wanita itu sampai sering terlihat bak mayat di peti mati. "Pangeran Alpheratz," ucap Capella membangunkan Pangeran Andromeda tersebut. "Pangeran, bangunlah!" Alpheratz mengerang di tempatnya tidur menggelung. Ia membuka matanya secara perlahan dan langsung berteriak kaget di tempatnya saat melihat wajah pria botak itu di atas kepalanya. "Apa yang kau lakukan di sini?!" teriak Alpheratz dengan syok sampai kepalanya terbentur kandang dengan keras. "Saya yang harus bertanya tentang itu kepada Anda, Pangeran. Apa yang Anda lakukan semalam sampai tidur di kandang anjing seperti ini?" tanya Capella berusaha terlihat kalem. Alpheratz yang masih mengelus jidatnya yang terasa sakit karena terbentur, kini melirik ke sekelilingnya. Matanya terbelalak dan wajahnya melongo ketika tersadar bahwa ia tidur di kandang anjing sejak semalam. "Ba-bagaimana aku bisa ada di tempat seperti ini?" gumam Alpheratz seolah tidak percaya. "Anda mungkin baru tiba dari suatu tempat malam tadi dan terlalu mengantuk sampai langsung tertidur di sini." "Xynth, ini ulah Xynth," ucap Alpheratz kemudian teringat. "Aku menumpang pulang dengan mobilnya semalam dan tertidur di dalamnya. Ia pasti masih dendam kepadaku dan melemparku ke dalam kandang anjing ini saat kami sudah tiba!" Sebelah alis mata Capella kemudian terangkat. Ia berusaha keras menyembunyikan senyum gelinya atas kelakukan Putra Mahkota mereka yang jelas dilakukannya karena kesal kepada Alpheratz. Itu sudah sikap khas ibu beranak Kiklios di rumah itu. "Anda bisa kembali ke kamar Anda sekarang dan membersihkan diri Anda," jawab Capella tanpa berniat ikut campur. "Satu jam dari sekarang, kaisar akan sarapan dan kalian bisa bergabung di sana bersamanya karena kalian semalam tidak ikut makan malam bersama." "Aku akan membunuh Xynth, lihat saja dia nanti!" desis Alpheratz sambil bergetar-getar kesal melihat dirinya penuh dengan bekas bulu Skyloz. Alpheratz sudah akan berjalan keluar dari garasi dan kembali ke kamarnya, tetapi mendadak pria itu teringat sesuatu yang seperti sangat penting baginya. Pria itu kemudian berjalan kembali ke arah Capella dengan lebih sopan dan melirik ke arah pria botak itu dengan ekspresi yang malu-malu gengsi. "Anu, kudengar kau juga pengatur keuangan di keluarga kaisar selama di bumi," ucap Alpheratz kemudian dengan suara mendadak pelan. "Apa ada cara bagi kalian untuk meminjamkanku uang manusia?" "Kau ingin meminjam uang kepada Kiklios?" tanya Capella tidak terlihat kaget. Ia sudah membaca isi pikiran Alpheratz beberapa detik sebelum Pangeran Andromeda itu mengucapkannya. Ia bahkan tahu bahwa Alpheratz belum ingin kembali ke langit dalam waktu dekat dan entah bagaimana mulai tertarik dengan bumi. "Tolong jangan bersuara keras," ujar Alpheratz sedikit panik. "Seperti ucapanku tadi, aku butuh uang manusia untuk mengganti sesuatu yang telah kurusak. Aku akan menggantinya dengan upeti dari Andromeda saat kembali ke langit nanti. Kau bisa percaya kepadaku soal ini, tapi ... aku tidak suka yang lain dengar soal ini." "Mereka tidak akan mendengar ini," ucap Capella dengan cuek. "Aku jelas harus berbicara kepada kaisar soal ini tetapi kurasa ia jelas akan mengijinkannya mengingat bagaimanapun ... Anda adalah Pangeran Andromeda. Jika kaisar sudah memberikan lampu hijau, aku akan memberikan kartu bank kepadamu beserta identitasmu di bumi seperti yang lainnya." Alpheratz menggaruk-garuk kepalanya dengan sungkan. "Sebenarnya tidak hanya itu, anu ... aku juga---" "Berniat masuk kampus yang sama dengan Putra Mahkota dan yang lainnya?" potong Capella memamerkan kemampuannya. Alpheratz mendelik kaget, Ia sudah pernah mendengar kalau Capella dari Kiklios mampu membaca pikiran sesama kaum bintang dengan mudah, tetapi ia baru kali ini benar-benar berbicara dengan pria botak itu dan kaget. "Kau ... sedikit mirip dengan perempuan penyihir Kiklios yang suka membaca segalanya," ujar Alpheratz dengan ekspresi tidak nyaman. "Maksudmu Betelgeuse? Ah tidak, kami berbeda. Ia jauh lebih hebat karena yang ia baca adalah visual ke depan, sementara aku hanya bisa membaca isi pikiran siapa pun yang dibiarkan terbuka begitu saja." Alpheratz yang mendengarnya kemudian segera menutup isi kepalanya dari Capella dan bergerak maju secara perlaham. "Kau bisa memasukkanku ke kampus itu?" "Tentu bisa, kami salah satu pemilik Yayasan Immaculata, tapi ... kenapa memdadak Anda ingin bergabung bersama mereka di bumi? Anda berniat tinggal lebih lama di sini?" tanya Capella sebenarnya sedikit curiga. Wajah Alpheratz memerah. "K-kau tidak perlu tahu alasannya. Aku hanya ingin mencoba sama seperti mereka semua. Aku ingin tahu apa di bumi memang semenyenangkan itu!" Capella menunduk dengan hormat dan tenang. "Baiklah, Pangeran. Saya akan mendiskusikan hal ini dengan kaisar secepatnya." "Te-terima kasih," jawab Alpheratz dengan canggung. Pria berambut putih kebiruan itu kemudian berlari cepat keluar dari garasi karena malu dan segera kembali ke kamarnya. Kupikir selama ini dia suka kepada kaisar, ujar Capella dalam benaknya. Sekarang ... Lima Belas? Capella kemudian mengangkat bahunya dengan cuek. Ia tidak ingin ikut campur dengan masalah pribadi semua orang golongan teratas di rumah itu meski jelas akan mengasah lebih dalam informasi soal itu belakangan karena rasa haus gosipnya. Ia kemudian mematikan cahaya lampu di garasi dan menutup kembali pintunya sebelum kemudian masuk ke dalam rumah mereka lagi. Kali ini, Capella segera berjalan ke arah dapur dan mempersiapkan sarapan untuk seisi rumah di sana. Pria botak itu mengambil beberapa telur, buah alpukat, keju, dan daging asap untuk membuat sandwich dengan cepat. Setelah itu ia juga membuat pancake blueberry dengan saos madu dan menyiapkan beberapa bagel dan croissant di atas meja makan. Hanya butuh tiga puluh menit baginya untuk menyiapkan semua itu dan meletakkannya di atas meja beserta jus jeruk dan s**u murni. "Kaisar belum turun?" tanya Vega yang datang paling pertama ke sana dan langsung mengambil tempat duduk di kursi bagian paling ujung yang biasa ia tempati. "Mungkin sebentar lagi," jawab Capella sambil menuangkan krim ke atas pancakenya. "Kau pergi ke suatu tempat semalam? Mobilmu kulihat menghilang setelah makan malam." Vega mengangguk sekilas. "Ada yang harus kuteliti dengan cepat. Malam ini juga kemungkinan aku akan kembali keluar." "Aku penasaran apa yang sedang kau lakukan," ucap Capella sambil melirik ke arahnya. "Aku pasti akan tahu nanti." Xynth dan dua pengawalnya datang menyusul Vega tidak beberapa lama kemudian. Ia, Rigel, dan Antares kemudian duduk di kursinya masing-masing dan langsung melirik ke kursi kosong kaisar di dekat mereka. "Ibu belum turun?" tanya Xynth ke arah Capella. "Mungkin sebentar lagi," ucap Capella mengulang jawabannya. "Ngomong-ngomong, Putra Mahkota ... Pangeran Alpheratz sepertinya tadi malam tidur di garasi mobil kita. Ketika kubangunkan, ia tampak marah-marah dan menyalahkan Putra Mahkota atas situasinya. Kalian baru berpergian bersama semalam?" "Kami kebetulan bertemu di suatu tempat semalam dan dengan tidak tahu malu ia menumpang pulang dengan mobilku dan langsung tertidur pulas di dalamnya, Jadi begitu turun aku langsung membuangnya ke kandang Skyloz," jawab Xynth tak acuh. Antares langsung tertawa di tempatnya. "Wah, kau berarti pulang bersamanya dan Lima Belas. Mana Lima Belas sekarang?" Xynth yang sedang meneguk air putihnya mendadak tersedak. Wajahnya langsung memerah dan ia langsung tampak bersikap gugup dan ganjil. "Mana aku tahu?! Mungkin dia masih tidur," jawab Xynth dengan cepat setelah mengusap bagian mulutnya yang basah. Sekilas, Capella tampak melihat sesuatu di dalam kepala Xynth. Namun dengan cepat Xynth yang melirik tajam ke arahnya langsung melotot. Capella kemudian menunduk dan berusaha mengenyahkan rasa penasarannya akan sesuatu di dalam isi kepala sang putra mahkota dengan sopan. "Ah, umur Lima Belas memang panjang!" ujar Antares dengan wajah cengengesan. "Baru saja kita membicarakannya, ia sudah muncul di sini." "Selamat pagi," ucap Fori sambil mengusap matanya yang masih terasa berat meski ia sudah mencuci mukanya sebelum turun ke bawah. "Apa kita masih belum boleh ke kampus hari ini?" "Bersabarlah, kondisi masih berbahaya di luar sana," jawab Rigel ke arahnya. "Semalam juga seharusnya kau dan Xynth tidak perlu berkeliaran di luar dan seharusnya kembali dengan cepat." "Putra Mahkota dan Fori semalam keluar bersama?" tanya Capella mendadak. Kali ini, giliran Fori yang langsung tersedak saat sedang meminum air putih dari gelas di hadapannya. Wajahnya mendadak sama merahnya dengan Xynth dan ia menunduk sambil terbatuk-batuk ke lantai. "Sebuah ciuman?" gumam Capella mendadak dengan mata terbelalak kaget saat membaca isi kepala Fori. Dengan cepat, Xynth tiba-tiba sudah membekap mulut Capella dengan serbet di atas meja makan dan membuat pria botak itu kemudian megap-megap di tempat. Ia kemudian menganggukkan kepalanya ke arah Xynth yang tampak melotot ke arahnya. "Ada apa ini? Ada sesuatu yang tidak kami tahu?" tanya Antares sambil memandang ke arah Xynth dan Capella secara bergantian. Belum sempat Capella menjawab pertanyaan Antares, mendadak Alhine muncul di hadapan mereka dan membuat kondisi di ruang makan langsung hening seketika. Seluruh mata mereka, termasuk Alpheratz yang baru tiba di sana juga langsung terkesima menatap ke arah Alhine. "Ka-kaisar, Anda terlihat ... berbeda," ucap Capella sambil memandangi Alhine dari atas sampai ke bawah. "Anda terlihat seolah akan pergi berkencan." "Ini bukan kencan, aku hanya akan pergi untuk menemui...." Ucapan Alhine terpotong. Wanita yang sedang mengenakan dress mini ketat biru muda dengan long cardigan semi transparan berwarna putih berkilauan itu mendadak salah tingkah. "Untuk apa aku menjelaskan agendaku hari ini kepadamu!" jawab Alhine ke arah Capella dengan wajah yang memerah. "Kenapa wajah semua orang pagi ini terlihat merona merah semua?" tanya Capella sambil melirik ke arah Alpheratz yang juga tengah terpaku memandangi Alhine dari tempatnya tanpa berkedip. "Mencurigakan sekali. Apa ada yang terjadi kepada kalian semalam atau ada yang sedang kalian rencanakan hari ini yang mungkin malu untuk kalian utarakan?" "Tidak ada!" jawab Alhine, Xynth, dan Fori secara serempak dengan keras. Jawaban ketiganya justru membuat alis mata Capella semakin mengernyit karena curiga. "Kaisar, kau tidak sedang berencana untuk mendatangi polisi manusia yang datang ke sini kemarin, kan?" tanya Capella sebenarnya asal, tetapi mendadak Alhine yang sedang meneguk air minumnya langsung tersedak di tempatnya. Plaak! Alhine memukul kepala botak Capella dari jauh dan membuat Capella langsung meringis kesakitan di tempatnya. "Berani sekali kau bertanya soal ini kepadaku? Kau pikir aku akan menjatuhkan martabat langit hanya untuk menemui manusia tampan dan kuat sepertinya?" kilah Alhine dengan tampang galak dan seperti tertangkap basah. "Ibu, kurasa pakaianmu sedikit terlalu ... terbuka," ujar Xynth dengan tatapan tidak nyaman ke arah ibunya yang tampil sangat menawan pagi itu. Ia melirik jengkel ke arah kaki jenjang ibunya yang sengaja dipamerkan dari balik long cardigan-nya. "Wajahmu juga terlihat aneh dengan makeup tebal seperti itu." "A-apa aku terlihat jelek?" tanya Alhine mendadak terlihat gugup ke arah Xynth. "Kau sangat cantik, Kakak Ipar," jawab Alpheratz secara refleks sambil masih terpaku memandangi Alhine. "Hentikan tatapan menjijikkanmu kepada ibuku!" teriak Xynth sambil melempar s**u murni di gelasnya ke arah Alpheratz. "Kau sedang mengajakku bertengkar lagi seperti kemarin?" Alpheratz menggeram kesal sambil mengusap cairan s**u dari wajahnya. "Baiklah, aku akan meladenimu. Kebetulan aku belum membalasmu setelah kau membuangku di kandang binatang kemarin malam!" Kini Alpheratz menerbangkan toples madu di hadapannya dan menumpahkannya dengan cepat ke atas kepala Xynth. Xynth pun langsung membalasnya dengan melempar Alpheratz kembali dengan seluruh isi sandwich-nya. Kondisi ruang makan seketika menjadi rusuh. Tidak saja Antares kini ikut melempari Alpheratz, Alhine yang kesal juga terlihat memecahkan berbagai gelas di atas meja makan setelah tanpa sengaja terlempar krim keju dari tangan anaknya, Xynth. Capella terdiam di pojok ruangan seorang diri. Biasanya pria itu akan sangat kesal jika sesuatu yang dirancangnya dengan sempurna dihancurkan begitu saja. Hal-hal seperti itu biasanya membuat mood pria botak itu langsung menurun drastis. Namun kali ini Capella terdiam tanpa berhenti tersenyum di tempatnya. Pria yang suka bergunjing itu telah mendapatkan informasi yang ia mau dari kepala masing-masing orang di atas meja sarapan pagi itu dan berusaha keras menyembunyikan senyum yang mengungging di wajahnya. Ya, tidak ada satu pun rahasia besar yang akan sanggup disimpan lama oleh orang-orang itu kepadanya. Meski menutup rapat-rapat isi kepala mereka agar tidak terbaca dengan mudah oleh Capella, namun kemarahan mereka biasanya akan membuat segalanya kemudian terbongkar lebih cepat. Capella pun kini keluar dari dalam ruangan secara perlahan dengan raut wajah yang geli dan kini ikut merona merah. ___ Kilas balik padang ilalang, malam sebelumnya Fori yang terjatuh di atas tubuh Xynth dan tidak sengaja mencium pria itu membuka matanya lebar-lebar dengan kaget. Ia melihat Xynth sama kagetnya di bawahnya dan seperti tidak mampu bergerak dengan cepat karena masih terpana menatap ke arah wajah Fori. "Ma-maaf," ucap Fori dengan wajah merah padam. "Aku tidak sengaja melakukannya. Aku terjatuh karena...." Ucapan Fori terhenti. Ia melihat Xynth sedang melirik ke arah kunang-kunang yang kini melintas melewati wajahnya dan Fori dengan sinar keemasan yang sangat cantik. Keduanya kini terdiam sambil memandangi binatang tersebut kemudian melintas pergi dari pandangan mereka. Setelah kunang-kunang itu pergi dengan membawa sinarnya, Fori dan Xynth saling memandang dari posisi mereka masing-masing sekali lagi. Lalu setelah cukup lama saling menatap, mendadak Xynth menarik wajah Fori mendekat kepadanya dan kemudian mencium gadis itu di bawah langit penuh bintang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN