"Kenapa kalian berdua ada di sini?"
Fori bertanya dengan tampang melongo melihat dua pria langit tersebut kini berada di dapur. Baik Alpheratz dan Xynth sudah sama-sama menggulung ke atas lengan baju mereka untuk membantu Fori mencuci piring.
"Xynth, kau pernah mencuci piring sebelumnya?" tanya Fori kepada pria itu.
"Tidak," jawab Xynth dengan santai.
"Seumur-umur tidak pernah sama sekali?" Fori mengulang pertanyaannya untuk mendapat penegasan.
"Sama sekali tidak pernah."
"Lalu kenapa kau mau nekad untuk membantuku sekarang?!" ucap Fori dengan ketus melihat Xynth kini malah bermain-main dengan piring di tangannya.
"Aku bisa membantumu," ucap Alpheratz mendadak.
"Kau baru saja memecahkan hampir selusin piring dan gelas di sini dan tidak bahkan mampu untuk menggantinya!" jawab Fori dengan jengkel.
"Tunggu sebentar," kata Xynth mendadak sambil menahan tawanya. "Jadi Alpheratz telah memecahkan banyak barang di sini?"
"Bukan urusanmu!" jawab Alpheratz sambil mengeluarkan kekuatannya untuk membanting piring di tangan Xynth mengenai wajah pria itu sendiri.
"Apa yang kau lakukan kepada wajahku?!" teriak Xynth naik pitam sambil mengusap hidung bangirnya yang terbentur piring berbahan keramik.
Bukk!
Alpheratz sekali lagi menghantamkan piring itu ke wajah Xynth sambil tertawa terpingkal-pingkal. Pria itu lalu menghadap ke arah Fori sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Xynth.
"Lihat, Lima Belas, saking bodohnya dia bahkan tidak sadar kalau aku berencana menghantamnya sekali lagi."
Byuurr!
Alpheratz mendadak terdiam ketika merasakan seember cairan basah kini mengguyur kepala dan tubuhnya. Alpheratz menoleh dan melirik ke arah bekas ember pengepelan di dapur yang ia tahu benar tadi berisi cairan kotor hasil mengepel Fori.
"A-apa yang kau lakukan, makhluk aneh Kiklios?!" teriak Alpheratz sambil melotot ke arah Xynth.
Kini Alpheratz melemparkan seplastik besar tepung terigu ke bagian wajah Xynth sekali lagi. "Kuberikan ini khusus untukmu, Xynth, agar kau bisa menutupi wajah menyebalkanmu!"
Dasshhh!
Kini sekujur tubuh dan wajah Xynth dipenuhi bubuk putih tepung yang membuatnya langsung terbatuk-batuk di tempatnya sambil mengucek matanya yang terasa perih.
"Kurang ajar!" seru Xynth dengan kesal. "Ini untuk menghilangkan bau air pengepelan di tubuhmu dengan cepat!"
Byuuurr!
Sekali lagi Xynth menyiram seluruh tubuh Alpheratz dengan sabun cuci piring. Ia berhasil membuat Alpheratz kini penuh dengan buih-buih busa sabun detergen cair tersebut.
Keduanya kemudian terlibat baku lempar di dapur dan membuat kegaduhan. Fori yang melihat cepat berusaha melerai keduanya. Apa daya, gadis itu salah masuk ke bagian tengah dan membuat dirinya menjadi korban sempurna lemparan botol saos dan kecap di sana.
Gadis itu baru saja akan berteriak dan mengamuk, namun mendadak ia terdiam seribu bahasa. Matanya melihat ke arah pintu dapur dan melihat Suster Elsa sekali lagi berada di sana dengan tampang melongo.
"Su-suster Elsa...."
Bukkk.
Sebutir telur mentah yang entah dari siapa mendarat mulus di wajah Suster Elsa dan pecah perlahan di sana. Hanya dalam beberapa detik setelah melihat telor pecah di wajahnya dan kondisi dapurnya yang kacau balau, wanita itu pun langsung pingsan di tempatnya berdiri.
___
"Xynth, kau yakin kau sudah menghapus ingatan Suster Elsa dengan benar?" tanya Fori di samping jok pengemudi mobil Xynth.
Gadis itu dan Alpheratz kini sudah berada di dalam mobil Xynth dan sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Xynth. Situasi di dalam mobil Xynth sendiri sejak tadi sudah cukup hening akibat kejadian pingsannya Suster Elsa tadi.
"Dia tidak akan ingat apa yang terjadi tadi," jawab Xynth kepada Fori sambil tetap mengendarai mobilnya. "Besok pagi-pagi sekali aku akan menyuruh Capella membeli berbagai alat keperluan dapur baru untuk sekaligus merenovasi dapur panti asuhan itu. Kau tidak perlu khawatir."
"Aku tidak mengerti kenapa kalaian berdua bisa kekanak-kanakkan seperti itu," ucap Fori dongkol sambil melirik sengit ke arah Xynth dan Alpheratz yang malah sudah tertidur pulas di jok belakang mobil Xynth.
"Aku juga tidak mengerti kenapa si bodoh itu ikut dengan mobil kita. Dia bisa saja melakukan teleportasi!" kata Xynth sambil mengintip Alpheratz di bagian jok belakangnya dengan tampang merengut.
"Kau sendiri kenapa membawa mobil jika kau bisa teleportasi. Kakimu juga masih menggunakan tongkat, apa tidak susah bagimu menekan pedal sejak tadi?" tanya Fori kepadanya.
"Sedikit," jawab Xynth dengan jujur. "Tapi aku harus menjemputmu karena ibuku akan maarah jika tahu kau berkeliaran seenaknya. Ia juga pasti marah saat tahu kita tidak ikut makan malam bersama di sana tadi."
"Kalian terbiasa selalu makan malam bersama?" tanya Fori sedikit penasaran.
"Selalu," jawab Xynth mulai santai. "Biasanya kami selalu makan di meja yang sama dan itu sudah seperti tradisi bagi kami. Sama seperti di panti asuhan kalian. Jika ibuku datang, tradisi itu akan semakin menguat. Di langit, makan malam adalah waktu di mana semua orang memberikan laporan tugasnya kepada kaisar."
"Aku tidak menyangka kalau tempat kalian juga memiliki tradisi hangat dan kekeluargaan seperti manusia di bumi," komentar Fori sambil tersenyum. Gadis itu kemudian menoleh ke luar jendela dan berseru pelan.
"Di sini! Ini dulu adalah tempat aku dan Sega bertemu untuk terakhir kalinya sebelum sinarmu mengenai kami. Ini yang aku sebut sebagai padang ilalang!" kata Fori dengan nada antusias.
Xynth menghentikan mobilnya sebentar dan langsung membuka kaca jendelanya. "Di sini tempatnya?"
Fori mengangguk. Gadis itu kemudian membuka pintu mobil Xynth dan melompat keluar dengan cepat. Xynth yang melihat Fori keluar langsung ikut membuka pintu jok kemudinya dan melangkah keluar mengikuti Fori.
"Tempat ini indah di malam hari," kata Fori sambil berjalan di depan Xynth. "Biasanya, langit akan terlihat seperti berwarna biru tua di sini dan begitu banyak bintang akan terlihat sekaligus di langit jika cuacanya sedang cerah. Terkadang, kita juga akan melihat kunang-kunang. Dulu di sini banyak kunang-kunang tetapi sekarang hewan itu sudah menjadi sangat langka."
"Kunang-kunang? Itu bagian dari jiwa para bintang mati yang tersesat sampai ke bumi," ucap Xynth sambil menarik garis senyum di wajahnya sekilas.
"Eh? Benarkah? Kunang-kunang adalah jiwa para bintang mati?" tanya Fori dengan bola matanya yang melebar seperti koala.
"Kami kaum bintang jarang bisa melihat kunang-kunang karena itu juga fenomena langka di langit. Melihat jiwa-jiwa kaum kami yang terlempar ke sini tentu akan menjadi kehormatan bagiku. Katanya jika kami kaum bintang melihatnya, maka itu berarti akan ada hal baik yang terjadi kepada kami."
"Kaum bintang di langit juga punya mitos seperti itu?"
"Tentu saja," jawab Xynth sambil berjalan menjauh dari Fori untuk melihat-lihat.
Pria itu terlihat melangkahkan kakinya smabil memandangi langit dan berpikir seorang diri. Sementara Fori yang memandangi punggung Xynth sejak tadi mendadak melihat sesuatu melintas di depan wajahnya dengan perlahan.
Eh...? Itu...?
Fori terbelalak. Ia melihat seekor kunang-kunang mungil bercahaya keemasan mendadak terbang mengitari wajahnya. Fori bergerak cepat untuk berusaha menangkap kunang-kunang itu untuk menunjukkannya kepada Xynth, namun kunang-kunang itu terbang dengan cepat menjauh dari Fori ke arah punggung Xynth.
"Xynth, jangan bergerak! Ada kunang-kunang di punggungmu!" teriak Fori sambil berlari mengejar kunang-kunang tadi ke arah Xynth.
Sayangnya, Fori justru tergelincir bekas rerumputan yang basah dan dalam sekejap, wanita itu jatuh terpental menimpa Xynth yang baru membalikkan tubuhnya ke arah Fori. Ketika tersadar, Fori sudah ada di atas tubuh Xynth yang terjatuh di atas rerumputan. Wajahnya menempel ke wajah Xynth dan gadis itu terkejut setengah mati ketika menyadari bahwa ia sedang mencium bibir Xynth di bawahnya.