Persaingan Dua Pria Langit #2

1030 Kata
"Ada apa sebenarnya dengan kalian berdua?!" ucap Fori akhirnya menuangkan segelas air minum lagi dan menyerahkannya kepada dua pria di depannya. Xynth dan Alpheratz sama-sama langsung meneguk minuman mereka dengan wajah merah akibat tersedak. Setelah agak lega, keduanya langsung kembali berpura-pura terlihat elegan. "Kalian berdua sama-sama teman kuliah Fori?" tanya Suster Elsa kemudian setelah melihat keduanya sudah kembali tenang. "Aku teman satu fakultas dengan Fori, kalau pria ini---" "Aku juga!" Alpheratz memotong ucapan Xynth sambil memaksakan tawa. "Aku teman satu kampus mereka yang baru akan masuk ke sana menyusul." Suster Elsa menggut-manggut. "Jadi, kalian berdua ini bersaudara atau berteman?" "Hubungan kami bisa dibilang cukup rumit, tetapi meskipun terlihat muda, dia sebenarnya adalah paman---" "Aku adalah sepupu Xynth!" Lagi-lagi Alpheratz memotong ucapan Xynth. "Kau lama hidup di luar negeri. Sekarang ini karena kuliah di sini, aku harus tinggal di rumah Xynth." "Sejak kapan kita memiliki hubungan sepupu?" bisik Xynth dengan jengkel ke arah Alpheratz. "Kau adalah adik ayahku, jangan sok muda!" "Jadi kau mau bilang kalau aku pamanmu?" tanya Alpheratz dengan tampang cuek. Xynth sendiri langsung bergidik mendengar ucapannya sendiri. "Kampus kalian sepertinya sedang dalam kondisi ramai, ya? Ada pembunuhan di sana, kan? tanya Suster Elsa mendadak dengan raut wajah yang penasaran. "Yang kudengar seorang wanita muda di fakultas kalian kemarin tewas di tempat pembuangan sampah?" "Namanya Hannah." timpal Fori dengan cepat. "Bagaimana kau bisa tahu soal ini, Suster?" "Di wilayah seperti ini apa lagi yang bisa kita sembunyikan? Setiap ke pasar, setiap orang yang bertemu dan saling mengenal akan menggunjingkan apa pun," jawab Suster Elsa kepada gadis itu. "Lagi pula, seorang polisi sempat datang ke sini kemarin pagi untuk mencarimu. Apa ada sesuatu yang melibatkanmu dengan kasus ini, Fori? Katanya kau salah satu saksi." "Aku tidak bahkan tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Hannah," ucap Fori. "Aku memang mengenalnya sejak dulu dan kebetulan sempat bertemu dengannya sebelum ia tewas, tapi rekaman CCTV katanya juga merekam kepergian kami dari sana jadi mereka akan sangat susah menerapkan status aneh-aneh kepada kami selain saksi." "Apa saja yang ditanyakan polisi itu kepadamu kemarin setelah kita makan malam?" tanya Xynth mendadak teringat hal itu. "Tidak banyak," jawab Fori berusaha mengingat persis rentetan pertanyaan yang diajukan kepadanya. "Dia bertanya berapa lama dan bagaimana aku mengenal Hannah. Selain itu, dia juga bertanya mengenai jalannya acara malam itu dan sabotase yang tim kuning lakukan kepada kita. Dia juga bertanya tentangmu, Xynth." "Tentangku?" "Ya, dia tanya ada apa di antara kau dan Hannah serta bertanya bagaimana sikapmu di kampus selama ini," jawab Fori lagi. "Tapi yang paling aneh ... dia juga bertanya soal Siska." Dahi Xynth berkerut. "Apa yang mereka tanyakan soal Siska?" "Tidak banyak," jawab Fori lagi. "Tapi dia bertanya soal sikap Siska dan apa-apa saja yang dilakukan oleh Siska selama ini serta siapa saja temannya." "Kau memberi tahu kepadanya kalau kita tahu pelakunya adalah Siska?" tanya Xynth dengan suara pelan ke arah Fori. Namun rupanya Suster Elsa sudah mendengarnya. "Kalian ... tahu siapa pelakunya?" tanya Suster Elsa dengan mata mendelik kaget. "Tentu saja tidak," jawab Fori berbohong. "Sejauh ini kami hanya menduga berdasarkan informasi dari kepolisian yang mengatakan bahwa mereka memiliki black box dari salah satu video. Kami masih belum mengetahui siapa pelaku sebenarnya tapi memang Siska paling terakhir keluar dari sana." "Kasus ini masih belum seratus persen bisa dikatakan sebagai pembunuhan. Itu karena mereka masih belum mengetahui dengan jelas apa penyebab kematiannya. Tidak ada bekas luka di bagian luar tubuhnya sama sekali. Hanya organ tubuh bagian dalamnya saja yang rusak. Polisi tidak punya kasus di sini." "Ngomong-ngomong," kata Suster Elsa, "Apa kemarin Fori makan malam bersamamu? Kau tadi bilang kalau polisi itu datang kepada Fori setelah kalian makan malam." "Saat ini Lima Belas sedang tinggal di rumah---" "Lima Belas?" tanya Suster Elsa memotong ucapan Xynth dengan bingung. "Ah, bukan apa-apa, Suster," ucap Fori sambil menginjak keras sepatu Xynth. "Kebetulan aku kan tinggal di asrama dan kemarin malam Xynth dan yang lainnya kebetulan juga sedang ada di asrama dan ikut makan bersama kami di sana." "Oh begitu," ucap Suster Elsa sambil kembali manggut-manggut. "Kalau kau memang di asrama, kenapa kemarin polisi itu mengatakan kalau kau tidak juga muncul di asrama?" Fori seketika gugup. "I-itu karena dia datang di saat langit terang. Aku sendiri kan selalu kembali ke asrama di saat langit sudah gelap karena sibuk dengan kuliah baruku." "Tapi hari ini kau tidak terlalu sibuk?" Suster Elsa menyindir Fori dengan alis mata yang terangkat. Wanita itu tahu kalau hari itu Fori membolos kuliah karena ia melihat Fori dan Alpheratz siang menjelang sore tadi tengah bertengkar di padang ilalang. "Ahaha, sebenarnya ... kami semua sudah selesai kuliah sejak pagi karena hari ini hanya ada satu mata kuliah saja," jawab Fori sambil menggaruk kepalanya. "Aku tidak sangka kau adalah perempuan yang mampu membangun kebohongan demi kebohongan hanya untuk menutupi sesuatu. Aku ingin benar-benar berdiri sambil bertepuk tangan saat ini," bisik Xynth ke arah Fori sambil setengah tertawa mengejek. "Diam kau," ucap Fori tanpa membuka mulutnya dari depan Xynth. Gadis itu kemudian berdiri dari kursinya dan langsung menatap ke arah Suster Elsa. "Kami harus segera kembali ke asrama karena ada jam malam di kampus kami. Kurasa makan malam mereka berdua di sini sudah cukup. Aku akan mencuci piring terlebih dahulu." "Kau yakin kau masih sempat untuk melakukannya?" tanya Suster Elsa sedikit khawatir dengan jam malam Fori. "Tentu saja, aku akan membawa beberapa piring kotor di meja ini ke belakang," kata Fori sambil mengangkat beberapa gelas dan piring yang sudah ditinggalkan sebagian besar anak begitu saja di atas meja. "Aku akan membantumu," ucap Alpheratz mendadak sambil mengangkat piring dan gelasnya sendiri dari atas meja. "Apa yang kau lakukan? Kau mau mencuci piring?" tanya Xynth sambil mengejek Alpheratz diam-diam. "Kenapa? Sejak tadi, aku yang membantu Fori menyiapkan semua makan malam di sini berdua. Fori bilang aku adalah asisten rumah tangga yang hebat," jawab Alpheratz dengan polos. Namun Xynth tidak menanggapi ucapan Alpheratz dengan ringan. "Berdua?" ulang Xynth kini mengangkat sebelah alis matanya. "Dia menganggap orang Andromeda bodoh dan menyebalkan sepertimu hebat?" "Minggir," ucap Alpheratz tidak mempedulikan ucapan Xynth dan langsung berjalan mengikuti Fori ke dapur. "Tu-tunggu sebentar," tukas Xynth dengan cepat sambik ikut membawa piring dan gelasnya sendiri mengikuti Fori dan Alpheratz. "Aku juga akan membantu kalian mencuci piring di sini. Semuanya,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN