"Alpheratz, makan yang banyak. Jangan malu-malu," ucap Suster Elsa malam itu usai mengucapkan doa pembuka makan malam seluruh anak Panti Asuhan Immaculata.
Wanita itu mengambil beberapa sayuran lagi dan meletakkannya banyak-banyak di atas piring Alpheratz sambil tersenyum. Ia lalu menyodorkan setoples emping ke arah pria dari Kerajaan Andromeda tersebut dan menyuruh Alpheratz untuk mencobanya.
"Kau yakin kau sudah menghapus ingatannya soal tadi dengan benar?" tanya Fori sambil berbisik ke arah Alpheratz yang duduk di sebelahnya. "Dia sepertinya sedang berusaha membunuhmu dengan makanan sejak tadi."
"Aku tahu," jawab Alpheratz balas berbisik dari sela-sela mulutnya yang masih memaksakan senyum ke arah Suster Elsa. "Aku sudah menghapusnya tapi mungkin alam bawah sadarnya dendam padaku. Aku tidak pernah suka sayur mayur dan jenis makanan aneh seperti isi di dalam toples ini."
"Kau tidak suka emping dan sayuran?"
"Aku tidak suka apa pun yang tersaji di sini saat ini, rasanya semua sangat hambar," jawab Alpheratz dengan terang-terangan. "Tidak bisakah kita pulang saja dengan cepat? Dia tidak akan berhenti memberiku makanan, kan?"
"Tidak," jawab Fori dengan jujur. "Semua di sini terasa hambar karena kami jarang menggunakan banyak garam dan penyedap apa pun. Ini semua makanan untuk anak-anak"
"Ngomong-ngomong," lanjut Fori, "apa yang harus kita lakukan dengan piring-piring dan gelas-gelas pecah yang kita sembunyikan dan pecahannya baru kita buang semua tadi?"
"A-aku akan menggantinya segera," jawab Alpheratz kini sambil menunduk.
"Memangnya kau punya uang?"
"Aku pasti akan menemukan jalan untuk itu," jawab pria itu dengan kesal. Harga dirinya sebagai pangeran bak dicabik-cabik saat itu dan ia merasa dirinya tampak memalukan. "Ah, menyebalkan sekali! Sebaiknya setelah ini kita langsung pulang ke rumah Xynth saja!"
Bak pucuk di cinta ulam tiba, tepat ketika Alpheratz usai mengucapkan kalimatnya, mendadak seorang anak datang tergopoh-gopoh dari arah pintu depan dan memberitahukan sesuatu ke arah Suster Elsa. Suster Elsa kini menatap ke arah Fori setelah mendengar perkataan anak tersebut bahwa ada satu tamu lagi untuk Fori yang sedang menunggu di depan panti mereka saat ini.
"Siapa maksudnya, Fori?" tanya Suster Elsa dengan heran. "Katanya ada seorang pria menunggumu di pintu depan."
"Seorang pria? Aku tidak mengenal banyak orang dan merasa sedang menunggu siapa pun," ujar Fori dengan sama bingungnya. Meskipun begitu, gadis itu langsung beranjak dari kursinya dan langsung berjalan ke arah pintu depan.
Betapa terkejutnya Fori ketika melihat yang berada di luar saat ini adalah Xynth. Gadis itu menganga ketika melihat Xynth datang dengan tongkatnya dan berdiri sambil memandangi Fori dengan tatapan tajam.
"K-kau ... bagaimana kau bisa berada di sini?" tanya Fori menganga.
"Kau dan Alpheratz berkeliaran sampai malam begini padahal ibuku jelas-jelas mengatakan bahwa kita masih harus hati-hati saat ini," ucap Xynth dengan tampang kesal. "Aku datang untuk menjemputmu pulang."
"Kau tahu kalau aku sedang bersama Alpheratz?" tanya Fori lagi.
"Di mana pria sialan itu sekarang?" tanya Xynth kepadanya.
"Dia sedang makan malam."
Bola mata Xynth langsung melotot kaget. "Makan malam di sini?! Setelah melakukan tindakan onar tadi, dia bersenang-senang di sini?!"
"Tindakan ... onar?"
Xynth tidak menjawab Fori. Dengan cepat, pria itu langsung melangkah masuk ke dalam begitu saja dan menerobos ke dalam ruang makan panti tersebut tanpa bertanya arahnya kepada Fori yang bengong.
"Xynth! Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Alpheratz dengan wajah terkejut ketika melihat kedatangan Xynth di meja makan panti itu.
"Kau sendiri, kenapa kau masih saja di sini? Kau tidak malu meminta makanan ke panti yang berada di bawah yayasan kami?" jawab Xynth dengan sengit.
"Tu-tunggu sebentar, kalian berdua sedang ada di kawasan anak-anak malang, kenapa kalian---"
"Fori!" teriak Suster Elsa tiba-tiba. Wanita itu mendadak berlari mendekat ke arah Xynth dan memandanginya dengan terpana. "Kenapa kau tidak bilang kalau kau punya teman pria lain yang sama tampannya dengan Alpheratz?"
"Su-suster, hentikan! Jangan bersikap memalukan!" bisik Fori dengan wajah memerah malu melihat Suster Elsa memandangi lekat-lekat Xynth bak sedang melihat kedatangan seorang artis ke sana. "Dia anak pemilik Yayasan Immaculata."
"A-anak pemilik yayasan kami?" Suster Elsa tampak tergagap. Wanita itu segera merapikan penampilannya dan langsung menggandeng lengan Xynth dengan kedua tangannya. "Siapa namamu tadi, anak tampan? Kau anak pemilik yayasan kami?"
"A-aku Xynth," jawab Xynth dengan salah tingkah. Ia berusaha menjauhkan tangan Suster Elsa dari lengannya tetapi wanita itu justru semakin mempererat pegangannya.
"Kau datang untuk bertemu Fori? Kalian saling mengenal?" tanya Suster Elsa kepada pria itu.
"I-iya, kami satu kampus."
"Kemarilah," ucap Suster Elsa menyeret Xynth ke meja makan. "Duduklah dan makanlah bersama kami."
"Suster, dia hanya datang sebentar dan akan segera pergi lagi. Kau tidak perlu mengajaknya makan makanan sederhana begini. Dia tidak akan terbiasa dengan menu kita," tukas Fori semakin merasa malu dengan sikap Suster Elsa yang berlebihan. Ia tahu kalau kepala panti asuhannya itu selalu seperti itu jika berhadapan dengan orang-orang dari Yayasan Immaculata.
"Kata siapa? Aku mau makan malam di sini," jawab Xynth dengan cuek.
Dengan santai, pria itu kemudian mengikuti Suster Elsa dan duduk di kursi tepat di sebelah Alpheratz. Sementara Alpheratz tampak menatap dengan dongkol ke arahnya.
"Untuk apa pria sekarat Kiklios jauh-jauh datang ke sini dan ikut makan bersama kami?" desis Alpheratz ke arah Xynth dengan berbisik. "Makanan di rumahmu jauh lebih nyaman, kau tidak akan suka apa yang disajikan di sini!"
Xynth tidak menjawab dan malah tersenyum lebar saat Suster Elsa meletakkan nasi, sayur-sayuran dan sepotong daging ayam crispy ke atas piring Xynth. Pria itu kemudian mengucapkan rasa terima kasihnya dengan sopan dan elegan.
"Terima kasih," ucap Xynth dengan senyum tipis. "Kebetulan saya sangat suka dengan sayuran dan dokter mengatakan kepada saya untuk memakan banyak sayuran saat ini."
"Kau suka sayuran?" tanya Suster Elsa sumringah. Dengan semangat, wanita itu lalu memberikan porsi lebih banyak sayur ke atas piring Xynth dan membuat Xynth langsung terperangah.
"Sejak kapan orang-orang seperti kita memakan banyak sayuran?" ucap Alperatz ke arahnya dengan pelan. "Kita bahkan tidak punya sayuran di langit dan kau membual dengan mengatakan ini makanan kesukaanmu?"
"Di bumi tempat kami tinggal sejak dulu, biasanya hanya anak kecil saja yang susah memakan sayur dan merengek jika diberikan sayur. Pria dewasa tidak seperti itu," ucap Xynth membalas tajam ledekan Alpheratz. Meskipun begitu, ia yang sebenarnya memang juga tidak menyukai sayuran berusaha menyembunyikan rasa paniknya dari Alpheratz.
Selama ini di rumah mereka, Capella termaksud sangat jarang menyediakan sayuran. Mereka terbiasa memakan berbagai buah-buahan dan tidak satu pun dari orang Kiklios yang mau menyentuh sayur kecuali Vega dan Capella. Itu makanya meski selalu menyajikan salad, tidak satu pun dari Xynth dan lain-lain yang pernah menyentuhnya.
"Ha-hanya anak-anak kecil yang tidak suka sayuran?" gumam Alpheratz sambil memandang ke arah sekelilingnya dan melihat banyak anak-anak di sana terlihat merengut memandangi sayur di piring mereka. "Aku bukan anak-anak!"
Secara mengejutkan, pria itu kemudian berusaha memakan sayuran tersebut dengan lahap. Xynth yang melirik ke arahnya tidak mau kalah. Pria itu kemudian juga langsung berusaha melahap sayuran di piringnya dan menguyahnya perlahan.
"Kau tidak akan bisa menang dariku, pria lemah Kiklios!" desis Alpheratz lagi sambil menganga melihat Xynth sudah menghabiskan sayurannya.
"Coba saja kalau kau bisa," jawab Xynth tanpa memandang ke arahnya.
Kali ini, Alpheratz mengambil mangkok sayur di hadapannya lagi dan menuangkannya sendiri ke piringnya. Ia lalu menelan bulat-bulat semua sayuran dari sendok makannya dan tidak lagi mengunyahnya.
Xynth yang kesal, lalu ikut mengambil satu sendok besar sayuran tersisa dan melakukan hal yang sama dengan Alpheratz. Keduanya kini terbatuk-batuk di tempat mereka sendiri akibat tersedak sayuran di tenggorokan mereka.
"Ternyata tidak semua pria kaya raya makan dengan elegan," bisik Suster Elsa ke arah Fori sambil melongo. "Mereka cukup rakus saat makan dan mampu menghabiskan jatah makan sayur semua anak-anak ini hanya dalam sekejap. Apa mereka selalu selapar itu sampai makan bak kuli bangunan?'
Fori ikut bengong melihat kompetisi memakan sayuran di antara kedua pria tersebut. Ia kemudian menuangkan segelas air putih dari teko di depannya dan sebelum sempat menyodorkannya ke salah satu dari mereka, keduanya sudah sama-sama mengulurkan tangan mereka ke arah Fori dengan cepat.
"Berikan air putih itu kepadaku!" ucap kedua pria langit tersebut ke arah Fori dengan wajah yang sama-sama memerah akibat tersedak sayur.