Beberapa jam sebelumnya...
"Bangun! Fori, bangun!"
Suara seruan-seruan mendadak terdengar menggema keras di dalam kepala Fori yang tengah tertidur pulas. Gadis itu membuka setengah matanya dengan susah payah dan ketika ia berhasil melakukannya, sosok Suster Elsa terlihat tengah mengernyitkan alis matanya ke arah Fori.
"Bisa-bisanya kau tertidur pulas di saat teman priamu sednag bertamu ke sini?!"
"Suster Elsa?" Fori malah menggumam dengan suara serak. Wajahnya terlihat kusut dan bingung. "Sejak kapan kau ada di sini?"
"Sudah dari beberapa menit yang lalu. Kami sudah setengah jam menunggumu di bawah dan ternyata kau malah tertidur di sini!"
Fori tidak fokus ke jawaban Suster Elsa. Ia malah melihat ke sekelilingnya dengan wajah tercengang.
"Aku ... sedang ada di panti? Bagaimana mungkin aku bisa ada di sini? Tadi aku---"
"Cepat ganti bajumu dan bantu aku menyiapkan makan malam di bawah," potong Suster Elsa tanpa mempedulikan Fori yang masih menganga. "Aku tidak habis mengerti bagaimana kau bisa berpenampilan begini acak-acakannya."
Suster Elsa tampak langsung beranjak dari kamar Fori setelah mengatakannya. Fori masih mendengar suara sang suster tersebut mengomel-omel di sepanjang koridor dari dalam kamarnya sendiri.
Bagaimana aku bisa berada di sini? Gadis itu terlihat kebingungan sendiri di atas tempat tidurnya. Setahuku tadi aku masih berada di mini market bersama Alpheratz karena aku perlu pembalut.
Begitu gadis itu melihat penampilannya sendiri, ia langsung syok dan berseru tertahan. Kemeja yang ia ingat tadinya dikenakan oleh Alpheratz entah bagaimana ada di pinggangnya dan menutupi seluruh pangkal paha Fori. Dengan panik, gadis itu pun kemudian segera mengambil baju dan berbagai perlengkapannya di lemari dan langsung berlari ke arah kamar mandi yang terletak di luar koridor lantai dua.
Begitu selesai merapikan dirinya, Fori segera berjalan ke arah dapur untuk membantu Suster Elsa. Begitu melihat Alpheratz ada di sana, ia langsung terjengkang ke belakang karena kaget.
"A-apa yang kau lakukan di sini?!" ucap Fori dengan refleks.
"Manusia Lima Belas, kenapa kau lama sekali," bisik Alpheratz dengan mulut tertutup sambil melirik ke arah Suster Elsa yang tengah menghibur Rho. "Ia memintaku menjaga anak itu sejak tadi dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan kepada anak itu."
Fori kini memandangi Rho yang tengah menangis tanpa suara di dekat Suster Elsa. Ia masih memegangi mainan mobil-mobilannya yang entah bagaimana tampak gosong.
"Apa yang kau lakukan kepada Rho?" Fori balas berbisik.
"Namanya Rho? Aku bahkan tidak tahu namanya," ucap Alpheratz sedikit panik. "Suster itu tadi meminta tolong kepadaku untuk menjaga anak itu sebentar karena ia sedang mempersiapkan makanan dan aku hanya ingin memperlihatkan sesuatu yang menyenangkan kepada anak itu. Aku tidak tahu kalau tindakanku membuat mainan anak itu sampai terbakar."
"Kau menggunakan kekuatanmu di sini?!" tukas Fori dengan bola mata melebar. "Kenapa kau ceroboh sekali?!"
"Aku akan menggantinya," bisik Alpheratz lagi dengan tampang bersalah. "Bagaimana mendapatkan hal-hal seperti itu?"
"Membeli minuman saja kau tidak punya uang, bagaimana caramu akan membeli minuman!" ujar Fori dengan kesal dan geli sekaligus. Ia lalu memandang ke arah Rho lagi. "Rho, kau tidak apa-apa?"
"Aku akan membawanya keluar sebentar," kata Suster Elsa sambil menggiring badan mungil Rho ke arah luar dapur. "Fori, tolong lanjutkan memotong sayuran-sayuran di atas meja itu."
Fori mengangguk. Ia kemudian berjalan ke arah meja dapur dan melanjutkan pekerjaan Suster Elsa sambil melirik ke arah Alpheratz yang tampak canggung.
"Di Andromeda, anak-anak seumur itu sudah bermain api dan pedang," terangnya seolah membela diri, "Saat seumuran dengannya, aku akan senang jika diperlihatkan ledakan-ledakan kecil. Itu hiburan bagi kami."
"Di kami itu sangat bahaya dilakukan pada anak kecil," kata Fori berusaha menyembunyikan tawanya ketika melihat Alpheratz yang merasa bersalah. "Anak kecil di sini dilarang menggunakan senjata tajam atau bermain api. Itu berbahaya."
"Aku tidak mengerti bagaimana kau dan aku bisa sampai ada di sini," ucap Fori lagi, "tapi kalau kau bisa membantuku dengan kekuatanmu ... bisakah kau memotong semua sayuran ini dengan cepat?"
"Memotong sayuran?" ulang Alpheratz sambil berjalan mendekat ke arah Fori. "Kau mau aku menggunakan kekuatanku untuk benda-benda aneh ini?"
Fori mengangguk. Ia lalu menunjukkan sebuah potongan kecil bawang ke depan wajah Alpheratz. "Ini bawang putih, kau bisa memotongnya seperti ini?"
"Jauhkan itu dariku, aku tidak suka bau anehnya," kata Alpheratz sambil memundurkan wajahnya dengan tampang terganggu.
"Ah, itu makanya orang-orang di bumi membuat mitos vampir tidak suka dengan bawang putih. rupanya orang-orang seperti kalian penyebabnya," ucap Fori dengan mengangkat sebelah alis matanya.
"Vampir?" ulang Alpheratz tanpa paham maksud Fori. Meskipun begitu, ia langsung memotong semua bawang di atas meja tersebut dengan hanya mengayunkan jarinya ke arah meja.
Fori terbelalak kaget dengan mata berbinar-binar sambil memandangi potongan bawang Alpheratz. "K-kau ... ternyata benar-benar bisa melakukannya?"
"Tentu saja, ini mudah sekali," cetus Alpheratz tertawa sombong. "Sini kubantu kau membereskan masalah kecil ini."
"Wah, orang-orang seperti kalian akan sangat berguna untuk digunakan jika aku memiliki banyak tugas-tugas melelahkan. Kalian bisa menjadi asisten rumah tangga terbaik!"seru Fori dengan wajah sumringah.
"Asisten rumah tangga? Apa itu?"
"Gelar kehormatan untuk orang-orang baik yang selalu membantu tugas manusia,' jawab Fori dengan asal.
"Aku bisa menjadi asisten rumah tangga manusia yang sangat baik," kata Alpheratz kemudian sambil mengut-manggut.
Dengan lincah, pria itu kemudian membantu Fori melakukan segalanya di dapur. Pria itu dengan cepat membuat sayuran-sayuran itu terpotong dengan sangat rapi dan membuat Fori sampai terbengong-bengong.
"Kau juga bisa membersihkan sampah sayur-sayur ini dengan cepat?" tanya Fori antusias. Ia lalu mengambil sebuah kresek hitam kosong dan memegangnya di depan Alpheratz. "Coba masukan semua sampah sayuran di meja ke dalam kantong plastik ini."
Alphertaz berdecak. Ia lalu menerbangkan semua saampah sayauran dari atas meja hingga yang terkecil-kecilnya untuk masuk sekaligus ke dalam kantong kresek yang sedang dipegang oleh Fori. Fori yang takjub kemudian langsung bertepuk tangan dengan keras di tempatnya.
"Luar biasa! Kenapa kita tidak bertemu lebih cepat sebelumnya? Kau akan sangat berguna untukku!"
Gadis itu kemudian melanjutkan pekerjaan di dapur dengan ide iseng menggunakan jasa Alpheratz. Keduanya terlihat tertawa bersama setelah menyelesaikan segalanya di sana dengan jauh lebih cepat dan mudah.
"Aku hebat, kan?" ucap Alpheratz dengan tampang sombongnya. Tampak sekali jika pria itu mengharapkan pujian dari Fori.
"Kau hebat sekali!" jawab Fori dengan cepat sambil bertepuk tangan sekali lagi. "Kau baahkan lebih hebat dari Xynth dan dua pengawalnya!"
Alpheratz langsung besar kepala. "Kau memerlukan bantuan lagi. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
Pria itu kemudian sengaja menerbangkan semua benda-benda di dapur untuk memukau Fori. Sayangnya, ia tidak melihat wajah Fori yang kini pucat memandang ke arah sosok yang muncul tiba-tiba di belakang Alpheratz dengan tegang.
Alpheratz yang melihat arah pandang Fori kemudian ikut menoleh. Begitu melihat Suster Elsa tengah menatap ke arah berbagai perabot yang berterbangan di atas dapur, pria itu berteriak dengan kaget dan langsung menjatuhkan semua perabot tersebut ke lantai.
Praangg!
Bunyi piring-piring dan gelas berpecahan kemudian membuat situasi di sana sunyi mendadak. Hanya beberapa detik setelahnya, Suster Elsa yang masih mematung dengan mata melotot ke arah Alpheratz, jatuh pingsan tak sadarkan diri di tempatnya.