Permainan Hari Kedua #2

2253 Kata
Di bagian depan pagar, Xynth sudah menunggu Fori. Ia terlihat sedang berbicara serius dengan seorang senior di sana. "Kita harus mengurangi jumlah peserta kita," kata Xynth kepadanya ketika Fori mendekat. "Aku lupa memberitahu bahwa salah satu peserta biru, temanku, ijin untuk keperluan mendadak. Tim biru kini hanya berjumlah sembilan orang." "Siapa yang harus kita kurangi?" tanya Fori kepadanya dengan bingung. "Seharusnya aku yang tidak ikut bermain karena aku tidak dalam kondisi sangat bugar. Akan lebih baik bagiku jika hanya sekedar memantau, tapi kau sudah memilihku sebagai kapten dan karena itu aku harus ikut bermain," jawab Xynth dengan sengit kepadanya. "Hehe, maaf, Xynth," jawab Fori sambil cengengesan dan menggaruk-garuk poninya. "Kau... benar-benar sakit?" Pria itu tidak menjawab Fori dan segera berbalik ke seluruh tim hitam yang berdiri tidak jauh dari mereka. Ia lalu menjelaskan situasi dalam lomba yang mengemuka mengenai masalah jumlah peserta kepada semuanya. "Siapa di sini yang tidak dalam kondisi fit untuk bermain?" Semua yang di sana langsung mengangkat tangan serempak, termasuk Fori dan Siska. "Berani-beraninya kau mengangkat tanganmu?" desis Xynth kepada Fori. Fori hanya tertawa sambil kembali menggaruk-garuk kepalanya. "Dia saja," ujar salah satu rombongan mereka sambil mengarahkan telunjuknya ke seorang pria berkaca mata yang sedang duduk di bawah lantai dengan memakai perban di kakinya. "Ia baru saja mengalami kecelakaan motor dalam perjalanan ke kampus pagi tadi." "Kau baik-baik saja?" tanya Xynth kepada pria itu. "Ya, tapi...," jawab pria itu, "sepertinya memang lebih baik aku yang tidak ikut bertanding hari ini dibanding memperlambat pergerakan tim." Xynth mengangguk. "Baiklah, kau bisa beristirahat di tenda para senior." Setelah jumlah pemain akhirnya dinyatakan seimbang, masing-masing dari tim akhirnya berjalan menanjak menuju base mereka masing-masing didampingi seorang senior. Mereka menyusuri banyak pepohonan yang tinggi menjulang di sana-sini dengan takjub. Bagian dalam hutan kampus mereka ternyata tak jauh beda dengan hutan asli dan terlihat sedikit mengerikan. Tidak saja pepohonan di sana begitu tinggi, tetapi di hutan itu juga terdapat sungai kecil dan rawa, tebing bebatuan, dan beberapa area berbahaya yang tidak boleh dimasuki oleh para mahasiswa. Rupanya dulu universitas mereka pernah berpikir untuk membuka jurusan perhutanan dan lain-lainnya. Namun karena sepi peminat, maka niat itu dibatalkan dan akhirnya mereka membiarkan hutan itu begitu saja. "Apa di sini ada ular dan binatang mengerikan lainnya?" tanya Fori kepada senior yang memandu mereka berjalan melalui rute menanjak. "Ya," jawab senior tersebut. "Tapi hanya jenis-jenis yang tidak berbahaya jadi kalian tidak perlu khawatir dan usahakan tidak melukai binatang mana pun nantinya." "Kudengar di sini sangat angker," ujar seorang peserta tim hitam dari belakang. "Itu hanya desas-desus," kata senior tersebut. "Dulu sebelum dibangun menjadi area kampus, konon memang tempat ini menjadi lokasi beberapa kasus kriminal dan tempat pembuangan mayat. Mungkin itu yang membuat banyak orang menyangka tempat ini angker. "Kecelakaan sering menimpa para mahasiswa saat kampus ini dibuka dulunya. Tapi wilayah-wilayah berbahaya sekarang sudah dipasangi garis pembatas, jadi tidak perlu khawatir. Sudah lama tidak pernah ada kasus seperti itu lagi. Kalian harus ingat, jika nanti kalian melihat lokasi yang dibatasi tali, jangan memaksa masuk ke sana. Itu wilayah berbahaya." "Baik," jawab semua peserta serempak. Base yang dimaksud ternyata hanyalah panggung kayu kecil tanpa atap yang hanya digantungi bendera berukuran sedang berwarna hitam di atasnya. Begitu tiba, Xynth langsung mengumpulkan seluruh anggota tim hitam untuk merancang strategi. "Berapa banyak di sini yang pernah bermain paintball?" tanya Xynth kepada mereka semua. Hanya satu orang di sana yang mengangkat tangannya. "Oke, kau berdiri di samping kiriku," ujar Xynth kepadanya. Ia lalu memandang ke arah rombongan tim lagi untuk bertanya. "Berapa banyak orang disini yang pernah berlatih menembak meski belum pernah bermain paintball?" Tiga orang lagi mengangkat tangannya dan Xynth langsung bertanya kepada ketiga orang itu frekuensi mereka berlatih tembak. "Aku dulu sering ikut ayahku berburu ke hutan dan cukup baik dalam melakukan tembak sasaran," ujar orang pertama. "Aku beberapa kali ikut latihan menembak dan cukup mahir, tetapi tidak menggunakan laras panjang. Aku terbiasa memegang pistol kecil," kata orang kedua. "Aku beberapa kali ke range menembak tapi kurasa kemampuanku biasa saja," ucap orang ketiga. "Tapi setidaknya kalian semua paham bagaimana cara menggunakan senjata, kan?" tanya Xynth. Pria kedua dan ketiga segera mengangguk. "Oke, kalian bertiga juga berdiri di bagian kiriku. Karena jumlahnya sudah empat, maka aku dan mereka akan menjadi tim satu yang akan menyerang ke depan dan membuka jalan." "Sekarang,"--lanjut Xynth menatap ke arah lima orang tersisa di depannya--"berapa banyak dari kalian yang sering bermain game menembak di ponsel kalian?" Tiga dari mereka mengangkat tangannya kecuali Siska dan Fori. "Di antara kalian bertiga, siapa yang sering memecahkan level tertinggi game menembak apa pun?" Satu orang angkat tangan dan Xynth menyuruhnya berdiri di samping kanannya. "Kalau begitu sekarang dengarkan aku baik-baik," seru Xynth kepada mereka semua . "Tim biru hanya butuh lima pita untuk menang, begitu juga dengan kita. Karena itu, penyerang yang akan maju dari kita hanya akan berjumlah empat orang, yaitu kami tim satu. Ini untuk mengantisipasi agar kalau terjadi sesuatu dengan kami di depan, setidaknya jumlah pita yang mereka dapat hanya empat. "Tim satu harus bergerak maju dengan pola acak, artinya tidak terlalu tersebar, tidak juga terlalu berdekatan." lanjut Xynth kepada tiga rekannya di tim satu. "Jika ingin bergerak, maka biarkan orang pertama bergerak terlebih dahulu sebelum orang kedua ikut bergerak. Ini untuk mencegah kita masuk ke jebakan lawan. Karena jelas mereka akan menembak setelah melihat pergerakan kita, maka jangan langsung serentak nekad bergerak. Lihat situasi dan temukan posisi lawan secara perlahan dan sabar. "Sementara kalian bergerak menyerang, aku akan berusaha menyusup ke base tim biru untuk mengambil bendera mereka melalui sisi kiri paling luar. Kenapa aku harus mengambil sisi paling luar? Karena secara naluri, orang yang akan menyerang biasanya akan fokus ke bagian tengah dan jarang sekali mengambil rute terluar. Jadi jika aku beruntung, aku tidak akan cepat bertemu dengan pihak lawan. Apa kalian paham?" "Siap, Kapten!" jawab ketiganya. Kini Xynth menoleh ke bagian kanannya dan melihat ke arah orang yang mahir bermain game di ponsel tadi. "Ketika game dinyatakan dimulai nanti, aku butuh kau langsung berjalan perlahan menyusuri sisi luar bagian kanan dan menuju ke base penengah para senior. Cari posisi yang tidak jauh dari sana untuk bersembunyi. Di sana, kau hanya akan menunggu dan tidak usah melakukan pergerakan apa pun. Jika ada tim lawan yang mendekat ke base penengah dengan membawa bendera tim kita atau pita dengan jumlah lima, maka langsung tembak dan rebut pita itu. Kau akan menjadi mole di garis akhir untuk mengantisipasi kemungkinan mereka menang. Kau paham?" "Siap kapten!" jawabnya antusuas. "Sementara kalian,"--ujar Xynth kepada dua orang lainnya yang juga suka bermain game--"Kalian adalah tim dua, tim bayangan. Kalian akan berada di belakang tim penyerang dan usahakan tidak terlalu dekat dan tidak mudah dilihat oleh lawan. Kalian wajib memasang mata terhadap apa pun yang terjadi pada tim satu dan jika kalian melihat seluruh dari tim penyerang kita tumbang, maka ini yang harus kalian lakukan dengan baik. "Usahakan berpura-pura sebagai korban jatuh. Nantinya, lawan yang melihat akan berusaha mendekat untuk melihat pita kalian dan saat itu terjadi, langsung tembak lawan yang mendekat. Kalian akan rebut pita yang ia raih dan menjadi mole di bagian tengah. Di sini, sebisa mungkin tim dua bertahan dan jangan ada yang tumbang. Aku mengharapkan kalian terus menyembunyikan diri sebaik mungkin dan bertahan. Tidak perlu memaksakan diri menyerang. Ingat tembakan kalian lesakkan hanya jika lawan mendekat. Kalian paham?" "Siap, Kapten!" "Sekarang tim tiga," ujar Xynth sambil menatap ke arah Siska dan Fori. "Kalian hanya akan menjaga base. Meskipun begitu, kemungkinan akan selalu ada yang mencoba menyusup untuk merebut bendera tim kita lebih dulu. Karena itu, aku tidak meminta kalian berdiri menjaga bendera tim. Yang kalian perlu lakukan hanya berbaring." "A-apa? Berbaring?" tanya Fori dengan bingung. "Ya, perhatikan bendera tim kita. Posisinya tepat di atas panggung kayu. Jika ada yang ingin mengambil bendera itu, maka ia akan mendekat ke arah tiang dan meletakkan senjatanya dulu sebelum berusaha menurunkannya, kan?" "Ya, jawab Siska. "Jika kalian menunjukkan diri sedang menjaga base, maka kemungkinan kalian ditembak akan tinggi. Hal ini akan berbeda jika kalian bersembunyi sejak awal dan pancing mereka mendekat untuk menurunkan bendera dengan kondisi base yang seakan kosong. Pada saat itu, salah satu dari kalian yang berbaring di bawah panggung kayu bisa langsung menembak ke arah siapa pun yang bermaksud menurunkannya. "Usahakan posisi berbaring kalian berdua tidak saling berdekatan untuk mengantisipasi jumlah orang yang datang lebih dari satu. Kenapa kalian harus berbaring? Karena kemampuan menembak kalian minim, untuk mencegah salah sasaran dan malah tertembak, maka kalian harus berbaring dengan posisi senjata ke atas siap menembak. Siapa pun yang datang dan berdiri di bawah bendera kita, langsung bisa kalian tembak tanpa takut salah sasaran." Fori dan Siska bengong sesaat sebelum akhirnya tepuk tangan. Semua yang di sana pun serempak ikut tepuk tangan. "Xynth, kalau begini strateginya, kita akan menang dengan mudah!" teriak Fori dengan senang dengan terkagum-kagum akan ide brilian Xynth. "Kupikir hari ini kita akan kalah lagi karena banyak peserta tim biru yang berbadan besar. Tapi sekarang harapan untuk menang bagi tim kita muncul!" teriak salah satu peserta tim hitam lainnya. Mereka semua bersorak sorai mengelu-elukan Xynth. "Jangan dulu merasa ini akan mudah," ujar Xynth. "Semua akan kacau jika mereka mengirimkan orang maju secara bertahap." "Ah iya, bagaimana kalau itu terjadi?" tanya seseorang di tim satu. "Aku akan berusaha maju ke barisan paling depan dari sisi kiri, dan satu tim penyerang harus membuat kegaduhan dari posisi tengah untuk mempermudah aku masuk ke base lawan dan mengambil bendera. Usahakan jika tidak banyak pergerakan di sepuluh menit pertama, satu orang segera berinisiatif membuat kegaduhan." Bersamaan dengan itu sebuah megafon besar yang diletakkan di dekat mereka berbunyi, pertanda game akan segera dimulai. Mereka semua pun segera mulai mengambil posisi masing-masing. Dan hanya beberapa detik setelahnya bunyi terompet panjang menggema di seluruh hutan tanda game telah dimulai. --- Di bagian aula, Antares terduduk diam di kursinya dengan kaki disilangkan. Ia menyaksikan game dimulai dari layar lebar di sana dan mendengar banyak komentar dari sekitarnya. Tidak disangka aula saat itu sudah disesaki ratusan orang, baik dari para senior Fakultas Ilmu Komunikasi maupun beberapa dari fakultas lainnya. Mereka sepertinya ingin melihat digelarnya tradisi Mole Game tahun itu. Mayoritas orang-orang di sana memperkirakan bahwa tim biru akan menang dengan telak. Terlebih, karena peserta tim biru banyak yang terlihat tangguh sementara tim hitam hanya mengandalkan Xynth. Kaum wanita di sana sendiri banyak juga yang berharap tim hitam menang karena ada Xynth, namun sebagian sepertinya ragu dengan kemampuan tim hitam. Dari layar siaran langsung, Antares melihat close up wajah Xynth di dekat pepohonan tinggi. Temannya itu terlihat sedang berusaha menyusup seorang diri. Sepertinya, selain memakai kamera dengan sensor gerak di mana-mana, pihak kampus juga memakai kamera drone di medan permainan. Itu terlihat dari kualitas pengambilan gambar yang sangat baik bagi setiap orang yang menyaksikan game itu dari aula. Antares bahkan dapat mendengar suara seorang panitia acara bertindak sebagai komentator dari megafon aula. Suara sang komentator tersebut terdengar seperti sedang membandingkan dua orang kapten dari masing-masing tim. Kapten tim biru kini terlihat memasuki daerah tengah bersama beberapa anggotanya dan bergerak sangat perlahan. Sementara kapten tim hitam tengah bergerak sendirian dari bagian kiri. Mengira bahwa tim hitam kurang kompak dan individualistis, banyak penonton di aula yang menyoraki mereka. Tapi kondisi mendadak berubah ketika game memasuki menit kesepuluh. Sebuah suara tembakan beruntun terjadi di bagian tengah hutan dan kamera langsung bergerak menuju ke sana. Beberapa dari penyerang tim hitam, langsung melakukan tembakan ke beberapa tempat dengan asal dan mematahkan beberapa ranting sekaligus hingga suara di sana terdengar gaduh. "Apa yang mereka lakukan? Apa mereka bodoh?" ujar seseorang di aula disertai gelak tawa banyak orang lainnya. Mereka melihat kapten biru dan timnya berjalan ke arah tengah dengan tergesa-gesa untuk melihat situasi di sana. Di saat bersamaan, tim biru tidak sadar bahwa dari sisi paling luar kiri dan kanan, terjadi pergerakan mendadak dari tim hitam yang hanya terbaca kamera drone. Seseorang dari tim hitam masuk ke dekat base penengah dan bersembunyi di semak-semak terdekat dan bersiap dengan senjatanya. Sementara Xynth sudah berlari kencang dari kiri ketika kegaduhan terjadi dan melintas cepat menuju base tim biru. Kegaduhan pun terjadi di aula. Mendadak mereka semua yang kaget bersorak saat tim hitam mulai mengambil posisi masing-masing dan bergerak agresif. Kaum wanita yang histeris mulai mengelu-ngelukan Xynth yang terlihat bergerak cepat. Sementara di bagian tengah hutan, kapten tim biru terlihat kaget ketika melihat lokasi kegaduhan yang disebabkan oleh tim hitam tadi kosong. Ia memerintahkan timnya untuk bersembunyi di balik pohon. Saat mendengar suara pergerakan dari tim hitam sekali lagi, hampir semua tim biru di sana refleks melancarkan tembakan ke arah sumber suara. Beberapa detik kemudian, kapten tim mereka baru sadar bahwa mereka sudah dijebak oleh tim hitam. Kapten tim biru berusaha bangkit untuk cepat-cepat memberi tahu anggotanya. Namun ia sudah sangat terlambat. Salah satu penyerang tim hitam sudah melesakkan tembakan pertama di game itu yang mengenai d**a sang kapten. Bersamaan dengan tumbangnya kapten tim biru oleh tim hitam di bagian tengah, kamera lain memperlihatkan langkah Xynth yang terhenti mendadak dari lari kencangnya. Wajah pria itu seolah terkejut dan mematung seketika entah karena apa. Sorak heboh ratusan orang di aula pun terhenti ketika sebuah suara derit nyaring mendadak mengacaukan tangkapan gambar di layar raksasa mereka. Entah bagaimana, sinyal di sana tiba-tiba terganggu dan rusak. Bunyi mendengung kini juga menggema di seluruh aula. Antares dengan tubuhnya yang mendadak sudah berdiri sigap, tahu bahwa ada sesuatu yang tengah mendekat ke arah kampus mereka dengan pergerakan yang sangat cepat. Wajahnya menjadi tegang dan matanya mendelik dengan kaget ketika merasakan aura sangat kuat sedang meluncur ke arah mereka semua. Apa pun itu yang menuju ke arah mereka, bagi Antares jelas bukanlah tamu yang baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN