Perang Dalam Perang #1

2179 Kata
Beberapa saat ketika game baru dimulai "Xynth," panggil Fori saat melihat Xynth sudah berada di posisi siaga bersama yang lain di tempat masing-masing. Pria itu sudah hampir bergerak perlahan memasuki daerah pepohonan. Namun Fori yang melihat pita hitam Xynth terjatuh dari saku pria itu, langsung melompat mengejar Xynth. "Pitamu. Kau belum mengenakan pitamu!" ujar Fori lagi sambil setengah mengejarnya. Pundak pria itu tiba-tiba terlihat sedikit bergetar. Ia berhenti sebentar di tempatnya dengan membelakangi Fori dan terlihat mulai memegangi kepalanya. "Xynth...?" Pria itu seolah tidak mendengar suara Fori yang berkali-kali memanggil namanya lagi. Ketika Fori menyentuh lengannya dan pria itu membalikkan badannya dengan perlahan, Fori langsung terbelalak dengan kaget. Darah segar mengalir dari hidung pria yang kini terlihat pucat pasi tersebut. "Xy-Xynth, kau tidak apa-apa? Kenapa ada darah di...." Xynth langsung melihat ke arah pandangan mata Fori dan segera menyentuh bagian bawah hidungnya sendiri. Ia sedikit terkejut ketika melihat ada darah menempel di ujung jarinya dan segera mengusapnya dengan cepat. "Kalau kau memang sakit, sebaiknya kita hentikan saja permainan ini," ujar Fori perlahan dengan wajah khawatir. Sedikit banyak ia merasa bersalah telah menunjuk Xynth menjadi kapten tim mereka hari itu. "Aku tidak apa-apa, hanya sedikit merasa lelah," jawab pria itu kepadanya. Fori menghela napas lega, lalu melipat lengan bagian atas bajunya. "Kalau begitu, biar aku saja yang menggantikanmu. Kau menjaga bagian base saja dan biarkan aku yang---" "Sudahlah," potong Xynth dengan cepat. "Kita sudah telanjur memulai pertandingan. Aku akan menjalaninya terlebih dahulu dan langsung beristirahat setelah game ini berakhir nanti." "Seharusnya... aku tidak memintamu menjadi kapten tim hitam, kan?" gumam Fori pelan dengan perasaan sedikit bersalah karena telah memberikan tanggung jawab besar di saat pria itu sedang terlihat sakit. "Kau... sekarang terlihat sangat berlebihan." Xynth melepaskan tangan Fori dengan alis mata mengernyit dan berusaha segera bergerak ketika mendengar suara seperti bunyi mesin drone tengah terbang mendekat ke arah mereka. Namun, Fori yang iba kepadanya segera meraih tangan Xynth sekali lagi dan pelan-pelan menarik kepala pria itu untuk menunduk ke arah wajahnya. Dalam beberapa detik, gadis itu sudah melingkarkan pita hitam di kepala Xynth dan mengikatkannya ke bagian belakang kepala pria itu. Xynth sendiri terlihat memandangi wajah gadis itu dari dekat dengan wajah tercengang. "Kau tidak boleh menyentuh kepala---" Xynth langsung berhenti bersuara saat merasa Fori mendadak mengencangkan ikatan di kepala pria itu dengan wajah yang sangat serius. Gadis itu tidak bahkan terlihat sungkan meski hanya berada beberapa senti saja dari depan wajah Xynth. "Kau tahu," ujar Fori kepadanya dengan intonasi suara yang merendah, "aku bersungguh-sungguh saat bilang kau seharusnya beristirahat saja. Kami memang membutuhkan seorang kapten, tetapi tanpamu sekalipun, kami akan bisa mengatasinya." Xynth terdiam sejenak sebelum bersuara. Pria itu kemudian menyunggingkan senyum misterius di wajahnya sambil menepuk pundak mungil Fori yang berdiri di depannya. "Terima kasih, tetapi sudah sangat terlambat untuk mengatakan hal itu kepadaku sekarang. Tunggulah di sini, aku akan membawa kemenangan untukmu," ucapnya kemudian sambil meninggalkan Fori dengan langsung berlari menembus hutan untuk menjalani game mereka. "Kenapa dengan Xynth?" tanya Siska kepada Fori setelah Fori kembali ke posisi awalnya lagi. "Pita kepalanya tertinggal?" Fori mengangguk sambil memikirkan sesuatu yang entah bagaimana mulai sedikit mengganggu pikirannya. "Ngomong-ngomong Siska, kau tahu mengapa orang biasanya bisa sampai mengalami mimisan?" "Mimisan?" ucap Siska mengulang pertanyaan Fori. Gadis itu terlihat berpikir sejenak. "Mungkin karena pembuluh darahnya pecah? Atau... mungkin juga karena panas dalam. Tentunya banyak kemungkinan lainnya." "Hmmh," gumam Fori. "Kurasa begitu. Mungkin itu bukan sesuatu yang terlalu serius." "Baiklah, sekarang kita fokus saja pada game ini dulu," lanjut Fori berusaha mengalihkan perhatiannya sendiri dari kekhawatiran akan Xynth. "Di mana kita akan mengambil posisi berbaring?" "Apa kita akan berbaring di bawah sini?" tanya Siska sambil mencoba meletakkan badannya di atas tanah rerumputan -- dengan setengah badannya yang lain menjorok masuk ke arah bawah panggung kayu. "Tidak ada ular atau binatang melata lainnya kan di tempat seperti ini?" "Aku tidak takut pada binatang melata seperti itu," jawab Fori. "Di saat seperti ini, aku hanya akan takut jika ada seseorang dari tim lawan kita yang akan datang ke base kita ini." "Jangan terlalu dekat denganku, Fori," bisik Siska langsung mengingatkan gadis itu ketika melihat Fori akan berbaring di sampingnya. "Kita harus sedikit berjauhan karena jika mereka datang dan menembak salah satu dari kita, satu yang lainnya harus bisa menembak mereka." "Baiklah," kata Fori, sebelum akhirnya mengambil jarak terpaut sekitar dua meter dari posisi berbaring Siska. "Apa peluru di game ini akan terasa sakit di badan kita?" "Hmmh. Mereka bilang rasanya seperti menyengat sedikit. Namun setelah itu, tidak akan terasa apa pun lagi di tubuh kita." "Ngomong-ngomong, Fori," --lanjut Siska mendadak teringat sesuatu. Ia menggerakan kepalanya ke arah gadis di sampingnya itu dan langsung memandangi Fori-- "Karena kau baru saja membahas rasa sakit dan mimisan, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu. Sampah yang kau titipkan kepadaku saat di booth ruang ganti tadi... apa itu milikmu?" "Tidak," jawab Fori kepadanya. "Kenapa? Aku hanya memungutnya." Siska menghela napas lega. "Kau tahu siapa yang membuangnya?" "Tidak tahu," tukas Fori berbohong. "Memangnya kenapa?" "Aku tadi melihat bekas bungkus tiga buah obat," kata Siska kepadanya. "Aku yakin aku tidak salah melihatnya. Sebelum meninggal, ibuku dulu juga pernah mengonsumsi jenis-jenis obat yang sama, tapi Fori...." "Tapi apa?" tanya Fori dengan penasaran. Siska terlihat seperti mengawang sebelum melanjutkan ucapannya. "Ibuku dulu memakan obat-obatan seperti itu karena dia penderita kanker otak." --- Beberapa saat setelah kapten tim biru tumbang Kapten tim biru memukul tanah di bawahnya dengan keras ketika menyadari bagian dadanya sudah tertembak tinta hitam. Ia memandang dengan kesal ke arah seorang penyerang dari tim hitam yang merampas cepat pita biru dari kepalanya. Penyerang tim hitam itu lalu terburu-buru merangkak menjauh kembali dan meninggalkannya, saat mendengar tim biru yang lain sudah bergemuruh akibat menyadari situasi buruk mereka. Sebuah pengumuman segera berkumandang melalui sebuah megafon yang terletak di berbagai penjuru wilayah game. Hampir semua peserta di area hutan dapat langsung mendengar bahwa tim hitam kini memimpin dengan skor 1-0, setelah menumbangkan kapten tim biru. Situasi kini menjadi menegang di bagian tengah. Lima penyerang tim biru yang tersisa, sadar bahwa mereka sudah masuk ke dalam perangkap tim hitam. Mereka pun kemudian mengambil posisi memencar dan masing-masing bersembunyi di balik pohon untuk memantau situasi lebih lanjut. Semua anggota tim hitam di sana sengaja berdiam diri sampai mendengar sebuah gerakan samar tim hitam dari arah barat yang langsung terdeteksi oleh tim biru. Tiga di antara mereka bergerak perlahan mendekat ke arah sumber suara, sementara dua lainnya masih berjaga di balik pohon. "Halo," ujar sebuah suara mengagetkan satu penyerang tim biru yang berada di baris paling belakang dan terlihat seperti sedang bersembunyi di balik sebuah batang pohon besar. Ketika penyerang tim biru itu menoleh, sebuah tembakan tinta hitam langsung mengenai dadanya dan membuat penyerang tim biru itu langsung bengong di tempatnya. Salah satu penyerang tim hitam yang berdiri di dekatnya langsung tersenyum lebar ke arahnya, seraya mengambil pita milik pria itu. Hal itu pun membuat pengumuman kembali berkumandang di sana dengan cepat. Skor sudah berubah menjadi 2-0 untuk keunggulan tim hitam. Sayangnya di bagian kanan tadi, seorang penyerang tim hitam juga tumbang, setelah terkena tembakan di saat ia sedang menargetkan salah satu orang dari tim biru. Keduanya sama-sama tertembak di waktu bersamaan, tetapi karena seorang tim biru telah mengambil pita dari tangannya dan menjadi mole, skor game pun kini berubah mundur menjadi 1-1. Satu mole di pihak tim biru tersebut kini sumringah setelah memegang tiga pita sekaligus, dua milik timnya sendiri dan satu milik tim hitam. Setelah empat peserta tumbang, kini hanya tersisa dua penyerang tim hitam dan tiga penyerang tim biru di bagian tengah. Di sayap kanan sendiri, perwakilan tim hitam sudah berjaga di dekat base penengah. Sementara di sayap kiri, Xynth terlihat melesat maju menuju base lawan. Ia tahu bahwa tidak ada seorang pun dari tim biru yang melalui rute itu. Kalaupun ada yang sedang berjaga, siapa pun yang di sana akan susah untuk menembaknya karena pergerakan Xynth yang sangat cepat. Sejak tadi Xynth dapat mendengar status pertandingan melalui megafon dan tahu bahwa ada drone yang terus mengikutinya. Sebenarnya ia merasa terganggu dengan kamera drone tersebut. Namun mau tak mau, ia membiarkannya. Hanya sekitar beberapa meter lagi dari base tim biru, Xynth mendadak merasakan sebuah kekuatan besar yang familiar baginya muncul di sana. Tubuh Xynth langsung mematung seketika, saat mendengar deru angin menerpa bagian tengkuk lehernya. Seluruh pohon di sana mulai bergerak kencang tertiup angin. Saat Xynth menoleh ke belakangnya, Ia melihat drone yang sejak tadi mengikutinya mendadak meledak terkena bola api. Sebuah lesatan kencang mengarah ke arahnya dari bagian belakang, sesaat setelah drone itu meledak. Hanya dalam hitungan sepersekian detik, sebuah bola api besar berwarna putih tiba-tiba menghantam kencang perut Xynth. --- Di base hitam sendiri, Fori mendadak gelisah melihat pergerakan pepohonan yang mendadak terasa sangat kencang tertiup angin. Ia tiba-tiba merasakan hawa yang ganjil di sana. Sama seperti ketika ia masih kecil, mendadak ia merasa udara menjadi lebih panas dan bola matanya terasa sakit. Fori bangkit dari posisinya berbaring dan mengucek matanya. Ketika menoleh ke arah Siska, ia melihat temannya itu juga ternyata sudah bangkit dan bengong memandang situasi di sekitarnya. Ketika Siska baru akan membalikkan badannya ke arah Fori, sebuah lesatan sinar merah mendadak menghantam gadis itu dan membantingnya hingga tubuhnya membentur keras ke tanah. Fori ternganga di tempatnya saat melihat Siska sudah tergeletak tidak sadarkan diri. Ia ingin langsung mendekat ke arah Siska. Namun entah ada apa yang mengerikan di sana, tubuhnya refleks memilih mundur. Ia yang ketakutan pun segera berlari menjauh dari tempat itu. Badan Fori langsung bergetar hebat dan jantungnya berdetak kencang saat ia mencoba melarikan diri. Sebuah suara dengungan kini terdengar jelas di telinganya dan membuat telinganya mendadak terasa ngilu. Ada sebuah suara di balik dengungan itu yang sedang berbicara kepadanya. Semakin Fori berlari, suara dengungan itu mulai berganti dengan suara seseorang yang seolah tengah membaca sesuatu dengan cepat dengan bahasa-bahasa yang tidak dipahami Fori sama sekali. Gadis itu terjatuh di tanah akibat tersangkut akar pohon karena panik. Ia segera duduk meringkuk karena ketakutan di tempatnya sambil menutup kedua telinganya -- berharap bahwa suara itu akan hilang dengan sendirinya jika ia melakukan hal itu. Namun sebaliknya, suara-suara seperti sedang membacakan mantra tersebut kini terdengar semakin menggema di telinga Fori. Setelah suara itu bergaung di kepalanya berkali-kali lagi, tiba-tiba sesuatu terjadi. Mendadak suara mengerikan itu berhenti dan kini berganti menjadi suara alam yang lebih tenang. Fori dapat mendengar ada satu suara desing serangga sedang terbang mengitarinya. Ketika ia mengangkat kepalanya, ia bisa melihat sebuah kunang-kunang terbang di dekat kepalanya. Tidak jauh dari sana, ada sosok anak laki-laki kecil yang tengah memanggilnya. Sosok itu terlihat terlalu silau dan samar di mata Fori. Namun lama-lama bayangan sosok itu menjadi semakin lebih jelas, bersama gaung sebuah suara yang memanggilnya. "Se-Sega?" ucap Fori dari mulutnya sambil melihat teman masa kecilnya itu tengah tertawa kepadanya. "Ayo kita menangkap kunang-kunang lagi, Fori!" ujar Sega kepada Fori dengan senyum lebar dan hangatnya. "Sega," gumam Fori dengan wajah terpana. Tubuh Fori yang kebingungan segera berdiri dan mengikutinya secara perlahan. "Sega, tunggu aku! Kau mau ke mana?" "Sega!" Fori kini melihat Sega mengejar kunang-kunang tersebut, lalu melepaskan sebuah tali yang membatasi wilayah di depannya dan melintasinya. Ia mulai mengikuti langkah Sega dengan cepat. Namun anehnya, ia tidak mampu mendekati Sega sama sekali. Mereka pun kini sama-sama melintasi wilayah bebatuan yang terjal ke arah sebuah tebing. "Ayo cepat Fori, bantu aku menangkapnya!" seru Sega lagi kepada Fori. Gadis itu berusaha lebih kuat mempercepat langkahnya untuk mengikuti Sega. Tapi Sega terlihat seolah ringan saja menaiki tebing terjal tersebut sambil tertawa-tawa melihat ke arah kunang-kunang tadi. "Sega!" Sekali lagi Fori memanggilnya. Sayangnya, Sega mengacuhkannya dan tetap berlari kencang mengejar kunang-kunang tersebut. Sesaat setelah mereka berdua sampai di puncak tebing, Fori melihat Sega akhirnya berhasil menangkap kunang-kunang tersebut dan menggenggamnya di tangan. "Ini untukmu, Fori," ujar Sega kepadanya. Fori memandang ke arah Sega. Teman masa ciliknya itu tersenyum lagi ke arahnya. Fori kini teringat keduanya dulu selalu bersama-sama mengejar kunang-kunang di padang ilalang dekat Panti Asuhan Immaculata. Lalu setiap kali Sega berhasil menangkap salah satu kunang-kunang di sana, ia akan selalu membiarkan Fori yang mengambilnya. "Sinarnya indah, kan?" ucap Sega lagi. "Ambillah Fori, ini untukmu." Fori mendekat dan membalas senyuman Sega. Namun di saat ia mengulurkan tanganya ke arah sahabat ciliknya itu, mendadak situasi di sekelilingnya berubah. Fori melihat dirinya sendiri berdiri di ujung atas tebing bebatuan yang terjal dengan tangan yang menjulur ke udara kosong, tanpa ada siapa pun di sana. Gadis itu terlambat sadar dari halusinasinya. Setengah tubuhnya kini sudah melewati ujung tebing tersebut dan ketika ia akan bereaksi, tubuhnya sudah terjatuh tergelincir ke bawah dari tepi tebing. Ia pun berteriak saat tubuhnya meluncur kencang dari atas tebing yang tinggi tersebut, hingga menghantam permukaan danau besar di bawahnya dengan keras. Hanya dalam beberapa detik saja, Fori sudah dipenuhi air danau yang menerobos menggenangi tubuhnya. Gadis itu langsung berusaha bergerak di dalam air dengan panik. Namun tubuhnya kini justru terseret arus semakin dalam ke bawah. Semakin ia berusaha bergerak, semakin tubuhnya terseret masuk ke danau yang dalam. Gadis itu pun berusaha menggerakan kakinya untuk naik, sayangnya ia gagal. Setelah ia tidak sanggup bergerak lagi dan mulai kehabisan napas, Fori melemas secara perlahan... dan kini tubuhnya mulai tenggelam ke dasar danau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN