Perang Dalam Perang #2

2301 Kata
Kekacauan juga terjadi di bagian lini depan. Tubuh Xynth langsung membentur batang pohon besar dan membuat pohon itu patah dan tumbang ketika sebuah bola api putih menghantam perutnya. Dengan sikap refleks dan sigap, ia melompat berdiri dengan cepat di tempatnya dan menatap seseorang yang sangat dikenalnya sejak dulu tengah tersenyum kepadanya. "Alpheratz!" ucap Xynth setengah berteriak. "Kabarmu baik, Xynth?" sapa sosok pria berambut putih kebiruan tersebut kepada Xynth. Pria yang bernama Alpheratz itu adalah pangeran dari Kerajaan Andromeda yang sejak dulu tidak pernah menyukai Xynth. Ia jauh lebih muda daripada Xynth, tetapi sebenarnya pria itu adalah paman Xynth. Kakek Xynth dari Andromeda, yaitu Raja Moratar, memiliki tiga orang anak. Anak pertama yang adalah putra mahkota sah Andromeda tewas sudah sangat lama. Putra mahkota kedua yang adalah ayah Xynth, Zegerux, juga tewas sebelum Xynth lahir. Dari selirnya, Moratar kemudian memiliki anak ketiga, yaitu Alpheratz -- setelah Xynth lahir lebih dulu. Karena Raja Moratar terus bersikukuh untuk memberi status putra mahkota kerajaannya kepada cucunya, Xynth, dibanding kepada Alpheratz yang adalah putra ketiganya, tensi tinggi sejak dulu mewarnai hubungan kedua pangeran tersebut. Itu makanya Alpheratz selalu berusaha membunuh Xynth secara diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya. "Bagaimana kau tahu kalau aku ada di sini?" tanya Xynth kepada Pangeran Andromeda tersebut. Alpheratz tertawa. "Perempuan penyihir dari Kerajaan Mata Hitam itu... siapa namanya? Bermuda? Ia memilih mendatangiku dibanding ayahku untuk memberitahukan banyak hal tentangmu secara sukarela. Tentunya aku sangat senang mendengar kau ternyata bersembunyi di bumi." "Bermuda?" gumam Xynth. Ia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. "Bagaimana mungkin seorang putra mahkota langit yang sangat hebat, ternyata selama ini terus bertukar tubuh dengan manusia di bumi?" tanya Alpheratz sambil tertawa. "Bagaimana rasanya, Xynth, menempati tubuh lemah manusia?" Bersamaan dengan itu, lebih dari dua puluh pasukan Alpheratz dari Andromeda yang semuanya berjubah merah dan menggunakan cadar dengan warna senada, muncul di sana dan langsung mengepung Xynth. Xynth melirik posisi mereka masing-masing dengan seksama. Saat puluhan bola api merah mendadak muncul untuk menyerang Xynth, pria itu sudah menghilangkan diri dari tempatnya. Ledakan kemudian terjadi di sana-sini. Kini Xynth muncul di belakang seorang pasukan Alpheratz dan langsung mematahkan leher pasukan Alpheratz itu di sana. Ia lalu melakukan hal yang sama pada satu orang lainnya yang berada di dekat mereka. Alpheratz menoleh cepat ke arah Xynth dan segera melesat ke arah Putra Mahkota Kiklios itu sebelum pria itu menghilang lagi. Sebuah pukulan cahaya mengenai bagian punggung Xynth dan dengan cepat Xynth membalasnya dengan sebuah pukulan keras di d**a Alpheratz. Pasukan Alpheratz pun ikut bergerak serentak untuk menyerang Xynth. Namun ketika mereka berusaha untuk menembakkan bola-bola api lagi ke arah Xynth, mendadak dua kilatan sinar lain muncul di sana. Antares muncul bersama Rigel sambil menangkis serangan-serangan bola api yang diarahkan ke Xynth tersebut. Ternyata, Antares sudah mengirimkan sinyal telepati kepada Rigel untuk segera datang ke sana sejak tayangan game di aula tadi mengalami gangguan mendadak. "Bagaimana dengan Betelgeuse?" tanya Xynth melintas mendekati Rigel di sela-sela pertarungannya dengan Alpheratz. "Sol menggantikanku untuk mencarinya bersama Vega," jawab Rigel kepadanya seraya menangkis satu bola api merah lagi. Setelah Xynth kembali berlalu, baik Rigel maupun Antares sama-sama memandangi puluhan pasukan Alpheratz sambil menggertakkan jari jemari mereka. Sedetik kemudian Antares mengangkat jari telunjuk kanannya. Sebuah cincin bermata merahnya yang berujung tajam mendadak berubah menjadi senjata bow gun. Di saat bersamaan, Rigel menarik tali pengikat di rambutnya dan tali itu mendadak berubah menjadi sebuah busur panah di tangannya. "Kau siap?" tanya Antares kepadanya sambil cengengesan. Keduanya sudah lama tidak menjalani pertempuran serius dan menganggap kedatangan pasukan Alpheratz kali ini sebagai pemecah kebosanan mereka. "Siap-siap di hitungan ketiga," seru Rigel mengingatkannya. "Satu, dua...." Seeettt!!! Sebuah anak panah yang dilesakkan Rigel sudah menancap ke d**a salah satu pasukan Alpheratz dan membuat korban panah Rigel itu tumbang seketika. Antares langsung menoleh ke arah temannya itu dengan wajah yang tidak percaya. "Kenapa kau selalu melakukannya?! Seharusnya kau benar-benar menghitung sampai tiga!" protes Antares dengan wajah kesal. Pria itu segera melesat maju ke barisan depan pasukan Alpheratz dengan nekad. Kemudian ketika pasukan Andromeda itu memencar dalam bentuk cahaya untuk menghindari serangannya, Antares langsung menembakkan bow gun-nya ke salah satu yang terlihat olehnya. Jarum peluru Antares pun berhasil menembus pelipis salah satu pasukan merah yang berwujud cahaya tersebut. "Kena kau!" bisik Antares di telinga korbannya sambil tersenyum melihat korbannya perlahan gosong menjadi abu. Ia kemudian melompat ke atas pohon untuk mengejar salah satu pasukan merah lainnya di sana. Namun pria itu tidak sadar kalau ada yang hendak menyerangnya dari bagian belakangnya. Sebuah anak panah di detik yang sama langsung menghujam tengkorak bagian belakang makhluk yang mengintai Antares tersebut dan membuat makhluk itu langsung runtuh menjadi serpihan. Antares sendiri segera berbalik ke belakang dan melihat Rigel dari tempatnya sedang tersenyum dengan pongah ke arahnya. "Huh, pamer sekali dia!" desis Antares dengan mata memicing. Ia lalu menoleh ke arah sasaran awalnya tadi dan menembak cepat makhluk yang mencoba melukainya itu tepat di bagian perutnya. Di atas udara, Xynth dan Alpheratz terlihat sama-sama melintas cepat membelah langit di atas hutan. Alpheratz tidak berlama-lama menunggu. Ia melayangkan sebuah pukulan telak ke wajah Xynth yang segera dibalas dengan cara yang sama oleh Xynth. Keduanya kemudian terlibat baku pukul di langit dengan kecepatan tinggi. Yang bisa terlihat dari bawah hanyalah dua kilatan sinar perak dan kilatan sinar putih yang seperti saling menghantam dalam tempo sangat cepat. Wajah Alpheratz dan Xynth kini sama-sama sudah lebam dan berdarah. Keduanya kemudian sama-sama saling memandang dan terdiam. Dengan perlahan, Alpheratz mengeluarkan cambuk api dari tangannya, sementara di tempatnya Xynth juga mulai mengeluarkan pedangnya. Mereka berdua sudah sama-sama saling bersiap untuk menyerang. Ketika Alpheratz melayangkan cambukan pertamanya, Xynth langsung melesat maju dengan kecepatan cahaya dan seolah menghilang. Pria itu kemudian kembali muncul lagi tepat hanya beberapa senti di hadapan Alpheratz. Alpheratz yang tidak memperhitungkan itu, langsung terbelalak kaget. Tubuhnya langsung mematung ketika menyadari ujung pedang tajam Xynth sudah berada di pinggir lehernya hingga membuat pangeran Andromeda itu terdiam kaku dan tak lagi berani bergerak. "Tidak ada yang akan tahu jika aku membunuhmu dan pasukanmu di sini," desis Xynth kepadanya dengan wajah datar. Alpheratz melirik ke arah pasukannya yang sudah musnah lebih dari setengah dan tiba-tiba tersenyum sinis ke arah Xynth. "Dia akan mati sebentar lagi. Manusia yang menjadi tubuh kelima belasmu akan segera mati." Xynth menatap ke arah Alpheratz dengan mata memicing. Kemudian ketika ia lengah dan mematung, sebuah bola api kembali dilesakkan Alpheratz dan langsung memukul mundur Xynth sampai jarak yang cukup jauh. Pria itu lalu mengapung terhuyung-huyung di udara sebentar sebelum akhirnya sanggup berdiri tegak kembali. "Aku akan kembali, Xynth!" teriak Alpheratz kepadanya dari kejauhan sambil tertawa menggema. Hanya dalam beberapa detik setelahnya, Alpheratz menghilang dari sana bersama sisa pasukannya. Mereka semua melesat pergi dalam rupa kilatan cahaya di atas langit. Rigel dan Antares segera mendekat ke arah Xynth setelah melihat rombongan Andromeda itu pergi dari sana. Keduanya melihat Xynth sedang mengerutkan dahi sambil mengusap bekas darah di sudut bibirnya. "Apa yang terjadi?" tanya Rigel. "Lima belas," jawab Xynth. "Kurasa Alpheratz melakukan sesuatu pada gadis itu. Lima belas... mungkin dalam bahaya." Tepat setelah Xynth mengucapkan itu, pria itu pun mendadak menghilang dari hadapan kedua temannya. Sementara Rigel dan Antares sendiri saling memandang dengan wajah yang tegang. --- "Fori!" teriak Xynth melintasi hutan medan perang buatan kampus mereka tersebut. Sedari tadi, ia sangat kesusahan mencari sinar dari tubuh perempuan itu. Ia bisa melihat sinar seluruh tim biru dan tim hitam yang tengah dalam kondisi mematung seperti beku di medan perang. Namun ia tidak melihat Fori ada dimana pun. Xynth berhenti sejenak dan berusaha memejamkan mata lagi untuk melihat dengan kepalanya. Sayangnya, ia tetap tidak bisa melihat Fori meski masih bisa merasakan kehadiran gadis itu di daerah yang sama dengannya. "Kalian menemukan lima belas?" tanya pria itu ketika melihat Rigel dan Antares berjalan mendekat ke arahnya dengan napas yang tersengal-sengal. Kedua pengawal Xynth tersebut langsung menggeleng dengan frustasi. "Aku sama sekali tidak bisa menemukannya," ujar Rigel. Antares mengusap keringatnya dan menatap wajah Xynth dengan ekspresi serius. "Kalau kita tidak bisa melihat sinar tubuh manusia, berarti antara dia sudah mati atau akan mati. Tapi tidak mungkin kan kalau dia sudah...." Antares tidak berani melanjutkan kalimatnya lagi. Ia melihat Xynth sudah melotot ke arahnya. "Aku akan pergi mencari di sekitar kampus," ucap pria itu kemudian dengan langsung menghilang. Tidak lama, Rigel juga segera menghilang mengikutinya. Setelah keduanya pergi, Xynth menarik napasnya dengan dalam. Ia berusaha kembali membaca jejak gadis itu dengan kepalanya. Namun entah mengapa, pria itu tetap gagal menemukan Fori. Dia tidak mungkin mati karena aku sudah memberkatinya dengan umur panjang, gumam Xynth kepada dirinya sendiri sambil berusaha menenangkan diri. Ia kemudian segera berlari ke base biru dan terkejut melihat Siska dalam kondisi tergeletak tak sadarkan diri di tanah, seperti baru terkena serangan. Tubuh gadis itu terlihat masih mematung karena waktu manusia yang terhenti. Jika tadi sesuatu terjadi kepada Siska dan Fori, maka lima belas akan.... Pria itu mendadak teringat sesuatu. Ia sama sekali belum menyusuri rute terluar bagian kiri tempat dirinya tadi melintas saat game berlangsung. Apa mungkin...., pikir Xynth, apa mungkin lima belas sempat berlari mengikuti rute kiri untuk mencariku dan meminta pertolongan kepadaku? Pria itu kembali mengerutkan dahinya. Ah, tidak mungkin! Meski sangsi dengan pemikirannya sendiri, secara refleks, Xynth berjalan kembali melintasi rutenya di bagian kiri tadi dan mengecek segalanya dengan perlahan dan lebih teliti. Setelah hampir setengah perjalanan, pria itu mendadak melihat sesuatu di bagian luar rutenya yang merupakan area terlarang. Sebuah tali yang bertuliskan peringatan dilarang masuk telah dalam kondisi terputus dan mata Xynth yang menangkapnya langsung menyipit curiga. Pria itu pun segera berlari dengan tergesa-gesa menembus jalanan setapak yang penuh bebatuan tajam di sana dan terus melihat ke sekelilingnya sambil meneriakkan nama Fori. Setelah beberapa lama menempuh rute menanjak, ia mulai memasuki kawasan tebing yang curam. Tidak ada siapa pun di sana, tetapi di bagian bawah tebing, Xynth bisa melihat ada danau yang cukup besar. Sayangnya, ia juga tidak menemukan ada tanda-tanda apa pun di permukaan danau tersebut. Karena tidak menemukan Fori, Xynth kemudian memutuskan untuk mencari di tempat lain. Namun begitu ia membalikkan badannya, mendadak sebuah suara menggema di dalam kepala Xynth. "Tolong aku! Siapa pun, tolong aku!" teriak sebuah suara di dalam kepala Xynth yang seperti berasal dari kedalaman air. Xynth terdiam sejenak sebelum kemudian tersadar bahwa suara yang ia dengar itu merupakan suara Fori yang sepertinya sudah beberapa saat lalu diteriakkan oleh gadis itu. Dalam sedetik setelah yakin dengan firasatnya, pria itu pun melompat terjun ke dalam air yang dingin dan menyelam hingga ke bagian dalam danau. Mata Xynth kini mencoba melihat ke sekelilingnya dan wajahnya langsung tertegun ketika melihat ada tubuh Fori di sana, sedang melayang beberapa senti dari dasar danau. Tanpa menunggu lebih lama, pria itu pun langsung bergerak cepat ketika menemukan tubuh Fori di sana. Mata wanita itu sudah terpejam, pertanda ia sudah tak sadarkan diri saat waktu manusia mulai terhenti. Meskipun begitu, tubuhnya sudah mulai dingin. Xynth pun segera bergerak cepat untuk mengangkat tubuh wanita itu dari sana dan berenang ke atas sambil merangkulnya. Setelah sampai di pinggir danau, ia baru menyadari bahwa gadis itu sudah tidak bernapas. Xynth pun mulai panik. Dengan cepat, ia membawa gadis itu ke pinggir danau dan mengecek kembali napasnya dengan lebih jelas. Gadis ini sudah mati, pikirnya terkejut dengan mata terbelalak kaget. Tidak mungkin! "Bangun," ujar Xynth dengan panik sambil mengguncang-guncangkan tubuh Fori. "Aku perintahkan kau untuk bangun!" Tubuh Fori tetap terdiam kaku dan kulit tubuhnya terlihat mulai mengkerut. Xynth pun kembali mengguncang tubuh Fori dengan lebih keras. Namun gadis itu seperti sudah tidak lagi bisa bereaksi. "Bangun!" teriak Xynth lagi kepadanya, tetapi tubuh gadis itu tetap kaku. Kini Xynth terduduk dengan syok di tanah dan memandang tubuh tak bernyawa Fori dengan lemas. Ia pun kemudian berinisiatif menekan bagian d**a Fori beberapa kali dan memberi napas buatan kepada gadis itu. "Bangun! Kau harus bangun!" teriak Xynth. Ia kembali memberi napas buatan dan bantuan CPR kepada Fori. "Aku sudah memberkati tubuhmu dengan umur panjang, kau belum boleh mati!" ujar Xynth sambil tak berhenti memberi pertolongan CPR kepada gadis itu. Setelah berkali-kali melakukannya dengan usaha keras, mendadak gadis itu bergerak. Ia terbatuk dan mulutnya mengeluarkan banyak air. "Fori!" seru Xynth merasa lega. Tangan Xynth menepuk pipi gadis itu dengan pelan. Kali ini, ia berhasil membuat Fori membuka kedua matanya dengan susah payah. Gadis itu kini terlihat menatap Xynth yang berada di hadapannya dengan mata masih menyipit. "Se-Sega?" ucap Fori dengan suara serak. Ia masih sesekali menumpahkan air dari dalam mulutnya. "Lima belas, kau baik-baik saja?" tanya Xynth pada Fori. "Xynth?" gumam Fori sambil terbatuk. "Kau Xynth?" Xynth mengangguk. Dan ketika Fori menyadari bahwa yang di dekatnya adalah Xynth, ia pun langsung memeluk pria itu dengan erat dan mendadak menangis tersedu-sedu. "Xynth, tolong aku," serunya dengan tubuh gemetar. "Tolong aku, aku takut sekali!" "Tidak apa-apa," jawab Xynth pada gadis itu. Ia membiarkan Fori memeluknya di sana. "Kau baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi padamu selagi aku berada di dekatmu." "Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanya Fori seperti orang kebingungan. "A-aku tadi melihat sesuatu.... Ada sosok seperti sinar putih yang menghantam jatuh Siska... Ia mengejarku... Aku takut.... A-apa yang terjadi?" "Tidak ada apa-apa," ujar Xynth berusaha menenangkan Fori yang berbicara cepat seperti kereta dengan napas yang megap-megap. Setelah agak lama mendengarkan Fori yang terus mengoceh ketakutan, ia akhirnya berhasil membuat gadis itu lebih tenang. "Ba-bagaimana dengan game kita?" tanya Fori mendadak teringat. Xynth kemudian menunduk. Ia baru ingat bahwa mereka semua seharusnya sedang dalam pertandingan Mole Game. Namun Xynth tadi menghentikan waktu manusia saat Alpheratz mendadak muncul untuk mengganggunya di sana. Itu artinya, banyak hal yang harus ia dan dua temannya urus untuk mengatasi masalah-masalah di medan perang buatan para manusia. "Fori,"--ucap Xynth tiba-tiba dengan suara berat dan membuat gadis itu langsung mendongak menatapnya--"maaf, tetapi aku harus melakukan ini kepadamu." Mendadak Xynth menutup bagian mata Fori dengan tangannya dan dalam sedetik, pandangan gadis itu mulai menjadi gelap. Sekali lagi, ia terjatuh tak sadarkan diri di pelukan Xynth.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN