Antares menguap sambil memperhatikan kedua temannya yang tengah serius menatap ke arah luar mobil mereka dari bagian depan. Mereka bertiga masih berada di parkiran kampus malam itu dan mengawasi jendela kamar asrama Fori dari dalam mobil mereka.
"Kalian tidak mengantuk?" tanya Antares dengan bosan. "Seharusnya kalau kalian khawatir kepada lima belas, kita bius saja dia dan bawa dia tidur di rumahmu, Xynth. Setidaknya ini bisa membuat situasi lebih terkendali."
Rigel menoleh dari kursi pengemudi di depan. "Idemu bagus juga. Seharusnya dari tadi kita melakukan itu saja."
Tidak ada suara jawaban dari tempat Xynth duduk. Pria itu masih mengamati jendela kamar Fori dengan serius.
"Enak sekali jadi lima belas," ujar Antares dengan wajah letih. "Dia hampir mati dan ketika tersadar lagi, ia sudah lupa apa yang terjadi kepadanya dan game berlangsung lancar bagi timnya. Tim hitam meraih poin enam sekarang.
"Dia bahkan tidak tahu kalau kita tadi harus bekerja keras menyambung banyak batang pohon, juga memadamkan beberapa kebakaran di sana akibat ledakan dan lain-lain sebelum game dimulai lagi. Dan sekarang, kita bahkan harus melindunginya sementara dia tengah tertidur lelap."
"Tim hitam menang karena aku tidak ikut bermain untuk tim biru," ujar Rigel menjawab Antares..
Wajahnya sedikit kecut mengingat bagaimana pertandingan berjalan mulus bagi tim hitam saat game kembali dimulai. Tanpa banyak perjuangan, Xynth menembak tiga orang di base tim biru dan langsung membawa bendera tim biru ke base penengah. Sebagai tim biru yang diunggulkan, Rigel merasa sangat dipermalukan saat itu.
"Timku sendiri kalah karena aku kurang konsentrasi saat bermain tadi," celetuk Antares sambil menyandarkan punggungnya ke arah jok. "Bagaimana tidak, di tengah-tengah p*********n, aku tertidur saat bersembunyi di balik pohon dan baru bangun saat pertandingan berakhir. Akhirnya mereka semua menertawakanku.*
"Jadi sekarang skor semua tim sama-sama enam?"
"Ya," jawab Antares kepada Rigel. "Ah, menyebalkan, besok pasti semua akan berusaha mati-matian untuk memenangkan permainan hari terakhir."
"Apa yang kita akan mainkan besok?"
"Ketua timmu tidak memberitahumu? Kita disuruh mengikuti festival malam kampus dan mendirikan tenda stand. Tim kita berdua wajib membuat stand makanan sementara tim Xynth dan tim kuning wajib membuat permainan. Siapa yang lebih banyak mendatangkan pengunjung akan menang. Untung saja festival digelar malam jadi kita bisa datang ke kampus sore saja."
Xynth yang sejak tadi terdiam mendadak menoleh ke arah Rigel. "Kau sudah memberi tahu Sol dan Vega untuk mencari Betelgeuse di wilayah perairan?"
"Sudah tadi," jawab Rigel kepadanya. "Tapi... kenapa mendadak kau fokus ke wilayah perairan?"
"Tadi saat kita tidak bisa menemukan lima belas, gadis itu ternyata berada di dalam danau," ujar Xynth. "Dan dalam visualku saat kasus Betelgeuse, ia seperti ada di dasar lautan. Kalau kupikir baik-baik sekarang, siapa pun pihak dari luar sana yang berhasil masuk ke bumi tanpa terdeteksi oleh kita, kemungkinan masuk dari wilayah perairan dalam. Tubuh Betelgeuse juga susah ditemukan, mungkin karena ia ada di wilayah perairan."
"Kalau itu benar, berarti Alpheratz dan semua pasukannya kemungkinan masuk dari dasar lautan?" tanya Antares.
Dahi Rigel mengkerut. "Tapi bagaimana mereka bisa membuka jalan dari perut bumi?"
"Alpheratz mungkin saja masuk dari perairan, tapi dia bukan makhluk yang sama dengan yang kulihat dari visual Betelgeuse," kata Xynth kepada mereka. "Yang berhadapan dengan Betelgeuse saat itu bukan dari keluarga bintang. Dia jauh lebih kuat dari mayoritas kita."
"Kalau begitu apa mungkin dia...." Ucapan Rigel terhenti dari mulutnya. Pria itu mendadak bergidik.
"Ya," gumam Xynth menjawab perkiraan di benak Rigel. "Kemungkinan yang melintas di kepalamu sama denganku dan juga Sol. Besar kemungkinan makhluk itu adalah quasar. Kalau itu benar, tidak saja aku, kita semua sedang berada dalam bahaya termasuk ibuku, keluarga bintang mana pun dan juga semua manusia di bumi."
"Apa maksud kalian?" tanya Antares dengan raut wajah yang ngeri. "Ada makhluk tipe pemangsa keluarga bintang yang berhasil masuk ke bumi? Bukankah itu sesuatu yang sangat mustahil? Mereka seharusnya tidak bisa memasuki bumi, kan?"
"Tidak bisa, kecuali ada yang memang sengaja memanggil mereka," jawab Rigel. "Tapi siapa pihak gila yang mau mengundang makhluk menyeramkan seperti quasar masuk ke sini?"
"Bermuda," cetus Xynth mendadak teringat dengan nama itu. "Alpheratz sempat menyebut nama itu kepadaku. Kalian tahu siapa Bermuda?"
"Bermuda?" ulang Antares. "Dia adalah penyihir legendaris dari Kerajaan Mata Hitam. Setahuku dia sudah sangat lama menghilang dari langit. Tunggu, apa jangan-jangan dia masih hidup?"
"Menurut Alpheratz, dia ditemui oleh Bermuda dan penyihir itu memberi tahu segalanya tentangku kepada Alpheratz. Ia bahkan tahu soal ritual pertukaran tubuhku dengan manusia dan bahkan tahu soal lima belas," ujar Xynth. "Kurasa saat makhluk itu berhadapan dengan Betelgeuse, Bermuda ikut membaca isi kepala Betelgeuse."
Antares mulai terlihat semakin tidak nyaman. "Jadi, apa dia yang memanggil monster gelap seperti quasar ke bumi?"
"Bukankah itu sama saja dengan tindakan bunuh diri?" timpal Rigel. "Quasar bukanlah makhluk yang bisa ditundukkan atau juga diperalat. Mereka akan selalu membunuh keluarga bintang mana pun karena takdir mereka sejak dulu adalah menjadi musuh besar para bintang. Meski Bermuda bekerja sama dengan quasar, tetapi Bermuda juga adalah bagian dari keluarga bintang. Bagaimana ia bisa menjalin hubungan dengan quasar dan masih bisa tetap hidup?"
Ketiganya terdiam. Tidak satu pun dari mereka bahkan sanggup membayangkan kalau perkiraan mereka soal kerja sama kaum quasar dan Bermuda benar terjadi.
Quasar sejak dulu memang dikenal sebagai makhluk-makhluk paling mengerikan di langit. Sejak awal langit terbentuk, keluarga quasar adalah musuh terbesar dari seluruh keluarga bintang. Kebanyakan dari mereka bahkan memiliki kekuatan lebih tinggi dari para bintang.
Mereka bahkan bisa membuat diri mereka menyerupai bintang dan memiliki cahaya palsu. Namun pada dasarnya, sosok asli mereka tidak mudah terdeteksi. Kebanyakan dari quasar memiliki cahaya hitam dan tidak ada yang pernah bisa tahu wujud asli mereka seperti apa. Jika benar-benar muncul, mereka biasanya akan seperti bayangan hitam yang luar biasa besar dan mengerikan.
Sejak dulu, quasar selalu membunuh keluarga para bintang dengan cara menghisap habis kekuatannya sampai menjadi abu. Semakin besar kekuatan bintang yang mereka mangsa, mereka akan menjadi semakin kuat.
Tidak ada yang pernah tahu dimana letak kerajaan mereka sebenarnya, siapa pemimpinnya, atau bahkan satu pun nama asli mereka. Para quasar selalu bergerak dengan cara sangat misterius dan tidak tunduk pada apa pun. Mereka hanya selalu muncul tiba-tiba dan membunuh keluarga bintang mana pun yang ada di hadapan mereka.
Mungkin keluarga bintang yang berkekuatan sangat besar mampu melawan quasar yang berkekuatan kecil atau sedang. Namun mereka tidak akan bisa menghadapi quasar berkekuatan besar.
Selama ini, keluarga para bintang dari kerajaan mana pun -- bahkan para bintang yang terkuat sendiri pun -- kerap hanya menghindari para quasar dan tidak membicarakan soal mereka sama sekali. Yang mereka tahu benar, ikatan quasar antara satu sama lain sangatlah kuat.
Konon, karena mereka hadir lebih dulu daripada bintang mana pun di langit, mereka adalah para penguasa langit yang sebenarnya. Namun tidak ada satu quasar pun yang pernah mengeklaim takhta langit.
Ini akhirnya membuat seluruh kerajaan di langit memiliki komando yang berpusat kepada Kiklios. Semuanya karena para bintang-bintang tertua sejak awal ada di sana.
Ada sejarah kelam yang membuat para quasar selalu berusaha memusnahkan para bintang. Hanya Methuselah dan ayah dari Alhine yang tahu soal itu.
Menurut desas-desus, akar pahit dendam di antara semua quasar dan para bintang lah yang membuat keluarga besar Kaisar Kiklios sebelumnya dibantai sampai hampir habis oleh para quasar. Hanya satu darah perak yang tersisa saat itu, yaitu Alhine.
Itulah mengapa di seluruh kerajaan langit, yang paling dendam kepada para quasar adalah ibu dari Xynth tersebut. Ia juga adalah satu-satunya yang disebut-sebut pernah melihat wujud asli dari raja quasar.
Meskipun begitu, adanya masa hitam di langit membuat ingatan Alhine dan para tetua di periode tertentu mendadak hilang. Hanya Methuselah yang masih mampu mengingatnya. Namun pria yang dianggap 'maha tahu' di langit itu telah mati suri. Hingga kini, adanya masa hitam masih menjadi salah satu misteri langit yang terbesar.
"La-lampu kamar lima belas menyala!" seru Xynth tiba-tiba kepada Rigel dan Antares yang tengah tercenung di mobil mereka.
Rigel melihat arloji di pergelangan tangannya yang menunjukkan waktu pukul satu dini hari. "Gadis itu belum tidur?"
"Apa yang dilakukan lima belas di jam-jam seperti ini?" tanya Antares. Ia membuka pintu mobil di sampingnya dan langsung melangkah keluar. Rigel dan Xynth kemudian juga ikut keluar secara bersamaan.
"Kita bius saja dia dan bawa dia ke rumah Xynth," ucap Rigel asal-asalan.
Xynth mendelik. "Kau gila? Untuk apa dia sampai harus ke rumahku?!"
"Kita tidak akan mungkin akan mengawasinya ke mana-mana setiap hari selama 24 jam, kan Xynth?" kata Antares kepada pria itu.
"Dia tubuh kelima belasku. Kalian harus memperlakukan lima belas sama seperti kalian memperlakukanku!"
"Wah, Xynth, rupanya sekarang kau sudah bisa menerima takdirmu untuk menjadi perempuan, ya!" ledek Antares sambil menyeringai lebar.
Xynth langsung melesakkan sinarnya melalui sebuah tamparan ke wajah Antares dan membuat temannya itu terpental sampai masuk ke dalam semak-semak.
"Kalau kau memang belum siap memasuki tubuh lima belas dan menjadi perempuan, kenapa kita harus terus mengintai gadis itu seperti ini?!" teriak Antares dari semaknya.
"Siapa di sana?" ujar sebuah suara mendadak mengagetkan mereka. Ternyata Fori sedang membuka sedikit jendelanya karena mendengar suara-suara dari luar dan memandang ke arah mereka.
"Ri-rigel, apa dia sudah memergoki kita?" tanya Xynth dengan wajah tegang ke arah Rigel. Namun Rigel rupanya sudah melesat kabur dari samping Xynth dan ikut bersembunyi di semak-semak bersama dengan Antares.
"Apa yang sedang dua orang bodoh itu lakukan di semak-semak?!" umpat Xynth sambil memandang kesal ke arah dua pengawalnya itu.
"Xynth?" tanya suara dari jendela itu lagi. "Itu kau, Xynth?"
Fori tampak langsung menjorokkan tubuhnya ke luar jendela dan seperti sedang berusaha memperjelas pandangan matanya. Beberapa saat kemudian, gadis itu terlihat berlari keluar dari kamarnya yang berada tidak jauh dari pintu depan asramanya.
Ia lalu membuka pintu itu dan segera berlari kecil menuju ke bagian samping parkiran asramanya yang saat itu sudah sangat sepi. Dalam sedetik, gadis itu langsung kebingungan di tempat ketika tidak melihat ada siapa pun di sana. Hanya ada sebuah mobil jeep mewah yang tengah terparkir begitu saja di tempat yang sedikit gelap tersebut.
Kepala Fori celingukan melihat ke kiri dan ke kanannya. Ia lalu berjalan mendekat ke arah mobil jeep besar itu dan berjinjit untuk mengintip ke bagian dalam kaca mobil dengan tubuh mungilnya.
Aneh, gumamnya seorang diri di sana. Sepertinya aku tadi melihat ada Xynth di sini. Apa aku sedang bermimpi?
Gadis itu lalu berjalan kembali ke asramanya dengan wajah linglung. Ia tidak melihat bahwa di balik semak-semak yang tak jauh dari sana, ada tiga orang pria bertubuh tinggi besar yang tengah jongkok berdempetan untuk menyembunyikan diri.
"Sebenarnya... kita bisa saja menghilang," bisik Rigel sambil melirik ke arah Xynth. "Tapi mengapa kita semua malah justru bersembunyi seperti ini?"
"Aku tidak mau dia berpikir kalau aku sedang mengintainya," jawab Xynth berkelit. "Apa kata dunia nanti kalau seorang Putra Mahkota Langit tertangkap basah sedang mengintai seorang perempuan jelek sepertinya?"
"Tapi kau memang sedang mengintai gadis itu!" seru Rigel dan Antares secara serempak.
Xynth terdiam dan menatap ke arah mereka dengan wajah tanpa dosa. "Ah, tapi lima belas sepertinya dalam kondisi aman. Aku akan pulang saja!" ujar Xynth berusaha mengalihkan fokus perhatian kedua temannya itu darinya.
Namun tiba-tiba sebuah pesan telepati dari Sol masuk ke dalam kepala mereka bertiga. Setelah masing-masing dari mereka mendengarkan pesan Sol tersebut, ketiganya kemudian langsung saling memandang.
"Betelgeuse susah ditemukan!" ucap ketiganya kemudian secara serempak.
---
"Dia baik-baik saja?" tanya Xynth dan yang lain-lainnya sambil melihat Vega sedang membaringkan tubuh sekarat Betelgeuse di atas tempat tidur rumah Xynth
"Sinar bintangnya sudah hilang," ujar Pak Tua Sol kepada mereka. "Ia sudah hampir mati saat ditemukan mengambang di Samudra Atlantik."
"Apa yang harus kita lakukan? Ia harus cepat pulih untuk membantu proses ritual pertukaran tubuh Xynth. Hanya Betelgeuse yang bisa," kata Rigel dengan khawatir.
"Aku akan berusaha mengembalikan sinar kekuatan Betelgeuse," jawab Vega sambil menatap mereka semua. "Tapi itu tidak akan bisa cepat. Betelgeuse benar-benar dalam kondisi sangat parah saat ini."
Antares terlihat masih syok menyaksikan langsung kondisi Betelgeuse di sana. "Berapa lama Ia akan bisa pulih lagi?"
"Aku tidak yakin akan bisa memulihkannya dengan cepat, tetapi aku akan berusaha maksimal," jawab Vega tanpa berbelat-belit.
"Pak Tua, kau tahu soal Bermuda?" tanya Xynth kepada Sol.
"Dia dari Kerajaan Mata Hitam dan sudah lama menghilang. Kenapa dengannya?"
"Kalian sudah tahu kan kalau Alpheratz dari Andromeda datang ke bumi dan menyerang kami? Saat kami berhadapan tadi, Alpheratz mengatakan bahwa sosok bernama Bermuda yang memberi tahu soal keberadaanku di bumi kepadanya.
"Kurasa, Bermuda juga adalah pihak yang memanggil quasar untuk masuk ke bumi. Dia pasti selama ini bersembunyi di dasar Samudra Atlantik dan membangun sesuatu di sana sebagai pintu masuk bagi para quasar."
Baik Vega maupun Sol memandangi Xynth bersamaan. "Berarti dia sudah mengundang banyak pihak untuk masuk ke bumi selain quasar," gumam Vega.
"Ibumu akan segera datang ke bumi," ujar Pak Tua Sol setelah sempat tercipta hening di antara mereka semua. "Sementara kau tidak boleh berada jauh dari kami semua, Putra Mahkota."
"Kalau memang bumi sudah dianggap berbahaya, kenapa aku tidak dipulangkan saja ke Kiklios?" tanya Xynth dengan heran.
"Tidak boleh!" seru Vega dan Sol secara serempak dengan keras.
"Kau tidak boleh kembali ke Kiklios sedikit pun sampai aura kaisarmu sudah bersinar," jawab Vega dengan intonasi suara yang kali ini lebih merendah.
"Tapi kenapa? Sebenarnya ada apa dengan semua ritual pertukaran tubuh ini? Mengapa aku harus menetap di bumi dan belum boleh kembali ke Kiklios? Toh di bumi pun aku sudah dalam kondisi bahaya saat ini."
"Bersabarlah," ucap Pak Tua Sol menenangkannya. Ia menepuk pelan pundak Xynth dengan raut wajah iba yang misterius. "Percayalah kepada kami dan turuti perintah kaisar."
"Untuk sementara," ujar pria tua itu lagi, "selama Vega masih berusaha memulihkan Betelgeuse, aku akan mendampingi kalian bertiga kemana pun."