Sore itu udara sangat cerah dan semburat senja mewarnai pelataran kampus tempat digelarnya festival malam yang adalah tanda perayaan mahasiswa baru semua fakultas. Di sana-sini terdapat banyak stand makanan dan tempat permainan.
Rupanya hampir semua fakultas sama-sama mewajibkan mahasiswa barunya membuka stand pada festval di hari terakhir masa orientasi. Di sisi bagian Fakultas Ilmu Komunikasi, Fori tampak sibuk mendekorasi sebuah ruangan bersama tim hitam yang lainnya. Mereka sedang berusaha menjadikan sebuah ruangan menjadi sangat gelap dengan melapisi dinding dan bagian atap ruangan itu dengan kain hitam yang besar.
Beberapa lainnya tengah mendekorasi berbagai benda di sana menjadi seperti peti mati, lukisan mengerikan dan lain-lain, sampai juga menyesuaikan efek suara yang akan diperdengarkan kepada pengunjung mereka nanti. Mereka semua berencana membuat rumah hantu untuk memenuhi tema permainan mereka di festival hari itu.
"Semua kostum dan cairan darah palsu di mana?" tanya Fori kepada Siska.
"Masih di aula fakultas. Kurasa belum ada yang membawanya ke sini karena semuanya masih sibuk mendekorasi ruangan," jawab Siska.
Gadis itu terlihat sangat serius menghiasi sebuah papan kayu yang bertuliskan rumah hantu untuk membuatnya terlihat mengerikan. Rencananya, papan itu akan diletakkan di depan tempat mereka nantinya.
"Baiklah, kalau begitu aku saja yang pergi ke sana untuk mengambilnya," ujar Fori sambil melangkah. Namun ia tiba-tiba berhenti ketika melihat Xynth ada di sana.
Pria itu terlihat baru saja memasang kain hitam terakhir di bagian atap ruangan tersebut dengan menggunakan tangga. Ia memang diminta bantuan khusus untuk memasang kain di bagian atap karena pria itu yang paling tinggi di antara mereka semua.
"Xynth, ada yang ingin kutanyakan padamu," sapa Fori kepada Xynth yang baru saja menuruni tangga.
Xynth hanya mengangkat sebelah alisnya sambil melihat Fori mendatanginya. Ia kemudian menenggak minuman dari sebuah botol air mineral yang terletak di atas meja tak jauh dari sana.
"Apa tadi malam sekitar jam satu kau ada di asramaku?" tanya Fori dengan santai. Namun seketika, Xynth yang kaget ditanya seperti itu langsung menyemburkan minuman dari mulutnya yang belum sempat ia teguk.
"Untung apa aku datang ke tempatmu malam-malam begitu?! Kau pasti sedang mabuk lagi sampai berhalusinasi seperti itu, ya?!"
Fori terlihat bingung melihat reaksi ekstrim Xynth yang langsung menaikkan intonasi suaranya.
"Aku kan hanya bertanya! Kenapa kau langsung sewot begitu?!" tukas Fori dengan heran. Ia kemudian terlihat berdiri dengan wajah termenung di tempatnya. "Apa mungkin aku semalam hanya bermimpi? Tapi kenapa sepertinya aku melihatmu dengan sangat jelas, ya?"
"Kau mau ke mana?" tanya Xynth mengalihkan perhatian Fori.
"Ke aula mengambil kostum dan aksesoris kita untuk malam nanti. Dua jam lagi acara festival akan dibuka. Kau mau ikut?"
"Tidak," jawab Xynth tak acuh.
Dahi Fori mengernyit kesal. "Bukankah di saat seperti ini seharusnya kau bertanya 'apa kau butuh bantuanku' seperti pria-pria normal lainnya?!"
"Kalau kau memang butuh bantuanku, ya... apa boleh buat. Aku terpaksa ikut," ucap Xynth dengan ekspresi wajah tak bersalah.
Fori mengurut dadanya berusaha sabar. Ia akhirnya berjalan cepat menuju aula dan disusul oleh Xynth di belakangnya.
"Ide rumah hantu seperti itu bukankah sedikit terlalu kuno?" tanya Xynth kepadanya saat mereka jalan menuju aula bersama-sama. "Hari begini, apa masih ada yang percaya hantu?"
"Aku percaya," jawab Fori jujur. "Hantu benar-benar ada. Kau tahu, dulu saat aku tinggal di panti asuhanku, banyak yang sering mendengar suara-suara mengerikan dari dalam sumur di kebun belakang panti kami. Salah satu temanku bahkan pernah melihat ada hantu berambut panjang yang keluar dari sumur malam-malam."
"Aku tidak heran kalau kau percaya hal-hal aneh seperti itu," kata Xynth. "Kau memang suka mengada-ngada. Kau bahkan menuduh aku dan keluargaku sebagai pemuja setan sebelumnya."
"Kecurigaanku kepadamu masih belum hilang soal itu," gumam Fori dengan pandangan menyelidik yang tengil ke arah Xynth. Namun gadis itu mendadak seolah teringat sesuatu yang penting dan kali ini berbicara dengan raut wajah yang serius dan nada lebih pelan kepada Xynth.
"Ngomong-ngomong, Xynth, kau baik-baik saja?"
"Hmmhh?"
"Apa kau sehat?" ulang Fori bertanya kepada pria yang berjalan di sampingnya itu. Ia teringat pembicaraan soal obat kanker otak yang dibahas Siska bersamanya kemarin.
"Ya, aku sehat. Kenapa belakangan setiap bertemu denganku kau selalu bertanya hal-hal seperti ini, sih?!"
"Tidak apa-apa, hanya ingin memastikan saja. Syukurlah kalau kau dalam kondisi sehat," ucap Fori sambil tersenyum, meski pikirannya masih bertanya-tanya seputar kondisi Xynth yang sebenarnya.
Keduanya kemudian memasuki aula dan langsung menuju ruang penyimpanan barang milik tim hitam di belakang panggung. Begitu sampai di sana, baik Fori maupun Xynth sama-sama langsung terkejut melihat kondisi ruangan mereka yang acak-acakan.
Semua barang tim hitam di sana sudah porak poranda seolah-olah ada yang telah berusaha merusaknya. Fori pun segera menelepon Siska dengan tubuh lemas dan beberapa menit kemudian, hampir seluruh peserta tim hitam sudah tiba di sana dan langsung terbelalak kaget.
"Ba-bagaimana ini? Festival sebentar lagi sudah akan digelar, tetapi seluruh barang kita rusak!" celetuk seseorang dari tim mereka dengan wajah pucat.
"Ada yang sengaja merusaknya," ujar Xynth kepada mereka.
"Sudah jelas, tetapi siapa?"
"Kita tidak bisa mengecek melalui DVR karena menurut tim security fakultas, seluruh kamera CCTV masih dalam kondisi perbaikan sejak ada masalah di game kedua kemarin," kata Fori sambil terduduk lemas.
"Apa mungkin tim kuning yang melakukannya kepada kita?" tanya seseorang lainnya dari mereka. "Tadi aku lihat tim kuning berada cukup lama di aula dibanding dengan tim-tim lainnya."
Fori jadi teringat, hal-hal buruk dan kekanakkan seperti itu sejak dulu adalah khas Hannah. Apalagi, hampir seluruh peserta di tim kuning mayoritas berisikan anak-anak menyebalkan bekas teman sekolah Fori dulu. Kini ia cukup yakin bahwa tim kuning memang paling berpotensi sebagai tersangka pelakunya, terlebih di game ketiga ini mereka sedang bersaing.
"Maafkan aku, padahal aku yang bertanggung jawab seputar peralatan. Seharusnya tadi semua barang langsung kubawa saja ke rumah hantu kita," ucap Siska kepada Fori sambil menangis di tempatnya. "Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
Fori mengelus pundak Siska dan menenangkannya. "Ini bukan salahmu, ada yang sengaja bertindak curang terhadap kita."
Xynth melirik ke arah jam di dinding. "Sekitar satu jam lagi festival akan segera digelar. Apa boleh buat, kita bersiap seadanya saja. Melaporkan hal ini kepada para senior di waktu mepet begini pun tidak akan banyak membantu."
Seluruh tim hitam serempak tertunduk lesu di ruangan itu. Merasa segalanya akan berakhir gagal, mereka akhirnya melangkah gontai untuk kembali menuju rumah hantu mereka dan mempersiapkan diri di sisa waktu yang ada dengan setengah hati.
Malamnya suasana festival dibuka dengan meriah. Hampir semua tempat diramaikan oleh berbagai senior dan sesama mahasiswa baru yang berjalan-jalan untuk mencoba banyak hal yang dijajakan di sana.
Sudah lebih dari sejam acara digelar dan tidak banyak pengunjung yang masuk ke tempat tim hitam. Hanya ada sepasang mahasiswa dan mahasiswi yang masuk. Itu pun begitu keluar, keduanya terlihat seperti mengejek rumah hantu milik tim hitam. Mereka bahkan sampai membuang bekas kertas tiket mereka dengan kecewa, seolah mereka sudah membuang-buang uang di sana.
Tidak salah memang karena tim Fori itu sudah gagal menampilkan kondisi rumah hantu yang seharusnya mengerikan. Apalagi, mereka yang bertugas di dalam hanya memakai kostum seadanya dengan dandanan yang terlihat luar biasa payah. Jelas mood semua tim hitam yang sudah hancur juga berdampak buruk terhadap upaya mereka menakuti pengunjung.
"Kalian sudah melihat stand tim kuning?" ujar salah satu dari mereka kepada Fori dan Siska yang sedang berjaga di bagian depan. "Aku tadi melihat stand mereka. Tempat mereka ramai sekali didatangi oleh pengunjung."
"Apa permainan mereka?" tanya Siska penasaran meski wajahnya juga nenunjukkan bahwa ia tidak suka mendengar informasi itu.
"Truth or dare," jawab orang itu dan membuat Fori seketika mematung. "Tapi versi permainan mereka cukup unik. Mereka sampai memakai alat pendeteksi kebohongan. Untuk bermain, kita wajib membayar tiket kepada mereka dan jika semua pertanyaan mereka dijawab dengan jujur, maka uang kita akan dikembalikan sebanyak dua kali lipat. Namun bagi yang ketahuan berbohong, wajib membeli sebuah tiket lagi untuk diserahkan kepada teman mereka yang belum masuk ke sana. Strategi mereka sangat sempurna sampai stand mereka penuh antrian orang-orang yang penasaran untuk mencoba."
"Aku ingin coba melihatnya sebentar," kata Siska dengan raut wajah yang kesal, tetapi juga penasaran. "Fori kau mau ikut?"
"Kau bisa membantuku berjaga di sini sebentar?" tanya Fori kepada orang yang menyampaikan kabar tadi dan orang itu segera mengangguk padanya
Sebenarnya Fori sedikit ragu dan berfirasat buruk untuk pergi ke sana. Namun karena juga penasaran, ia akhirnya ikut melangkah ke sana dari belakang Siska.
---
Di tempat lain, Xynth terlihat berjalan melintasi stand kedua temannya yang ramai oleh para pengunjung wanita. Antares terlihat sangat menikmati suasana dan melayani para pembeli bubble drink di tempatnya berjualan dengan ramah. Sementara Rigel terlihat berwajah kesal karena terus berkutat dengan asap.
Stand timnya menjual berbagai makanan barbeque ringan dan ia harus terus mengipas bara api sate untuk menyajikan pesanan para pengunjung mereka. Meskipun terus memasang wajah judes, tetapi para wanita di sana rela antri hanya untuk dilayani oleh Rigel.
Sayangnya, antusiasme para wanita itu justru membuat pria malang tersebut semakin tak henti-henti mengipas begitu banyaknya sate di sana. Selesai satu hidangan, muncul pesanan lain secara bertubi-tubi dan itu membuatnya tidak bahkan bisa beristirahat.
"Xynth, kau lihat Pak Tua Sol tadi?" ucap Antares sambil cengar-cengir saat Xynth mendekat ke arahnya yang baru saja selesai mencatat pesanan beberapa orang sekaligus. "Wah, pak tua itu seperti tupai. Bukannya menjagamu seperti kata-katanya semalam, ia malah asyik mengunjungi berbagai stand di sini seperti kesetanan. Pria tua itu bahkan membeli bubble drink kami sampai lima kali. Kau mau coba minuman ini? Minuman manusia ini ternyata enak juga."
"Di mana dia sekarang?" tanya Xynth mengacuhkan tawaran Antares.
"Sepertinya dia pergi ke stand ramalan di bagian ujung depan wilayah festival kita. Kakek tua itu kesenangan mempermainkan peramal di sana. Sepertinya sebentar lagi pemilik stand ramalan itu akan memberi larangan masuk kepadanya secara permanen. Ia tak berhenti-henti mengomentari isi ramalan mereka," jawab Antares sambil terkekeh-kekeh.
"Sepertinya Rigel sedang serius sekali," kata Xynth sambil melihat ke arah stand di sebelah Antares.
"Jangan mendekat ke arahnya. Dia sedang menjadi sangat pemarah karena seluruh badannya berbau asap. Ia juga sensitif karena tidak diperbolehkan menggunakan kekuatannya sama sekali di permainan hari ketiga ini," kata Antares sambil kembali tertawa.
"Ngomong-ngomong, apa yang terjadi dengan timmu? Dengar-dengar kalian mendapat masalah?" tanya Antares menyambung pembicaraannya sendiri.
"Ada yang sudah menghancurkan barang-barang-barang tim kami dengan sengaja. Itu makanya tempat kami sepi pengunjung karena tidak ada yang bisa dipakai sama sekali untuk tampil."
"Kau sudah tahu pelakunya?" tanya Antares. Ia lalu melihat arah titik pandangan mata tajam Xynth. "Ah, stand yang penuh antrian itu? Tim kuning pelakunya?"
"Ya," jawab Xynth.
"Ketua tim itu bernama Hannah dan anggota timnya sepertinya memang bukan manusia-manusia yang menyenangkan. Dia cantik, tetapi sepertinya memang sesikit picik dan menyebalkan. Kurasa ia adalah Alpheratz versi wanita."
Mereka berdua memperhatikan Hannah yang sedang duduk di meja stand tim kuning, lalu terkejut karena sepertinya Hannah sedang memanggil seseorang yang mereka kenal untuk masuk ke stand miliknya.
"Saya melihat ada ketua tim hitam di sini," ucap Hannah melalui mikrofonnya dan didengar banyak orang di sana, termasuk Xynth dan Antares. "Bagaimana kalau kita mengundang ketua tim hitam sebagai pesaing kami dalam kompetisi ini, untuk mencoba permainan kami?"
Fori yang sebenarnya tidak berdiri di baris antrian dan hanya mengamati situasi dari belakang, terlihat terkejut dan langsung menggeleng untuk menolak ajakan Hannah secara halus. Sayangnya, Hannah tetap bersikeras untuk memanggilnya masuk.
"Ayo kita semua menyemangati ketua tim hitam untuk masuk ke sini. Kami menantang ketua tim hitam yang begitu hebat di game kedua untuk menerima tantangan kecil kami ini. Apakah ketua tim hitam berani mewakili timnya? Kami akan memberi tiket masuk gratis untuknya dan akan memberikan uang dua kali lipat harga tiket, jika ia bisa jujur menjawab semua pertanyaan kami."
Seluruh pengunjung di sana segera bertepuk tangan dengan keras. Fori langsung merasa terpojok dengan ucapan Hannah, sementara semua orang di baris antrian langsung menyoraki Fori untuk masuk.
Meski sudah berusaha keras menolak, mendadak dua orang dari gank iblis Hannah menyeret gadis itu untuk masuk. Mereka langsung mendudukkan Fori di depan Hannah dan menempelkan paksa kabel-kabel alat di jari Fori sambil tertawa-tawa.
Fori yang sebelumnya sudah sangat trauma dengan Hannah soal permainan seperti itu terdiam dengan rasa takut. Ia ingin berlari dari sana, tetapi Hannah sudah mengajukan pertanyaan untuknya dengan menggunakan mikrofon yang didengar semua orang di sekitar stand tim kuning.
"Aku akan memberimu sepuluh pertanyaan dan akan berhenti bertanya jika kau kedapatan berbohong. Pertanyaan pertama, ketua tim hitam, apakah saat sekolah dulu ada yang mau berteman denganmu?"
Fori terdiam, begitu juga orang-orang di sana yang mendengarnya. Hannah mengulang pertanyaannya lagi dengan lebih keras dan membuat Fori langsung menunduk malu.
"Ti-tidak," jawab Fori dengan pelan. Beberapa orang di sana tertawa. Namun sebagian lainnya hanya membisu.
Hannah tersenyum senang. "Pertanyaan kedua, apakah laki-laki yang kau sukai saat SMA dulu juga menyukaimu?"
Fori terdiam dan mendengar suara sedemikian banyak audiens di sana bergumam-gumam mengomentari keduanya. Mata Fori mulai berkaca-kaca dan Hannah lagi-lagi mengulang pertanyaannya dengan lebih keras.
"Ti-tidak," jawab Fori lagi dengan suara nyaris tertelan.
"Jawaban jujur. Pertanyaan ketiga, apakah benar laki-laki yang dulu kau sukai lebih memilih mencium sesama pria dibanding menciummu?"
Fori melirik dengan sangat malu ke beberapa orang tim hitam termasuk Siska yang menonton di sana. Tidak saja di SMA-nya dulu, Hannah bahkan bermaksud menghancurkan hidup Fori sekali lagi saat mereka kini sama-sama di jenjang kuliah.
Air mata Fori menetes dan ia mengelapnya diam-diam sambil membelakangi audiens. Hannah yang melihatnya sendiri tetap tidak menunjukkan empati sedikit pun.
"Ya, itu benar," jawab Fori pada pertanyaan ketiga Hannah dengan suara yang pecah akibat berusaha keras menyembunyikan tangisnya karena dipermalukan di depan umum.
"Pertanyaan keempat, apakah kau pernah melanggar hukum? Misalnya, mabuk-mabukan saat masih SMA?"
Fori terdiam dalam isaknya sesaat, sebelum akhirnya mengangguk dengan lemah. Kakinya ingin segera berlari dari sana, tetapi ia terlalu takut jika ia berbalik, semua audiens akan melihat wajahnya yang sedang menangis. Jadi, tubuhnya hanya seolah membeku di depan Hannah.
"Pertanyaan kelima, apakah kau---"
"Tunggu sebentar," potong seseorang mendadak dari barisan audiens.
Hannah dan semua yang ada di sana melihat Xynth tiba-tiba maju ke depan stand tim kuning dari arah belakang. Ia kini berdiri di samping Fori sambil memegang bahu gadis itu serta menutupi kepala Fori dengan topi miliknya.
"Biar aku yang menggantikan ketua tim kami di sini. Ia harus segera kembali ke stand kami sekarang karena ada masalah di sana yang harus segera diselesaikannya."