Truth or Dare

2244 Kata
Kali ini, Xynth yang duduk manis dengan tenang di hadapan Hannah ketika Fori sudah pergi. Gadis itu sendiri sudah berdiri bersama Siska tak jauh dari sana dan terlihat seperti sedang dihibur oleh teman satu timnya itu. Meski kepalanya tertutup oleh topi milik Xynth, pria tersebut masih bisa melihat Fori terus memandangi Hannah dengan tatapan nanar dari posisinya berdiri. Area kecil stand tim kuning di hadapan Hannah sendiri kini mendadak dipenuhi kerumunan para wanita. Mereka ingin melihat jawaban-jawaban Xynth atas pertanyaan Hannah dan berdiri dengan antusias menunggu jari-jari Xynth ditempeli dengan kabel-kabel alat deteksi kebohongan. Setelah semuanya selesai dipersiapkan, mendadak Xynth menoleh ke arah audiens. "Jika aku berhasil menjawab dengan jujur semua sisa pertanyaan tim kuning yang seharusnya ditujukan bagi ketua tim kami tadi, mereka tidak perlu mengembalikan uangku. Sebagai gantinya, aku hanya akan meminta ketua tim kuning ini datang berjunjung ke stand kami. "Bagaimana? Apakah ketua tim kuning berani mewakili timnya untuk menerima tantanganku?" tanya Xynth dengan senyum misterius. Dalam sekejap, ucapannya berhasil mendapatkan dukungan dari semua audiens. Sorakan orang-orang di sana membuat Hannah menjadi salah tingkah. Ia yakin bahwa Xynth sedang memancingnya. Namun ia juga tidak berani menolak tantangan pria itu karena audiens di sana pasti akan menganggap Hannah sedang menelan ludahnya sendiri. Akhirnya gadis itu terpaksa mengatakan kepada Xynth bahwa ia bersedia melakukannya. Setelah itu ia dan tim kuning lainnya berdiskusi sebentar di belakang panggung untuk menentukan pertanyaan-pertanyaan menjebak yang akan mereka lemparkan kepada Xynth. Xynth tahu bahwa mereka semua akan bekerja keras untuk membuat Xynth malu akan sesuatu dan kemudian memanipulasi dirinya untuk berbohong. Itu cara kerja kotor yang mereka terapkan sejak awal dan banyak pengunjung stand tim kuning tidak sadar akan hal itu. Untungnya Xynth sudah siap dan tidak peduli dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan mereka ajukan kepadanya. "Baiklah," ujar Hannah sambil memaksakan senyum. "Karena tadi tersisa enam pertanyaan yang belum sempat dijawab oleh ketua tim hitam, maka sekarang kami akan memberikan enam pertanyaan untuk Xynth." "Tanyakan kepadanya apa dia sudah punya pacar!" seru seorang audiens di bagian terdepan dengan keras. Para wanita yang ada di sana pun serempak langsung tertawa dan ikut bersorak mendukung pertanyaan tersebut. Mereka semua kemudian bergemuruh meminta agar Hannah mau menanyakan hal tersebut kepada Xynth. "Tadi kita berhenti di pertanyaan kelima, kan?" tanya Hannah sambil berbisik kepada semua temannya yang sedang berdiri di belakangnya dan segera dijawab dengan anggukan. "Oke, kalau begitu kita akan lanjutkan dengan pertanyaan khusus dari para audiens. Ini adalah pertanyaan pembuka untuk Xynth atau pertanyaan kelima bagi tim hitam. Xynth, apakah saat ini kau sudah memiliki pacar?" tanya Hannah untuk menyenangkan hati para audiensnya. Kerumunan para wanita di sana pun sontak bergemuruh senang karena Hannah menanyakan soal itu kepada Xynth. Mereka semua kemudian bertambah heboh ketika Xynth menjawab bahwa ia tidak memiliki pacar dan jawabannya langsung dikonfirmasi sebagai jawaban jujur oleh mesin milik Hannah sendiri. "Mengapa? Apa kau suka laki-laki? tanya Hannah yang seketika diikuti dengan gelak tawa semua audiens yang ada di sana. "Itu pertanyaan keenam?" tanya Xynth sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Hannah dengan senyum menyungging di bibirnya. Hannah terpaksa mengangguk meski sebenarnya itu bukan pertanyaan inti dari pihak mereka dan hanyalah sekedar respons lanjutan gadis itu atas jawaban Xynth. "Kalau begitu jawabannya tidak," sambung Xynth kemudian dengan ucapan santai. "Ba-baiklah, sekarang pertanyaan ketujuh," lanjut Hannah sambil membaca kertas yang baru saja disodorkan teman satu timnya dari belakang. "Menurut informasi, selama ini kau selalu menjalani homeschooling dan tidak pernah masuk ke sekolah publik mana pun. Apakah benar desas-desus yang mengatakan bahwa guru homeschooling-mu yang hilang dan tidak pernah ditemukan hingga saat ini... sebenarnya tewas di rumahmu?" "Ya," jawab Xynth dengan singkat setelah terdiam sejenak. Audiens seketika hening saat melihat lampu di jari-jari Xynth menyala hijau. Namun pria itu tidak berusaha menjelaskan apa pun lagi. Hannah yang juga bengong kemudian berusaha kembali fokus dengan kertas di tangannya lagi. "Pertanyaan kedelapan. Apakah keluargamu membunuh orang-orang yang selama ini hilang di rumahmu?" "Ya," ucap Xynth lagi dengan santai. Kehebohan langsung terjadi di sana dan audiens mulai terdengar berbisik-bisik. Bahkan Hannah dan Fori yang sedang ikut melihat dari pinggir pun terbelalak kaget mendengar jawaban Xynth dan melihat lampu indikator masih menunjukkan bahwa pria itu berucap jujur. Hannah sendiri terlihat mulai bingung. Mereka sebenarnya hanya berusaha mempertanyakan rumor-rumor yang selama ini beredar tentang keluarga Xynth tanpa mempercayainya. Namun Xynth terus mengagetkan mereka dengan memberikan jawaban-jawaban yang membuat heboh semua orang. "Pe-pertanyaan kesembilan," lanjut Hannah, "apakah rumor bahwa kau meminum darah itu juga benar?" "Ya," jawab Xynth lagi tanpa jeda sedikit pun. Kini bahkan audiens mulai terheran-heran melihat lampu indikator masih menunjukkan bahwa Xynth menjawab semua pertanyaan Hannah dengan jujur. Mereka semua kemudian mulai meragukan akurasi mesin Hannah karena menganggap Xynth sedang menjawabnya dengan asal-asalan saja. Hannah kini memandang ke arah Xynth dengan raut wajah yang seperti tidak percaya. Ia lalu mulai semakin sembarangan dalam bertanya. "Pertanyaan kesepuluh. Apakah kau bukan manusia?" "Ya," jawab Xynth dengan senyum misterius yang mengembang di wajahnya. Meski semua lampu pada alat deteksi kebohongan milik Hannah menunjukkan kalau pria itu tidak berbohong, audiens kini menuding bahwa alat milik tim kuning tersebut telah rusak dan tidak akurat. Mereka kemudian mulai berseru-seru memprotes tim kuning dan meminta mereka memeriksa kondisi mesin mereka tersebut. "Alat kami baik-baik saja dan tidak rusak," jawab Hannah saat salah seorang audiens berteriak menuduh alatnya tidak lagi berfungsi dengan benar. "Co-coba kita tes sekali lagi, bolehkah kami mengajukan satu pertanyaan lagi, Xynth?" tanya gadis itu lagi berusaha mencairkan suasana tegang di sana. "Silakan," jawab Xynth masih duduk dengan tenang dengan kaki bersila. "Xynth, apa kau menyukai ketua timmu, Fori?" tanya Hannah tiba-tiba dan sebenarnya hanya sekadar asal. Gadis itu hanya berusaha menemukan jawaban yang paling mustahil untuk benar saja dan kebetulan baru melirik ke arah Fori. Tapi anehnya, Xynth kali ini terlihat diam mematung --- seolah itu adalah pertanyaan paling sulit untuk dijawab baginya. Pria itu terlihat seperti berpikir sejenak dan membuat Hannah terpaksa mengulang kembali pertanyaannya. "A-apa-apaan dia?! Apa Hannah sudah gila?" tanya Fori kepada Siska dari tempatnya berdiri. Gadis itu terlihat ikut malu dengan pertanyaan Hannah kepada Xynth barusan dan kini ia terlihat mulai salah tingkah. "Apa ketua tim kuning itu sangat membencimu?" tanya Siska kepadanya dengan raut wajah yang bingung dan juga ikut kesal. "Sepertinya dia sangat ingin mempermalukanmu terus menerus, bahkan sekalipun kau sudah tidak lagi duduk di sana untuk menjawab." "Kami sejak dulu teman satu sekolah dan memang ia dan teman-temannya tidak pernah menyukaiku," jawab Fori dengan wajah suram. "Tapi kenapa ia tidak menyukaimu?" tanya Siska. "Apa kau pernah melakukan sesuatu yang membuatnya kesal atau memang karena ia adalah tipe bully yang menyebalkan saja?" "Entahlah, dia selalu bersikap begitu kepadaku sejak pertama kami bertemu," jawab Fori dengan jujur. "Mungkin... itu karena aku tidak berasal dari kalangan elite seperti kau atau mereka semua yang ada di sana, Jadi, ia tidak pernah bisa menerima kehadiranku dan membenciku." "Dia pernah melakukan ini kepadamu sebelumnya? Mempermalukanmu di depan umum seperti tadi?" Fori mengangguk. "Terus menerus selama bertahun-tahun." "Jadi, semua pertanyaan yang ia ajukan kepadamu tadi juga disengaja? Ia sudah tahu semua jawabannya dan sengaja mempertanyakan itu kembali padamu hanya untuk mempermalukanmu?" "Dia sudah pernah mempertanyakan hal yang sama kepadaku dalam permainan yang sama saat kami merayakan prom night dulu di hadapan orang-orang lainnya." Siska mengangkat tangannya ke mulut dengan terbelalak lebar. "Astaga, gadis sejahat itu ternyata benar-benar ada di dunia nyata. Kukira tukang bully seperti dia hanyalah gambaran klise dunia perfilman." "Xynth?" Suara dari mikrofon Hannah mendadak terdengar menggema di sekitar wilayah stand kuning lagi. Ia dan semua orang yang ada di sana masih terdiam menantikan jawaban dari pria tersebut atas pertanyaannya tadi. "Kau menyukai Fori?" "Mungkin iya," jawab Xynth akhirnya dan membuat keheningan mendadak tercipta di sana. Semua orang kini memandang ke arah Fori yang berdiri di sisi luar stand tim kuning bersama dengan Siska. Gadis yang sudah merasa tenang setelah keluar dari game Hannah itu kini justru tercengang di tempatnya. Sebelumnya ia sudah mempersiapkan diri untuk mendengar jawaban sadis dari mulut Xynth, tetapi ia tidak pernah mempersiapkan dirinya untuk mendengar jawaban yang sebaliknya. Karena itu, mulutnya kini menganga lebar dengan wajah yang mendadak merah padam. "A-alat itu sudah pasti rusak," gumam Fori di tempatnya dengan kikuk. Namun ternyata semua audiens yang ada di stand tim kuning termasuk Xynth mendengar ucapan Fori. Terlepas dari adanya kenyataan bahwa ia tidak menyukai Fori, Hannah kini mulai ikut mempertimbangkan kebenaran ucapan musuhnya itu. Ia memandang ke arah peralatannya sendiri dengan bingung dan terlihat menjadi gusar. Gadis itu sangat yakin alatnya tadi masih baik-baik saja, tetapi ia juga yakin bahwa jawaban Xynth tidak benar. "Mungkin lampu merah pertanda tidak jujurnya sedang rusak?" tanya Xynth kepadanya. "Kita harus mengetesnya untuk tahu. Bagaimana kalau kali ini aku saja yang mencobanya kepadamu?" "Eh, a-apa?" tanya Hannah kaget mendengar saran dari Xynth. "Coba aku tes alat ini terhadapmu, agar kau tahu apakah alat ini benar-benar rusak atau tidak. Yang tahu nanti jawabannya jujur atau tidak kan pasti kau sendiri," kata Xynth kepada ketua tim kuning tersebut. Hannah tampak keberatan, tetapi Xynth sudah melepaskan kabel-kabel Hannah dari jarinya dan memasangkannya langsung ke tangan Hannah sendiri. Pria itu segera menjepit kabel alat itu dengan tepat di semua ujung jari-jari Hannah yang tampak masih tidak merasa nyaman dan sebenarnya keberatan dengan tindakan Xynth itu. "Oke, kita akan tes satu pertanyaan saja untukmu," kata Xynth setelahnya. "Kau siap, Hannah?" "Y-ya," jawab Hannah kepadanya dengan gugup. Lampu di jari-jari tangan Hannah refleks menyala merah, pertanda kalau gadis itu sedang berbohong. Itu membuat audiens di sana langsung tergelak melihatnya, sementara Hannah sendiri langsung terdiam kaku. "Kita mulai tes pertanyaan untuk ketua tim kuning," ucap Xynth dengan santai. "Hannah, apakah kau yang melakukan sabotase atas peralatan tim hitam di gudang penyimpanan kami sore tadi?" Bola mata Hannah seketika membesar karena kaget. Ia tidak siap dengan pertanyaan yang dilontarkan Xynth kepadanya di depan semua orang di sana. Audiens juga terlihat kebingungan dengan maksud pertanyaan Xynth, tetapi Xynth justru mengulang pertanyaannya sekali lagi kepada Hannah dengan lebih keras "Tidak, aku tidak melakukannya," jawab Hannah akhirnya karena merasa dipojokkan Xynth. Sayangnya, lampu di jari-jari gadis itu langsung berubah menjadi merah. Hannah terpaku sebentar di tempatnya, sebelum akhirnya melepaskan alat itu dari jarinya dengan tergesa-gesa dan terlihat sangat gugup. "Benar, kan, alat ini rusak?" tanya Xynth kepadanya sambil tersenyum. "Y-ya, kau benar, alat ini rusak. Maaf semuanya, untuk sementara kami harus menghentikan acara kami dan memperbaiki alat kami ini terlebih dahulu," ujar Hannah sekilas ke seluruh audiens di sana sambil melirik ke arah Xynth dengan sangat ketakutan. Seluruh audiens langsung bersorak kecewa dan perlahan mulai membubarkan diri mereka. Sementara Xynth kemudian beranjak pergi begitu saja dari panggung tim kuning, diiringi oleh pandangan mata seluruh anggota tim itu yang terlihat masih terpukul karena dipermalukan oleh Xynth. "Terima kasih, Xynth," cetus Fori kepada Xynth ketika pria itu sudah keluar dari stand tim kuning. Ia sudah menunggu Xynth seorang diri di sana setelah Siska kembali lebih dahulu ke stand mereka sendiri. "Untuk apa?" tanya Xynth sambil meraih kembali topi miliknya yang disodorkan oleh Fori. "Aku tidak sedang menolongmu. Aku tidak pernah tertarik ikut campur masalah konflik receh di kalangan kaum wanita. Aku hanya tidak suka padanya karena ia sudah merusak alat-alat kita." "Ya, aku berterima kasih karena kau melakukannya," lanjut Fori lagi sambil tersenyum tulus kepada pria itu. "Melihat Hannah tertekan hanya dengan satu pertanyaan darimu sudah mengubur rasa traumaku atas sesuatu yang buruk --- yang pernah terjadi di antara aku dan dia dulu. "Aku berterima kasih kepadamu karena sudah membuatku menjadi saksi langsung peristiwa tadi. Apa yang terjadi terhadapku dulu, kini juga terjadi kepada Hannah dan itu membuatku merasa lebih baik sekarang." Xynth tidak menjawab Fori dan tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya langsung berjalan menuju tempat permainan mereka sendiri dalam diam. "Sebentar lagi tim kuning pasti akan datang ke tempat kita untuk memenuhi janjinya, tetapi apa yang harus kita lakukan nanti? Bukankah mereka justru akan menertawakan kita jika melihat kondisi rumah hantu kita saat ini?" tanya Fori sambil berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Xynth. "Biar aku saja yang mengurus soal itu," jawab Xynth kepadanya. "Aku akan menyulap rumah hantu itu menjadi ruang horor yang nyata." "Hah? Bagaimana kau akan melakukannya?" tanya Fori. "Kau tidak ingat kalau aku adalah pemuja setan?" ujar Xynth menyindir gadis itu. "Sekarang kau tidak perlu tahu bagaimana aku akan melakukannya. Kau cukup bersiap saja di bagian depan." "Ba-baiklah...." Entah bagaimana di sisa malam itu rumah hantu milik mereka menjadi begitu ramai oleh pengunjung. Suara jeritan keras terus terdengar dari arah stand tim hitam dan itu membuat orang-orang yang kebetulan lewat di dekatnya menjadi tertarik. Fori dan yang lainnya tidak tahu apa yang dilakukan Xynth di dalam. Namun mendadak semua yang masuk ke dalam rumah hantu mereka, langsung berlari terbirit-b***t begitu berhasil keluar dari sana. Bahkan ada yang sampai nyaris pingsan dan terjatuh karena berlari tanpa menoleh. Hal itu justru membuat yang lainnya lebih penasaran untuk mencoba rumah hantu milik tim hitam dan berbaris panjang hanya untuk mengantre. Anehnya, saat mengecek ke bagian dalam, Fori sendiri merasa tidak ada apa pun yang berubah di sana. Baginya, semuanya masih sama payahnya dengan yang sebelumnya. "Kau tahu apa yang terjadi kepada mereka?" tanya Fori kepada Siska dengan ekspresi wajah yang heran. "Kenapa mendadak semua orang ketakutan dan menjerit-jerit histeris di dalam?" "Entahlah," jawabnya sambil mengangkat bahu. "Apa mungkin Xynth menghipnotis mereka? Mereka semua seperti berhalusinasi setelah masuk ke dalam stand kita." "Ah, tidak mungkin. Bagaimana cara dia menghipnotis mereka? Dia bahkan tidak menyentuh para pengunjung itu, kan?" Keduanya pun tertawa dengan raut wajah tidak yakin atas gurauan mereka sendiri. Namun karena mereka sudah kebanjiran pengunjung, tidak seorang pun dari mereka yang mempedulikan keganjilan itu lebih lanjut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN