Di tempat lain, Hannah terlihat luar biasa kesal karena stand-nya mendadak sepi. Ia telanjur mengumumkan sendiri kepada para audiens bahwa alat milik mereka rusak dan kini para pengunjung mereka langsung ludes.
"Kalian lihat stand tim hitam sekarang sangat ramai?" tanya salah satu anggota tim kuning di sana.
"Memangnya apa yang bisa mereka lakukan jika semua peralatan dan kostum mereka sudah hancur semua?" celetuk yang lain.
"Tapi semua pengunjung yang keluar dari sana sepertinya sangat ketakutan. Mereka memiliki cerita yang berbeda-beda tentang apa yang mereka alami di dalam, yang jelas mereka benar-benar terlihat sangat histeris. Rumah hantu tim hitam sedang menjadi bahan pembicaraan di seluruh festival ini. Apa tidak sebaiknya kita ikut melihat ke sana?"
"Kita ke sana saja," ucap Hannah mendadak. "Dia kan tadi memang mengundang kita untuk datang. Jadi akan lebih bagus kalau kita semua datang saja dan balas perlakuan mereka yang mempermalukan kita tadi!"
Hannah kemudian berdiri dari kursinya dan segera berjalan bersama rombongan timnya untuk menuju ke area tim hitam. Namun begitu tiba, mereka tidak melihat apa pun di sana selain stand tim hitam yang kosong melompong.
"Kalian yakin tempatnya di sini?" tanya Hannah.
"Iya," jawab salah satu anggotanya dengan bengong.
Hannah langsung meledak dalam tawa melihat tidak ada antrian panjang di sana dan tidak ada suara apa pun yang menandakan bahwa sedang ada aktivitas di dalam rumah hantu tersebut.
"Apa mungkin kita salah tempat? Tapi di sana benar-benar ada tulisan rumah hantu, kok!"
Hannah mencoba masuk dengan membuka sebuah tirai pembatas lalu mengintip ke bagian dalamnya. Ia pun segera disapa dengan udara dingin yang tiba-tiba bertiup ke arah tengkuk lehernya.
Gadis itu melihat banyak kabut lembab di sana dan daun-daun kering yang berterbangan mengikuti semilir angin. Ia berjalan ke dalam dengan enteng dan melihat dirinya mendadak seperti berada dalam sebuah daerah persawahan yang padinya telah menguning, dengan deretan rumah kosong para petani di salah satu sisi jalannya. Hannah terkaget-kaget di tempatnya karena apa yang diilihatnya sangat mirip dengan pemandangan asli.
"Kalian lihat ini? Lumayan juga mereka! Bagaimana mereka bisa membuat setting lokasi seperti ini?'" tanya Hannah sambil menoleh ke arah semua temannya. Namun betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat ke belakang, yang ia temukan di belakangnya kini hanyalah jalanan kosong semata tanpa ada siapa pun.
Hannah terperangah di tempatnya saat menyadari bahwa ia kini berada di daerah yang bukan lagi lingkungan universitasnya. Ia berusaha menggapai-gapai udara kosong di sekelilingnya dengan harapan bahwa ia berada di suatu tempat yang hanya berupa ilusi atau trik tipuan mata saja. Sayangnya. ia ternyata tidak menyentuh apa pun dan hanya seperti menjulurkan tangannya ke udara.
Setelah sadar bahwa ia seperti orang gila sendiri dan khawatir ada kamera yang ditempatkan di sana untuk merekamnya, Hannah berbalik sambil menarik napas panjang. Ia berusaha menenangkan dirinya dan kembali berjalan dengan teratur untuk menyusuri jalanan di depannya.
Kini ia seolah melewati berbagai lumbung padi serta deretan rumah petani yang sepi. Namun saat ia berjalan masuk untuk melihat ke sana sini, tidak ada siapa pun di sana bersamanya.
Gadis itu seperti tengah berada di sebuah desa mati yang telah lama ditinggalkan. Dedaunan kering menumpuk di mana-mana beserta sarang laba-laba tebal yang menghiasi sudut-sudut dinding di sana. Ia kembali ke jalan utamanya tadi dan lagi-lagi melangkah sambil melirik ke kiri dan kanan ditemani hanya cahaya lampu jalanan yang temaram.
"Halo...?" teriak Hannah di jalanan kosong melompong itu, tetapi tidak ada seorang pun yang menyahutnya.
Wajahnya mulai panik. Ia tahu benar bahwa ruangan yang disediakan panitia untuk tim hitam memang lebih besar dari stand lainnya karena mereka akan menggelar rumah hantu. Namun ia juga tahu kalau daerah yang dilalui Hannah saat ini jelas sudah melebihi batas luas ruangan yang dipinjamkan panitia bagi tim hitam. Hannah jadi curiga kalau ia memang bukan benar-benar sedang berada di kampusnya saat itu.
"Halo...? Apakah ada orang di sini?" teriak Hannah sekali lagi. Namun hanya gema suaranya sendiri yang menyapa balik wanita itu dari udara.
Tempat apa ini? Hannah menggumam dengan bingung dalam dirinya.
Mendadak gadis itu mendengar ada suara-suara tertentu di rumah petani bagian terujung dari rumah-rumah lainnya. Ia mendekat ke arah sumber suara dan mendengar sebuah radio kuno tengah memutar musik tradisional dalam bahasa daerah tertentu. Hannah berjalan mendekat dan berharap dapat menemui seseorang di sana.
"Permisi...?" sapanya dengan sopan. "Halooo?"
Anehnya, lagi-lagi tidak ada siapa pun di sana. Namun beberapa detik kemudian, Hannah tiba-tiba dapat mendengar ada suara benturan-benturan halus dari dalam gudang kecil tempat rumah itu menyimpan padinya.
Gadis itu melangkah mendekat ke arah gudang tersebut secara perlahan dan mendengar suara benturan itu terus berbunyi dari dinding bagian dalam gudang di depannya, seolah ada sesuatu yang tidak mau berhenti bersuara dari sana. Kini ia berdiri di depan pintu gudang tersebut dan bermaksud membukanya, tetapi matanya langsung mendelik kaget karena melihat pintu itu seperti disegel menggunakan rantai dan gembok yang berukuran sangat besar.
Hannah juga baru sadar bahwa sejak awal semua dinding kayu di gudang tersebut tertutup dengan palang kayu tebal lainnya. Ia pun mulai merasa ada sesuatu yang sengaja dikurung di dalamnya dan membuatnya kini berusaha mengintip dari lubang kecil di sela-sela dinding kayu.
Bagian dalam gudang tersebut sebenarnya cukup gelap. Namun sorot cahaya kuning dari luar yang menerobos masuk melalui lubang-lubang lainnya di dinding gudang, membuat Hannah leluasa mengintip kondisi di bagian dalamnya meski samar.
Banyak jerami kering di dalam gudang padi tersebut dan juga wadah kayu yang mirip seperti tempat makan hewan ternak yang berukuran besar. Mata Hannah terbelalak kaget saat melihat ada seorang petani yang sedang meringkuk di bawah lantai dengan tubuh terpasung.
Rupanya, ia yang sejak tadi bersuara dengan cara membenturkan kepalanya berkali-kali ke dinding karena... entah sedang berusaha meminta dilepaskan dari sana atau tengah meminta hal-hal lainnya. Gadis itu terhenyak ketika menyadari bahwa baju jerami yang sedang dikenakan oleh petani tersebut penuh dengan simbahan darah dari bagian atas hingga ke bawahnya.
Orang itu seperti baru berkutat dengan sesuatu yang mengerikan di dalam sana. Udara busuk dan amis juga menyeruak ke luar dan membuat Hannah seketika merasa mual. Gadis itu pun mulai curiga akan sesuatu dan merinding.
Ia mundur sedikit dan melihat sekelebat kehadiran seseorang di bagian luar gudang, tetapi ia mengabaikannya lagi ketika merasa tidak ada sosok apa pun maupun suara yang muncul dari sana. Hannah pun kini kembali mengintip dari lubang lain untuk melihat lebih jelas ke dalam gudang dengan tubuh yang tegang.
Cahaya yang masuk dari bagiannya membuat Hannah kini bisa melihat lebih jelas ke arah dinding-dinding bagian dalam gudang itu yang ternyata dipenuhi bekas cakaran orang-orang yang sepertinya pernah berusaha keluar dari sana. Yang paling mengerikan, ia baru menyadari bahwa tak jauh dari pria yang dipasung tadi, ada sebuah wadah kayu tempat makanan besar yang penuh cipratan darah --- yang sepertinya sering diisi sesuatu untuk sajian makanan baginya.
Hannah melongok lebih tinggi dan kini mulai setengah menjerit ketika melihat ada sisa-sisa potongan tubuh manusia yang masih tersisa di dalam wadah tersebut. Bentuk sisa tubuh mayat itu menunjukkan kalau ia seperti habis dimangsa oleh hewan buas dan itu berhasil membuat tubuh Hannah kini semakin bergidik ngeri.
Ada banyak lalat yang mengitari mayat tersebut dan membuat Hannah semakin merasa mual. Ia pun bergerak mundur dengan jantung seperti mau meledak karena rasa takut yang merasukinya.
Gadis itu baru tersadar bahwa ia mungkin sedang berada di kampung petani yang kosong karena wabah infeksi tertentu pada jaman dulu --- yang membuat semua orang di kawasan itu saling memakan sesama manusia. Hannah pun bergerak perlahan untuk kabur dengan tubuh bergetar hebat.
Ia tahu jika ada yang dikurung dan selalu diberi makan di dalam gudang tersebut, maka pasti ada pihak lain yang merawatnya selama ini. Hannah jelas tidak boleh bertemu dengan pihak itu.
Sayangnya ia terlambat melakukannya. Baru saja membalikkan tubuhnya untuk berlari kabur, sebuah pukulan keras dengan sekop tiba-tiba mendarat di kepalanya dan membuat gadis itu terhuyung-huyung mundur dengan pandangan mengabur.
Seorang wanita petani tua yang bertubuh sangat kurus, muncul di belakang Hannah. Wanita dengan wajah kempot yang mengerikan itu menyenandungkan lagu tradisional dari mulutnya ketika melihat Hannah terjatuh ke tanah dan kesusahan bergerak.
Dengan tangannya sendiri yang kotor dan berbau anyir, ia lalu mengikat tangan Hanah pada sebuah gerobak besi dengan wadah kayu besar di atasnya, sebelum kemudian memasukkan tubuh gadis itu ke dalam wadah kayu. Wanita tua itu juga mengikat kaki Hannah dengan kencang dan membuat gadis itu tidak bisa bergerak lagi di dalamnya.
Kini Hannah merasakan sakit yang nyata di kepalanya dan juga keringat yang mengalir dari tubuhnya. Ia juga bisa mencium berbagai aroma busuk di wadah tempat tubuhnya diletakkan dan melihat secara samar bekas-bekas darah yang menempel di bagian dalam wadah tempatnya diletakkan. Gadis itu kini tahu bahwa ia sedang berada dalam bahaya besar.
"Lepaskan aku!" teriak Hannah sambil berusaha melepaskan diri. Namun saat melakukannya, wajahnya mengenai bekas darah di dinding wadah dan ia langsung menjerit histeris dengan perut yang mual.
"To-tolong! Lepaskan aku!" teriak Hannah lagi.
Wanita tua bertubuh kurus itu tidak mempedulikan jeritan-jeritan Hannah dan malah semakin keras bersenandung. Setelah memastikan bahwa ikatan di tangan dan kaki Hannah sudah cukup kencang, ia kemudian mendorong gerobak berisi tubuh Hannah itu untuk mendekati pintu gudang tadi dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa tradisional yang terdengar seperti waktu makan akan tiba.
Hannah semakin memberontak dan menjerit-jerit di sana ketika wanita tua itu membuka kunci gembok dan rantai yang menutupi pintu tadi. Tubuhnya sudah penuh dengan bekas darah yang sangat berbau amis, saat derit pintu kayu di depan mereka akhirnya terbuka.
Dengan hati-hati, wanita tua itu membawa Hannah ke bagian dalam gudang yang suram. Hannah yang mendongakkan wajahnya kini dapat melihat lebih jelas bahwa begitu banyak anak-anak para petani yang juga tengah dipasung di setiap sisi dinding gudang itu dan mereka semua tampak sangat kelaparan.
Bola mata mereka semua putih dan pakaian di badan mereka sangat lusuh. Bagian wajah dan mulut mereka juga penuh bekas darah, seolah mereka sering memangsa makluk-makhluk hidup lainnya sebagai santapan mereka selama ini.
Mereka semua bergerak cepat dengan menyeret rantai pasung mereka ke bagian tengah gudang, ketika wanita tua itu membawa Hannah yang semakin menjerit-jerit histeris untuk masuk ke sana. Gerombolan makhluk aneh itu terlihat menunggu dengan tidak sabar saat gerobak Hannah mulai diluncurkan ke arah mereka dengan menggunakan penggerak roda di dalam gudang.
Di bagian kiri dan kanan gudang itu tampak begitu banyak bekas bangkai para petani dewasa yang sepertinya juga dijadikan mangsa mereka selama ini. Mata Hannah terbelalak ngeri ketika menyadari gerobak yang berisikan dirinya telah diluncurkan perlahan ke bagian tengah ruangan.
Gadis itu pun menghentakkan tubuhnya dengan keras berkali-kali dari dalam gerobak saking dipenuhi rasa ketakutan. Seluruh tenaga dikerahkan Hannah untuk mengeluarkan dirinya dari dalam wadah kayu tersebut, tetapi ia justru terjungkal dari dalam gerobaknya dan tubuh Hannah kini menggelinding di lantai gudang.
Hannah terhenyak saat menyadari bahwa kini dirinya sudah berada di sisi kiri gudang, tempat seorang petani dewasa --- yang sempat diintip oleh Hannah dari luar tadi --- berada. Makhluk mengerikan itu kini menoleh dan memandangi Hannah dengan bola mata putihnya yang tajam.
Lalu sebelum Hannah sempat bergerak, tubuhnya yang mematung sudah direngkuh oleh makhluk pemakan manusia tersebut. Yang tersisa dari suasana di gudang padi itu selanjutnya hanyalah... suara teriakan melengking dari Hannah dan suara geraman-geraman makhluk yang kini mencabik-cabik tubuh mulus gadis itu dengan buas.
---
"Kau yakin kau tidak berlebihan menakutinya?" tanya Rigel sambil berjalan mendekat ke arah Xynth yang sedang melihat Hannah ditandu keluar oleh banyak anggota tim hitam dari bagian dalam rumah hantu mereka.
Tubuh gadis itu terlihat masih bergerak-gerak memberontak ke arah orang-orang tim hitam yang bermaksud mengangkatnya keluar dan ia menjerit-jerit tanpa henti di sana. Gadis itu bahkan tidak mampu berdiri dari tempatnya ketika sudah diturunkan dari tandu dan itu membuat tim hitam semakin kesusahan mengevakuasi dirinya yang histeris ketakutan.
"Kau curang, Xynth! Kau sudah menggunakan kekuatanmu untuk menakuti semua pengunjung di tempatmu," timpal Antares memprotes tindakan Xynth.
Meskipun begitu diam-diam ia ikut menikmati pandangan menarik di depan matanya bersama banyak orang-orang lainnya di festival itu --- yang semuanya juga terbengong-bengong melihat reaksi super ekstrim Hannah.
"Kau sudah jelas akan memenangi pertandingan di masa orientasi ini, Antares," ujar Xynth kepadanya. "Di saat kami membutuhkan proses lama untuk menarik satu pengunjung masuk ke tempat kami, kau hanya butuh satu menit untuk membuatkan mereka minuman.
"Jelas di akhir festival ini, stand-mu akan mendapatkan angka tertinggi dalam hal jumlah pengunjung, meski stand lain memiliki antrian panjang peminat untuk masuk dan menjadi yang terpopuler. Buat apa aku tidak menggunakan kekuatanku jika aku sudah tahu kalau aku akan tetap kalah hari ini?"
"Wah, Xynth, ternyata kau membaca cepat strategiku. Pantas tadi kau mengunjungi stand kami berdua ya? Rupanya kau ingin melihat tim mana yang berpotensi menang hari ini," ucap Antares dengan wajah cengengesan.
"Kau benar!" lanjutnya. "Sebagus apa pun orang menghias stand mereka atau seenak apa pun orang menjual makanan di festival ini, pemenangnya akan tetap stand yang lebih cepat menarik pengunjung dan paling cepat memuaskan pengunjung. Itu makanya aku memberi ide menjual minuman dingin kepada ketua timku kemarin."
Wajah Rigel seketika mendekat ke arah Xynth dengan tatapan kesal. "Jadi dari tadi kau sudah tahu Antares akan menang makanya kau langsung menggunakan kekuatanmu? Masalahnya, kenapa kau tidak memberitahuku juga, Xynth?! Kau lihat kondisi tanganku sekarang? Tanganku sampai saat ini tidak mau berhenti mengipas sendiri saking banyaknya pesanan sate yang masuk ke kami sejak tadi!"
Xynth tersenyum melihatnya dan Antares langsung terpingkal-pingkal.
"Ah, kalian menyebalkan sekali! Sekarang aku akan menggunakan kekuatanku saja untuk membakar semua sate itu," seru Rigel sambil membalikkan badannya untuk kembali ke stand tim biru, diikuti Xynth yang berjalan masuk ke rumah hantunya.
"Jangan lupa janji kalian!" teriak Antares dari tempatnya kepada mereka sebelum keduanya berlalu. "Kalian berdua harus berkencan dengan manusia jika kalian kalah dan kalian tidak boleh mengingkarinya!"