Ajakan Kencan Dari Xynth

2134 Kata
Fori memukul pundaknya yang pegal dan ia berjalan letih setelah membuang begitu banyak sampah bekas festival. Sabtu malam itu, ia dan semua tim yang kalah diwajibkan menjalani hukuman membersihkan seluruh area festival di kampusnya yang baru saja ditutup. Berbeda dengan saat menjalani permainan di masa orientasi di mana seluruh peserta begitu bersemangat, ketika menjalani hukuman bersih-bersih hanya separo dari timnya yang tersisa untuk membantu. Sisanya memakai berbagai alasan untuk langsung pulang. Ada yang mendadak sakit perut, ada yang pusing-pusing, bahkan ada yang beralasan bahwa hewan peliharaan mereka baru saja mati. Fori mengira itu hanya terjadi di timnya. Namun hal serupa ternyata juga terjadi pada dua tim lainnya yang kalah. Saat harus menjalani hukuman, banyak dari mereka yang menghilang dan itu mengakibatkan setengah mahasiswa baru yang tersisa di sana, bekerja ekstra keras untuk membongkar stand dan membersihkan sampah serta lain-lainnya. Fori baru saja membuang seplastik besar bekas sampah festival di tempat pembuangan sampah, ketika mendadak Hannah muncul di belakang Fori. Gadis itu terlihat bingung, ketakutan dan sedikit ragu untuk berbicara dengan Fori. Namun saat akan membalikkan badan untuk membatalkan niatnya berbicara, Fori langsung memanggilnya. "Apa yang mau kau katakan padaku?" tanya Fori kepadanya. Ia sebenarnya malas berbicara dengan Hannah, tetapi ia telanjur melihat musuh besarnya sejak SMP itu juga seperti memiliki konflik batin untuk menemuinya. "A-aku...," ucap Hannah seolah berusaha keras menyelesaikan kata-katanya dan kemudian terdiam sejenak. "Aku... ingin meminta maaf kepadamu." Fori terkejut melihat Hannah menundukkan kepala di depannya sambil meremas-remas bagian depan blouse hijau muda yang sedang ia kenakan. Gadis itu bahkan sebelumnya tidak yakin kalau orang seperti Hannah mengenal kata 'maaf' dan mau mengucapkannya. "Minta maaf?" "Aku sudah melakukan hal jahat kepadamu dengan menyabotase alat-alat timmu untuk pertandingan hari ini. Aku ingin minta maaf untuk itu." Fori mengernyitkan alis matanya. "Kenapa kau melakukannya?" Kali ini Hannah menatap Fori dengan wajah sedikit kesal. "Apa aku juga harus menjelaskan kenapa aku melakukannya?" "Kenapa kau melakukannya?" ulang Fori lagi dengan nada lebih tajam . Hannah terlihat tidak sabar dan ingin meluapkan emosinya karena merasa ditekan, tetapi ia kemudian menahan dirinya. "Itu... hanya perbuatan iseng saja. Kami hanya bercanda saat itu. Kau kan tidak perlu terlalu serius menanggapinya! Bukahkah itu hal yang biasa terjadi di antara kita sejak dulu?" Fori menatap wajah Hannah dengan menahan gejolak amarah dalam dirinya. Gadis di depannya itu tidak terlihat seperti merasa menyesal sama sekali ketika mengucapkannya. Ia seolah datang untuk meminta maaf kepada Fori hanya karena merasa terpaksa. "Iseng? Bercanda?! Setelah selalu mempermalukanku di depan umum dan menghancurkan seluruh barang-barang kami di ruang penyimpanan barang tim hitam, kau ingin meminta maaf dan mengatakan bahwa kau hanya bercanda dan itu hanya perbuatan iseng reguler kalian?" "Menghancurkan seluruh barang di ruang penyimpanan tim hitam? Apa maksudmu?" tanya Hannah seperti kaget mendengar ucapan Fori barusan. "Kami hanya membuang semua alat-alat kalian di tempat sampah ini sore tadi." "Berhenti berpura-pura Hannah!" seru Fori dengan kesal. Gadis itu menghela napas panjang melihat wajah defensif Hannah dan kini semakin yakin bahwa Hannah tidak bersungguh-sungguh untuk minta maaf kepadanya. "Kau seharusnya sudah puas selalu menyiksaku saat kita di sekolah dulu, tetapi bahkan sampai kita sudah kuliah sekarang kau tidak mau berhenti melakukannya. Sekarang, dengan mudahnya kau bilang itu hanya hal biasa di antara kita. Hal biasa? Kau selalu berusaha menghancurkan seluruh hidupku tanpa sebab dan kau bilang itu hanya hal biasa yang terjadi di antara kita?!" Fori berhenti sejenak untuk mengambil napas setelah meluapkan emosinya yang menumpuk selama ini. "Kumohon kepadamu Hannah, pergilah dari kehidupanku! Menjauhlah dan anggap saja aku tidak pernah ada di sekitarmu karena hanya itu yang akan membuatku tenang darimu! Apa itu pun susah untuk kau lakukan?!" "Tapi, Fori, aku benar-benar ti---" Buuukk! Fori tidak mendengarkan Hannah dan membuang kardus-kardus sampahnya dengan keras di sana. Ia lalu membuka sarung tangan plastik dari tangannya, lalu pergi dengan kesal setelah juga membantingnya ke tumpukan sampah fakultas mereka. Saat ia akan membelok menuju lorong kampus, gadis itu berhenti secara tiba-tiba. Ia melihat Xynth sedang berdiri dengan menyandarkan punggungnya di balik tembok bagian lorong dan kini menatap Fori dengan tajam, seolah ia telah mendengar seluruh pembicaraan Fori dan Hannah tadi. "Kau yang menyuruhnya datang mencariku ke sini dan minta maaf kepadaku?" tanya Fori seraya menghampiri Xynth yang sedang berdiri dengan satu kaki ditekuk ke tembok. Gadis itu masih mengatur napasnya akibat baru saja marah kepada Hannah dan setelahnya ikut menyandarkan punggungnya di tembok tepat di sebelah Xynth. Keduanya kemudian melihat Hannah melintas pergi dari depan mereka. Gadis itu sempat melirik sebentar ke arah Fori dan Xynth dengan pandangan kesal yang bercampur rasa malu. "Kau lihat itu," ujar Fori kepada Xynth. "Dia tidak bahkan terlihat menyesal sama sekali!" "Setidaknya dia sudah datang dan mengatakannya kepadamu," komentar Xynth dengan nada pelan. "Jika seumur hidup dia belum pernah meminta maaf darimu... dengan mengucapkannya kepadamu saja kali ini pasti sudah menjatuhkan harga dirinya. Jadi biarkan saja." "Kau tidak tahu apa saja yang pernah dia lakukan kepadaku dulu," ujar Fori masih terlihat kesal. "Aku bisa membayangkannya, tetapi aku tidak ingin mengetahuinya lebih detail. Seperti kubilang kepadamu sebelumnya, aku tidak ingin ikut campur urusan para wanita. Kalian semua sangat rumit dan merepotkan." Gadis itu tertawa melihat ekspresi wajah Xynth yang terlihat malas-malasan dan kemudian berdiri tegak lagi. Kedua bola mata bulatnya kini memandang ke arah Xynth dengan wajah curiga. "Ngomong-ngomong, bagaimana caramu melakukannya?" tanya Fori kemudian. Xynth mengangkat alis matanya. "Melakukan apa?" "Soal Hannah." "Ah, maksudmu, bagaimana membuat wanita itu meminta maaf kepadamu?" Xynth malah balik bertanya. Pria itu kemudian mengangkat bahunya sendiri. "Entahlah, ia datang sendiri kepadaku tadi untuk meminta maaf soal kasus sabotase itu. Aku hanya menyuruhnya meminta maaf langsung pada ketua tim hitam dan bukan kepadaku." "Bukan," jawab Fori dengan cepat. "Maksudku, bagaimana kau membuatnya takut terhadapmu? Dia tadi sepertinya sangat histeris ketakutan di rumah hantu kita. Pengunjung yang lain juga begitu." "Entahlah, mungkin mereka benar-benar melihat hantu di dalam tadi. Kau tahu kan, wilayah kampus kita ini di dekat hutan buatan angker kemarin. Mungkin beberapa hantu dari sana benar-benar datang tadi dan mengganggu para pengunjung stand kita," jawab Xynth dengan asal-asalan. Fori terlihat bergidik. "Hantu hutan kemarin? Kurasa itu sangat mungkin. Hihhh! Sepertinya kemarin aku juga bermimpi terjun ke danau saat berada di hutan itu." "Kalau kau sangat penakut seperti itu seharusnya kau tidak menyarankan tim hitam menggelar rumah hantu untuk acara festival tadi," celetuk Xynth mengulum senyum di wajahnya sambil melirik ke arah Fori yang terlihat ketakutan sendiri. "Tapi tadi... ada yang bilang mereka seperti merasa berada di alam lain. Ada juga yang yakin kalau mereka melihat setan dengan wujud yang terasa sangat nyata. Lalu, ada juga yang bilang kalau mereka merasa dikejar-kejar zombie tadi," kata Fori sambil memiringkan kepalanya dengan wajah bingung. "Anehnya tidak ada dari kita yang memakai riasan wajah zombie sama sekali." "Mungkin hanya orang-orang tertentu dengan karakter sangat buruk dan jahat yang akan merasakan teror psikologis seperti itu. Terkadang, hal seperti itu datang sebagai refleksi dari alam bawah sadar mereka, atas rasa bersalah mereka akan sesuatu yang buruk yang pernah mereka lakukan sebelumnya," jawab Xynth dengan cuek sambil melangkah perlahan meninggalkan Fori. "Aku serius," kata Fori padanya sambil mengejar Xynth. "Bagaimana kau membuat mereka semua takut?" "Aku tidak melakukan apa pun." "Bohong, apa kau menghipnotis mereka?" Xynth tidak menjawabnya dan hanya tertawa saat kepala Fori membentur punggungnya ketika pria itu menghentikan langkahnya dengan mendadak. "Hipnotis? Kau benar-benar wanita yang suka berhalusinasi, ya?!" "Wah, kau tertawa," gumam Fori dengan pandangan terpana ke arah wajah Xynth. Rasa marahnya kepada Hannah seketika hilang ketika melihat tawa di wajah pria itu. "Baru pertama kalinya aku melihat kau tertawa. Ternyata wajahmu tidak selalu judes dan merengut, ya?!" Xynth mengangkat telunjuk jarinya dan mendorong pelan kening Fori ke belakang . "Jangan terlalu mendekatkan wajahmu kepadaku. Kau membuatku merasa tidak nyaman." "Sekarang kau sudah mulai merengut lagi," ujar Fori sambil mundur selangkah dengan telunjuk Xynth masih di kepalanya. "Aku? Merengut?" "Ya, wajahmu kalau merengut sangat jelek seperti ini," kata Fori sambil berusaha mencontohkan wajah marah Xynth di sana dan membuat Xynth kembali tertawa. "Ngomong-ngomong Fori,"---ucap Xynth mendadak seolah teringat sesuatu---"aku tadi ke sini mencarimu karena ada yang ingin kubicarakan. Saat di kantor polisi dulu, kau bilang kepadaku kalau kau akan mengabulkan permintaanku apa saja, kan?" "Ya," jawab Fori dengan kikuk karena kembali mengingat akan hal memalukan di kantor polisi bersama Xynth dulu. "Kau punya waktu besok?" tanya pria itu secara tiba-tiba kepadanya. "Besok?" "Ya, aku sedang menagih janjimu kepadaku. Besok aku ingin kau menemaniku seharian." Fori melongo dan menatap wajah Xynth dengan pandangan aneh yang menuduh. "Kau ingin aku menemanimu seharian? Apa kau sedang... merencanakan sesuatu yang tidak-tidak?" "Jangan berpikir yang aneh-aneh," cetus Xynth dengan kesal begitu melihat ekspresi curiga di wajah Fori. "Karena besok hari Minggu, aku hanya akan memintamu menemaniku ke wahana bermain yang baru di dekat sini." Fori bengong di tempatnya. "Xynth, kau... sedang mengajakku kencan?" "Kau boleh memikirkannya seperti itu," jawab Xynth bingung harus menjelaskannya seperti apa. "Kau bisa, kan?" Wajah Fori segera memerah dan ia sedikit menunduk malu. "Y-ya..., aku bisa, tapi... kau yang akan membayar semuanya, kan?" Xynth seketika terlihat mendelik kesal. "Bagaimana mungkin kau bahkan berpikir soal uang di saat aku mengajakmu keluar dengan susah payah?! Kalau aku yang mengajakmu, ya jelas aku yang akan membayar segalanya! Sangat tabu bagiku dibayari perempuan untuk hal seperti itu saja!" "Hehe...." Fori menggaruk kepalanya melihat Xynth komat-kamit tidak jelas. Ia sedikit malu karena baru saja keceplosan mempertanyakan hal yang sepertinya tidak etis bagi Xynth. "Kau harus maklum," ujarnya kemudian. "Aku kan gadis panti asuhan yang bahkan untuk sekolah saja harus dibiayai oleh yayasan." Xynth terdiam mendengarnya. "Sudahlah. Jadi... kau bisa besok?" "Baiklah, jam berapa?" "Siang saja. Aku akan menghubungimu untuk memberi tahu waktunya lebih tepat nanti. Kita bertemu langsung di sana saja." "Menghubungiku? Memangnya kau tahu nomor ponselku?" "Aku pasti akan tahu nanti," jawab Xynth dengan cuek. Ia melihat kedua temannya sudah menunggunya untuk pulang, tak jauh dari parkiran gedung fakultas mereka. "Ah iya," ujar Xynth lagi kepada Fori setelah melihat Rigel. "Tolong bawa satu teman perempuanmu untuk ikut denganmu. Aku juga akan bersama salah satu dari dua temanku di sana." "Temanku? Siapa?" "Siapa saja, itu tidak masalah. Yang penting sebisa mungkin datang berdua." Fori melihat Xynth berjalan ke arah dua temannya dan begitu Xynth pergi, ia langsung menunduk lemas di balik pilar. "Dia mengajakku kencan tapi aku harus membawa teman?" gumam Fori dengan mood yang langsung jatuh drastis. "Apa-apaan itu?!" Gadis itu membenturkan kepalanya di dinding dengan kecewa. Tapi...,---ujar Fori dalam hati setelah lama tenggelam dalam pikirannya,---kenapa Xynth tidak mengajak perempuan yang lain dan malah memilih untuk mengajakku? Jangan-jangan..., apa dia benar-benar menyukaiku? "Ah, tidak mungkin!" seru Fori dengan keras sambil tertawa kegeeran seraya memukul-mukul dinding pilar di hadapannya. "Apa yang tidak mungkin?" celetuk seseorang di belakang Fori secara tiba-tiba dan membuatnya hampir melompat kaget di tempat. Ia menoleh dan melihat Siska sedang melihatnya dengan tatapan bingung di bawah cahaya lampu lorong. "Siska, kau belum pulang?" tanya Fori kepada perempuan yang sedang melintas sambil membawa satu kardus sampah itu. "Ini sampah terakhir. Setelah membuang ini, aku akan segera pulang," jawabnya. "Ada apa denganmu? Kenapa sepertinya kau terlihat sedang senang?" "A-aku? Senang? Tidak, ah! Aku tidak sedang senang," jawab Fori dengan gugup dan berusaha menyembunyikan perasaannya. "Ah, iya! Siska, kau ada waktu besok siang?" tanya Fori teringat. "Kalau kau senggang, aku ingin mengajakmu ke luar jalan-jalan." "Aku bebas besok," tukas Siska sambil berusaha membenarkan letak kardus di tangannya. "Tapi... memangnya kita mau ke mana?" "Xynth dan temannya mengajak kita ke wahana bermain yang baru," ucap Fori antusias. "Kau mau ikut bersamaku, kan?" "Xynth?" ulang Siska denagan raut kaget. "Dia mengajakmu ke wahana bermain? Seorang Xynth?" "Ya. Kenapa dengan Xynth?" Kening Siska berkerut. "Aneh, dia tidak terlihat seperti pria yang ramah pada wanita apalagi mengajak seorang wanita untuk berkencan." "Aku tidak mengerti harus menyebutnya dengan kencan atau tidak. Ia tadi menyuruhku membawa satu orang teman lagi. Dia juga akan datang bersama seorang temannya." "Tapi kenapa dia mengajakmu dan bukan perempuan lain di kampus?" celetuk Siska dengan ekspresi wajah setengah tidak percaya. "Kau mau mengatakan bahwa aku tidak pantas jalan dengannya, ya?" tanya Fori dengan wajah yang langsung suram. "Ah, tidak. Hehe, maksudku bukan begitu," ujar Siska menjelaskan. "Maksudku lebih ke... apa dia benar-benar menyukaimu seperti yang dia utarakan kepada Hannah tadi?" "Nah, benar kan kau juga bepikiran begitu!" seru Fori kembali antusias ketika mendengar Hannah juga mencurigai hal serupa. Gadis polos itu seperti berusaha meyakini analisisnya sendiri dan langsung sumringah di tempatnya. "Kau mau ikut denganku, kan?" tanya Fori lagi setelah tenggelam dalam khayalannya sendiri. Siska terdiam dan terlihat menimbang sesaat. Namun karena Fori tidak berhenti memandangnya dengan mata memohon, akhirnya Siska tersenyum setuju. "Baiklah, aku akan ikut denganmu besok." Fori langsung melompat kegirangan di tempatnya. "Benar ya, Siska! Kau harus datang, ya! Aku akan menghubungimu lagi besok!" Fori melambaikan tangan kepadanya sambil berjalan pulang ke arah asrama kampus. Dari kejauhan, ia melihat Fori berbalik lagi ke arahnya dan berteriak mengingatkan bahwa Siska tidak boleh berubah pikiran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN