Pembunuhan di Kampus

2080 Kata
Siska tertawa melihat Fori menghilang dari pandangannya, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke tempat pembuangan sampah yang tak jauh dari sana. Setelah ia membuang kardus sampah itu di sana, mendadak ia mendengar ada suara langkah yang setengah berlari ke arahnya dari balik punggungnya. Ia mengira Fori yang kembali mendatanginya. Namun begitu ia membalikkan badannya, gadis itu melihat Hannah sedang memandang tajam ke arahnya dengan napas tersengal-sengal seperti habis berlarian mencarinya. "Hannah? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Siska dengan raut wajah yang terkejut. "Itu kau, kan?" ucap Hannah tiba-tiba dengan mata yang melotot ke arah Siska. "Kau kan yang melakukannya?!" "Aku? Melakukan apa?" tanya Siska lagi, kali ini dengan wajah bengong. "Aku tidak pernah merusak barang tim kalian. Aku hanya membuangnya di sini sore tadi, tapi aku ingat jelas kau ada di sana," ujar Hannah kepada Siska. "Aku lihat dengan jelas kalau kau yang terakhir ada di ruang penyimpanan tim hitam di aula fakultas kita, sesaat setelah aku dan tim kuning masuk ke sana untuk membuang barang-barang tim hitam." "A-apa maksudmu?" tanya Siska sambil melangkah mundur. Namun Hannah langsung maju mendekatinya dengan geram dan mencengkeram kedua bahu Siska. "Aku sedang menyiapkan alat timku ketika melihatmu masuk ke ruang penyimpanan milik kalian sendiri di belakang aula. Saat itu, aku baru saja membuang barang tim kalian. Kau adalah orang terakhir dari tim hitam yang ada di sana. Aku ingat karena aku cukup lama di aula. "Setelah kupikir-pikir... seharusnya kalau kau masuk pun, kau pasti akan langsung kaget melihat kondisi peralatan-peralatan tim kalian sudah tidak ada di sana. Seharusnya kau langsung melaporkannya, tetapi kau tidak mengatakan apa pun kepada timmu sampai mereka sendiri yang melihatnya. Kau yang melakukannya! Kau sengaja melakukan itu, kan?!" "Ha-Hannah, apa maksudmu? Aku tidak mengerti maksud ucapanmu. Aku tidak---" "Diam!" teriak Hannah dengan marah sambil mendorong Siska dengan keras hingga gadis itu terjatuh ke tumpukan sampah di sana. Siska langsung meringis kesakitan diantara tumpukan sampah fakultas mereka. "Kau sudah membuatku sampai dipermalukan di depan umum karena timmu mengira aku yang merusak barang mereka. Aku hanya membuangnya. Sementara kau yang merusaknya dan entah kenapa membawanya kembali ke ruang penyimpanan barang kalian. Aku yakin kalau aku benar. Aku tidak akan memaafkanmu, perempuan sialan!" "Kau pasti salah lihat, Hannah. Aku benar-benar tidak mengerti maksud ucapanmu. Yang kau lihat pasti orang lain," jawab Hannah dengan ketakutan. "Kau pikir aku buta dan bodoh?!" hardik Hannah dengan emosi membuncah. "Aku sudah sering berada dalam permainan tipu muslihat kotor seperti ini dan kau tidak akan bisa membohongiku dengan akting burukmu! Aku akan mengatakan segalanya kepada mereka semua. Aku akan mengatakan kepada mereka bahwa kau yang melakukannya!" Hannah baru saja membalikkan badannya untuk pergi, tetapi ia menghentikan langkahnya seketika karena mendadak ia mendengar suara Siska terkekeh dari arah belakang punggungnya. Hannah langsung menoleh dan melihat Siska berdiri perlahan dari tempatnya terjatuh dan tersenyum mengerikan ke arahnya. "Rumah hantu?" desis Siska kepadanya secara perlahan dari balik kegelapan malam. "Kau tahu... lama-lama aku merasa bosan memainkan permainan t***l para manusia itu. Entah mengapa aku merasa itu sangat konyol, jadi aku merusaknya seperti katamu tadi." "K-kau....," ucap Hannah dengan suara bergetar. Mendadak ia merasa ada yang aneh pada diri Siska. "A-aku akan memberi tahu Xynth dan Fori tentangmu!" "Kau tidak akan bisa melakukannya," bisik Siska kepada Hannah dari tempatnya berdiri dan kembali terkekeh. Suaranya mendadak berubah menjadi lebih dalam dan tenang seperti sesuatu yang menggema dari udara. "Apa kau pikir aku akan membiarkanmu mengatakan itu kepada mereka di saat-saat seperti ini?" "K-kau...?" Siska melangkah perlahan ke arah Hannah yang terkejut melihat perubahan sikap Siska. Ketika sudah berdiri di bawah pantulan sinar, Hannah langsung terbelalak kaget melihat wajah Siska. Kedua mata gadis itu mendadak berubah menjadi hitam semua dan terlihat begitu mengerikan. "Seharusnya kau tidak mengusikku, manusia. Seharusnya kau tidak perlu mengatakan apa yang kau lihat kepadaku secara langsung." Mendadak angin bertiup kencang di sana dan memecahkan semua lampu yang menyala di sekitar tempat pembuangan sampah. Situasi pun mendadak menjadi lebih gelap di tempat itu. Udara di sekitar Hannah juga berubah dingin seperti membeku dan ia bisa melihat beberapa sampah-sampah berterbangan ke udara. Hannah menyaksikan sebuah asap hitam yang dan mengerikan muncul dari dalam tubuh Siska dan merayap di sekeliling perempuan itu seolah itu merupakan warna asli tubuhnya. Gadis itu melotot ketakutan dan berusaha lari dari sana. Namun, ia bisa merasakan tubuhnya mendadak kaku dan tak bisa digerakkan sama sekali. Suara-suara sangat berisik seperti lengkingan yang mendesing mendadak muncul di kepala Hannah secara bertubi-tubi dan Hannah merasa telinganya tiba-tiba menjadi luar biasa ngilu. Ia juga merasakan bola matanya memanas saat menatap langsung gumpalan asap hitam di tubuh Siska yang perlahan berubah menjadi seperti bayangan gelap yang sangat besar. Darah segar muncrat dari mulut Hannah saat bayangan hitam raksasa itu semakin mendekat ke arahnya. Gadis itu gemetaran saat ia berusaha keras menutup telinganya yang terasa sangat sakit, tetapi ia gagal mengangkat lengannya --- tidak bahkan bisa menggerakkannya. Ia bisa merasakan darah terus mengucur dari mata, hidung, telinga, dan mulutnya tanpa henti. Tubuhnya bergetar hebat saat sebuah tiupan napas dari bayangan hitam itu menyentuh dirinya dan membuatnya merasakan bagian dalam tubuhnya mendadak panas membara. Hanya sedetik setelah itu, Hannah membuka mulutnya lebar-lebar. Urat matanya terlihat seperti mengakar di matanya yang melotot dan tenggorokannya terdengar seperti tercekat. Ia terlihat mengejang sesaat dan mematung, sebelum kemudian jantung gadis itu meledak dari dalam tubuhnya sendiri. --- Di tempat lainnya, Xynth yang tengah berada di mobil bersama Rigel dan Antares tiba-tiba berteriak kesakitan di tempatnya. Tubuhnya mengejang seketika di kursi jok belakang dan tidak berhenti bergetar kencang. Antares mengerem mobil mereka secara mendadak dan melihat ke arah Xynth dengan wajah yang sangat terkejut. "Xynth, kau baik-baik saja? Apa penyakitmu kambuh lagi?" Namun bola mata Xynth mendadak memutih saat Antares berusaha menyentuhnya. Antares lalu terpental sesaat setelah berhasil menyentuh Xynth. Meskipun begitu, dengan ujung jari-jarinya ia sempat merasakan suhu tubuh Xynth yang sangat panas seolah sedang terbakar dari dalam. "I-Ini bukan dari penyakitnya," ucap Antares dengan gagap kepada Rigel. "Ini dari---" "Quasar!" tukas Rigel langsung memotong ucapan Antares, ketika melihat Xynth mulai meremas-remas jantungnya sendiri. "Pak Tua Sol, di mana kau?" teriak Antares ke udara dengan mengirim telepati kepada Sol. "Pak Tua, cepat ke sini! Xynth dalam bahaya!" Panggilan Antares berhasil mendapat respons cepat dari pria itu. Pak Tua Sol muncul hanya beberapa menit kemudian di sana. Ketika ia tiba, ia sudah melihat kondisi Xynth kini sedikit membaik, tetapi wajahnya seperti masih mematung dengan lemas. "Kenapa dengan putra mahkota?" tanya Pak Tua Sol dengan cemas. "Quasar," gumam Rigel, masih terduduk di samping Xynth. "Xynth sepertinya kembali merasakan kehadiran quasar." "Kau tidak merasakannya kali ini?" tanya Antares kepada Pak Tua Sol. Pria tua itu menggelengkan kepalanya dengan wajah cemas. "Putra Mahkota, kau baik-baik saja?" tanya Sol sambil memegang bahu Xynth. Sentuhan tangan Sol seketika membuat Xynth langsung terbatuk-batuk. "Kau baik-baik saja?" Kini Xynth sudah sepenuhnya tersadar. Ia menggerakkan bola matanya dan melihat ke arah Sol dengan napas terputus-putus. "Quasar...," ucapnya kepada Sol dengan suara tertelan. "Ya, aku tahu," jawab Sol kepadanya sambil berusaha membantu Xynth untuk memulihkan dirinya sendiri. "Kau melihatnya? Quasar?" "Tidak," jawab Xynth kepada pria itu. "Aku hanya bisa merasakan kekuatannya yang sangat besar di sekitar sini. Dia tidak berada jauh dari kita." "Kau tahu di mana dia?" Xynth menggelengkan kepalanya. "Dia membunuh seorang manusia. Aku merasakannya sedang membunuh seseorang, tetapi aku tidak bisa lihat siapa yang dibunuhnya." Pria itu mendadak berbalik dengan cepat dan menatap ke arah Rigel. "Lima belas! Bagaimana dengan lima belas?" "Tadi aku sudah mengeceknya dengan kilat saat kondisimu memburuk. Saat ini lima belas sedang tertidur nyenyak di asramanya dan dalam kondisi baik-baik saja." "Jadi, siapa yang---" Ucapan Xynth terpotong karena ia kembali terbatuk. "Sepertinya kali ini karena hanya membunuh seorang manusia yang lemah, quasar itu tidak lama mengeluarkan kekuatannya. Itu sebabnya Xynth bisa lebih cepat pulih," ujar Sol. "Tapi Pak Tua," kata Rigel dengan ekspresi wajah yang aneh, "kenapa Xynth bisa terus menerus merasakan kehadiran quasar ketika makhluk itu sedang berusaha membunuh? Kenapa hanya Xynth yang bisa merasakan apa yang dilakukan seorang quasar di sini tubuhnya?" "Aku mengerti kalau saat itu kau juga bisa merasakan kehadirannya," lanjut Rigel lagi kepada Sol. "Namun itu karena quasar sedang memasuki bumi, tempat yang memang berada dalam nauganmu. Saat itu pun, ia langsung berhadapan dengan Betelgeuse dan pertemuan mereka membuat kekacauan di berbagai belahan bumi. Jelas kau akan bisa merasakan kehadirannya. "Tapi Xynth...," lanjutnya lagi, "kenapa Xynth seperti terus menerus bisa merasakan kekuatan quasar sementara yang lain tidak? Bukankah ini aneh? Apakah ada ikatan tertentu antara Xynth dengan para quasar?" Sol memandang Xynth dengan raut yang sama-sama penuh pertanyaan seperti Rigel. Ia lalu menghela napasnya. "Bisa jadi...," ucapnya, "bisa jadi karena Betelgeuse memberikan visualnya kepada Xynth lebih lama saat itu dibandingkan denganku. Mungkin saat itu ada sesuatu yang ditanamkan Betelgeuse ke dalam kepala Xynth sehingga Xynth bisa merasakan kekuatan quasar. Hanya Betelgeuse yang bisa menjawabnya." "Betelgeuse dalam kondisi tidak sadar, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita akan membiarkannya begitu saja atau kita langsung mencarinya?" tanya Antares dengan gusar. "Kau mau nekad mencari seorang quasar berkekuatan sangat besar dengan kekuatanmu yang tidak seberapa?" tanya Sol dengan mengangkat alis matanya yang kelabu. "Kau mau mati? Bahkan jika kalian semua digabungkan saja, kalian belum tentu akan mampu untuk melawan seorang quasar." "Tetapi kalau terus begini kondisi Xynth akan semakin berbahaya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kepada kita dalam waktu dekat jika membiarkannya begitu saja berkeliaran dengan bebas di sini," kata Antares lagi. "Justru karena kau adalah pengawal putra mahkota, maka kau tidak boleh gegabah untuk menunjukkan dirimu dengan sembarangan kepada monster itu," jawab Pak Tua Sol lagi. "Kau lihat apa yang terjadi kepada Betelgeuse karena dia nekad, kan? Vega sekarang sedang sangat kesusahan untuk memulihkan kekuatannya yang menghilang begitu saja. Kau mau menjadi sama sepertinya?" "Kapan ibu Xynth akan tiba di sini?" tanya Rigel tiba-tiba ke arah Sol. "Kaisar kemungkinan akan tiba di sini besok. Kita tunggu saja kedatangannya dan jangan dulu melakukan apa pun sampai ia mengeluarkan keputusan terkait ini," ucap Sol kepadanya. "Prioritas kita saat ini adalah melindungi putra mahkota dan jangan sampai ada sesuatu yang terjadi kepadanya sebelum ia bisa melakukan ritual pertukaran tubuhnya yang baru." --- Kilas Balik Game Hari Kedua Ketika Alpheratz Datang Untuk Menyerang Xynth Siska yang sedang berbaring di bawah bendera tim hitam mendadak mendongak ke langit bersamaan dengan munculnya angin kencang yang menerpa wilayah mereka. Ia merasakan ada sekelompok bintang yang tengah mengarah kilat memasuki wilayah hutan buatan kampus mereka. Siska berdecak dan mengangkat sebuah tangannya yang kemudian mengeluarkan asap hitam ke udara. Asap hitam itu bergerak dengan cepat menghantam semua gelombang di udara, lalu seketika membuat suara mendengung sesaat yang menghancurkan gelombang sinyal apa pun di sekitar sana. Bola matanya berkilat-kilat ketika melihat penampakan Alpheratz yang melesat dengan rombongannya dari atas langit. Dalam waktu sepersekian detik, pandangan matanya dan pandangan mata milik seorang pasukan Alpheratz yang bercadar merah bertemu. Salah satu pasukan Alpheratz itu pun berhenti di udara ketika melihat Siska memandanginya dari bawah. Siska segera tahu kalau bintang merah kecil itu akan segera menyerangnya. Ia pun menanti dengan senyum yang mendadak menyungging di wajahnya. Fori yang tengah berada di samping Siska sendiri terlihat bangkit dari posisinya berbaring dan langsung mengucek matanya dengan bingung. Ketika menoleh ke arah Siska, ia melihat temannya itu juga ternyata sudah bangkit dan seolah tampak bengong memandang situasi di sekitarnya yang mendadak terasa aneh. Ketika Siska baru akan membalikkan badannya ke arah Fori, sebuah lesatan sinar merah mendadak menghantam gadis itu dan membantingnya dengan keras hingga tubuhnya membentur tanah. Fori ternganga di tempatnya saat melihat Siska langsung tergeletak tidak sadarkan diri. Ia mengira Siska sudah terluka dan pingsan. Gadis itu ingin mendekat ke arah Siska, tetapi entah bagaimana, ia merasakan ada sesuatu yang mengerikan di sana dan membuat tubuhnya seketika refleks memilih mundur. Ia yang tiba-tiba merasa sangat ketakutan pun, sontak segera berlari menjauh dari tempat itu. Hanya beberapa detik setelah Fori berlari pergi, Siska beranjak bangun secara perlahan dari tanah sambil terkekeh dengan seluruh matanya yang kini sudah berubah menjadi hitam kelam. Ia kemudian duduk dengan tenang di atas panggung kayu base tim hitam dan memandang seorang pasukan Alpheratz yang kini sudah mengarah ke tempatnya dengan kecepatan kilat. Gadis itu dengan santai menoleh ke sisi lain hutan itu dan pandangannya menembus pepohonan saat melihat Xynth dan Alpheratz tengah bertempur di bagian depan. Ia lalu kembali menoleh ke arah pasukan bercadar merah Alpherats yang kini berada sudah tiba di depan tubuhnya dan melotot tajam ke arah pasukan Andromeda tersebut. "Pertempuran sesama bintang," desisnya kemudian sambil meledakkan seluruh tubuh pasukan Alpheratz tersebut hingga menjadi abu, sebelum menelan sinarnya sekaligus tanpa ampun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN