Kencan Ganda Yang Aneh

2254 Kata
[Jam satu, di depan gerbang wahana. Xynth.] Fori membaca pesan amat singkat dan padat yang dikirim Xynth sekali lagi. Pria itu mengirim pesan kepadanya jam sembilan pagi, tetapi baru masuk ke ponsel Fori jam sebelas siang. Fori pun menjerit histeris seorang diri karena memiliki tubuh pemalas yang membuatnya terbiasa tidur pagi di hari Minggu. Sebenarnya Fori sudah menunggu-nunggu pesan Xynth sejak pagi --- bahkan subuh. Namun karena tidak ada kabar, gadis itu jatuh tertidur jam sepuluh pagi dan mengira kalau Xynth mungkin batal mengajaknya ke wahana bermain hari itu. Sayangnya, sinyal di daerah panti asuhan Fori rupanya belakangan buruk karena sedang ada pembangunan tower raksasa di dekat sana. Itu membuat koneksi internet di Panti Asuhan Immaculatta sering mengalami gangguan dan penerimaan pesan messenger cenderung telat sampai. Akibatnya, Fori bahkan belum bersiap untuk pergi menemui Xynth. Saat itu sudah jam 11.30 dan Fori masih terbengong-bengong di kamarnya. Ia menjambak rambutnya sendiri dengan kesal, setelah membuat kamarnya yang terletak di lantai dua panti nyaris seperti kapal pecah. Fori sengaja ke panti asuhannya sejak pagi-pagi sekali demi mencari baju yang akan dikenakannya untuk berkencan dengan Xynth. Sayangnya, tidak ada satu pun bajunya yang bagus di sana. Selain kaos dan celana, seluruh baju dress yang ada di lemarinya sudah terlalu kuno dan bahkan sebagian ukurannya sudah tidak lagi layak untuk ia gunakan. Terakhir gaun yang Fori punya dan ia pikir cukup bagus sudah dikenakannya ke acara prom night SMA-nya dulu. Namun saat mengenakannya, ia ditertawai hampir semua angkatannya saat itu dan hal tersebut sukses membuat Fori trauma. Kini setelah membongkar isi lemarinya sekali lagi, ia baru tersadar bahwa seluruh hidupnya selama ini memang sudah digunakannya untuk membeli banyak hal tak berguna. "Arrrrggggghh!" teriak Fori seraya menjambak rambutnya sekali lagi. "Kenapa kau tidak meminjam baju Beth saja dibanding terus berteriak seperti itu?" tanya Suster Elsa dari depan pintu kamar Fori sambil mengintip kondisi di dalamnya yang sudah tidak lagi berbentuk. Sejak tadi, ia sudah mendengar teriakan-teriakan Fori yang berisik dari kamar sebelah dan merasa kesal. "Andai saja aku bisa menemukan Beth saat ini," gumam Fori dengan wajah yang suram. "Di mana dia?" "Entahlah," ujar Fori kepada Suster Elsa sambil melempar kembali satu per satu baju jelek di depannya. "Sudah beberapa hari ini aku tidak bisa menghubunginya. Terakhir Beth mengirim pesan kepadaku dan mengatakan kalau ia akan pulang ke rumahnya sebentar. Mungkin Beth masih di sana." "Kalau begitu kau pakai saja kaos dan jeans-mu," kata Suster Elsa. "Kenapa kau harus sampai sepusing ini hanya karena kencan dengan seorang pria yang baru saja kau kenal?!" Fori meringis. "Suster, aku akan kencan dengan laki-laki yang paling disukai wanita satu kampus kami dan kau menyuruhku memakai kaos dan jeans? Setidaknya, kau harus mendukungku untuk memakai dress yang layak." "Siapa pria itu?" tanya Suster Elsa dengan alis mata terangkat. "Kalau memang dia suka kepadamu, dia tidak akan peduli baju apa saja yang akan kau pakai dan sudah cukup senang dengan kehadiranmu." "Suster," ujar Fori hati-hati sambil menunduk, "Suster tidak pernah berkencan dengan laki-laki mana pun seumur hidup. Kenapa aku harus mendengarkan saranmu?" Buugggghhh! Suster Elsa melempar Fori dengan sebuah sepatu di sana. "Kau pikir sebelum aku menjadi suster seperti saat ini, aku tidak pernah dekat dengan kaum pria sama sekali?!" Fori mengusap kepalanya dengan wajah cemberut. Ia kemudian melihat Suster Elsa berjalan perlahan melewati kumpulan baju Fori di lantai dan melihat-lihat dress lama Fori. "Apa kau yakin memang harus memakai dress saat kencan ke taman bermain seperti itu?" Fori mengangguk. "Aku harus terlihat cantik hari ini. Biasanya kalau di film-film kan perempuan kalau kencan pertama akan memakai dress dan harus terlihat cantik." "Kau terlalu banyak menonton film-film aneh," komentar Suster Elsa dengan raut wajah yang menghakimi. "Kalau kau mau berjanji untuk merapikan kamarmu, aku akan memberikanmu kesempatan untuk mengecek baju donasi ke panti yang baru dikirim beberapa hari lalu. Aku masih meletakkannya begitu saja di gudang. Setahuku di sana ada beberapa yang cukup bagus. Karena kau bertubuh mungil mungkin akan ada yang pas di sana." "Ahhhhh!" seru Fori dengan senang sambil melompat kegirangan. "Baiklah Suster, aku akan segera merapikannya!" Hanya sejam kemudian setelah melempar begitu saja semua bajunya ke dalam lemari dan mencari-cari baju yang dimaksud Suster Elsa di gudang, Fori sudah berdiri rapi di depan cerminnya. Ia memakai shirt dress tosca menarik yang ditemukannya dari dalam karung baju donasi. Kebetulan sekali baju itu pas untuk ukuran tubuhnya yang kecil. "Bagaimana penampilanku?" tanya Fori ke arah Suster Elsa yang sedang menemani Rho, salah satu anak panti asuhan yang baru. "Lumayan bagus," jawab Suster Elsa tak acuh. "Suster, kenapa kau selalu pelit sekali untuk mengatakan kalau aku terlihat cantik?" ujar Fori dengan tampang cemberut. "Rho, lihat aku. Apa aku cantik?" Rho adalah anak laki-laki yang masih berusia enam tahun. Anak malang itu dibuang orang tuanya begitu saja di depan panti mereka beberapa hari lalu. Rho adalah seorang tuna wicara dan penyendiri. Ia juga tidak mudah bergaul dengan kebanyakan anak panti yang sebayanya. Itu makanya Suster Elsa sering menemani dan mengawasinya sendiri. Meskipun begitu, Rho adalah anak yang sangat pintar. "Lihat Suster, Rho bilang aku cantik," kata Fori setelah melihat Rho mengacungkan ibu jarinya yang kecil kepada Fori dengan senyum polosnya. "Cepat pergi, kau benar-benar berisik!" jawab Suster Elsa kepadanya dengan cuek. "Iya, iya!" tukas Fori mengalah. Ia kini menoleh ke arah Rho yang tengah menarik-narik ujung roknya seakan ingin ikut dengan Fori. "Jangan sekarang ya, Rho," bisik Fori kepadanya diam-diam sambil berjongkok di sebelah anak itu. "Nanti kapan-kapan aku akan menemanimu bermain dan menangkap kunang-kunang. Sekarang, aku harus pergi dulu untuk menemui Xynth. Dia pria yang kusukai." Rho menyodorkan kelingkingnya dengan cepat ke arah Fori seolah ingin mendesak Fori agar memenuhi janjinya kelak. Gadis itu pun langsung tersenyum dan kemudian menautkan jari kelingkingnya ke arah jari mungil Rho, sebelum kemudian mengacak-acak rambut Rho dengan gemas. --- Siang itu cuaca sangat cerah dan wahana bermain baru yang mereka datangi cukup ramai. Seharusnya hari Fori akan sempurna, tetapi semua khayalan indahnya tentang Xynth sejak kemarin langsung terpatahkan oleh teori kebumian Suster Elsa yang mengatakan bahwa, "jika seorang pria memang menyukai wanita, maka pria itu tidak akan peduli dengan baju apa saja yang wanita itu kenakan." "Kau...,"---ucap Xynth kepada Fori saat mereka semua bertemu di wahana bermain siang itu,---"kau kenapa memakai baju seperti itu?" Fori bengong di tempatnya. Ia melihat Xynth dan temannya yang bernama Rigel hanya mengenakan kaos dan celana pendek saja, sementara Siska mengenakan kaos dan celana jeans. Semuanya yang di sana memakai sepatu sneakers. Hanya Fori sendiri yang mengenakan shirt dress dan high heels saat itu. Fori pun mati kutu di sana dengan wajah memerah karena malu. "Kita ke wahana bermain dan kau memakai baju seperti itu ?" tanya Xynth lagi dengan ekspresi wajah yang heran. Satu pukulan lagi seolah menghantam wajah Fori dengan telak. Belum sempat ia membangun kepercayaan dirinya karena dirusak Xynth sejak awal, pria itu sudah memberi pukulan telak yang ketiga untuk meruntuhkan kepercayaan dirinya. "Bagaimana kau akan menaiki beberapa permainan ekstrim jika bajumu sependek itu dan kau memakai sepatu hak tinggi ke sini?!" "Ehm, tapi Fori terlihat cantik," ujar Siska mencoba menghibur. Fori sendiri tersenyum kikuk. Ia merasa malu karena terlihat seolah terlalu berusaha untuk tampil cantik di depan Xynth. "Aku sudah terbiasa ke wahana bermain dengan mengenakan baju seperti ini, jadi tidak masalah," ujarnya berbohong untuk menutupi rasa malu. "Ya sudah kalau begitu," ujar Xynth. Ia lalu mendekati Rigel dan keduanya lalu berjalan berdua begitu saja meninggalkan Siska dan Fori yang bengong di belakang mereka. "Kenapa dia meninggalkan kita seperti itu? Apa dia marah kepadaku karena bajuku?" tanya Fori kepada Siska dengan perasaan tersinggung. "Bukan hanya kepadamu," jawab Siska sama herannya. "Tadi saat kami menunggumu datang, mereka berdua juga seperti itu kepadaku. Mereka asyik berbicara sendiri dan melihat-lihat ponsel, sementara aku diperlakukan seperti orang yang terbuang." "Aneh sekali mereka," gumam Fori dengan wajah kesal. "Untuk apa mengajak kita ke sini dan menjalani kencan ganda kalau ternyata mereka hanya terus berdua?!" Fori dan Siska mungkin berpikir bahwa Xynth dan Rigel mengabaikan mereka, tetapi kondisi ternyata jauh berbeda di bagian depan. Rigel melirik ke arah Xynth yang sedang mengutak-atik situs pencarian di internet. Pria itu tampak sedikit panik melihat ke arah Fori dan Siska yang tampak kebingungan dan terus mengikuti mereka berdua dari belakang. "Xynth, kau sudah tahu apa yang harus kita lakukan?" tanya Rigel sambil memperhatikan Xynth yang terlihat terus memandangi ponselnya. "Tunggu sebentar," gumam Xynth yang sedang fokus membaca sebuah artikel dari situs pencarian. "Menurut situs ini, kita tidak boleh langsung mengajak perempuan ke tempat yang berair karena mereka pasti takut penampilan mereka akan berantakan. Kita juga tidak boleh mengajak mereka ke tempat yang terlalu panas karena mereka akan berkeringat dan itu katanya akan merusak dandanan mereka." "Kenapa perempuan rumit sekali? Jadi kita harus ajak mereka ke mana?!" tanya Rigel dengan panik. Kedua pria itu sama sekali belum pernah menjalani kencan, terlebih dengan manusia. "Mana aku tahu?! Sejak kapan aku tahu selera wanita di tempat bermain begini seperti apa?! Selama seribu tahun hidup di bumi, aku baru dua kali ke tempat seperti ini dan saat pertama itu pun aku tertidur karena merasa bosan." "Kau tahu aku juga paling benci permainan-permainan di wahana bermain seperti ini seperti aku benci naik pesawat manusia! Jadi sekarang apa yang harus kita lakukan untuk menyenangkan mereka?!" "Ini susahnya, kita berdua sama-sama belum pernah berkencan dengan wanita manusia," ujar Xynth sambil berpikir keras. Itu jelas membuatnya pusing tujuh keliling. "Xynth, kita bahkan belum pernah berkencan dengan siapa pun di Kiklios." "b******k, Antares!" umpat Xynth dengan penyesalan besar karena telah menerima taruhan Antares sebelumnya. "Dia pasti sedang tidur pulas di rumah sementara kita seperti orang bodoh di sini! Aku yakin ia akan tertawa kalau mendengar kita kebingungan menjalani kencan dengan manusia seperti sekarang ini!" "Tunggu sebentar, Xynth! Bukankah wanita suka apa pun yang manis-manis dan lucu-lucu? Apa kita ajak saja mereka masuk ke wahana itu?" kata Rigel sambil mengarahkan telunjuknya ke sebuah wahana. "Maksudmu... wahana perahu boneka?" ucap Xynth dengan nada yang sedikit kurang yakin. "Apa manusia perempuan benar-benar suka melihat-lihat benda mati berbulu yang penuh kuman seperti itu?" "Tidak ada salahnya kita coba dulu daripada harus terus berjalan tanpa arah." "Baiklah, kita coba. Rigel, bilang kepada mereka kalau kita akan menaiki perahu konyol itu," perintah Xynth kepada Rigel. "A-apa?! Kenapa harus aku yang bilang?!" tanya Rigel dengan panik. "Siapa lagi?!" ucap Xynth seraya mendelik penuh ancaman. "Kau kan pengawalku!" "Ta-tapi... bukankah ini akan terlihat aneh bagi mereka?" guman Rigel dengan frustasi. Pria itu dan Xynth sama-sama memiliki gengsi yang tinggi. Jika tidak ada Antares di antara mereka, maka Xynth akan selalu menimpakan semua hal memalukan kepada Rigel. Saat itu sendiri, Xynth rupanya tidak bisa diajak negosiasi. Rigel pun terpaksa melangkah dengan sikap sok cool ke arah Fori dan Siska, meskipun dalam hati ia mengutuki Xynth. "Xynth bertanya, apa kalian mau masuk wahana itu?" ujar Rigel mendadak kepada dua wanita di belakang mereka tersebut, sambil menunjuk ke arah gerbang masuk wahana perahu boneka. Keduanya menoleh ke arah permainan yang disebut Rigel dan langsung bengong. "Perahu boneka?" tanya Siska. Ia segera mendekat ke arah Fori untuk berbisik. "Aku baru tahu kalau selera mereka ternyata model permainan yang seperti itu. Masa mereka suka melihat-lihat boneka?" Fori mengangkat bahunya ke arah Siska dan setelah saling memandang, keduanya akhirnya mengangguk setuju untuk masuk ke wahana boneka dengan pasrah. Mereka berempat pun masuk ke sebuah perahu air berwarna cerah yang kemudian berjalan menyusuri rute sungai buatan berwarna biru. Perahu itu lalu memasuki sebuah gua penuh berisi berbagai boneka dengan diiringi musik kekanakkan yang ceria dan mentereng. Sayangnya, semua yang menaiki perahu itu hanya mematung kaku di atas perahu. "Sungai asli tidak seperti ini," kata Xynth mendadak memiliki ide untuk memecah kesunyian. "Ini seperti kolam renang saja. Kenapa mereka memakai terlalu banyak copper sulphate?" "Efek cahaya di dasar kolam juga berpengaruh." jawab Rigel berpura-pura menganalisa. "Semua orang tahu kalau molekul-molekul air menyerap sinar merah matahari dan memantulkannya menjadi warna biru, tetapi saat ini kita di dalam gua dan tidak ada matahari di sini." Siska dan Fori saling memandang saat Xynth dan Rigel sama-sama membahas sungai buatan wahana bermain secara ilmiah. Mereka bertambah bengong saat kedua pria bertubuh tinggi besar itu mengejek semua boneka di sana dengan nama-nama yang tidak dikenal oleh kedua gadis itu. "Lihat Xynth, wajahnya seperti Procyon. Kau masih ingat Procyon?" tanya Rigel sambil menunjuk ke arah sebuah boneka cumi-cumi raksasa. "Ah ya, apa kabar dia? Apa dia tahu kalau di bumi mereka membuat boneka yang wajahnya mirip dengannya?" ujar Xynth. Keduanya kemudian tertawa terbahak-bahak sendiri, sementara Fori dan Siska hanya menonton kedua pria itu dengan sikap membisu sepanjang perjalanan. "Mereka sepertinya tidak terlalu gembira," bisik Rigel kepada Xynth saat mereka sudah keluar dari wahana tersebut. "Apa sebaiknya kita mengambil salah satu boneka tadi dan memberikannya kepada mereka? Itu akan lebih mudah bagiku," ujar Xynth sambil menimbang-nimbang untuk merealisasikan pikiran kriminalnya. "Kurasa kita tidak boleh mencuri boneka di gua tadi, Xynth. Tapi.... kita mungkin bisa mendapatkan boneka dari sana!" seru Rigel sambil menunjuk ke sebuah tempat bermain yang menyediakan alat pukulan sesuai level tenaga. Permainan itu berhadiah boneka. "Hmmhh," gumam Xynth berpikir sejenak. "Baiklah, beritahu mereka kalau kita akan ke sana." "Aku yang harus memberitahu mereka lagi?" protes Rigel. Namun pria itu segera menelan kembali perkataannya karena melihat Xynth sudah mendelik ke arahnya. Ia pun segera mengikuti perintah sang putra mahkota langit tersebut. "Siska, Fori,'" panggil Rigel seraya berjalan mendekat ke arah keduanya. "Xynth bertanya apa kalian mau boneka?" "Bo-boneka?" tanya Fori dan Siska secara serempak. "Kenapa mereka terobsesi sekali dengan boneka?" bisik Fori ke telinga Siska. "Entahlah, aku juga benar-benar tidak menyangka mereka suka hal-hal seperti itu. Selama ini mereka terlihat sangat maskulin dan arogan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN