Xynth, Rigel, Fori, dan Siska kemudian masuk ke sebuah tempat permainan mesin pemukul yang tak jauh dari mereka. Di sana, Xynth dan Rigel yang kompetitif pun segera menguasai hampir semua alat dan mulai sibuk sendiri dengan permainan mesin alat pukul manusia.
Saking nafsu dan kompetitifnya untuk mendapatkan hadiah boneka, kedua pria itu sampai lupa kondisi dan mengakibatkan kerusakan di mana-mana. Mereka bahkan seolah melupakan eksistensi Fori dan Siska yang terus melongo dari belakang punggung mereka.
Pada akhirnya, keduanya membuat rusak semua mesin di sana karena kelebihan muatan tenaga dalam. Mereka berempat pun kemudian diusir secara halus dari area permainan tersebut dan membuat petugas di sana terpaksa menutup permainan itu lebih cepat untuk melakukan perbaikan.
"Aku sudah memberikan semua hadiah bonekanya kepada mereka, tetapi kenapa mereka berdua tampak masih tidak senang?" keluh Rigel ke arah Xynth.
Pria itu melirik ke arah Siska dan Fori yang masing-masing membopong banyak boneka di badan mereka, sampai wajah keduanya tenggelam dalam tumpukan boneka. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya dengan frustasi.
"Konon wanita memang tidak pernah bisa puas dan susah dimengerti," desis Xynth mulai lelah sambil ikut melirik ke arah yang sama dengan Rigel.
Rigel menghembuskan napasnya dengan kesal. "Kau ada rekomendasi permainan lain?"
"Menurut artikel tadi, mereka suka apa pun yang warna-warni," gumam Xynth sambil melirik ke arah suatu pemainan lainnya.
"Rigel beri---"
"Aku akan memberitahu mereka!" potong Rigel mulai emosi.
"Xynth, kau yakin mereka akan mau bermain ini?" tanya Rigel begitu mereka memasuki area permainan mandi bola yang sedang dipenuhi anak-anak usia TK.
"Kau harus turun duluan agar mereka mau ikut," perintah Xynth kepada Rigel.
Rigel langsung terbelalak ngeri. "A-apa maksudmu?! Badanku bahkan empat kali lebih besar daripada anak-anak kecil itu!"
"Permisi," ujar Siska mendadak kepada mereka dengan nada suara yang sopan namun dengan raut wajah tanpa ekspresi. "Aku mau ke toilet sebentar."
"Ah, i-iya," jawab Rigel sambil menatap wajah suram Siska.
"Titip ini, Fori," ucap Siska sambil melempar semua boneka yang mereka bopong sedari tadi ke badan Fori dan pergi dengan langkah terhuyung-huyung lemas.
"Ahahaha, maafkan dia. Kurasa Siska hanya sedang kecapaian," tukas Fori yang wajahnya kini muncul dari sela-sela lubang gunung boneka yang sedang dibopongnya.
"Xynth, kurasa mereka tidak terlalu gembi---"
"Tidak terlalu gembira, aku tahu!" cetus Xynth langsung memotong ucapan berbisik Rigel. Pria itu lalu melempar ponselnya ke lantai dengan kesal. "Dasar artikel internet tidak becus! Mereka bersikap seolah mereka paling tahu segalanya tentang perempuan, padahal tidak bahkan langit bisa membaca isi hati kaum wanita. Seharusnya aku tidak perlu membaca artikel sampah ini!"
"Artikel apa?" tanya Fori yang ternyata baru saja meletakkan semua bonekanya di lantai dan menyimak pembicaraan keduanya dari balik punggung Xynth.
Gadis itu melihat ponsel yang baru dibanting Xynth ke lantai. Sebelum Rigel dan Xynth bisa bergerak untuk melarang Fori membaca isinya, Fori sudah mengangkat ponsel Xynth tadi dan langsung membaca artikel di layarnya.
"Ri-rigel, hapus langsung ingatan lima belas," bisik Xynth kepada Rigel dengan waut wajah yang tegang.
"Aku setuju," jawab Rigel sambil melangkah maju dengan tubuh gemetaran.
Namun saat ia berniat melangkah untuk memukul kepala Fori dari belakang, mendadak gadis itu membalikkan badannya ke arah mereka dan langsung tersenyum lebar dengan ekspresi wajah yang terharu.
"Aku senang," ucap Fori kemudian. "Aku pikir sejak tadi kalian bersikap seperti itu karena tidak suka terhadap kami. Ternyata kalian justru sedang berusaha keras untuk menyenangkan kami."
Xynth dan Rigel tertegun seketika di tempat mereka. Keduanya mematung saat melihat Fori berjalan mendekati Xynth.
"Apa kami boleh memberikan boneka-boneka itu kepada anak-anak yang ada di sini saja?" tanya Fori sambil mengarahkan telunjuknya ke kumpulan boneka di lantai. "Sebenarnya, aku ingin bermain roller coaster, ferris wheel, arung jeram dan lain-lain. Kurasa Siska sebenarnya juga ingin bermain sky swinger."
"Kau.... tidak suka boneka?" tanya Xynth dengan raut wajah yang terkejut.
"Aku tentu suka dengan boneka, tetapi ini berlebihan. Kalian juga tidak perlu sampai berlebihan seperti itu hanya untuk mendapatkannya," jawab Fori sambil tersenyum geli. "Seharusnya sejak awal kau bertanya saja kepada kami apa yang kami inginkan dan tidak perlu menyuruh temanmu untuk terus bertanya. Memangnya kalian belum pernah mengajak wanita ke taman bermain sebelumnya?"
Xynth dan Rigel saling pandang dan menggelengkan kepala dengan canggung ke arah Fori. Fori langsung sumringah mendengarnya. Ia seakan berada di atas angin karena merasa menjadi wanita pertama yang dibawa Xynth ke taman bermain.
"Baiklah, kalau begitu kita naik roller coaster saja dulu setelah ini," seru Fori dengan nada suara yang mulai ceria. "Perempuan masa kini menyukai permainan-permainan ekstrim di wahana bermain seperti ini. Itu kan tujuan semua orang datang ke tempat seperti ini?"
"Kau akan naik ke permainan setinggi itu dengan memakai rok pendek begitu?" tanya Xynth kembali menghancurkan mood Fori.
Gadis itu baru akan marah, tetapi Xynth sudah mengangkat tangannya ke arah Fori. Pria itu kemudian terlihat melirik ke arah kanan dan kirinya dengan cepat.
"Tunggu sebentar di sini," seru Xynth mendadak.
Pria itu kemudian segera berlari ke arah sebuah kios souvenir kecil yang terletak tidak jauh dari mereka. Xynth baru keluar beberapa menit kemudian dari sana, bersamaan dengan Siska yang baru saja kembali dari arah toilet.
"Pakai ini," ucap Xynth sambil menyodorkan plastik belanjaannya ke tangan Fori.
"Apa ini?" tanya Fori dengan wajah bingung.
Fori lalu mengambil bungkusan tersebut dari tangan Xynth dan membukanya. Di dalamnya, ia melihat ada sepasang sendal jepit putih manis bermotif wortel, serta sebuah sweater putih berukuran besar yang memiliki tudung kepala seperti kelinci.
"Ini... untukku?"
"Pakai sendal itu saja. Akan berbahaya jika hak sepatumu membuatmu tersangkut lalu terjatuh di area permainan ekstrim," kata Xynth dengan wajah serius. "Dan sweater itu... lingkarkan saja di pinggangmu untuk mengantisipasi angin kencang."
"Ah, baiklah," jawab Fori dengan senyum yang dikulum malu.
"Kita jadi mandi bola?" tanya Siska mendadak kepada mereka dengan wajah datar dan tak bersemangat.
"Kita hanya akan main permainan-permainan yang menantang saja setelah ini," seru Fori dengan riang untuk menjawabnya dan membuat Siska langsung terkejut.
"Hah? Benarkah?"
Fori mengangguk. Ia melingkari pinggangnya dengan sweater dari Xynth dan mengganti sepatunya dengan sendal jepit wortel tadi. Sejujurnya, kini ia merasa jauh lebih nyaman dan langkah kakinya menjadi lebih ringan.
"Aku haus, kalian mau minum dulu sebelum memulai permainan lain?" tanya Xynth kepada mereka.
Mereka semua mengangguk dan langsung mengikuti langkah Xynth menuju ke sebuah gerai minuman. Namun saat Xynth berbalik dan mau menanyakan pesanan mereka, ia melihat Rigel dan Siska tiba-tiba sudah menghilang begitu saja.
"Ke mana mereka?" tanya Xynth sambil membalikkan badannya ke arah Fori yang berada di belakang punggungnya. Alis mata Xynth terlihat mengernyit bingung.
"Siapa?"
Fori ikut berbalik. Seketika, ia juga langsung terkejut saat melihat Siska dan Rigel sudah tidak ada lagi di belakang mereka.
"Loh? Ke mana Siska dan Rigel?"
"Aku yang bertanya lebih dulu kepadamu," tukas Xynth.
Ia ingin mengirim telepati kepada Rigel, tetapi mendadak ia mengurungkan niatnya setelah merasakan sinar Antares ada di sana. Pria itu kini yakin bahwa Antares pasti ada di balik menghilangnya Rigel dan Siska. Ia pun mulai berfirasat buruk dengan kehadiran Antares yang tiba-tiba di sana.
"Kau mau minum apa?" tanyanya kemudian kepada Fori, berusaha mengacuhkan pikirannya dari potensi merusak Antares di tempat itu.
"Yang berwarna biru saja," jawab Fori. "Aku akan coba untuk menghubungi mereka dulu selagi menunggu minuman."
Fori mengeluarkan ponsel dari tasnya. Namun saat mau menggunakannya, wajahnya langsung terbengong-bengong.
"Sinyalku tidak ada sama sekali. Xynth ponselmu ada sinyal?"
"Tidak ada," jawab Xynth setelah mengecek sinyal di handphone-nya. "Tadi sepertinya masih ada saat kita di depan. Apa mungkin di area sini sinyal sedikit lebih susah?"
"Kurasa begitu. Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tahu nomor ponselku tadi?" tanya Fori kepada Xynth mendadak teringat.
"Nomor ponselmu?"
"Tadi kau mengirimkan pesan kepadaku untuk ke wahana ini," jawab Fori mengingatkan.
"Oh, iya. Aku sempat mengambil daftar nomor ponsel semua mahasiswa baru di fakultas kita. Ada nomormu di sana," ucap Xynth dengan asal.
Fori manggut-manggut. Xynth lalu memberikan minuman pesanan Fori yang berwarna biru ke tangan gadis itu.
"Jadi, permainan apa yang akan kita naiki lebih dulu?" tanya Fori kepada pria itu.
"Apa yang kau suka saja. Aku akan coba mengikuti seleramu," jawab Xynth.
"Kau sendiri paling suka permainan apa di sini? Mungkin kita bisa ke sana dulu?"
"Ehhmm...,"---gumam Xynth seraya berpikir,---"kurasa tidak ada."
"Loh, kalau begitu kenapa kau mengajakku ke wahana bermain kalau kau tidak suka permainan apa pun di sini?"
"Karena kupikir kalau bersamamu akan terasa sedikit menyenangkan," jawab Xynth dengan jujur.
Fori mematung di tempatnya. Ucapan Suster Elsa tadi pagi kepadanya mendadak kembali menggema di telinganya.
"Kalau memang dia suka padamu, dia tidak akan peduli baju apa saja yang akan kau pakai dan sudah cukup senang dengan kehadiranmu."
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Xynth dengan heran sambil memandangi wajah Fori yang memerah.
"Tidak. Tidak apa-apa. Xynth, kau sudah pernah coba naik roda langit ferris wheel?" tanya Fori kepada pria itu, mencoba mengalihkan perhatiannya sendiri.
"Itu sepertinya cukup tinggi, kau tidak takut ketinggian?" komentar Xynth, bertanya balik kepada Fori.
"Takut, tapi sepertinya itu akan menyenangkan. Kau bagaimana? Kau takut ketinggian atau tidak?"
"Tidak, tapi... sepertinya di atas cukup panas," jawab Xynth dengan mata memicing ke atas roda langit. "Kau yakin mau naik roda langit siang-siang begini?"
Fori mengangguk. Keduanya pun akhirnya memutuskan untuk mencoba permainan raksasa tersebut.
"Ah, Pak Tua Sol terlalu bersemangat untuk menyinari bumi hari ini," keluh Xynth sambil mengipas-ngipas kaos yang dikenakannya sendiri ketika roda raksasa mereka mulai berputar ke atas secara perlahan.
"Pak Tua Sol?"
"Bukan siapa-siapa," jawab Xynth sambil lalu. Ia kemudian menatap heran ke arah Fori yang asyik sendiri. "Ngomong-ngomong apa yang sedang kau lakukan?"
Pria itu memandangi Fori yang menjulurkan tangannya ke udara dari jendela kereta gantung mereka, seolah ingin menyentuh angin dengan telapak tangannya. Ia juga melihat gadis itu tersenyum ke arahnya.
"Kalau melakukan ini sambil memandang langit dari sini, ternyata rasanya seperti selangkah lebih dekat dengan langit," jawab Fori.
Xynth menatap lucu ke arah Fori yang memandangi langit dengan khusyuk. "Kau suka langit?"
"Errr, tidak juga," jawab Fori mendadak setelah berpikir sejenak dengan raut wajah merengut. "Kau tahu, terkadang aku merasa kalau langit membenciku. Aku punya riwayat buruk dengan langit. Dulu saat aku kecil, sepertinya pernah ada sinar bintang jatuh menimpaku dan hampir membunuhku. Namun ketika aku menceritakan itu kepada orang-orang, tidak satu pun yang mau percaya kepadaku."
Xynth tertawa kecil saat mendengar cerita polos Fori. Gadis itu tidak sadar bahwa saat itu yang dilihatnya adalah sinar milik Xynth.
"Kau yakin bintang itu mau membunuhmu?"
"Ya, aku juga pernah memohon sesuatu kepada langit di saat aku frustasi. Saat melakukannya, mendadak aku tertiup angin kencang dan sepatuku terbang terpental. Langit sepertinya bermusuhan denganku. Ah, kalau kupikir-pikir aku juga sebenarnya membenci langit!"
Xynth tersenyum misterius mendengar ucapan Fori kali ini. Ia ingat kalau ia memang pernah menerbangkan sepatu milik gadis itu.
Di saat mereka tengah berbincang ringan, entah bagaimana mendadak ada sebuah suara musik aneh dan norak yang mengalun dari kereta gantung mereka. Suara lantunan musik cempreng itu keluar dari kotak pengumuman yang terletak di bagian atas atap kereta mereka.
"Eh? Musik apa ini?" tanya Fori memandang kotak kecil di pojok atas kereta mereka dengan bingung. "Kenapa ada musik aneh di sini?"
"Pengumuman kepada pengunjung roda raksasa yang di atas," ujar sebuah suara dari kotak itu. Xynth langsung mendelik saat mendengar suara Antares dari sana.
"Kami memiliki tradisi khusus," ucap Antares lagi dari bawah. "Jika ada pasangan yang berada di titik teratas roda langit tepat pukul tiga sore, maka pasangan yang di atas diwajibkan berciuman."
Fori terbelalak kaget di tempatnya. "Hah? Apa-apaan itu? Sejak kapan ada tradisi semacam itu di permainan begini?"
Xynth menggeram di tempat duduknya. Ia tahu itu ulah jahil Antares. Pria itu melirik arlojinya dan melihat waktu sudah pukul tiga kurang satu menit dan posisi kereta Xynth yang masih berada di tengah mendadak naik drastis menuju ke puncak.
"Hentikan Antares!" ujar Xynth sambil mengirim telepati kepada Antares dan menurunkan kembali roda itu ke bawah dengan kekuatannya.
Tindakan Xynth membuat semua yang berada di roda raksasa mendadak menjerit ketakutan karena kaget. Sayangnya, pergerakan roda langit tetap kembali memutar ke atas dan musik norak yang mengalun di sana juga tak mau berhenti terdengar.
"Kubilang hentikan!" teriak Xynth melalui telepatinya sambil menurunkan kembali roda itu ke bawah.
"X-Xynth, kau sedang berbicara dengan siapa?!" tanya Fori setengah menjerit saat merasa roda raksasa itu bergerak naik turun secara ekstrim. Suara teriakan ketakutan juga terdengar dari berbagai penjuru kereta yang terletak di seluruh roda tersebut.
Xynth tidak menjawab pertanyaan Fori dan terus mengumpat-ngumpat sendiri. Fori yang ketakutan pun akhirnya memutuskan untuk menyentuh pundak Xynth dan memaksa Xynth fokus menatapnya.
"Kau membuatku takut, kau sedang bicara dengan siapa?!" tanya Fori bersamaan dengan naiknya kereta keduanya ke posisi teratas.
Kereta milik mereka pun mendadak berhenti tepat di puncak. Musik aneh tadi juga seketika berhenti dan menyisakan hening yang mendadak tercipta di antara mereka.
"Jangan mendekat kepadaku," desis Xynth kepadanya dengan tatapan mata tajam ke arah Fori. "Aku sudah bilang berkali-kali jangan mendekatkan wajahmu padaku."
"X-Xynth," tanya Fori kebingungan melihat raut serius di wajah pria itu. "Ke-kenapa denganmu?"
Xynth terdiam sejenak. Kedua bola matanya yang berwarna perak kini memandangi wajah Fori lekat-lekat.
"Karena... aku akan melakukan ini kepadamu," ujar Xynth lagi.
Pria itu kemudian menarik wajah Fori semakin mendekat ke wajahnya dan hanya sedetik kemudian, ia mencium Fori dari puncak teratas roda langit.