Horor Carousel

2463 Kata
Xynth membuka matanya setelah kereta gantung yang ditempatinya dan Fori mulai bergerak lagi secara perlahan. Ia baru sadar telah mencium Fori cukup lama dan secara refleks segera mendorong tubuh perempuan yang masih terkejut itu ke belakang. "A-aku...." Kata-kata dari mulut Xynth langsung menghilang begitu saja saat ia memandang wajah Fori yang merona merah. Keduanya langsung tenggelam dalam situasi canggung dan kaku. Fori duduk tegang di kursinya tanpa berbicara apa pun karena jantungnya masih berdebar sangat kencang dan wajahnya terasa memanas bak kepiting rebus. "b******k Antares! Aku akan membunuhnya!" desis Xynth dengan tensi tinggi. "A-apa? Kau bicara padaku?" tanya Fori dengan pundak bergidik terkejut mendengar suara menggelegar Xynth. Ia masih terlihat malu-malu. "Ti-tidak..., tidak. Aku tidak berbicara kepadamu," jawab Xynth dengan gugup. Ia lalu membalikkan tubuhnya ke arah samping jendela agar tak memandang Fori. Fori juga melakukan hal yang sama. Ia sudah duduk menyerong ke arah jendela yang berlawanan dengan Xynth dan merasakan ketegangan di antara dirinya dan pria itu. Keduanya pun bolak-balik bergerak bersamaan lalu diam bersamaan sampai akhirnya Xynth merasa jengah. "Jangan salah paham, di antara kita tidak ada apa-apa. Aku melakukannya begitu saja karena pengumuman tradisi tadi, bukan karena aku menyukaimu. Kuharap kau juga tidak besar kepala. Aku tidak ingin kau berharap kepadaku karena kita --- kita benar-benar berbeda." Kata-kata itu mengalir dari mulut Xynth begitu saja dan spontan membuat Fori langsung terdiam. Tidak berapa lama setelah berdiam diri dengan raut wajah yang terpukul, gadis itu tertawa di tempatnya. "Jangan khawatir, Xynth, aku tidak akan merasa besar kepala atau berharap kepadamu. Aku juga tahu kau menciumku hanya karena pengumunan aneh tadi," ucap Fori sambil memaksakan diri tertawa. Namun yang keluar dari mulutnya hanyalah tawa getir. "Syukurlah kalau begitu," ujar Xynth seraya menghembuskan napas lega. "Semoga kita bisa cepat melupakannya dan tetap bisa berteman baik." Keduanya kemudian tertawa lagi dengan canggung dan setelah itu mereka tidak lagi bersuara hingga kereta gantung mereka tiba di bawah. Xynth dan Fori pun kemudian melenggang keluar dari kereta mereka dengan tergesa-gesa dan hampir saling menabrak di bagian depan pintu. "Oke, k-kau mau makan dulu sebelum melanjutkan ke permainan yang lainnya?" tanya Xynth kepada Fori ketika mereka sudah keluar dari area roda langit tadi. "Kulihat di bagian sana banyak tempat makan dan---" "Tunggu sebentar, Xynth...." Xynth berbalik dan melihat ke arah Fori. Gadis itu sedang berdiri membelakanginya dan diam tak bergerak di tempatnya. "Apa kau sudah biasa melakukannya?" tanya Fori masih tak bergerak dan memunggunginya. "Apa kau sudah biasa melakukan ini kepada perempuan lainnya?" "Hah...?" "Kau mengajak mereka berkencan, bersikap baik hingga mereka merasa menjadi yang paling istimewa, mengucapkan kata-kata manis, mencium mereka... lalu memerintahkan mereka untuk tidak berharap kepadamu," gumam Fori dengan intonasi suara yang dalam. "Kau sudah biasa melakukan hal seperti ini kepada perempuan?" "Fo....ri?" Fori membalikkan tubuhnya secara perlahan. Ia kini menatap Xynth dengan mata yang berkaca-kaca dan ekspresi wajah yang sangat marah. "Kau bahkan membelikanku ini...." Suara Fori yang sedang menunjukkan sweater di tubuhnya terpotong begitu saja dengan isak tangis yang seakan meledak keluar tiba-tiba setelah ia menahan diri sejak tadi. Gadis itu meledak dalam emosinya dan perasaan malu. "A-aku mungkin belum pernah pacaran sebelumnya atau dicium laki-laki mana pun, tetapi... bahkan aku yang tidak berpengalaman pun tahu kalau kau sudah bersikap keterlaluan." Xynth terdiam kaget di tempatnya dengan sikap serba salah sambil menatap Fori yang menangis. Tangannya mengepal dan tubuhnya hendak bergerak maju ke arah Fori, tetapi pria itu kemudian menahan langkahnya saat melihat Fori melotot ke arahnya. "Berbeda katamu?" lanjut Fori lagi. "Setelah membuatku sangat senang tak karuan dan tidak bisa tidur sejak semalam, sekarang kau mengatakan kita sangat berbeda?" "Fori, kau salah paham---" "Diam, kau!" jerit Fori sambil melempar kantong kecil di tangannya yang berisi sepatu haknya tadi ke wajah Xynth yang masih bengong. "Apa bedamu dengan Hannah?! Setelah semua ini, kau mengungkit status sosial kita yang berbeda?! Dasar laki-laki b******k!" Fori berlari meninggalkan Xynth yang mematung di tempat. Pria itu lalu menyentuh dahinya yang berdarah terkena lemparan sepatu berhak tinggi Fori. Ke-kenapa dengannya? Xynth menggumam kebingungan kepada dirinya sendiri. Apa aku salah mengucapkan sesuatu? --- Di tempat lainnya, Rigel dan Antares sedang asyik bertanding permainan menembak di sebuah mesin game yang memakai koin. Keduanya terlihat asyik berkutat di sana sambil sesekali saling mengejek. "Ha!" seru Antares girang. "Aku menang lagi!" Rigel memandangnya dengan kesal. "Kau bisa saja menang di game ini tapi kau tidak pernah bisa menang dariku di kehidupan nyata." "Cerewet!" ucap Antares sambil cengengesan. "Kemarikan wajahmu!" Rigel mendekatkan wajahnya dengan pasrah ke arah Antares. Ia membiarkan pria itu lalu menggores wajahnya dengan sebuah pensil alis hitam yang dipegangnya. "Bisa-bisanya kau mencuri alat kosmetik manusia perempuan itu setelah membuatnya jatuh pingsan," ujar Rigel lagi dengan heran. Saat ia dan Siska di kios tempat penjualan minum tadi, Antares mendadak muncul di belakang mereka dan langsung membuat pingsan Siska dari belakang. Setelah itu, ia menyeret Rigel dan membawa tubuh Siska yang pingsan untuk menghilang dari sana. "Dia hanya tidak akan sadar sampai dua jam ke depan," kata Antares sambil menyeringai lebar. "Apa ini?! Kau menggambar wajah babi di wajahku?!" teriak Rigel sambil menatap bayangan dirinya di layar kaca mesin game dan membuat Antares langsung terpingkal-pingkal. Saat akan lari dari kejaran Rigel, mendadak ponsel Antares mengeluarkan bunyi notifikasi tak henti-henti. Hal yang sama juga terjadi kepada Rigel. Keduanya pun segera mengecek ponsel mereka dengan bingung. "Sedari tadi sinyal di sini susah, kenapa tiba-tiba sekarang sangat lancar?" gumam Rigel dengan heran. Pria itu langsung membuka notifikasi bertubi-tubi yang masuk dari grup chat tim birunya di kampus. Ternyata, pesan yang Rigel baca sudah sejam lebih lambat dari yang seharusnya masuk kepada mereka. "Rigel...." Antares menggumam ke arah Rigel sambil menatap layar ponselnya yang berisi kehebohan di tim merahnya. Keduanya kemudian saling menatap dengan ekspresi tegang. "Apa yang kau lakukan di sini?!" Suara Xynth tiba-tiba terdengar muncul dari arah belakang Antares. Ia datang dengan super kilat dan langsung mengangkat kerah kaus milik Antares dengan emosi yang membuncah. "Tu-tunggu, Xynth," ucap Antares dengan suara terbata-bata. "Apa yang kau lakukan di sini?!" ulang Xynth lagi. "Jangan marah dulu, Xynth. Aku hanya disuruh Vega untuk mengantar obatmu. Kau belum meminumnya hari ini." "Kau---" "Hannah ditemukan terbunuh, Xynth!" potong Rigel segera dengan raut wajah yang serius. "Hannah --- yang kemarin menggelar permainan truth or dare. Jasadnya baru ditemukan pagi ini di tempat pembuangan sampah fakultas kita." Xynth menoleh ke arah Rigel dengan kaget. "Hannah? Perempuan dari tim kuning itu?" "Penyebab kematian belum diketahui tetapi tubuhnya mengeluarkan darah di mana-mana. Ia diperkirakan mati malam tadi setelah festival usai." "Tidak mungkin," gumam Xynth. "Aku melihatnya sudah meninggalkan tempat sampah semalam saat aku masih bersama dengan lima belas. Bagaimana ia bisa ditemukan di tempat itu lagi dalam kondisi tewas?" "Xynth, apa ini ada hubungannya dengan apa yang kau alami semalam?" tanya Antares tiba-tiba dengan wajah yang penasaran. "Quasar? Tapi kenapa quasar harus membunuh Hannah yang seharusnya tidak penting baginya?" timpal Rigel. "Atau... Hannah penting baginya?" "Apa mungkin selama ini quasar itu ada di antara kita?" gumam Xynth tiba-tiba setelah terdiam untuk berpikir sejenak. "Kalau sampai ia membunuh Hannah," sambungnya, "berarti ia memiliki koneksi tertentu dengan Hannah. Lalu kalau ia membunuhnya di lokasi kampus, maka kemungkinan selama ini ia membangun koneksinya dengan Hannah di kampus kita." "Hannah bertengkar dengan lima belas semalam di tempat pembuangan sampah," lanjut Xynth lagi sambil mencoba mengingat. "Setelah itu, ia pergi dan aku berbincang dengan lima belas sampai waktu pulang." "Bukankah sebelum kita meninggalkan tempat parkir semalam kita melihat lima belas sedang berbicara dengan orang lain di sana?" tanya Rigel teringat. "Siska," ucap Xynth dengan bola mata yang seketika mendelik. Ia kemudian menoleh ke arah Rigel dan Antares yang tampak hanya berdua saja. "Di mana Siska?" Antares dengan cepat langsung bergerak ke sebuah ruangan kecil di samping area game itu. Namun saat ia membuka pintunya, ruangan itu sudah kosong melompong. "Ta-tadi aku meletakkannya di sini. Siapa yang memindahkan tubuhnya?" "Apa Siska sudah sadar sendiri dan keluar?" "Tapi tidak mungkin, manusia mana yang bisa sadar secepat itu kalau bukan...." "Xynth!" seru Rigel sambil memandang Xynth dengan wajah mulai khawatir. "Di mana lima belas?!" --- "Aaarrgghhh!" teriak Fori seorang diri di bangku taman yang tak jauh dari roda langit tadi. "Memalukan sekali, kenapa aku harus keceplosan mengatakan itu kepadanya! Sekarang dia jadi tahu perasaanku!" Fori mengusap sisa air mata di wajahnya sambil merengut kesal. "Tapi dia memang pantas mendapatkannya! Laki-laki mana yang tega membanting jatuh perasaaan seseorang setelah menerbangkannya setinggi langit?! Dasar pria b******k!" "Apa yang kau lakukan di sana sendirian, Fori?" Lamunan Fori buyar begitu saat ia mendengar suara Siska dari belakangnya. Ia menoleh dan melihat Siska sedang berjalan ke arahnya seorang diri sambil tersenyum. "Siska, kau juga sendirian? Mana Rigel?" tanya Fori kepadanya dengan pandangan bertanya. "Sepertinya dia sibuk bermain dengan temannya. Temannya yang bernama Antares tadi menyusul datang," jawab Siska begitu saja sambil berjalan mendekati Fori. "Kenapa kau bisa sendirian? Di mana Xynth?" "Entahlah," jawab Fori sambil menggeser posisi duduknya dan membiarkan Siska duduk di sampingnya. Wajahnya kembali merengut memikirkan Xynth. "Kau bertengkar dengan Xynth?" tanya Siska. Fori mendengus. "Dia b******k sekali! Aku...." Tiba-tiba Fori berhenti berujar dan melihat orang-orang yang lewat di depannya dengan mata terbelalak. Ia kemudian mengucek-ngucek matanya sendiri dan kembali melotot ke semua orang yang sedang lewat di sekeliling mereka. "Siska, mataku kenapa?" tanya Fori dengan rasa heran dan takut yang bercampur aduk. "Kenapa ada banyak warna di sini?" "Apa maksudmu dengan ada banyak warna?" Fori mengerjapkan matanya berkali-kali dan menggelengkan kepalanya dengan keras. "Siska, coba cubit tanganku," ujarnya. "Kenapa denganmu?" tanya Siska dengan wajah heran. "Cubit saja." Fori kemudian mengaduh kesakitan saat Siska benar-benar mencubit tangannya dengan keras. Ia lalu mengerjap-ngerjapkan matanya sekali lagi dan terlihat berusaha kembali mengamati orang-orang di sekelilingnya. "Aku tidak mungkin sedang bermimpi, kan, Siska? Kenapa aku mendadak melihat berbagai warna di tubuh orang-orang? Apa yang salah dengan mataku?" "Mungkin kau sedang berhalusinasi," jawab Siska sambil tertawa. "Apa iya? Kenapa terlihat jelas sekali?" kata Fori sambil mengucek-ngucek matanya lagi. "Ah, apa karena tadi dicium oleh Xynth aku jadi gila?!" "Xynth menciummu tadi?" tanya Siska terkejut. Kali ini wajahnya menjadi sangat serius. "Ah, aku jadi keceplosan!" ucap Fori malu sambil memukul mulutnya sendiri. "Sebenarnya tadi---" "Fori," potong Siska langsung. "Coba lihat, apa warna tubuh dua orang itu?" Fori melihat sepasang orang yang tampak berpacaran lewat di depan mereka. Kepalanya kemudian bergerak miring sambil berpikir. "Yang pria warnanya coklat dan yang wanita warnanya merah," jawabnya perlahan. Siska menatapnya dengan wajah yang mendadak kaku. "Bagaimana dengan yang itu?" Kini Fori melihat seorang anak dan kedua orang tuanya tengah berjalan bersama. Matanya memicing untuk melihat aura tubuh mereka dengan lebih jelas. "Anak dan ibunya merah, sedangkan ayahnya biru," jawab Fori dengan yakin. "Hmmh, coba lihat aku. Apa warnaku?" tanya Siska kemudian. "Kau...," gumam Fori sambil mengeryitkan dahinya seakan berusaha melihat lebih jelas. "Kau tidak punya warna." Siska kini menatap tajam ke arah Fori. "Kau yakin?" Fori mengangguk. "Ya, aku tidak bisa melihat warnamu. Apa ada masalah dengan mataku? Kau percaya kepadaku, kan? Aku tidak sedang mengada-ngada. Aku bersumpah!" "Aku percaya kepadamu," kata Siska dengan senyum misterius yang tiba-tiba tersungging di wajahnya. "Tapi Fori, sebaiknya hal seperti ini tidak perlu kau utarakan kepada orang lain. Mereka semua akan menganggapmu gila." "Ya, mungkin juga mataku sedang bermasalah. Besok aku akan ke dokter mata kalau sempat," ujar gadis itu lagi sambil kembali mengucek-ngucek matanya seakan tidak percaya. "Tapi Siska...,"---sambung Fori lagi dengan ekspresi wajah yang polos,---"kenapa aku melihat tubuhmu mengeluarkan asap kabut berwarna hitam?" Siska menoleh dengan kaget ke arah Fori dan langsung mematung. "Asap hitam katamu?" "Ya, di balik tengkukmu ada seperti asap hitam yang tidak mau menghilang," jawab Fori sambil berusaha menyentuh kabut hitam dari punggung Siska. Siska terdiam sesaat. Kemudian beberapa detik setelahnya, ia tertawa cekikikan. Fori yang tidak paham pun ikut tertawa dengan bingung. "Aku aneh, ya? Aku tidak mengerti kenapa mataku mendadak seperti ini. Mungkin kepalaku sedang bermasalah," ucap Fori seperti linglung. "Kau manusia yang menarik," desis Siska sambil menundukkan kepalanya. "Tidak bahkan para bintang bisa melihat itu dariku selama ini." "Hah? Kau bicara apa?" tanya Fori dengan bingung seraya memandangi kepala Siska yang sedang menunduk. Tiba-tiba Fori merasa udara di sekelilingnya menjadi dingin dan mendadak angin di sekitarnya bertiup kencang. Siska mengangkat kepalanya dengan perlahan dan menatap ke arah Fori dengan wajah yang kini berubah drastis. Perempuan itu menjulurkan tangannya ke arah kepala Fori dan kemudian menyentuhnya dengan seringai lebar. "S-Siska..., kau kenapa?" tanya Fori mulai merasa sedikit ketakutan. "Sssst, tidurlah," gumam Siska kepadanya. Sentuhan tangan Siska membuat tubuh Fori mendadak mematung dengan tatapan yang kosong. Ia kemudian menggunakan sebelah tangannya yang lain untuk menutup kedua mata Fori. "Aku perlu melihat isi kepalamu sebentar, Fori," bisik Siska sambil memandangi kepala Fori yang sudah tergeletak di tangannya. "Hanya sebentar saja." --- Langit sudah mulai memerah karena senja di sekitar wahana bermain itu --- saat Xynth, Rigel, dan Antares berlari ke sumber kekuatan besar yang mendadak mereka semua rasakan. Situasi di sekitar mereka sudah beku dan tak satu pun lagi manusia terlihat bergerak di sana. Ketika mereka akhirnya tiba di taman dekat roda langit, ketiganya langsung terkejut ketika melihat ke bangku taman dan menemukan Siska sudah tergeletak tak sadarkan diri di sana. Rigel pun segera mendekatkan dirinya ke tubuh Siska dan menyentuh kulit perempuan yang terasa begitu panas itu. "Perempuan ini sekarat," ucap Rigel ke arah Xynth. "Kenapa dia pingsan di sini? Apa yang terjadi sebenarnya?" "Di mana lima belas?" gumam Xynth sambil memegangi kepalanya dengan gerakan mulai panik. "Di mana gadis jelek dan bodoh itu?!" Mendadak sebuah speaker pengumuman besar di sekitar mereka mengeluarkan suara-suara seperti gelombang radio yang rusak. Mereka dapat mendengar suara seperti radio yang terus berganti saluran. Ketiganya kemudian saling memandang dan terdiam dengan tegang. "Ini quasar," bisik Antares kepada dua temannya. Cincin pada tangannya seketika berubah menjadi bowgun merah. Sementara Rigel langsung mengeluarkan busur panahnya dan menatap ke sekelilingnya dengan sikap waspada. "Xynth, pergi dari sini," ujar Rigel kepada pria itu dengan nada yang tajam. "Aku dan Antares akan coba mengatasi ini." "Tidak, aku harus mencari lima belas," jawab Xynth dengan tegas. "Kami akan mencarinya, kau pergi saja dulu!" seru Antares setengah berteriak kepadanya. "Kondisimu yang lemah sangat berbahaya untuk ini. Kau tidak boleh ada di sini!" Xynth tidak mendengarkan mereka. Tubuhnya tetap bergerak untuk mencari Fori, sampai tiba-tiba ia melihat sebuah permainan carousel atau komedi putar di dekat mereka mendadak bergerak memutar secara perlahan. Xynth, Rigel, dan Antares langsung memusatkan perhatian mereka ke arah sana. Ketiganya dapat mendengar speaker pengumuman di dekat mereka tadi tiba-tiba mengeluarkan suara lantunan lagu yang menyeramkan. Twinkle, Twinkle, little star how I wonder what you are up above the world so high like a diamond in the sky Twinkle,Twinkle little star how I wonder what you are. Saat komedi putar sudah setengah bergerak bersamaan dengan lantunan lagu tersebut, ketiganya melihat Fori berdiri di sana. Ia mematung dan menatap tajam ke arah mereka dari antara kuda-kuda hiasan yang mengitar secara perlahan, sebelum kemudian tertawa cekikikan dengan suara yang menggema.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN