Serangan Quasar

2515 Kata
"Fori!" teriak Xynth. "Xynth...," ucap Antares sambil menahan badan Xynth yang akan bergerak maju ke arah gadis itu. "Dia bukan lagi Fori." "Di-dia...." Angin kencang kemudian bertiup menghantam beberapa benda di sana dan membuat Rigel dan Antares mulai bersiaga. Xynth memegang kepalanya yang mendadak terasa pusing. Ia berjalan mundur dengan memejamkan mata karenanya. "Xynth, segera pulang!" teriak Antares kepadanya. Pria itu kemudian berusaha menembakkan bowgun-nya ke arah Fori dan Xynth langsung mementalkan jarum petir dari bowgun Antares ke udara. "Jangan lukai Lima Belas," gumamnya pelan. "Jangan lukai dia." "Xynth!" protes Rigel sambil menoleh ke arah temannya itu dengan nada khawatir. "Dia bisa membunuhmu!" "Kita harus keluarkan monster itu dari dalam Lima Belas, tetapi jangan lukai tubuh Lima Belas," ujar Xynth mengacuhkan protes Rigel. "Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Sebuah arus sinar hitam yang besar mendadak menghantam ketiganya sekaligus dan membuat baik Xynth, Rigel, maupun Antares, langsung terlempar ke udara dan melayang begitu saja dengan tubuh yang susah digerakkan. Fori berjalan perlahan dari komedi putar tadi dan berdiri di bawah ketiganya sambil mendongakkan wajahnya. Ia menatap tajam ke arah mereka dari bawah dengan seringai lebar. "X-Xynth, segera pergi dari sini," ujar Antares dengan tubuh yang seperti terikat kencang oleh asap hitam. "Pergi dan selamatkan dirimu!" Sayangnya, Xynth tidak mendengar Antares. Ia sudah langsung mengumpulkan tenaganya untuk membebaskan dirinya dari kabut hitam itu dan kini justru memaksakan dirinya mendarat di hadapan Fori. "Keluar dari tubuh Fori," ucap Xynth dengan tenggorokan tercekat. Pria itu berusaha keras berjalan mendekat ke arah Fori. Namun Fori justru membuatnya langsung tersungkur ke tanah dengan hempasan yang keras. Gadis itu kemudian bergerak mendekati Xynth dan mengangkat tubuh pria itu dengan hanya satu telunjuknya. Xynth dapat melihat keseluruhan mata Fori kini berubah warna menjadi hitam pekat. Dengan gerakan cepat, Fori meniupkan gumpalan asap hitam ke arah Xynth --- yang langsung mengitari leher pria itu dan menjeratnya sampai Xynth tercekik naik. Pria itu menggerakkan kakinya di udara dan berusaha melepaskan diri dari jeratan Fori, tetapi napasnya tercekat. "Fo-Fori...." Tepat ketika Xynth sudah mulai dalam kondisi lemas tanpa perlawanan, Rigel melepaskan sebuah anak panah dari busurnya ke arah Fori. Sayangnya, anak panah api itu justru mengenai bagian perut Xynth yang ternyata sudah bergerak terlebih dahulu untuk melindungi Fori sambil memeluknya. Darah kini mengalir dari perut pria itu sementara Fori yang terkejut, segera melepaskan diri dengan cepat dari pelukan Xynth. "Xynth, apa yang kau lakukan?!" teriak Rigel dengan mata terbelalak dari atas. Begitu melihat Fori lengah, ia pun melesat cepat ke arah Fori dan berusaha kembali menyerangnya. Namun Fori menoleh cepat ke arahnya dan langsung menghantam tubuh Rigel dengan sinar hitamnya sampai pria itu terlempar kencang menembus sebuah dinding bangunan toilet di bawah roda raksasa. Setelah melukai Rigel, kini Fori bergerak lagi untuk menyerang Xynth yang tergeletak di bawah. Ia kembali mengangkat tubuh Xynth ke udara. Namun kali ini, Antares yang sudah membebaskan diri langsung melesat ke arah Fori dan menghantam Fori dengan sinar merahnya. Fori terseret mundur beberapa meter dan membiarkan Xynth terhempas jatuh lagi ke bawah. Ia menoleh ke arah Antares dengan kilatan mata yang memancarkan kemurkaannya dan segera menghembuskan sesuatu ke arah pria itu, hingga membuat Antares langsung tersungkur jatuh dan berlutut menghadap ke arahnya. Gadis itu pun berjalan mendekat ke arah Antares yang tiba-tiba sudah kembali tidak bisa menggerakkan dirinya. Kali ini sebuah suara dengungan melengking mendadak terdengar di area wahana. Antares terpaku di tempatnya dengan bola mata yang mulai melotot. Telinganya terasa kesakitan begitu mendengar bunyi melengking tersebut, tetapi ia tidak bisa membuat perlawanan sama sekali. Antares berusaha membuka mulutnya untuk bersuara. Namun hanya darah segar yang malah keluar dari mulutnya tersebut. Rigel sendiri yang baru bisa beranjak lagi dari tempatnya, terkejut ketika melihat temannya Antares sudah dalam posisi siap dibunuh. Sekuat tenaga, ia berusaha menerjang tiupan angin kencang di sana meski suara dengungan masih terasa sangat ngilu dan seperti membakar telinganya. Ketika Fori sudah akan memegang kepala Antares untuk membunuhnya, Rigel mengeluarkan busur apinya sekali lagi dan berusaha melesakkannya ke arah Fori. Sayangnya, Fori mendadak membalikkan badan ke arah Rigel secepat kilat dan langsung mengirimkan kekuatan sinar hitam yang melintas cepat ke arah pria itu. Rigek langsung melayang di antara ledakkan sinar hitam yang menghantam tubuhnya dengan dahsyat. Ia pun terhempas ke tanah lagi dalam kondisi tidak lagi mampu bergerak dan memuntahkan banyak darah. Antares yang juga sudah sekarat, berusaha berdiri dengan susah payah di belakang Fori untuk menyerangnya lagi. Namun terlambat baginya, Fori sudah melesat sangat cepat ke arahnya dan langsung mencekik leher Antares. Pria itu seketika menggelepar di udara dan kesusahan bernapas. Matanya yang melotot mulai mengeluarkan darah bersamaan dengan tatapannya ke arah kedua mata Fori yang menghitam. Antares pun melemah. Sinar merah miliknya mulai bergerak keluar dari tubuhnya sampai pria itu mengejang dan muntah darah sekali lagi. Di saat Fori siap untuk menelan seluruh kekuatan Antares, sesuatu mendadak mengganjal kakinya. Ia menunduk ke bawah dan melihat tangan Xynth tengah memegangi mata kakinya. "Jangan dia," ujar Xynth terbata-bata. "Yang kau inginkan adalah kekuatanku. Aku akan memberikannya kepadamu." Fori berhenti seketika dan melepaskan Antares yang sudah tidak sadarkan diri. Sambil tertawa, ia melihat ke bawahnya dan kemudian berlutut mendekati Xynth. Tangannya langsung mencengkeram kepala Xynth dengan keras dan ia menatap pria itu dengan tajam. Dengan antusias, ia langsung mengeluarkan sinar Xynth dari tubuhnya dan menghisapnya tanpa menunggu apa pun lagi. Bola mata Xynth mendadak berubah menjadi putih dan tubuhnya bergetar saat merasakan kekuatannya diserap oleh makhluk yang menempati tubuh Fori itu. Semakin lama makhluk itu menelan kekuatannya, ia bisa merasakan darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Anehnya, di saat yang bersamaan, darah ternyata juga mulai mengalir dari hidung Fori dan membuat tubuh gadis itu mendadak terpental akibat tersengat oleh kekuatan Xynth yang sedang diserapnya. Fori terkejut saat merasakan sesuatu yang sangat panas masuk ke dalam tubuhnya. Ia menjauh dari Xynth dengan cepat dan langsung memandangi Xynth dengan tatapan kaget dari posisinya berdiri. "Siapa kau sebenarnya?" ujar makhluk di dalam tubuh Fori itu dengan suara yang berbeda dari Fori. Suaranya seperti menggema, dalam, dan terasa mengerikan di telinga Xynth. Makhluk itu mengusap darah di hidungnya dan kembali memandangi Xynth dengan heran. "Siapa kau sebenarnya? Kenapa seorang putra mahkota langit yang seharusnya lemah memiliki kekuatan lebih besar dari para bintang raksasa?" Belum sempat Xynth menjawab apa pun, sebuah hantaman sinar perak sangat dahsyat mendadak melesat ke arah Fori --- ketika gadis itu lengah akibat menatap Xynth dengan penuh tanda tanya. Fori seketika terjungkal keras ke belakang dan langsung melihat ke arah pemilik sumber kekuatan luar biasa panas di depannya. Seorang wanita mendadak muncul dari balik sinar perak yang sangat menyilaukan mata tersebut. Wanita yang terlihat samar itu kini berjalan ke arah monster gelap di dalam tubuh Fori. "Kaisar langit...? Alhine?" desis suara dalam diri Fori dengan sinis. "I-ibu," gumam Xynth sambil memuntahkan darah sekali lagi ke tanah. Dalam waktu sepersekian detik, baik wanita dengan sinar perak yang sangat dahsyat itu dan juga bayangan hitam raksasa di dalam tubuh Fori, serempak bergerak maju untuk sama-sama saling menyerang. Dengan kecepatan cahaya, keduanya sudah saling mencengkeram leher masing-masing secara bersamaan dengan gerakan kilat. "Beraninya kau menyentuh putraku, quasar sialan!" desis Alhine dengan sinar mata yang penuh amarah. Mata gelap Fori menatap sinis ke arah Alhine. "Putramu? Siapa dia sebenarnya?" Keduanya kemudian sama-sama saling melemparkan kekuatan mereka dan langsung sama-sama terpental ke belakang oleh ledakan cahaya masing-masing yang mengakibatkan guncangan besar di beberapa titik bumi. "Ibu, he-hentikan," gumam Xynth melalui telepati kepada ibunya. "Dia tubuh kelima belasku!" Sayangnya ucapan Xynth itu terlambat didengar oleh ibunya. Alhine dengan tidak peduli langsung bergerak mengeluarkan pedangnya yang sangat besar dan kokoh ke udara. "Pe-pedang hitam?" ucap makhluk di dalam Fori dengan tatapan kaget ke arah senjata di tangan Alhine tersebut. "Ba-bagaimana kau bisa memiliki---" Sssettt! Ibu Xynth itu sudah bergerak maju untuk menyerangnya. Bayangan hitam raksasa di tubuh Fori pun langsung bergerak cepat untuk keluar dari tubuh gadis itu. Malang bagi Xynth, ia yang berusaha melindungi Fori dengan cara memeluk tubuh gadis itu, langsung terkena tusukan pedang ibunya di bagian pundak. "Xynth...?" gumam Alhine dengan mata terbelalak kaget luar biasa. Putra tersayangnya itu memandang Alhine sesaat dengan tatapan yang nanar. Sedetik kemudian, Xynth dan Fori sudah menghilang dari hadapan sang kaisar langit. --- Lereng gunung Salak, Bogor Fori membuka matanya secara perlahan dan melihat ke atas langit yang gelap dan dingin. Ia baru akan menutup matanya lagi dan berguling karena mengira bahwa ia sedang tertidur di tempatnya sendiri, tetapi mendadak ia terdiam. Gadis itu membuka matanya lagi dan kali ini terbelalak kaget. Eh... di mana aku? Fori bertanya dalam hati sambil menatap tanah di bawah wajahnya. Ia segera terbangun dan melihat ke sekelilingnya yang gelap dengan banyak pepohonan tinggi. Te-tempat apa ini? Mengapa aku ada di sini? Fori mengerjapkan matanya berkali-kali dan melihat pemandangan di depannya yang selalu sama. Suara alam dan bunyi serangga malam kini terdengar menguat di telinganya. Kini, ia bisa merasakan hembusan angin dingin menerpa kulit tubuhnya. Apa aku sedang berada di lereng gunung? Ah, tidak mungkin. Kenapa aku bisa di sini? Ini pasti hanya mimpi, ujar Fori dalam hati. Ia lalu menampar wajahnya sendiri dan segera menjerit kesakitan. "Aduhhh!" Gadis itu kemudian mengusap pipinya. Setelah sadar akan situasi nyata di hadapannya, ia pun mulai terduduk ketakutan. Saat ia mencoba menoleh ke kiri dan kanan dengan panik, mendadak ia melihat sebuah sosok yang sangat di kenalnya --- tergeletak tak jauh darinya. "Xynth?" ucap Fori dengan kaget. Gadis itu merayap mendekat ke arah tubuh Xynth yang tak sadarkan diri dan terkejut melihat ada anak panah yang menembus perut pria itu. Pundak Xynth juga tampak berdarah seperti terkena tusukan di bahunya dan Fori dapat melihat ada bekas darah mengering di bagian hidung dan mulut Xynth. "Xynth!!!" jerit Fori tiba-tiba menggema di sana ketika melihat kondisi mengenaskan pria itu. "Kenapa denganmu?! Bangun, Xynth, kau tidak apa-apa?" Fori segera melihat sekelilingnya dan berteriak untuk meminta pertolongan. Namun tak seorang pun ada di sana dan ia segera tersadar kalau ia berada jauh dari manusia mana pun di tempat sepi itu. "Xynth," ujarnya lagi sambil menepuk wajah pucat pria itu, tetapi Xynth masih tidak bergerak. Fori kemudian meletakkan tangannya di bawah hidung Xynth dan bisa merasakan bahwa pria itu masih bernapas. Seketika Fori langsung melihat ke tubuhnya sendiri dan berusaha menemukan tas gantungnya di sana untuk mencari ponsel. Malang baginya, tidak ada apa pun yang menempel di tubuhnya saat itu selain pakaian yang dikenakannya. Gadis itu pun berdiri dengan tubuh gemetar karena panik dan berlari tanpa arah untuk melihat jalanan di sekitarnya. Namun ia tak bisa menemukan apa pun selain pepohonan di sana. Apa aku sedang bermimpi buruk? Fori bertanya dalam benaknya sendiri sambil terus berlari mencari apa pun yang bisa ditemukannya. Sayangnya, ia tak bisa menemukan benda untuk membantu mereka atau jalan keluar dari sana. I-ini pasti mimpi buruk, tidak mungkin.... Fori berhenti menggumam dalam hati dan segera berlari kembali ke tempat Xynth tergeletak tadi. Ia melihat pria itu masih dalam kondisi yang parah. Fori pun menahan napas di sana karena panik dan segera menggoncang tubuh pria itu dengan keras. "Xynth, bangun! Xynth!" teriaknya. Fori bisa merasakan hawa panas dari tubuh Xynth, seolah pria itu sedang demam tinggi. Gadis itu teringat bahwa selain tengah terluka, Xynth juga sakit dan kemungkinan terkena kanker otak seperti ucapan Siska. Mata Fori pun mulai berkaca-kaca di sana. Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak ingat apa pun? Siapa yang melakukan hal sekejam ini kepada Xynth? Fori menggumam dengan bingung. Ia menyentuh pundak Xynth yang tertusuk dan bisa melihat darah kini menempel pada ujung telunjuk jarinya. I-ini darah asli! Kali ini Fori menyentuh anak panah di perut Xynth dan berusaha mencabutnya. Tapi anak panah yang terbuat dari logam biru tajam tersebut mendadak lenyap dari tempatnya ketika Fori mencoba menyentuhnya. Fori pun ternganga. Apa-apaan itu? Fori melongo seorang diri dan merasa tidak percaya pada apa yang barusan ia lihat. Namun karena kondisi Xynth sedang kritis, ia berusaha mengabaikan hal gaib yang baru disaksikannya itu. Gadis itu melemparkan pandangannya ke arah perut Xynth lagi dan langsung kaget karena melihat perut pria itu kini mengeluarkan lebih banyak darah. Fori pun kemudian menjerit di sana dengan histeris. Gadis itu tahu bahwa ia harus segera memberi pertolongan kepada pria tersebut dengan segera... atau Xynth akan mati. Dengan panik, ia mencoba berlari lagi menembus hutan. Kali ini --- setelah beberapa saat mengitari area itu --- ia berhasil menemukan jalan setapak. Fori mencoba berjalan cepat mengikuti jalan setapak itu dan kemudian menemukan papan tanda panah yang sepertinya mengarah ke jalan besar beraspal. Ketika akhirnya memang sampai di jalanan besar, Fori menoleh ke sekitarnya dan berteriak di sana, mencoba menarik perhatian siapa pun di sekitarnya. Namun tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali di tempat itu --- tidak bahkan ada cahaya lampu pemukiman penduduk yang terlihat olehnya. Kini Fori tidak punya jalan lain. Ia harus membawa Xynth menuju jalan besar itu agar mereka lebih mudah untuk mencari bantuan. Fori pun kemudian berlari kembali mengikuti jalan setapak tadi sampai ia tiba di tempat Xynth lagi. Kali ini, ia berlutut di dekat tubuh Xynth yang masih tergeletak dan mengamatinya. Ia beruntung karena ternyata pria itu kini sudah membuka matanya dengan sayu. "Fori?" gumam Xynth dengan suara serak yang lemah. "X-Xynth kau sudah sadar? K-kau kenapa?" tanya Fori dengan gugup. Sayangnya saat Xynth berusaha mengucapkan sesuatu, mendadak pria itu mengeluarkan cairan darah kental lagi dari mulutnya dan membuat Fori kembali menjerit histeris. "A-aku akan menyelamatkanmu, Xynth. Bersabarlah!" seru Fori dengan panik kepada Xynth. Gadis itu kemudian mencoba menenangkan dirinya sendiri dan segera menggerakkan tubuh Xynth yang berada di atas tanah secara perlahan. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha mengangkat lengan Xynth ke pundaknya dan berusaha mengangkat pria bertubuh tinggi besar itu ke punggungnya. Wanita bertubuh mungil itu terjatuh berkali-kali saat melakukannya, tetapi ia menolak untuk patah arang. Kali ini, Fori melingkarkan lengan Xynth di lehernya dan berusaha kembali mengangkat badan Xynth sambil meringis. "Fori...." bisik Xynth dengan lemah di pundak Fori. Fori menolehkan wajahnya ke samping pundaknya dan mendengar suara serak Xynth memanggilnya. Lagi-lagi saat membuka mulutnya, pria itu kembali batuk darah. "Jangan bicara apa pun, Xynth!" teriak Fori dengan suara bergetar. "Diam saja! Kita akan segera mencari pertolongan. Percayalah kepadaku!" Fori berjalan tertatih sambil membawa tubuh Xynth yang luar biasa berat di punggungnya, sampai-sampai ia basah oleh keringat. Namun saat melalui jalanan menanjak, ia kembali terjatuh dan membuat tubuh Xynth sampai terjungkal ke bawah. Fori pun meledak dalam tangis seketika dan terisak frustasi di sana. "Tolonglah," ucap Fori sambil memandang ke atas langit. "Jangan biarkan Xynth mati di sini. Seseorang... siapa pun... tolong kami!" Dengan tubuh yang kesakitan luar biasa, Fori kembali berdiri dan mendekati badan Xynth yang terjatuh beberapa meter di bawah tanjakan. Ia lalu kembali berusaha membopong badan pria itu ke punggungnya. "Bertahanlah, Xynth, jangan mati. Kita akan segera mencari pertolongan untukmu," ujar Fori lagi sambil menangis tersedu-sedu. Sepanjang jalan setapak menuju jalan besar, Fori dan Xynth beberapa kali terjatuh lagi hingga tubuhnya mengalami luka di sana sini. Meskipun begitu, Fori tidak perduli dan terus berusaha melangkah dengan membawa beban tubuh Xynth di pundak mungilnya sambil terisak. Tepat ketika ia sudah tiba di jalanan aspal, sebuah cahaya besar yang sangat menyilaukan mendadak muncul di hadapan mereka. Dan ketika cahaya menyilaukan itu mendekatinya, Fori langsung tergeletak pingsan dengan tubuh yang lelah dan kotor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN