Sang Kaisar Langit - Wanita Tercantik di Alam Semesta

2339 Kata
Fori terbangun dari tidurnya yang nyaman di atas sebuah kasur empuk pagi itu. Ia meregangkan otot badannya saat melihat matahari masuk melalui jendela dan merasa lega saat menyadari tidak ada apa pun yang terjadi kepadanya. "Ternyata benar kemarin itu hanya mimpi buruk," gumamnya dalam tidurnya yang nyaman sambil tersenyum. Namun beberapa detik kemudian, ia membuka matanya lagi dan melotot. "Selamat pagi," ujar seseorang yang wajahnya tengah menunduk ke arah Fori. Gadis itu pun menjerit seketika saat melihat sosok seorang pria tinggi, botak, dan berkulit pucat, sedang menatapnya dengan kedua tangan yang dilipat ke belakang. Pria tersebut tampak tersenyum lebar melihat reaksi Fori saat melihatnya. "Si-siapa kau?! Kenapa kau ada di kamarku!" teriak Fori sambil langsung berdiri ketakutan di atas tempat tidurnya. Ia menatap pria unik di hadapannya yang berpenampilan parlente dengan mengenakan riasan tebal di wajah mulusnya dan anting panjang di telinganya. "Namaku Capella --- dan kau sedang tidak berada di kamarmu," jawab pria itu ringkas sambil tetap tersenyum. Fori menatap sekelilingnya dan baru tersadar bahwa ia sedang berada di sebuah kamar asing yang teramat luas dengan tempat tidur putih berukuran king size yang sangat mewah. Semua dinding di sana dicat putih bersih dengan banyak ukiran berwarna keemasan yang cantik. Kamar itu beraroma menyenangkan dan juga dihiasi dengan banyak bunga berwarna putih dan daun hijau kecil-kecil yang cantik. Fori dapat mencium aroma pinus yang segar dari bagian lantai kamar yang dipoles licin dengan parafin itu dan mendengar suara burung berterbangan dengan ceria di luar jendela. "Di-di mana ini?" ucapnya lagi dengan ekspresi wajah antara bingung dan panik. "Ini rumah putra mahkota," jawab pria itu sekali lagi. Fori langsung memandang pria itu dengan dahi mengernyit. "Putra mahkota?" "Ah, maksudku ini rumah Xynth." Fori pun melongo seketika. "Rumah Xynth? Aku di rumah Xynth?" "Ya," ujar pria itu dengan enteng. "Bagaimana kondisimu? Kau sudah baik-baik saja?" "Y-ya," gumam Fori dengan gugup. Ia masih merasakan tubuhnya pegal di sana-sini, tetapi tidak berani memberitahukannya kepada pria asing tersebut. "Anu... bagaimana aku bisa ada di sini?" "Kau memanggil kaisar semalam. Dia menyelamatkan kalian dari gunung itu." "Aku? Memanggil kaisar?" tanya Fori dengan raut wajah yang bingung. Ia memandang pria di depannya dengan pandangan aneh dan menyembunyikan rasa gelinya. "Ah, aku tersinggung," ucap pria itu kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku bukan orang gila, dan aku bisa membaca pikiranmu. Satu lagi, tidak perlu mempertanyakan apakah aku pria atau wanita, aku bisa menjadi keduanya sekaligus." "H-hah?! Ba-bagaimana paman bisa---" "Panggil aku Capella saja," potong pria itu dengan tampang merengut. "Aku adalah pelayan tetap keluarga Xynth selama jutaan tahun." Fori kembali bengong sesaat, sebelum kemudian langsung tertawa mendengarnya. "Jutaan tahun? Ah, aku pasti masih bermimpi!" Gadis itu langsung membaringkan badannya lagi di tempat tidur dan berusaha memejamkan matanya kembali. Tiba-tiba pria itu mendekati Fori lagi dan segera mencubit pipi tembam gadis itu dengan keras sampai membuat Fori langsung mengaduh kesakitan. "A-aduh! Paman, apa yang kau lakukan?!" "Kau yang memintanya," tukas pria itu dengan sewot. "Sudah kubilang panggil aku Capella saja dan segera persiapkan dirimu. Kaisar sudah menunggumu sejak tadi." "Kaisar?" "Ya, kaisar." "Sebenarnya siapa kalian semua?!" tanya Fori kebingungan. "Kenapa belakangan aku terus mengalami hal-hal aneh seperti mimpi?!" Pria itu mendadak terdiam dan memandang terkejut ke arah Fori. "Tunggu sebentar, bagaimana kau bisa lihat warnaku?" "H-hah?!" "Barusan kepalamu menyebut warna aura sinarku," kata Capella dengan mata terbelalak ke arahnya. "Kau kan hanya manusia biasa, bagaimana kau bisa melihat warna asli bintang?" "Paman,"---kata Fori sambil memiringkan kepalanya dan memandang pria itu dengan mata bulatnya yang bingung,---"kau... benar-benar bisa membaca isi kepalaku?" "Ya." "Coba baca apa isi kepalaku sekarang. Apa yang sedang kupikirkan?"tantang Fori dengan ekspresi tengil. "Kau lapar dan ingin sarapan," jawab Capella singkat. "Ah, kau ingin makan nasi uduk, tapi maaf, di rumah ini tidak ada makanan seperti itu." "Pa-paman!" Fori langsung berteriak kaget. "Kenapa kau hebat sekali bisa menebak isi pikiranku?!" "Aku tidak menebak," jawab Capella sedikit terganggu. "Aku membacanya dengan jelas dari kepalamu." Fori terdiam dan mendadak teringat sesuatu. Ia ingin bertanya kepada Capella, tetapi menahannya dalam hati dan mencoba mengetes Capella untuk membacanya. "Putra mahkota... maksudku Xynth, dia tidak baik-baik saja," tukas Capella dengan wajah yang serius. "Saat ini, dia dan kedua pengawalnya sedang mendapatkan perawatan di kamar mereka masing-masing." "Wah, kau benar-benar bisa membaca isi kepalaku!" seru Fori terkagum-kagum sambil bertepuk tangan dengan keras. Namun setelah itu ia terdiam lagi karena baru menyerap keseluruhan isi perkataan Capella. "Sebenarnya... apa yang terjadi kemarin? Kenapa Xynth bisa sampai terluka sangat parah?" Capella tidak menjawabnya. Ia hanya terdiam dan memandang Fori dengan ekspresi yang misterius. "Segera persiapkan dirimu, kaisar sudah menunggumu di meja makan." Baru saja Fori ingin bertanya lagi, Capella sudah langsung menyeret gadis itu ke dalam kamar mandi yang terletak di dalam kamar itu. Ia kemudian langsung menutup pintu kamar mandi itu dari luar dan membiarkan Fori terbengong-bengong di dalam. "Bersihkan dirimu dulu!" perintahnya pada Fori dari luar pintu. "Nanti kaisar yang akan menjawab semuanya." Tanpa sadar, Fori mengikuti perintah pria itu dan langsung membersihkan dirinya yang masih sedikit kotor. Begitu ia selesai melakukannya, ia diajak Capella untuk keluar dari kamar tersebut. Dulu Fori pernah ke rumah itu untuk mencari Sega saat ia kecil, tetapi ia hanya sampai ke pekarangannya yang luas dan indah saja. Fori tidak pernah tahu kalau rumah bukit yang terkenal misterius itu ternyata terlihat lebih megah dan luas bak istana di bagian dalamnya. Bagian ceiling rumah itu sangat tinggi dan diberi gipsum hiasan yang artistik. Semua dindingnya dilapisi seperti logam emas berukir dan perabotan di dalamnya terlihat sangat berkelas dan eksentrik. Banyak pilar-pilar cantik yang berhias akar tumbuhan penuh bunga di bagian dalamnya. Cahaya di dalam setiap ruangan di sana juga begitu terang dengan lampu berwarna kekuningan yang hangat. Meski terlihat tinggi dan besar, ternyata rumah itu hanya memiliki dua lantai dengan balkon di bagian dalamnya yang sangat cantik. Beberapa sudut di lantai dua itu seperti terbelah menjadi dua, sayap kiri dan sayap kanan. Masing-masing memiliki lorong panjang bernuansa emas yang sepertinya terdiri dari beberapa kamar. "Kamar putra mahkota ada di seberang, bagian sayap kiri," ucap Capella mendadak. "Ia satu deret dengan kaisar, Rigel, dan Antares. Sementara di deret ini --- sayap kanan --- ada kamarku, Vega, dan beberapa yang kosong lainnya. Sekarang ada Betelgeuse di kamar tamu bagian paling ujung dan juga kau di sini." Fori tidak begitu paham sebagian nama-nama yang disebut Capella. Namun gadis itu hanya manggut-manggut sambil melihat kondisi di sekitarnya. Kamar yang tadi ditempati Fori berada paling dekat dengan tangga dan Capella kini mengajaknya menuruni tangga besar itu ke arah lantai satu. Tiba-tiba, gadis itu teringat sesuatu dan ingin bertanya pada Capella. Namun ia segera mengurungkan niatnya karena takut terdengar tidak sopan. "Kami bukan keluarga vampir," ucap pria itu mendadak tanpa melihat ke arah Fori. "Kami juga bukan pemuja setan. Tapi kau benar, memang ada beberapa orang yang pernah datang ke sini dan tewas. Itu karena mereka...." Pria itu tidak menyelesaikan kalimatnya ke Fori dan malah memberi nasehat kepada gadis itu. "Kuharap kau nanti bersikap hati-hati pada kaisar --- ibu Xynth --- atau kau akan bernasib sama dengan orang-orang yang hilang itu." Fori menghentikan langkahnya mendadak dan mulai ketakutan. "Ke-kenapa dengan orang yang bernama kaisar ini?" "Namanya bukan kaisar. Ia memang adalah seorang kaisar. Namanya Alhine," jawab Capella. "Dan dia bukan sembarang orang bagi kami atau siapa pun. Jadi jaga sikapmu di depannya nanti." "Apa dia orang jahat?" "Dia bukan orang jahat," jawab pria itu seperti mengambil napas sejenak sebelum mengatakannya. Namun mendadak ia berhenti di tangga dan berjingkat mendekati Fori dengan wajah kesal. "Tapi... dia orang paling menyebalkan di dunia," bisik Capella tiba-tiba mengajak Fori bergosip di tangga. "Dia narsistik, mengerikan, tidak pernah mau tahu apa pun selain tentang anaknya, pemarah, labil, dan tidak segan-segan untuk menghilangkan orang yang tidak ia sukai. Semua orang takut pada temperamennya. Manusia di bumi mengatakan orang sepertinya dengan psikopat." Fori langsung bergidik ngeri mendengarnya. "Ta-tapi paman, kalau kau tidak suka kepadanya kenapa kau masih di sini?" "Aku bukan tidak suka kepadanya," bisik Capella lagi. "Dia hanya paling sering membuatku kesal di antara yang lain. Putra mahkota memang juga menyebalkan, tapi... kaisar jauh di atas segalanya untuk predikat menyebalkan. Jika sedang berkunjung ke sini, dia bisa seharian mengeluarkan tenaganya untuk memerintahkan sesuatu yang tidak jelas lepadaku hanya karena ia bosan. Ah, pokoknya dia menjengkelkan! Kau harus hati-hati terhadapnya!" Fori tertawa kecil melihat Capella menjelek-jelekkan majikannya sampai napasnya tersengal-sengal di tangga. Ia tidak begitu mengerti keseluruhan cerita pria itu. Namun ia menepuk-nepuk pundak Capella yang terlihat letih --- bahkan untuk sekedar meluapkan emosinya dengan bercerita pada Fori. "Capella!!!" Sebuah suara menggelegar dan nyaring tiba-tiba terdengar tidak jauh dari arah tangga dan Capella segera berdiri sigap di tempatnya mengomel tadi. "A-aku sedang menuju ke sana, Kaisar!" ucap Capella dengan gagap saat mendengar suara seorang wanita di bawah. Ia pun segera mengajak Fori untuk mengikutinya menuruni tangga lebih cepat. Begitu tiba di bawah, Fori langsung bisa melihat sebuah sinar perak yang luar biasa besar dan menyilaukan bahkan sebelum mereka memasuki ruang makan yang mereka tuju. Tubuh Fori merinding seketika saat merasakan suhu panas yang mendadak menyentuh kulitnya. Kakinya bergetar lemah dan sambil berjalan, ia merasa seperti bisa jatuh berlutut kapan saja. Fori mencoba mengerjapkan matanya yang terasa silau dan panas dan mengambil napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang mendadak berdetak kencang. Begitu semakin mendekat ke arah sumber cahaya, tubuh Fori yang melemah tiba-tiba benar-benar jatuh berlutut di hadapan seseorang yang terlihat duduk dikelilingi cahaya tersebut. Kepala gadis itu seketika menunduk dengan lemah. Apa yang terjadi pada tubuhku? pikir Fori dalam hati dengan perasaan takut yang memenuhi dirinya secara tiba-tiba. Ia menengadah perlahan sambil berlutut dan kini bisa melihat ruangan kaca sangat luas yang berisi meja makan berukuran besar dan panjang. Di ujung meja, tampak duduk seorang wanita berambut hitam panjang dengan kaki yang jenjang. Fori memperkirakan wanita itu memiliki tinggi tubuh sekitar 180 senti dan terlihat sangat sempurna. Ia memiliki wajah luar biasa cantik dan tubuh yang sempurna. Wanita itu sama sekali tidak terlihat seperti seorang ibu. Ia justru terlihat sangat muda seolah masih seumuran dengan Xynth. Bola matanya berwarna perak dan pola wajahnya sama persis seperti anaknya. Seumur hidup Fori di dunia, ia tidak pernah melihat perempuan mana pun yang secantik dan seindah wanita yang kini sedang dipandanginya. Ketika bola mata mereka bertemu, tubuh Fori mendadak gemetar dan wanita itu berjalan mendatanginya. "Si-siapa kau?" gumam Fori yang merasa tubuhnya sedang dikendalikan oleh wanita itu. "Aku adalah langit tempatmu menengadah," jawabnya kepada Fori dengan suara yang tajam dan seperti menggema. Wanita itu kemudian mengangkat wajah Fori yang sedang berlutut dengan jari-jari panjang dan lentiknya. "Bagaimana mungkin seorang manusia terlihat sehat-sehat saja setelah dimasuki oleh quasar?" gumam wanita itu dengan ekspresi wajah yang heran. Ia lalu menatap seorang wanita lain di sana yang berambut hitam dengan semburat warna ungu. "Vega, apa yang terjadi pada manusia ini?" tanya wanita yang disebut kaisar itu kepada pemilik rambut hitam keunguan di sana. "Mengapa ia masih hidup dan baik-baik saja setelah dimasuki quasar?" Wanita bernama Vega kini memandang Fori dengan sama herannya. "Aku sudah memeriksanya tadi dan sama bingungnya. Seharusnya manusia mati atau sekarat setelah dimasuki quasar. Dugaan awalku adalah... mungkin... ini karena kekuatan Xynth sempat diserap sesaat oleh tubuh gadis ini." Fori kebingungan di tempatnya dan tidak paham dengan pembicaraan kedua wanita itu. Ia melihat keduanya seolah sangat serius membicarakan sesuatu tentang dirinya. "Kau Lima Belas. kan?" tanya wanita cantik itu lagi kepadanya. "Namaku Fori," jawab Fori masih berlutut di tempatnya. Ia bingung kenapa wanita itu memanggilnya Lima Belas, sama seperti putranya yang juga pernah memanggil Fori dengan sebutan Lima Belas. "Berdirilah dan duduk di sampingku, Lima Belas," ujar wanita itu dengan nada yang datar. Ia lalu menoleh kembali ke arah wanita berambut hitam keunguan di sampingnya. "Vega, kau bisa pergi untuk mengecek kondisi Xynth dan yang lain-lainnya. Laporkan perkembangannya kepadaku setiap saat." Fori melihat wanita yang bernama Vega kemudian pergi dari ruangan itu setelah memberi gerakan badan seperti menghormat kepada wanita yang mereka panggil dengan sebutan kaisar. Ia sendiri kemudian berdiri perlahan dan duduk dengan patuh di samping ibu Xynth tadi. Gadis itu melirik diam-diam ke arah sang kaisar dari tempatnya duduk dan masih terpana melihat kecantikannya. Kini ibu Xynth itu menopangkan dagunya di kedua tangannya sambil memandangi wajah Fori. "Ah, kenapa kau jelek sekali!" ucap wanita itu tiba-tiba dan membuat Fori hampir terjatuh dari kursinya karena kaget. Capella yang masih ada di sana sendiri langsung berdeham di tempatnya berdiri dan terlihat mengangkat alisnya ke arah Fori --- seakan sudah memperingatkannya tentang kelakuan buruk sang kaisar. "Si-sikapmu... sangat mirip sekali dengan anakmu," gumam Fori mengeluarkan suara kesal karena tersinggung. "Xynth? Kalau begitu aku akan menganggapnya sebagai pujian," jawab wanita itu tak acuh. "Tante, kenapa aku---" "Tante?!' seru wanita di depan Fori itu memotong cepat ucapan gadis tersebut dengan kilat mata marah. "Apa aku terlihat seperti tante-tante di matamu?! Apa aku terlihat sudah setua itu?! Kapan aku menikah dengan pamanmu?!" "Ma-maksudku kaisar," kilah Fori dengan pasrah dan ketakutan karena melihat wanita itu langsung memberondonginya dengan pertanyaan yang menyiratkan kemarahan. Setelah sibuk mengomel sendiri, wanita itu tiba-tiba memandangi Fori lagi dengan ekspresi aneh. Alis matanya yang panjang dan sempurna sedikit mengernyit ke arah Fori. "Kau manusia, panggil saja aku Alhine," perintahnya tegas. "I-iya, Alhine, kenapa aku bisa ada disini?" "Kau yang memanggilku," jawabnya kepada Fori setelah kembali tenang dari kekesalannya. "Hah? Kapan aku melakukannya? Sebenarnya kalian semua berbicara apa? Sejak tadi aku tidak paham dengan isi pembicaraan kalian." Capella mendekati Alhine dan kemudian menunduk untuk berbisik. "Kaisar, sepertinya dia belum tahu siapa kita." Fori yang masih tetap bingung, menatap mereka berdua dengan penuh pertanyaan di benaknya. Ia melihat wanita bernama Alhine seperti terus mengamatinya. "Aku adalah kaisar langit, pemilik dari langit, dan kau yang memintaku datang semalam," ujar Alhine mendadak dengan tatapan tajam kepada gadis itu. "Anakku --- Xynth --- adalah putra mahkota langit. Ia adalah putraku satu-satunya yang akan menjadi pemimpin seluruh langit di masa mendatang. Kami semua adalah keluarga para bintang. "Semalam saat kau memanjatkan doamu kepada langit, kau sedang memohon kepadaku. Itu yang membuatku datang. Lalu... yang melukai anakku dan dua pengawalnya adalah kau, Tubuhmu kemarin dimasuki monster langit yang disebut quasar --- dan quasar adalah musuh utama semua bintang di langit. Musuh besar kami."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN