Fori mematung di tempatnya dan terdiam sangat lama untuk mencerna semua ucapan Alhine. Tak berapa lama setelah itu, ia tertawa terbahak-bahak di tempatnya dan memandang Alhine dan Capella seakan mereka adalah dua orang gila.
"Kalian sedang bercanda, kan?" tanya Fori sambil tertawa canggung. "Apa aku ada di acara reality show saat ini? Apa ada kamera di sekitar sini?"
Fori yang sedang celingukan mencari kamera di atas plafon ruangan itu mendadak merasa kursinya terangkat ke atas. Tubuhnya yang sedang duduk di kursi melayang ke udara dan Fori langsung memegang kursinya dengan panik dan dengan wajah yang melongo.
Setelah berteriak di tempatnya karena ketakutan, kursi itu mendadak terhempas jatuh ke bawah dan membuat tubuh Fori seketika terjungkal ke lantai. Gadis itu pun memandang ke arah Alhine dengan tatapan syok.
"Ka-kalian semua... benar-benar bukan manusia?" gumam Fori dengan mata membelalak.
Ia kemudian menunduk di lantai dan mendadak gemetar karena memikirkan sesuatu di luar nalarnya. Alhine sendiri bangkit dengan tenang dari kursinya dan berjalan perlahan ke arah Fori.
"Aku bisa membuat petir," ujar Alhine padanya --- dan melalui kaca di ruangan itu, Fori melihat petir tiba-tiba muncul di siang bolong dengan suara menggelegar yang menakutkan.
"Aku bisa membuat salju," kata Alhine lagi --- dan kali ini badai salju terjadi di bagian luar dan membuat seluruh tulang- tulang di tubuh Fori mendadak kedinginan seperti membeku.
"Dan aku bisa membunuhmu kalau aku mau," tambah Alhine sambil mengangkat tubuh Fori ke udara dari posisinya berdiri. Ia mencekik leher Fori dengan kekuatan dari telunjuknya sampai gadis itu terbatuk-batuk dan merasaa kesusahan bernapas.
"Kalau kau lupa, aku akan mengingatkanmu. Ini yang kau lakukan kepada anakku semalam," desis Alhine sambil mencekik leher Fori lebih dalam dan membuat gadis itu lansung pingsan di tempatnya dalam satu detik.
"Ka-kaisar, dia pingsan," ucap Capella kepada Alhine dengan wajah mulai panik. "Dia manusia. Dia tidak akan sanggup cepat mencerna semua ucapan kita dan langsung percaya kalau kita bukan manusia. Sebaiknya kita memberitahunya perlahan-lahan saja."
"Tidak ada waktu," ujar Alhine sambil memandang tubuh Fori di lantai. "Bangunkan dia!"
"H-hah?"
"Bangunkan Lima Belas!" perintah Alhine lagi dengan mata mendelik ke arah Capella dan membuat pria itu segera menuruti perintahnya.
Capella kemudian mendekati tubuh Fori dan menyentuh lengannya sambil memejamkan mata. Tidak berapa lama, gadis itu terbangun lagi dalam kondisi terbatuk-batuk dan berusaha bernapas sambil megap-megap ke udara.
Fori lalu menatap Alhine dan Capella yang masih ada di sana dan bergerak mundur dengan ketakutan. Ketika kakinya berusaha melarikan diri dari sana, tubuhnya mendadak terangkat lagi dan kini kembali duduk di kursi yang berada di samping Alhine.
Fori langsung panik dan berusaha menggerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan. Namun gadis itu tidak lagi bisa bergerak. Alhine sendiri hanya memandanginya sambil menyeruput teh hangatnya.
"A-apa yang kalian mau dariku?!" tanya Fori hampir menangis. "Apa kalian akan membunuhku?"
"Kau harus bertanggung jawab karena sudah membuat anakku terluka," jawab Alhine santai. "Mungkin saja aku akan membunuhmu jika kau tidak menurut pada keinginanku."
"Aku tidak pernah berusaha membunuh anakmu," ucap Fori susah payah. "Kapan aku---"
Alhine dengan cepat langsung mengangkat telunjuknya lagi. Jari-jarinya tiba-tiba mengeluarkan sebuah cahaya yang menyilaukan.
"Aku akan memberikanmu semua ingatanmu yang sudah dihapus oleh mereka selama ini. Setelah melihatnya, kau bisa menjawab semua pertanyaanmu sendiri."
Cahaya di jari Alhine mendadak terbang perlahan menuju ke arah Fori. Seperti sebuah serangga yang berdengung, cahaya itu mendadak menyengat cepat kepala Fori dan membuat gadis itu kemudian mematung.
Kini ia merasa ada di antara cahaya putih yang mendadak muncul sebagai visual di depan matanya. Fori kini melihat dirinya seakan berada di antara kumpulan ruang waktu.
Semua hal yang tidak ia sadari selama ini muncul melalui kotak-kotak visual yang tampil seperti puluhan layar bioskop di sana. Ia bisa melihat dirinya sendiri sejak ia terkena hantaman sinar bintang jatuh bersama Sega, saat melihat ritual aneh keluarga Xynth, dan melihat saat ia terjatuh ke danau --- ketika Xynth dengan susah payah berusaha menyelamatkannya dengan bantuan pernapasan.
Yang paling membuatnya terkejut, ia melihat dirinya sendiri sedang berusaha membunuh Xynth semalam. Mata Fori berkaca-kaca saat ia melihat Xynth berkali-kali tetap berusaha melindunginya meski pria itu sudah terluka.
Fori tidak menyangka bahwa yang membuat Xynth dan dua temannya terluka parah adalah dirinya sendiri. Ia bahkan baru tahu kalai Xynth sudah beberapa kali menyelamatkan hidupnya. Ketika ingatannya sudah terbuka, tanpa sadar Fori sudah menangis di tempatnya.
"A-apa yang sudah kulakukan? Apa yang sudah kulakukan kepada Xynth?" gumamnya seorang diri di kursinya dengan suara yang bergetar.
"Di mana Xynth?" ucap Fori sambil terisak ke arah Alhine dan Capella, tetapi Alhine membuatnya masih tak bergerak.
"Aku memaafkanmu karena quasar yang membuatmu seperti itu. Selain itu tentunya karena kau juga sudah meminta pertolonganku untuk menyelamatkan anakku kemarin. Kalau tidak karena semua itu, aku sudah membakarmu menjadi abu sejak kemarin."
Fori mengusap air matanya saat tersadar akan situasinya saat ini. "A-apakah Xynth ada di kamarnya? Biarkan aku ke sana."
"Dia sedang menjalani perawatan serius. Kau bisa mendatanginya kalau ia sudah sadar nanti. Sekarang... ini yang akan kukatakan dan kau harus mendengarkannya dengan baik," ucap Alhine dengan nada suara tajam.
"Quasar tidak seperti kami para bintang. Mereka sebenarnya jauh lebih kuat daripada kami. Quasar mana pun yang masuk ke tubuhmu semalam dan berhadapan denganku, hanya membawa setengah dari kekuatan aslinya. Ia menyembunyikan wujud dan kekuatan aslinya entah di mana dan itu akan sangat berbahaya untukmu."
"Karena kekuatan mereka yang sangat besar, para quasar tidak bisa terlalu lama menetap di tubuh manusia," sambung Alhine. "Semua tubuh manusia yang pernah mereka masuki akan mati atau sekarat... sebelum akhirnya tetap akan mati. Yang ganjil di sini adalah... kau berbeda. Tubuhmu diberkati oleh anakku sendiri yang adalah seorang calon kaisar langit. Kau ditakdirkan memiliki umur panjang.
"Quasar sudah menyadari itu darimu," lanjutnya lagi, "dan mereka akan terus mencarimu sampai bisa menempati tubuhmu selamanya. Mereka mengincar sesuatu yang menjadi milik para bintang sejak awal dan itu artinya... kau dalam bahaya besar. Begitu juga anakku karena tujuan para quasar adalah membunuhnya."
Fori mematung di tempatnya. Ia gemetaran karena kini menanggapi ucapan Alhine dengan sangat serius.
"Ja-jadi apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya gadis itu kini ketakutan.
"Untuk sementara kau harus tinggal di rumah ini karena hanya kami yang bisa melindungimu. Selain itu, karena kau juga sudah melukai Xynth, kau juga yang harus membantu merawat anakku lagi sampai ia pulih."
"Ti-tinggal di rumah ini?" tanya Fori dengan mata melotot kaget. Ia sebenarnya tidak yakin mau berada lama di sana, tetapi ia tidak berani mengatakannya.
"Capella akan membawa barang-barangmu dari asrama sebentar lagi. Mulai saat ini sampai kami bisa membunuh quasar itu, kau tidak boleh kemana pun tanpa salah satu dari kami. Baik ke kampus, ke panti asuhanmu atau ke tempat-tempat lainnya... semua harus kau lakukan bersama kami."
"Ta-tapi... kenapa kau mau bersedia sekuat tenaga untuk menyelamatkanku?" tanya Fori lagi dengan ekspresi wajah yang polos.
Alhine terdiam. Sebelum ia sempat menjawab pertanyaan Fori, mendadak Capella bergerak cepat ke arahnya.
"Kaisar, putra mahkota! Putra mahkota sudah siuman!" Seru pria itu mendadak terdengar antusias. "Aku bisa mendengar aktivitas otaknya dari sini!"
Alhine yang terkejut mendengar kabar baik itu, segera beranjak lari ke atas begitu saja dan meninggalkan Fori yang masih kebingungan. Karena penasaran, Fori pun segera mengikutinya.
"Xynth! Xynth, anakkku!"
Suara Alhine menggema dari sepanjang lorong koridor lantai dua sampai ia tiba di kamar putranya itu. Ia melihat anaknya sedang berbaring di tempat tidurnya dan ditemani oleh Vega di sana. Begitu masuk, Alhine langsung memeluk erat anaknya itu sampai Xynth terbatuk-batuk.
"Xynth, kau baik-baik saja? Apakah badanmu masih sakit?" tanya Alhine kepada putra satu-satunya itu.
"Ibu,"---gumam Xynth dengan lemah---"Ibu yang membuat badanku sakit."
Mendengar itu, Alhine langsung melepaskan pelukan eratnya di tubuh Xynth dan menyentuh wajah Xynth dengan perlahan.
"Bagaimana kondisimu sekarang? Perutmu... perutmu baik-baik saja?"
Xynth mengangguk ke arah ibunya. "Bahuku yang paling terasa sakit."
Alhine menatap ke arah bahu Xynth dan langsung menangis dengan panik. "Ini karenaku kan? Ibu membuatmu terluka!"
"Ibu, jangan cengeng!" tukas Xynth dengan kesal. "Aku baik-baik saja, hanya bahuku masih terasa sedikit nyeri. Itu saja, jadi jangan berlebihan."
Alhine mengusap bahu anaknya dengan lembut sambil menahan tangis.
"Padahal kau sedang sakit keras di bumi, tetapi kau terluka karena ibu terlambat datang untuk melindungimu. Maafkan Ibu, Xynth," kata Alhine lagi.
Wanita itu kemudian mengangkat tubuhnya dengan sigap. "Ada yang bisa kulakukan untukmu? Apa kau menginginkan sesuatu? Kau sudah bisa makan? Atau kau ingin beristirahat lagi?"
"Ibu, jangan khawatir, aku baik-baik saja," jawab Xynth jengah setelah terus diberondong beragam pertanyaan oleh ibunya.
"Bagaimana mungkin kau bisa pulih dengan cepat dari serangan quasar," gumam Alhine lagi dengan wajah terharu. "Kau memang anakku yang luar biasa! Sepertinya kau sudah bertambah kuat!"
"Ibu, terkait hal itu ada yang ingin kutanyakan padamu," ujar Xynth mendadak kepada ibunya. "Pedang hitam yang menusuk bahuku kemarin... pedang apa itu? Kenapa aku tidak pernah melihatnya sebelumnya?"
Alhine terdiam sejenak sambil menatap Xynth dengan serius. "Itu pedang lain yang selama ini kusimpan. Pedang itu adalah pedang untuk membunuh quasar."
"Apa itu pedang milik ayah? Itukah pedang yang selama ini diminta kembali oleh orang-orang Andromeda?" tanya Xynth lagi.
"Moratar sialan," gumam Ibunya mengumpat. "Apa yang tidak ingin orang-orang Andromeda itu klaim dari kita?! Pedang hitam ayahmu, kau... semua mereka klaim sebagai milik mereka! Suatu saat aku benar-benar akan membunuh Moratar!"
Alhine terengah-engah saat meluapkan emosinya terkait kerajaan pesaing mereka Andromeda yang sejak dulu tidak pernah akur dengan Kiklios. Ia dan Raja Andromeda yang bernama Moratar selalu berseteru.
Hal yang sama juga terjadi pada Xynth dan Alpheratz. Bedanya, Moratar menginginkan Xynth sementara Alpheratz tidak.
"Tapi... kenapa kau tiba-tiba bertanya soal pedang itu?" tanya Alhine sambil mengamati anaknya dengan heran.
"Quasar kemarin...,"---ujar Xynth perlahan---"kalau kuingat-ingat, ia seperti sangata kaget saat mengetahui Ibu memiliki pedang itu. Itu yang membuatnya langsung menghilang kemarin, kan? Ada apa sebenarnya dengan pedang itu?"
Alhine terdiam lagi sejenak dan tidak langsung menjawab pertanyaan anaknya. Namun sesaat kemudian setelah itu ia kembali tersenyum.
"Kita akan membicarakannya nanti saja," jawabnya sambil menepuk-nepuk kepala Xynth. "Ngomong-ngomong, Xynth, kau tidak merindukanku?"
Xynth langsung melenguh melihat wajah cemberut Ibunya. "Tentu saja aku merindukanmu, Ibu."
Pria itu kemudian membiarkan ibunya memeluknya sekali lagi sambil tertawa kecil. Namun saat ia menoleh ke arah pintu kamarnya, Xynth langsung terjengkang kaget saat melihat ada Fori di sana yang sedang berdiri bengong melihat ke arah keduanya. Dalam sekejap, ia langsung mendorong keras Ibunya dari pelukannya sampai Ibunya terjungkal di lantai.
"Ke-kenapa Lima Belas bisa ada di sini?!" teriak Xynyh kaget luar biasa. Selain terkejut dengan keberadaan Fori di kamarnya, ia juga malu karena Fori melihat ia sedang dipeluk oleh Ibunya.
"Ibu yang membawanya ke sini," jawab Alhine sambil terbangun dari lantai dan menggerutu. "Ia akan tinggal sementara di rumah kita sampai situasi aman."
"Apa maksud Ibu?! Kenapa Ibu tidak bertanya dulu kepadaku sebelum menyuruhnya tinggal di sini?!"
"Kenapa?" tanya Alhine dengan ekspresi bingung. "Kau tidak nyaman dengan keberadaan Lima Belas di sini?"
"Bukan begitu, bagaimana kalau dia...."
Xynth menelan suaranya, tetapi Ibunya langsung melanjutkan ucapan Xynth. "Maksudmu... bagaimana kalau ia tahu tentang kita? Aku sudah memberitahunya kalau kita bukan manusia."
"A-apa?!"
"Aku juga sudah mengembalikan ingatan yang kalian hapus darinya selama ini. Kini ia sudah mengerti segalanya, jadi kau tidak perlu lagi khawatir."
"Ibu!" hardik Xynth dengan suara berintonasi tinggi sampai membuat ibunya terkejut. "Kenapa kau selalu bertindak seenaknya tanpa berdiskusi denganku terlebih dahulu?!"
"Kenapa aku harus meminta persetujuanmu? Sebelum menjadi ibumu, aku adalah kaisar langit!"
"A-anu...," gumam Fori mencoba menginterupsi perdebatan di antara ibu yang protektif dan anak yang manja tersebut. Fori mengangkat tangannya perlahan. "Orang yang kalian sedang bahas ada di sini."
Namun Xynth dan Alhine tidak mendengarkan Fori. Keduanya kini malah saling berteriak ke arah satu sama lain.
"Ibu terlalu ceroboh dan impulsif!" seru Xynth dengan kesal.
"Apa kau sudah berani bersikap kurang ajar terhadap ibumu?!" teriak Alhine mengamuk.
"Kau lihat itu," bisik Capella sambil mendekat perlahan ke arah Fori. "Pasangan ibu dan anak itu selalu seperti itu. Sebentar-sebentar mereka baik-baik saja, lalu sebentar lagi mereka berdua akan mengamuk secara bersamaan. Mereka sama-sama tidak mempunyai empati terhadap orang lain dan serupa psikopat. Mereka bak pinang dibelah dua, kan?"
"Kenapa kalian semua bisa tahan kepada mereka berdua selama ini?" tanya Fori balik berbisik.
"Biasanya kalau mereka bertengkar, kami semua akan kabur. Hanya satu saja yang tidak pernah kabur. Lihat itu," ucap Capella lagi.
Pria itu langsung menunjuk ke arah satu titik di kamar Xynth, tempat Vega tengah berdiri. Wanita yang dimaksud oleh Capella itu tampak hanya diam mematung dan menatap datar ke arah Xynth dan Alhine yang masih berdebat.
"Di seluruh rumah ini, hanya Vega yang jarang bicara dan jarang menunjukkan ekspresi apa pun. Dia selalu seperti mayat hidup."
Fori tertawa kecil karena merasa terhibur oleh dunia gosip Capella. Namun tidak berapa lama, Capella seperti memejamkan mata karena mendengarkan sesuatu di kepalanya. Ia kemudian langsung bergerak melerai ibu dan anak di depannya dan menatap Alhine dengan serius.
"Ada seorang manusia di depan gerbang rumah kita!" seru Capella ke arah Alhine. "Dia polisi!"
"Polisi?!" ulang Alhine masih kesal. "Kenapa mereka tidak mau berhenti bertanya soal orang-orang hilang itu! Temui saja dia seperti biasa dan katakan kalau kita tidak ada!"
"Tapi kaisar,"---ujar Capella lagi---"aku membaca isi pikirannya. Polisi itu tidak datang untuk kasus-kasus lama kita. Ia datang untuk Xynth. Ia sedang mencurigai Xynth sebagai pelaku pembunuhan seseorang bernama Hannah di kampus anak-anak ini."
---
Capella membukakan gerbang pintu rumah mereka yang besar bagi Alhine dan kini ibu Xynth itu berjalan keluar untuk mendatangi seorang polisi bertubuh setinggi anaknya yang sedang memunggunginya. Ia sengaja berdeham keras saat berjalan untuk menemui polisi tersebut.
Namun saat polisi itu membalikkan badan dan langsung beradu mata dengannya, langkah Alhine terhenti seketika. Entah bagaimana, Alhine mendadak langsung jatuh tersungkur di tempatnya dan tidak bisa berdiri lagi.
Kedua kakinya terasa lemah dan jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Alhine kini memandang dengan heran ke arah pria di depannya dan menyaksikan manusia pertama yang tidak berlutut kepadanya itu mulai berjalan mendekatinya dengan perlahan.
Wanita itu terbelalak dan langsung tergagap di tempatnya. Untuk pertama kalinya di sepanjang umurnya, tubuh kaisar langit itu bergerak sendiri dan jatuh berlutut di hadapan seorang manusia yang terasa asing baginya. Ia menatap wajah pria yang kini mengulurkan tangan kepadanya itu dengan bingung.
"Si-siapa kau? Kenapa kau tidak berlutut di hadapanku?" tanya Alhine dengan gugup.
Wanita itu segera mengangkat tangannya untuk menyerang manusia aneh itu, tetapi mendadak ia merasa kekuatannya hilang semua dari tubuhnya secara bersamaan dengan genggaman tangan polisi itu di tangannya. Ia mundur selangkah karena tidak bisa menyerang pria itu sama sekali.
"Kau baik-baik saja?" tanya pria di depannya dengan nada suara yang khawatir. Namun Alhine segera mendorong pria itu dengan keras --- dengan hanya mengandalkan tenaga yang tersisa pada tubuhnya.
"K-kau bukan manusia!" gumam Alhine dengan tubuh mematung. "Kau... Raja Quasar!"