Sosok Misterius Lingga

2061 Kata
Kamar Xynth mungkin adalah kamar teraneh yang pernah dilihat Fori selama ini. Kamar itu begitu luas dan kental dengan nuansa hitam, tetapi nyaris tidak ada perabot di bagian dalamnya. Kamar pria itu terdiri dari empat bagian. Ada bagian balkon, ada kamar mandi, walk-in closet, dan terakhir, ruang tidur Xynth sendiri. Bagian balkon hanya dihiasi dengan sebuah kursi dan meja kecil saja. Sementara di dinding ruang tidurnya tidak ada hiasan apa pun sama sekali. Dalam ruangan seluas itu, hanya ada satu tempat tidur, satu meja kecil yang di atasnya tergeletak berbagai macam obat-obatan, satu sofa kecil, serta satu besi untuk meletakkan tabung infus. Tidak ada lukisan, kaca, televisi, meja, atau apa pun lagi di sana. Fori bingung bagaimana pria itu selama ini menikmati suasana di kamarnya sendiri yang terasa seperti kosong dan mencekam. Setelah yang lain keluar dari kamarnya, Xynth memandang Fori dari tempat tidur di kamarnya dengan raut wajah yang berbeda dari biasanya. Pria itu berusaha bangkit dari tempat tidurnya, tetapi karena tubuhnya masih kesakitan, ia lalu mengurungkan niatnya lagi. "Aku bukan tidak suka kau ada di sini," ucap pria itu setelah keduanya terdiam cukup lama. "Sebelumnya, Rigel dan Antares juga sudah pernah menyarankan kau untuk tinggal di rumahku, tetapi... situasi di rumahku jauh berbeda. Kau akan kesusahan beradaptasi dengan semua orang di sini, terlebih ibuku. Dia...." Xynth kini menutup wajahnya dengan satu tangannya seperti orang yang malu dan frustasi. "Ibuku benar-benar tidak terbiasa hidup dengan manusia. Sekarang mungkin belum terlihat, tetapi... banyak hal yang akan membuatnya bisa marah secara tiba-tiba dan mungkin tanpa sadar akan melukaimu. Banyak contoh kasus tentang itu dari manusia-manusia yang pernah masuk ke rumahku." "Kau... sedang mengkhawatirkanku?" tanya Fori kepadanya. "Ya," jawab Xynth dengan jujur. "Kau akan kesusahan beradatasi dengan situasi di rumah ini" "Xynth," ujar Fori memanggil nama pria itu. "Ada begitu banyak pertanyaan dariku tentangmu, begitu aku tahu kalau kalian semua bukan manusia biasa. Aku ingin tahu tentang Sega dulu, tentang kasus kita di kantor polisi, tentang saat kau menyelamatkanku di danau, tentang Hannah, dan tentang kejadian kemarin. Aku akan memintamu menjawab semuanya nanti. "Namun," lanjutnya, "saat ini yang ada di kepalaku hanya ada satu pertanyaan paling penting. Xynth... apa kau benar-benar baik-baik saja?" Xynth menatap Fori dan terdiam sejenak. Ia tahu bahwa wanita itu sedang serius bertanya kepadanya. "Tidak, aku tidak baik-baik saja. Badanku masih terasa sangat sakit, tapi... kurasa aku akan pulih lebih cepat," ujarnya kemudian --- memberikan jawaban yang berbeda dari yang ia katakan ke ibunya sebelumnya. "Ini semua bukan salahmu jadi kau tidak perlu merasa bersalah atas kondisiku saat ini," sambung Xynth ketika melihat wajah Fori langsung muram. Fori menghela napasnya dan memandang langit-langit di kamar Xynth untuk menelan perasaannya yang campur aduk. Di saat seperti ini, ia tidak mau mengganggu Xynth lebih banyak dan membuat pria itu lebih banyak pikiran. Fori pun kemudian hanya mengangguk ke arah Xynth tanpa bersuara lagi dan langsung bergerak menuju pintu keluar. "Kapan kau akan mulai pindah ke rumahku?" tanya Xynth membuat Fori mendadak menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Xynth lagi. "Entahlah, tapi menurut ibumu mereka akan membawa barang-barangku ke sini hari ini." Xynth kemudian mengangguk. "Baiklah." "Oh ya, Xynth,"---ucap Fori sambil menghentikan langkahnya sekali lagi di depan pintu kamar Xynth---"terima kasih karena sudah tiga kali menyelamatkan nyawaku." "Tiga kali?" Xynth menatapnya bingung. "Maksudmu mungkin dua kali?" "Tiga kali," jawab Fori sambil menarik garis senyum misterius ke arah Xynth. Gadis itu lalu pergi begitu saja dari hadapannya dan meninggalkan Xynth yang masih menatapnya dengan bingung. --- Kompol Sakalingga mengamati gerbang rumah besar di hadapannya dengan heran. Pria setinggi 193 senti itu berusaha mencari bel di sekitar gerbang rumah aneh tersebut dan tak menemukannya sama sekali. Tidak bahkan ada satpam yang menjaga rumah itu hingga ia tak berhenti bertanya-tanya di sana, bagaimana selama ini orang bisa masuk dan keluar dari rumah itu. Padahal, jarak gerbang dan rumah di bagian dalamnya tampak cukup jauh. Seharusnya hari itu ia datang bersama Dendi, seorang bawahannya, untuk mencari informasi ke rumah tersebut. Namun di tengah jalan, mendadak ada kabar buruk dari istri Dendi yang mengatakan bahwa anak mereka sedang dibawa ke rumah sakit karena mengalami kecelakaan. Bawahannya itu terpaksa pamit di tengah-tengah pekerjaan mereka dan mau tak mau, perwira menengah kepolisian yang sudah setengah jalan itu terpaksa pergi sendiri. Tujuan awal keduanya adalah mengunjungi rumah yang selalu didesas-desuskan banyak orang sebagai rumah gaib di Bukit Sentul. Sudah setahun lebih Lingga --- nama panggilannya --- berusaha keras menyelidiki kasus orang hilang di sana. Namun, tidak sekali pun ia pernah bertemu dengan pemilik asli rumah tersebut. Lingga beruntung kali ini ada kasus ganjil yang melibatkan putra dari pemilik rumah mewah itu dan ia kembali punya alasan untuk datang ke sana. Kasus yang sedang ditanganinya cukup aneh. Seorang mahasiswi bernama Hannah, tewas di tempat pembuangan sampah salah satu fakultas di Universitas Immaculata. Hasil otopsi dari forensik menunjukkan bahwa gadis itu tewas dengan kondisi jantung yang meledak di dalam dan ada bekas terbakar di beberapa bagian organ tubuh bagian dalamnya yang lain. Kasus tersebut menjadi lebih ganjil karena bahkan dokter forensik mereka tidak benar-benar bisa tahu bagaimana jantung gadis itu sampai meledak. Tidak ada CCTV yang menyala di area kampus karena konon seluruh kamera universitas itu mengalami kerusakan sehari sebelumnya. Beruntungnya, ada sebuah black box dari salah satu mobil yang terparkir di dekat lokasi kejadian, tepat saat sebelum mahasiswi itu tewas. Hasil rekaman pada black box tersebut menunjukkan bahwa hanya ada tiga orang yang kemungkinan bertemu dengan Hannah di detik-detik sebelum kematiannya. Saksi pertama adalah gadis bernama Siska yang kini sedang menjalani perawatan intensif di sebuah rumah sakit. Kondisi bagian dalam tubuh gadis itu juga seperti terbakar. Ia diketahui dalam kondisi kritis, setelah mengunjungi taman bermain yang baru dibuka bersama teman-teman kampusnya, termasuk Xynth, putra dari pemilik rumah mewah itu. Saksi kedua adalah gadis bernama Fortuna Ramaya yang saat ini juga belum bisa diketahui keberadaanya dan masih menghilang dari asrama kampusnya. Ia juga ada di taman bermain itu kemarin. Lalu saksi ketiga adalah Xynth, putra pemilik rumah aneh di depannya saat itu. Dari keterangan teman-teman Hannah, hari itu Hannah terlibat sesuatu yang sepertinya konfliktual dengan Xynth di malam festival kampus mereka. Setelah mencari Xynth di akhir festival, gadis itu menghilang. Ia baru ditemukan pagi-pagi sekali oleh seorang petugas kebersihan kampus yang melihat ada sosok mayat tergeletak di tempat sampah mereka. Kondisi gadis itu terlihat penuh darah yang sempat mengucur dari semua alat inderanya. Anehnya, tidak ada tanda-tanda pembakaran pada bagian luar tubuh dan juga baju yang dikenakan sang mahasiswi. Itulah yang membuat Lingga merasa harus segera mendapatkan keterangan saksi atas kasus luar biasa ganjil tersebut. Ada yang aneh yang dirasakannya pada kasus ini dan entah kenapa seperti memiliki keterkaitan dengan rumah di hadapannya. Karena kesal tidak bisa mengakses ke bagian dalam rumah itu, Lingga lalu menendang bagian bawah gerbang rumah tersebut. Ia kemudian berusaha menelepon beberapa orang untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai Xynth dan gadis bernama Fortuna. Anehnya, ponsel miliknya tidak mau mengeluarkan sinyal sama sekali di sana. Ia pun berbalik dari pagar dan berusaha bergerak untuk mencari lokasi titik sinyal terbaik. Namun saat ia melakukannya, mendadak pintu gerbang besar itu terbuka sendiri. Pria berusia sekitar tiga puluhan itu mendengar suara seorang wanita berdeham dari belakangnya. Saat Lingga membalikkan tunbuhnya, ia tiba-tiba melihat seorang wanita bertubuh tinggi dengan wajah sangat cantik dan arogan tengah mematung menatap ke arahnya. Anehnya, wanita itu kemudian tiba-tiba terjatuh sendiri dari tempatnya seperti orang yang terpeleset tanpa sebab. Lingga berusaha mendekat dan kebingungan saat melihat wanita yang terjatuh itu terlihat sedikit takut terhadapnya. Wanita itu bahkan mendadak berlutut kepadanya dan membuat Lingga langsung terbengong-bengong. Seumur hidupnya, banyak wanita yang mencoba dekat dengannya tapi tidak ada yang sampai berlutut kepadanya. Karena bingung dan tidak enak hati, Lingga lalu mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu berdiri. Sayangnya, wanita itu malah seperti bertambah ketakutan tehadapnya. "Siapa kau?" ujar wanita muda tersebut kepada Lingga. Lingga tidak langsung menjawab. Ia menjulurkan tangannya ke arah wanita yang tersungkur itu agar ia bisa berdiri. "Kau tidak apa-apa?" tanya Lingga dengan sedikit kebingungan melihat sikap aneh wanita itu kepadanya. Wanita itu tidak menjawabnya dan terlihat seperti ragu. Namun kemudian ia mengulurkan tangannya ke arah Lingga. Mengira bahwa sang wanita sedang minta dibantu berdiri, ia pun segera merengkuh tangan wanita tersebut untuk membantunya berdiri. Namun yang terjadi kemudian membuatnya syok. Wanita itu segera mendorongnya dengan keras dan membuatnya langsung terjatuh. "Siapa kau? K-kau ... Raja Quasar?" ucap wanita tadi kepadanya dengan mata melotot. Lingga yang masih terduduk di dekat pekarangan rumah itu pun bengong seketika. "Raja siapa?" tanyanya berusaha mendengar lebih jelas. Anehnya, wanita itu mendadak berteriak sangat keras seorang diri. Ia bahkan terlihat seperti tengah berbicara ke udara yang kosong. "Capella, aku tidak bisa menggunakan kekuatanku. Kekuatanku tidak mau keluar. Serang dia! Dia quasar!" Lingga melihat ke sekelilingnya dan tidak ada seorang pun yang terlihat seperti bernama Capella di sana. Pria itu pun ternganga. Apa wanita ini orang sinting? gumamnya dalam hati. "Capella!" "No-nona, kau baik-baik saja?" tanya Lingga dengan perlahan sambil berusaha mendekati wanita itu. Ia pun kembali mengulang pertanyaannya lagi saat melihat wanita itu seperti berusaha menggerak-gerakkan tangan ke arahnya. Wanita yang sama kemudian seperti histeris sendiri di sana karena tak bisa melakukan sesuatu terhadapnya. "Capella, serang dia!" teriak wanita itu lagi ke udara. Lingga langsung melihat ke udara di sekeliling mereka dan ia pun langsung merinding seketika di sana. Pria itu bertambah yakin bahwa ia memang sedang berhadapan dengan seorang wanita cantik yang kurang waras. Namun karena ia kasihan kepada wanita itu dan mengira bahwa sang wanita sedang sakit, Lingga pun kembali mendekatinya untuk membantu. Sayangnya, saat ia akan menyentuh wanita di depannya itu, sesuatu mendadak menghantam kepalanya dari belakang dan pandangannya pun menjadi gelap seketika. --- Alhine mondar mandir beberapa kali di dalam ruangan sebuah kamar dan melihat sosok asing di dekatnya. Ia memandangi laki-laki yang tergeletak di tempat tidur rumahnya itu dengan penuh pertanyaan. "Ka-kaisar, kurasa ini tidak benar. Kita sudah memukul jatuh seorang polisi. Ini sama saja dengan menghalangi kinerja aparat kepolisian manusia dan tindakan kita termasuk dalam pasal penaniayaan," ujar Capella hati-hati kepada Alhine. Alhine mendelik ke arahnya dan langsung menjerit keras. "Sejak kapan aku peduli peraturan hukum yang dibuat manusia, hah?!" Ia lalu mendekati Capella dan memegang lengan pria itu dengan kencang. "Kau lihat, Capella, kekuatan ku hilang jika aku berdiri di dekat laki-laki ini! Lihat ini!" Alhine kemudian bergerak mendekat ke arah pria itu dan mencoba melakukan sesuatu terhadap Capella, tapi apa pun yang sedang ia usahakan di sana tidak terjadi kepada pria botak itu. Kini ia bergerak menjauh sampai keluar kamar dan menuruni tangga, dan mendadak ia bisa menempeleng wajah Capella dengan sinarnya dari bawah sana. "Ka-kaisar!" teriak Capella kesakitan sambil mengelus pipinya yang malang. "Kau lihat itu Capella?" ujar Alhine kini sudah di dekatnya lagi dengan terbelalak ngeri. "Bagaimana mungkin kekuatanku hilang begitu saja ketika aku berada di dekat pria ini?!" "Dia pasti quasar!" seru Alhine lagi dengan pandangan menuduh. "Hanya quasar yang bisa menyerap kekuatan para bintang. Dan jika ia tidak berlutut kepadaku dan malah membuatku berlutut kepadanya, sudah jelas ia memiliki aura raja. Karena itulah aku yakin dia pasti Raja Quasar!" "Ka-kaisar, sepertinya dia hanya manusia biasa," jawab Capella dengan takut. "Kalau memang dia menyerap kekuatanmu, mengapa dari jauh kau bisa menggunakan kekuatanmu lagi? Lagipula aku bisa membaca pikirannya saat dia di luar tadi dan dia menganggapmu gila." Alhine mendelik ke arah Capella dan mencengkram kerah leher pria botak itu. "Berani-beraninya kau bilang begitu padaku?!" "Bu-bukan aku, Kaisar! Pria itu yang berpikir begitu!" "Tapi kau yang mengucapkannya, bukan dia!" Plaakkkk! Alhine memukul kepala botak Capella di sana dan membuat pria itu langsung meraung frustasi. "Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin kekuatanku bisa hilang kalau di dekatnya?!" teriak Alhine stres sendiri. "Vega!" panggil Alhine dengan nada suara yang panik ke arah Vega yang tengah menyeruput tehnya dengan santai di sana. Alhine yang histeris langsung membuat isi teh itu menyembur keluar dari cangkir Vega. "Katakan padaku, apa yang terjadi padaku?!" "Kaisar,"---jawab Vega tak bereaksi meski wajahnya terkena semburan teh panas---"aku hanya bisa membuat obat dan mengobati. Aku tidak bisa seperti Betelgeuse yang mampu membaca riwayat pria itu ataupun menjawab teka-teki mengapa kekuatanmu tidak bisa digunakan jika didekatnya." "Kalau begitu kau harus mengobatiku kondisiku, kan?!" "Maaf kaisar, tetapi yang sakit bukan badanmu, melainkan isi kepalamu," kata Vega dengan wajah datar. "Apa yang kau bilang, wanita Andromeda b******k?!" teriak Alhine meradang. Vega hanya menghela napas sambil setengah menundukkan badannya untuk mengalah. "Maafkan sikap kurang ajarku, Kaisar. Baiklah, aku akan memberikan obat untuk coba membantu situasimu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN