Vega yang dulunya memang berasal dari Kerajaan Andromeda sudah sangat terlatih menangani Alhine yang temperamental. Ia tidak mudah panik saat melihat kaisarnya itu marah.
Wanita itu kemudian mendekat ke arah Capella dan meminta pria itu mengambilkan obat untuk Alhine dari kamarnya. Keduanya terlihat memojok di ruangan itu sambil berbisik-bisik.
"Obat penenang yang biasa?" tanya Capella kepada Vega sambil melirik ke arah Alhine yang masih histeris sendiri dan menjambak-jambak rambutnya.
"Ya," jawab Vega, "dan juga tambahkan satu obat penambah tenaga untuknya agar kaisar puas."
"Baiklah," tukas Capella sambil mengangguk. Keduanya lalu menatap saling mengerti antara satu sama lainnya.
Tidak berapa lama, Capella kembali ke kamar tamu tersebut dan memberikan dua buah obat untuk Alhine --- yang masih mengintip dari luar pintu kamar ke arah pria itu. Alhine sendiri tidak menunggu lama untuk segera meminum obat yang diberikan Capella padanya dan melihat kembali ke arah pria tadi.
"Apa kita harus mengikatnya atau memasungnya agar ia tidak mencelakai kita semua?" tanya Alhine kepada pria botak itu.
"Kaisar, kurasa dia bukan---"
"Capella, instingku tidak pernah salah. Dia memiliki aura raja yang kuat. Dia pasti Raja Quasar!"
Capella mendengus diam-diam. Beberapa kali insting Alhine salah, tetapi sepertinya wanita super narsistik itu tidak pernah mau mengakuinya. Meskipun begitu, untuk menjaga ketenangan di rumah itu dan keamanan dirinya sendiri, Capella menutup mulutnya rapat-rapat.
"Bagaimana kalau kita tanyakan soal ini kepada Xynth. Dia kan bisa merasakan kehadiran quasar," saran Capella tiba-tiba pada Alhine.
Ahline menoleh padanya dan langsung mengangkat alis matanya. "Anakku...? Dia... bisa merasakan kehadiran quasar?"
"Ya," jawab Capella. "Kaisar, kau belum diberitahu soal itu?"
Alhine tidak mempedulikan Capella lagi. Wanita itu mendadak langsung bergerak cepat menuju ke kamar anaknya.
Xynth sendiri masih berbaring di tempat tidurnya dan mencoba untuk memejamkan matanya, saat ibunya kembali memasuki kamarnya dengan tergesa-gesa. Ia melihat raut wajah yang serius dari ibunya yang tergopoh-gopoh mendatanginya itu.
"Xynth, sejak kapan kau bisa merasakan kehadiran quasar?" tanya Alhine dengan napas yang tersengal-sengal.
"Hmmhh?" Xynth menggumam bingung saat melihat tatapan tajam ibunya.
"Benarkah kau bisa merasakan kehadiran quasar?" tanya Alhine lagi kepada Xynth dengan nada yang terdengar sedikit khawatir.
"Entahlah," jawab Xynth sambil memandangi ibunya itu dengan bingung. "Aku hanya bisa merasakan kehadiran mereka kalau mereka sedang mengeluarkan kekuatan saja. Kenapa mendadak Ibu membahas soal ini?"
"Bagaimana mungkin?" tanya Alhine lagi dengan raut wajah yang misterius. "Kehadiran mereka tidak pernah bisa dideteksi oleh siapa pun termasuk kaum bintang. Bagaimana mungkin kau bisa merasakan aura mereka?"
"Ibu tidak bisa merasakan kehadiran quasar selama ini?" Xynth justru bertanya balik dengan heran.
"Tidak. Aku hanya selalu memakai insting, tetapi aku tidak bisa merasakan aura kekuatan mereka."
"Menurut Pak Tua Sol dan Vega, ini mungkin karena Betelgeuse sempat menanamkan sesuatu di kepalaku saat ia berhadapan dengan quasar di Segitiga Bermuda," ujar Xynth lagi. Kini ia menatap ibunya dengan pandangan curiga "Ibu... apa itu seharusnya tidak boleh terjadi kepadaku?"
Ibu Xynth itu hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan anaknya. Ia terlihat tenggelam dalam pemikirannya sendiri mengenai sesuatu.
"Ibu, apa ini hal yang penting?" tanya Xynth lagi kepadanya
Alhine menggeleng dengan cepat. "Tidak apa-apa. Mungkin Sol dan Vega benar. Mungkin... firasatmu soal quasar itu karena mendapat visual dari Betelgeuse."
Alhine sudah akan keluar dari kamar Xynth, tetapi mendadak ia teringat sesuatu dan bergegas mendekati Xynth lagi. Kali ini, wajah wanita itu terlihat seperti sedikit terganggu akan sesuatu.
"Xynth, apa kau bisa merasakan aura quasar di rumah kita saat ini?" tanya Alhine dengan pandangan menyelidik.
Xynth langsung memasang badan siaga dan menatap ibunya dengan terkejut. "Ada quasar di rumah kita?"
"Aku hanya bertanya saja," kata Alhine dengan tergesa-gesa. "Apa kau merasakan sesuatu terkait quasar di rumah kita?"
Xynth langsung menghela napas lega dan kembali bersikap tenang menghadapi ibunya. "Tidak, tapi seperti kubilang, aku hanya bisa tahu kehadiran mereka jika mereka sedang mengeluarkan kekuatan mereka saja."
"Baiklah, kalau begitu aku akan memaksa pria itu untuk mengeluarkan kekuatannya," seru Alhine dengan tekad kuat seraya meninggalkan Xynth yang kebingungan sendiri.
"Dia belum bangun?" tanya Alhine kepada Capella dan Vega begitu sampai kembali di kamar tamu tempat di mana pria misterius tadi masih tergeletak.
"Belum," jawab Capella dengan sopan. "Tapi... Kaisar, ada apa dengan wajahmu? Kenapa di wajahmu mendadak ada bintik-bintik merah?"
"Hah, apa maksudmu?" tanya Alhine kaget. Wanita itu menyentuh wajahnya sendiri dan segera menuju ke arah cermin untuk melihat pantulan dirinya sendiri.
"I-ini kenapa? Vega yang terjadi pada wajahku?!" tanya Alhine mendadak berteriak histeris.
Vega yang sejak tadi duduk dengan damai di sudut kamar itu sambil membaca majalah dunia langsung berdiri dan mendatangi Alhine. Begitu melihat wajah sang kaisar, ia langsung mengangkat alis matanya dengan pandangan aneh.
"Tunggu sebentar," ujarnya berusaha kalem kepada Alhine setelah sempat terdiam sejenak.
"Capela," bisik Vega mendekati pria botak itu dengan perlahan. "Obat apa yang kau berikan kepada kaisar tadi?"
"Aku hanya memberikan obat yang kau suruh untuk ambil," jawab Capella. "Satu obat penenang yang biasa kita beri padanya... dan satu obat biru vitamin penambah tenaga yang ada di atas mejamu."
"Ah, aku lupa, warna obatnya memang sama-sama biru." gumam Vega pada dirinya sendiri sambil membenamkan kepalanya di satu tangannya.
"Vega, apa ada yang salah?" tanya Capella mulai merasa tegang.
"Seharusnya kau mengambil obat penambah tenaga yang ada di dalam lemari obatku. Yang di atas mejaku itu obat eksperimental terbaru yang sedang kuciptakan. Warnanya memang sama-sama biru dan sedikit serupa."
"K-kau masih melakukan eksperimental obat-obatan sampai sekarang?" tanya Capella dengan mata membelalak ngeri dan mulai panik. "Bukankah terakhir kali kau pernah membuat putra mahkota dan dua pengawalnya gatal-gatal sampai tujuh hari non stop karena eksperimen obatmu?"
"Itu makanya aku meletakkan obat itu di atas meja. Aku masih melakukan riset pada obat itu. Kenapa kau mengambil yang ada di atas meja dan bukan di lemari obat yang biasa?"
"Ka-karena...." ucap Capella tergagap dan tidak bisa menyelesaikan jawabannya sendiri. "Ve-vega, memangnya eksperimental apa yang sedang berusaha kau ciptakan saat ini?"
"Obat untuk menyembuhkan penyakit manusia Xynth. Tapi karena itu masih eksperimental, maka seharusnya belum bisa langsung dikonsumsi dan masih mengandung banyak efek samping!"
Wajah Capella langsung pucat pasi. "Gawat, kaisar pasti akan langsung membunuhku kalau tahu soal ini. Apa saja efek samping obat itu?"
"Pertama, dia akan menjadi sangat histeris dan paranoid sendiri sebelum---"
"Arrrgghhh!"
Vega belum sempat menyelesaikan omongannya, saat ia dan Capella mendadak sama-sama mendengar suara jeritan Alhine. Keduanya kini menoleh dan memandang ke arah kaisar mereka tersebut.
"Vegaaaa, apa yang terjadi kepadaku?! Obat apa yang sebenarnya diberikan oleh Capella kepadaku?!" tanya Alhine tiba-tiba merongrongnya.
Capella langsung memegang lengan Vega dengan ekspresi wajah yang memelas dan memohon. Sikap Capella itu membuat Vega tidak tahu harus menjawab apa kepada Alhine.
"I-itu akibat kau mengalami alergi," ucap Vega akhirnya dengan asal jawab.
"Alergi? Kenapa bintang bisa mengalami alergi? Aku alergi apa?! Selama ini aku tidak pernah memiliki alergi apa pun!"
"Kurasa kau...,"---ucap Vega sambil diam-diam melirik ke arah Capella lagi---"kau alergi terhadap pria itu --- pria yang kau duga sebagai quasar itu. Jika kau berada terlalu dekat dengannya, maka akan tumbul bintik-bintik merah di wajahmu."
"H-haahh?!"
Alhine menatap kaget ke arah Vega dan berjalan mundur dengan ketakutan. Tangannya mendadak memeluk sendiri lengannya karena syok.
"Ti---tidakk!" jerit Alhine sambil berlari panik dan keluar dari kamar itu secepat kilat. Vega dan Capella dapat mendengar suara Alhine menjerit-jerit sendiri di seantero rumah itu dan langsung mengakibatkan bunyi petir tak henti-henti di langit.
"Jauhkan pria itu dariku, buang dia jauh-jauh!" teriak Alhine bertambah histeris dari bawah.
"Ga-gawat, dia benar-benar bertambah paranoid" bisik Capella dengan panik. "Apa lagi yang kemungkinan akan terjadi selanjutnya?"
"Aku tidak begitu ingat," jawab Vega dengan dahi berkerut seperti tengah berpikir keras. "Kalau tidak salah, setelah ini dia mendadak akan menjadi sangat jujur dan---"
Brraaaakk!
Pintu kamar itu terbuka lagi dan Alhine kini sudah kembali masuk lagi dengan wajah memerah penuh dengan bintik-bintik. Ia terlihat malu-malu saat akan melangkah ke dalam kamar itu.
"Aku tidak mau dekat dengannya, ta-tapi...,"---ujar Alhine sambil berjalan masuk dan mendekati pria yang tergeletak itu lagi---"entah mengapa aku merasa tidak bisa jauh darinya. Aku harus mengawasinya dari dekat karena ada sesuatu darinya yang buat aku begini, kan? Kalau dia bukan quasar, apa karena ia sangat tampan dan memiliki aura kuat seorang raja?"
Alhine memandangi wajah pria itu dari dekat. "Kalian lihat, manusia ini... mengapa dia bisa memiliki karakteristik wajah kaum bintang? Dia sangat sangat tampan melebihi standar para manusia. Tidak mungkin kan di bumi ada yang bisa menandingi ketampanan anakku?
"Manusia ini membuat jantungku terasa berdebar-debar," gumamnya lagi ke arah Vega dan Capella yang bengong. "Ini aneh, Vega. Apa yang sebenarnya sedang terjadi denganku?"
"I-ini gawat sekali," bisik Capella ke arah Vega dengan mulut menganga. "Dia nanti tidak akan tersadar dan mengingat semua ini dengan jernih, kan? Kita berdua bisa mati."
"Masalahnya ini belum seberapa," jawab Vega lagi ke Capella yang tengah melongo melihat kelakuan aneh Alhine. "Setelah ini seingatku dia bisa menjadi tidak percaya diri."
"Pria ini aneh sekali," gumam Alhine kepada mereka dengan intonasi melemah. "Mengapa ia tidak berlutut kepadaku? Siapa pun manusia yang bertemu denganku seharusnya akan langsung berlutut. Mengapa ia juga tidak terlihat terpesona pada kecantikanku? Bukankah kecantikanku melebihi apa pun selama ini?"
Vega dan Capella saling memandang dengan mulut membisu. Keduanya tidak bisa mengatakan apa pun untuk menjawab curahan hati sang kaisar.
"Aku bahkan lebih cantik kan dibanding Shaula di Kiklios... atau Mirah dan Almach di Andromeda? Bagaimana kalau dia mendadak terbangun dan melihat bintik-bintik di wajahku nanti? Aku pasti akan dianggap jelek olehnya, kan? Dia tidak boleh melihatku seperti ini! Aku tidak boleh terlihat jelek di depannya!"
Alhine terlihat frustasi sendiri hingga membuat baik Vega dan Capella sekarang sama-sama menelan ludah dengan ngeri. Keduanya terpaku di tempat mereka dengan gerak tubuh tidak nyaman.
"Ve-Vega, dia akan benar-benar membunuhku nanti," ucap Capella gemetaran. "Apa yang akan terjadi selanjutnya padanya?"
"Astaga, aku lupa soal yang satu ini." Kali ini Vega terlihat berwajah suram dan menunduk malu. "Kaisar... dia akan menjadi sangat nafsu dan binal nanti. Lalu setelah itu, dia akan mengutarakan isi dari lubuk hatinya yang paling dalam yang tidak ia sadari sendiri --- dan terakhir... ia akan menjadi sangat letih dan sensitif seharian."
"Ve-Vega, aku akan segera kabur dari sini," tukas Capella dengan panik. "Biarkan aku kembali ke Kiklios!"
"Kurasa kali ini aku juga harus ikut denganmu," tambah Vega. Keduanya lalu saling memandang dan kabur dari kamar itu setelah menutup pintunya dengan cepat.
Di saat kedua asistenya kabur, rupanya Alhine sedang memandangi wajah pria di atas tempat tidur itu sambil tersenyum-senyum nakal. Ia Ialu menaiki tempat tidur pria itu dan menyentuh perlahan wajah sang pria dengan jari-jarinya yang lentik.
"Mengapa ada aura seorang raja yang sangat kuat darimu? Kau seksi sekali," bisik Alhine dengan suara berbisik genit di telinga pria itu. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke arah pria itu dan memandanginya dari dekat. "Apa yang membuat manusia sepertimu begitu tampan dan menggairahkan seperti ini?"
Setelah lama memandangnya sambil tersenyum-senyum binal, Alhine lalu bergerak dengan refleksnya begitu saja dan mencium bibir pria itu dengan lembut. Namun saat ia melakukannya, sebuah sengatan listrik tajam menghantam isi kepalanya secara mendadak.
Alhine kini mematung di tempatnya dengan bola mata yang membesar. Secara tiba-tiba, ia merasakan reaksi aneh dalam tubuhnya yang membuatnya mendadak sangat sedih.
Ia merasa air mata tiba-tiba mengalir di pipinya sesaat setelah mencium bibir pria itu. Sedetik kemudian, Alhine mengangkat wajahnya dan mendadak menangis di sana.
Wanita itu mematung dengan mata berkaca-kaca penuh tangisan. Entah bagaimana, ia merasakan rasa sesak luar biasa dan sakit hati yang sangat dalam dari memori otaknya dan seketika meremas jantungnya sendiri dengan keras.
Ke-kenapa? Kenapa tiba-tiba aku sedih sekali dan merasa hatiku sangat hancur? Kenapa pria ini seperti membuatku merasa sedemikian sesak sampai membuatku susah untuk bernapas? Alhine menggumam dalam hatinya dengan isak tangis yang mengalir begitu saja tanpa henti.
Ia kemudian merasakan kepalanya mendadak pusing dan sesuatu di dalam kepalanya yang lama terkubur memaksa untuk keluar. Alhine memegang kepalanya yang tiba-tiba sangat sakit dan meronta di sana.
Setelah beberapa lama mengerang, mendadak wanita itu merasa tak bisa menguasai pikirannya lagi dan pandangannya menjadi kosong. Alhine terdiam beberapa lama di tempatnya sebelum kemudian mulai bersuara dengan intonasi yang berbeda.
"Bangun," ujar suara dari bibirnya sendiri ke arah pria yang masih tak bergerak itu. "Kenapa kau tidak mau bangun? Kenapa kau terbaring tak bergerak? Bangun, kau tidak boleh meninggalkanku."
Alhine lalu meletakkan kepalanya sendiri di samping bantal kepala pria itu dan memandanginya dari jarak dekat. Matanya terlihat seperti mengawang dengan tatapan seolah kosong.
"Apakah kabarmu baik-baik saja selama ini?" ujarnya lagi seperti terhipnotis dengan isi kepalanya sendiri. Air mata tak mau berhenti mengalir dari wajahnya. "Apakah kau makan dengan baik selama ini? Apakah kau bahagia di sini?"
Wanita itu lalu memeluk pria itu dengan erat dan menangis tanpa henti di sana dengan d**a yang sangat sesak sampai matanya menjadi begitu sembab.
"Apa kau sudah memaafkanku? Kau mau memaafkanku, kan? Kau harus memaafkanku karena aku sangat merindukanmu.
"Aku sangat sangat merindukanmu selama ini sampai aku merasa susah bernapas dan ingin mati. Kenapa... kenapa saat itu kau tidak mau membuka matamu lagi?"
Darah mengalir dari hidung Alhine dan badannya bergetar hebat karena merasakan kesedihan luar biasa yang seolah sudah terkunci begitu lama di dalam dirinya sendiri. Tubuhnya seperti berjuang untuk melawan sesuatu yang dipaksa keluar dari memorinya sendiri --- dan itu membuat kepalanya bertambah sakit. Wanita itu kini memegangi kepalanya sambil menangis.
"Ma-maafkan a...ku," ujarnya lagi kepada pria itu itu dengan suara terpatah-patah. "Maafkan aku telah mengkhianatimu. Maafkan aku telah membunuhmu. Kali ini, aku akan memenuhi janjiku dulu kepadamu, Zegerux."
Sesaat setelah ia mengatakannya, Alhine tergeletak pingsan di samping pria itu dengan darah yang mengalir dari hidungnya, beserta isak yang mengalir tak henti dari alam bawah sadarnya.