Sejarah Konflik Langit #1

2001 Kata
Fori memandang keluar jendela kamar barunya dengan bingung. Ia sangat yakin cuaca di luar tadi sangat cerah, tetapi mendadak langit terasa gelap. Entah bagaimana, hujan deras yang tumpah di luar membuat suasana menjadi sangat kelabu. Gadis itu meringkuk kedinginan di pojok kamarnya dan tengah melamun ketika mendadak sebuah ketukan pintu terdengar dari arah luar. Suara ketukan itu begitu tergesa-gesa dan belum sempat Fori membuka pintunya, Capella sudah masuk menembus pintu dengan tampang suram. "Nona Lima Belas, apakah aku bisa mengurus barang-barangmu di asrama kampus sekarang? Aku harus pergi sekarang untuk mengambilnya. Kau mau ikut?" ujar Capella dengan gerak-gerik tidak sabaran. Fori menatap pria botak itu dengan bingung. "Kenapa begitu terburu-buru? Barangku hanya sedikit, kok. Lagi pula, bukankah di luar sedang hujan deras?" "Ngomong-ngomong...," lanjut Fori cepat sambil merengut. "Panggil aku Fori saja. Namaku bukan Lima Belas. Kenapa kalian semua memanggilku dengan angka Lima Belas?" "Ah ya, namamu Fori! Fori, kita harus melakukannya selagi sempat. Kalau tidak segera, aku khawatir malam akan badai," ujar Capella seperti panik. "Di mana kita harus mengambilnya?" "Ehm, di asrama kampus," jawab Fori dengan tampang masih ragu. "Ta-tapi paman, sepertinya aku masih belum yakin untuk tinggal di sini. Rumah ini terlalu asing bagiku dan menakutkan." "Sudah kubilang panggil aku Capella saja," cetus Capella dengan kesal. "Tidak ada satu pun dari kami yang suka dipanggil dengan predikat apa pun sejak dulu. Hanya Sol yang dipanggil Pak Tua karena memang dia sudah tua renta." "Baiklah, Cape...lla," ujar Fori pasrah. "Tapi... apa tidak bisa aku memikirkan ulang dulu soal ini? Sepertinya aku masih butuh waktu untuk mencerna segalanya. Ini semua masih terlalu cepat bagiku. Terlebih, aku masih belum merasa terlalu nyaman berada di sini bersama kalian yang bukan manusia." "Apa lagi yang butuh kau pikirkan?" tanya Capella mendengus kesal. "Kau mau berkeliaran di luar sendirian dan menunggu quasar untuk kembali memasuki tubuhmu dan membuatmu mati terbakar seperti teman kampusmu?" Fori menggaruk-garuk kepalanya. "Bu-bukan seperti itu maksudku. Tapi... rumah ini masih terasa menakutkan bagiku. Ibu Xynth juga sepertinya sangat mengerikan." Capella mendekat ke arah Fori dan langsung berbisik halus di telinganya. "Kau tidak akan mau membuat kaisar marah besar sekarang. Ada sesuatu yang terjadi pada kaisar dan aku tidak mau di rumah ini seharian melihat ia mengamuk. Kurasa kau juga tidak akan mau ada di sini. Jalan terbaik, kita keluar saja untuk pura-pura mengurus kepindahanmu." Bola mata Fori yang bulat semakin melebar. "Ta-tapi..., barang-barangku di asrama kemungkinan hanya dua koper sedang. Kita tidak akan mungkin keluar seharian hanya untuk mengambil itu, kan?" "Hah?!" Capella terbelalak menatap Fori. "Bukankah barang perempuan biasanya banyak?" Fori menggelengkan kepalanya. "Aku hanya punya itu." "Kalau begitu kita jalan-jalan saja sebelumnya dan berbelanja di mal. Aku akan membelikanmu beberapa baju baru yang bisa dipakai nanti. Lagi pula kalau kau masuk ke rumah ini, kau sudah harus berpenampilan lebih baik seperti kami." "Kau akan membelikanku baju baru? Apa... kau punya uang?" "Kau tanya apa aku punya uang?" tanya Capella dengan wajah tersinggung. Pria itu langsung mengeluarkan kartu hitam berbagai bank besar di dunia dari tangannya dan memamerkannya dengan sombong pada Fori. "Bahkan pelayan di rumah ini pun bisa membeli apa saja sesuka hati." Mata Fori melotot melihat deretan black card Capella beserta kartu prioritasnya dengan jiwa materialistis yang langsung membuncah. "Ca-Capella, bagaimana cara melamar kerja sebagai pelayan di sini?" "Tidak usah banyak tanya," kata Capella sambil mendorong tubuh Fori untuk bersiap. "Cepat bersiap karena kita akan sangat sibuk!" "Baiklah, Bos!" Tidak berapa lama, Fori sudah berdiri penuh semangat di balkon depan rumah megah tersebut dan menunggu Capella muncul. Wajahnya melongo ketika pria botak itu tiba dengan mobil supercar kuning yang sangat mewah di bawah hujan. "Naiklah!" ucap Capella berteriak sambil menurunkan sedikit kaca jendela mobilnya. Fori segera berlari menembus hujan dengan mengenakan payung dari Capella sebelumnya dan langsung masuk ke dalam mobil itu. Begitu duduk, ia menepis sisa tetes-tetes air hujan di bahunya dan memandang interior mobil Capella dengan mata berbinar-binar kagum. "Wah, seumur hidupku aku baru kali ini menaiki mobil semewah ini," ujar gadis itu dengan sumringah. "Kalau sempat, nanti aku akan foto-foto sebentar di dalam sini untuk pamer di akun sosial mediaku. Boleh kan, Capella?" Capella mengangguk sambil tertawa bangga. Pria botak itu sudah bergaya mentereng dengan mengenakan baju warna-warni yang mewah, lengkap dengan kacamata hitam di wajahnya. "Aku suka fashion," ujarnya pada Fori setelah membaca pikiran gadis itu. "Meski langit gelap karena hujan atau malam sekalipun, aku akan tetap memakai kacamata hitam jika memang akan membuatku tampil lebih bagus. Bagiku jika keluar dari rumah, maka kami pun harus bergaya seperti manusia pada umumnya." "Manusia pada umumnya di negara ini tidak akan mengenakan pakaian seperti model catwalk sedang fashion show hanya untuk mengambil barang di asrama seorang mahasiswi," ucap Fori kepadanya dengan mata yang mencemoh ke arah Capella. "Ah, mereka tidak memiliki uang saja untuk membelinya! Yang kupakai ini edisi terbatas koleksi musim gugur brand elite dunia yang terbaru," jawab Capella cuek sambil mengangkat dagunya dengan angkuh. "Lagi pula kita akan ke mal dulu untuk belanja. Malam saja kita baru ke asramamu agar tidak terlalu banyak mahasiswa lalu lalang di sana." "Ya, aku setuju. Mereka akan memandangmu dengan aneh nanti," celetuk Fori sambil mengamati pakaian super branded Capella yang mencolok. "Tapi ngomong-ngomong... bagaimana kalian selama ini menghasilkan uang di dunia?" tanya Fori lagi secara tiba-tiba. "Apa kalian menciptakan uang atau menghipnotis orang untuk memberi uang banyak kepada kalian? Kulihat hidup kalian sangat mewah dan setahuku keluarga kalian juga salah satu donatur tetap Yayasan Immaculata, kan?" "Kami tidak melakukan hal seperti itu. Kami punya Sol," jawab Capella lagi sambil mengemudi dengan tenang. "Sol? Dia matahari di bumi, kan?" "Ya, dia juga menyamar sebagai manusia di bumi selama ini Dia pemilik banyak perusahaan raksasa di dunia dan bagian penting dari elite global. Semua uang kami di bumi berasal darinya. "Dia sedikit aneh kalau sedang jadi manusia," kata Capella mendadak sambil berbisik dengan menunjukkan mental bergosipnya yang tinggi. "Manusia mengatakan bahwa dia bagian dari organisasi rahasia tertentu. Hmmh... apa itu nama secret society yang terkenal?" "Illuminati?" ucap Fori mereka-reka. "Ah ya, kalau tidak salah semacam itu!" jawab Capella sambil melambaikan sebelah telapak tangannya kepada Fori. "Aku lupa nama tepatnya. Yang jelas mereka kelompok manusia pemuja kami, alam semesta." "Ngomong-ngomong aku penasaran dan lupa menanyakan soal ini sebelumnya. Apa yang membuat kalian semua turun ke bumi dan tinggal di sini?" tanya Fori lagi mendadak teringat soal itu. "Kami bukan orang baru di sini dan sebenarnya sudah sekitar seribu tahun ada di bumi," ucap Capella menerangkan. "Kaisar menyembunyikan putra mahkota di sini sampai sinar kaisarnya nanti muncul. Jika sinar kaisarnya sudah muncul, maka mau tak mau semua bintang wajib tunduk padanya. Namun karena sinar itu belum muncul, usaha perebutan kekuasaan untuk masa mendatang pun akan terus terjadi dan membuat nyawa putra mahkota akan terus berada dalam ancaman. "Dulu itu juga terjadi pada kaisar sendiri. Ia mengalami banyak rencana pembunuhan atas dirinya saat masih menjadi putri mahkota. Namun setelah sinarnya muncul, seluruh keluarga kaum bintang otomatis segera tunduk dan patuh padanya. Itu adalah hal yang lazim dalam dunia perbintangan. "Itu juga makanya mengapa meski sangat membenci kaisar...," lanjut Capella lagi, "kerajaan rival kami, Andromeda, hanya bisa melancarkan perang dingin tanpa berani mengobarkan perang sesungguhnya. Itu karena hukum baku di langit tidak memperbolehkan seorang kaisar dibunuh atau garis turun temurun suatu bintang yang nekad melakukannya akan musnah dengan sendirinya. "Fokus p*********n mereka akan selalu kepada calon kaisar selanjutnya. Mungkin belajar dari pengalamannya yang pahit dulu, kaisar menjadi sangat protektif kepada putra mahkota saat ini. Sejak dulu, kami selalu berpindah-pindah negara untuk melindungi putra mahkota. Aku pernah mendengar kalau ini harus dilakukan atas ramalan bintang peramal kami --- Methuselah --- sebelum ia mati suri. Jika putra mahkota kembali ke Kiklios sebelum sinar kaisarnya muncul, maka putra mahkota akan mati." "Memangnya apa itu sinar kaisar?" Fori kembali bertanya sambil memandang Capella dengan mata bulatnya. "Sinar kaisar adalah sinar yang akan muncul bagi calon pemimpin langit, sebelum ia dinyatakan layak dinobatkan menjadi pemimpin baru langit. Jika sinar itu belum muncul, maka ia tidak akan bisa menduduki takhta. "Biasanya sinar kaisar adalah pertanda sudah ada kaisar langit yang baru dan semua kaum bintang wajib melakukan penghormatan kepada sang kaisar baru. Tapi sinar kaisar hanya muncul di saat mereka sudah siap menjadi seorang pemimpin langit dan biasanya itu cukup lama terjadi." Fori memiringkan kepalanya dengan bingung. "Jadi... Xynth hanya akan aman jika ia sudah menjadi seorang kaisar?" "Ya," jawab Capela cepat. "Meskipun begitu, pada dasarnya menjadi kaisar pun belum tentu bebas dari rencana kudeta atau pembunuhan. Kebanyakan dari kaum bintang yang ingin menjatuhkan kaisar tanpa harus mati, akan berusaha bekerja sama dengan monster mengerikan seperti quasar. Ini karena quasar tidak memiliki ikatan apa pun dengan kerajaan kami --- dan masih menjadi sosok terkuat di seluruh langit hingga saat ini. "Aku sangat takut pada quasar karena hampir semua dari mereka memiliki senjata black hole ring atau lubang hitam," kata Capella sambil bergidik ngeri. "Kalau mereka mengeluarkan senjatanya, maka target mereka akan disedot mati tanpa sisa. Mereka sangat mengerikan. Dan keluarga bintang yang mau berdekatan dengan para quasar hanya Kerajaan Mata Hitam. Itu pun hanya beberapa dari mereka yang teramat gila dan nekad yang mau melakukan koalisi dengan quasar." "Jadi memang ada kerajaan yang benar-benar jahat di atas sana?" Fori menatap Capella yang terlihat merinding. "Sebenarnya... ada berapa banyak kerajaan di langit?" "Sangat sangat banyak! Jumlahnya bisa mencapai angka triliun dan semua kerajaan tunduk di bawah kepemimpinan Kiklios. Tentu saja ada kerajaan jahat di antara mereka. Kerajaan Mata Hitam adalah salah satunya. Mereka berasal dari rumpun bangsa Messier dan hampir semua bangsa Messier tidak ada yang bisa dipercaya. Sifat khas mereka adalah manipulatif dan mereka agak sedikit dikucilkan dari kerajaan-kerajaan lain." Fori terlihat manggut-manggut. "Hmmh... bagaimana dengan quasar? Apa mereka juga memiliki kerajaan tersendiri?" "Ya mereka punya, tetapi tidak ada yang tahu di mana mereka semua karena meski ikatan di antara mereka sangat kuat, mereka terbiasa berpencar dan menyamar sebagai bintang. "Mereka kaum yang sangat misterius. Kiklios dulu pernah beberapa kali menangkap quasar yang level kekuatannya kecil atau sedang, tetapi mereka cukup sulit untuk diinterogasi. Kalaupun ada yang bisa, hanya sedikit informasi yang biasanya dapat kami terima dari quasar karena mereka akan memilih meledakkan diri mereka dibanding dibaca isi kepalanya oleh Methuselah. "Katanya para quasar dipimpin oleh seorang raja yang disebut Chi," sambung Capella. "Tapi semenjak raja mereka tewas, kini mereka dipimpin oleh panglima perang mereka. Di sana mereka menyebut panglima mereka dengan sebutan Leviathan. Leviathan sendiri memiliki pasukan terkuat yang disebut Blazar. Ah, terlalu banyak istilah berbeda yang memusingkan dari mereka!" "Jadi... Raja Quasar benar-benar sudah mati?" "Ya, rumor mengatakan bahwa ayah dari Xynth yang membunuhnya," jawab Capella. "Ayah Xynth?" "Namanya Zegerux. Dia sangat fenomenal." "Boleh kutahu kenapa Alhine adalah kaisar?" tanya Fori lagi. "Bukankah biasanya suaminya yang seharusnya menjadi semacam raja? Kenapa dengan ayah Xynth dulu?" "Zegerux sudah lama mati," jawab Capella dengan raut wajah berbeda. Ia seperti agak lebih serius ketika Fori menyinggung soal mendiang ayah Xynth. "Dalam dunia keluarga bintang...," lanjut Capella kepadanya, "kami tidak mengenal perbedaan jenis kelamin seperti manusia pada umumnya --- untuk posisi dan jabatan apa pun. Di kami, hermafrodit sepertiku juga banyak, tetapi keluarga bangsawan di langit hanya ada satu, yaitu mereka yang berdarah perak. "Bintang perak hanya ada di Kiklios dan kini itu sangat langka. Dulu pernah ada p*********n besar-besaran para quasar terhadap keluarga bintang perak dan mengakibatkan seluruh keluarga besar Alhine tewas. Hanya Alhine darah perak yang tersisa saat itu. "Kalau kuingat-ingat, dulu... hidup Alhine tidak seperti ini. Ia bisa terbilang sebagai keturunan kaisar langit paling lemah dan paling direndahkan. Banyak yang ingin membunuhnya sebelum ia menjadi kaisar. "Di era awal saat ia baru dinobatkan menjadi kaisar, terjadi perang paling berdarah dengan quasar dan tragedi besar di langit sampai nyaris mengakibatkan ledakan big bang kedua. Banyak sekali yang tewas saat itu termasuk Zegerux --- ayah Xynth --- dan konon demikian juga dengan raja quasar. "Setelah perang usai, tercipta masa hitam di langit yang cukup panjang dan ketika masa hitam berakhir, Alhine sudah menjadi sangat berubah. Ia mendadak menjadi kaisar langit paling kejam dan sangat kuat. Hingga saat ini, kaisar adalah pemimpin yang paling banyak mendapat kutukan langit. Dia seburuk itu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN