"Kutukan langit?" tanya Fori terbelalak. "Ibu Xynth mendapat banyak kutukan langit meski ia adalah seorang kaisar?"
Capella mengangguk. "Kutukan langit terjadi pada kaum bintang yang terlalu sering membantai sesama bintang --- atau makhluk apa pun --- tanpa melakukan peradilan sebelumnya. Itu juga berlaku bahkan untuk seorang kaisar. Mereka yang mendapat begitu banyak kutukan langit dan tidak melakukan penebusan kesalahan, konon akan ditakdirkan mati secara mengenaskan. Namun kaisar sepertinya tidak percaya akan rumor kutukan langit turun-temurun itu."
"Dengar-dengar...,"---kata Capella lagi sambil melirik Fori dengan suara berbisik dan nafsu bergosip yang tinggi---"kaisar membunuh suaminya sendiri, Zegerux, di saat ayah Xynth itu sedang lengah. Orang-orang bilang ia mencuri kekuatannya serta pedang hitam pusaka milik Zegerux. Tapi kau jangan bilang-bilang kalau aku membocorkan gosip langit kepadamu, ya!"
"Ia yang membunuh ayah Xynth? Tapi kenapa?" tanya Fori dengan mata mendelik ngeri.
"Entahlah. Menurut rumor yang beredar, kemungkinan karena ia tidak ingin Zegerux dinobatkan menjadi Raja Andromeda dan kemudian anak mereka memiliki peluang lebih besar menjadi Putra Mahkota Andromeda dibanding Puta Mahkota Kiklios.
"Kau tahu, ayah Xynth berasal dari Andromeda, bukan Kiklios. Ia adalah anak kedua Raja Andromeda yang bernama Moratar dan lahir dari selir Moratar yang berasal dari Kerajaan Mata Hitam. Zegerux yang saat itu masih merupakan Panglima Perang Andromeda dinikahkan dengan Alhine oleh para tetua dua kerajaan. Saat itu Alhine juga belum dinobatkan sebagai kaisar dan Zegerux kemudian beralih menjadi panglima perang dua kerajaan sekaligus.
"Alhine mengandung Xynth bersamaan dengan tewasnya anak pertama Moratar. Saat itu, Zegerux langsung diangkat sebagai putra mahkota baru Andromeda. Sejak awal, ia memang memiliki aura raja yang sangat kuat. Namun, tindakan Moratar yang mengangkat Zegerux sebagai putra mahkota baru Andromeda memang jelas bukan sesuatu yang etis dilakukan dalam dunia politik perbintangan. Itu agak... licik."
"Kenapa?" tanya Fori dengan bingung.
"Karena jika ayah Xynth itu diangkat sebagai raja di sana, maka anak yang Alhine lahirkan dari Zegerux kelak akan menjadi putra mahkota dua kerajaan sekaligus. Jika anak mereka diklaim sebagai milik Andromeda, maka garis keturunan kaisar dan pusat pemerintahan langit akan bergeser ke Andromeda dan tidak lagi di Kiklios.
"Zegerux sendiri disebut-sebut mati di peperangan melawan Raja Quasar, sebelum ia resmi diangkat menjadi Raja Andromeda. Kematiannya menimbulkan masa hitam di langit dan adanya masa hitam membuat semua ingatan para bintang saat terjadinya tragedi itu menghilang total. Tidak ada yang ingat secara pasti fakta tentang siapa yang membunuh ayah Xynth itu hingga sekarang. "
"Aku tidak paham. Apa itu masa hitam?" tanya Fori sekali lagi dengan penasaran.
"Itu masa mengerikan yang timbul akibat pertarungan pemilik dua kekuatan terbesar di langit, yaitu Raja Quasar dan Zegerux. Keduanya saling membunuh dan mengakibatkan terjadinya kegelapan. Semua bintang kehilangan sinarnya selama periode waktu tertentu. Para quasar juga melemah dan menghilang untuk periode waktu yang sangat lama.
"Saat masa hitam terjadi, langit menjadi gelap total. Semua ingatan kami saat terjadinya perang dan tragedi besar itu juga terhapus. Yang tersisa dari ingatan kami sekarang hanyalah..., ada perang besar di antara mereka, tetapi kami tidak bisa ingat apa persisnya yang terjadi saat itu. Semuanya hanya berbicara soal itu berdasarkan selentingan informasi.
"Dengar-dengar, hanya Methuselah yang tetap bisa mengingat segalanya. Ia adalah tetua di Kiklios yang maha tahu. Namun ada yang berusaha membunuhnya hingga ia mati suri sampai saat ini. Kaisar sendiri bahkan sampai ikut hilang ingatan sama sekali. Ia tidak ingat total masa lalunya bahkan sampai Xynth lahir beberapa juta tahun setelah masa hitam."
"Berjuta-juta tahun? Seorang bintang lahir selama itu?" tanya Fori dengan kaget.
"Tergantung," jawab Capella. "Manusia di bumi lahir dari rahim wanita, di kami itu disebut nebula. Jika di bumi butuh sembilan bulan untuk melahirkan seorang anak... di langit, dari semenjak munculnya di nebula, butuh waktu lama sampai sebuah bintang terlahir. Itu bahkan bisa mencapai sepuluh juta tahun. Bisa juga kurang."
"La-lama sekali," gumam Fori terbengong-bengong.
"Sebenarnya tidak juga," jawab Capella kepadanya. "Manusia akan menganggapnya lama karena di bumi waktu berjalan lambat mengitari matahari. Di sana, itu tidak terlalu terasa. Menurutku, jika ada di sana segalanya terasa sama saja seperti menjalani hari demi hari di bumi."
Fori terdiam sesaat. Ia terlihat seperti memikirkan sesuatu dan mendadak merenung.
"Apa yang membuat ayah Xynth waktu itu mau diangkat sebagai Putra Mahkota Andromeda dan membuat Alhine marah? Dia pasti tahu kalau itu akan menimbulkan konflik, kan?"
"Aku tidak terlalu mengerti apa yang sebenarnya terjadi soal itu," jawab Capella dengan jujur. "Seingatku, Panglima Zegerux bukanlah orang yang gila kekuasaan. Namun itu semua terjadi begitu saja. Mungkin saja ia mendapat tekanan dari Andromeda sendiri."
"Hmmh, ngomong-ngomong seperti apa wajahnya? Apakah ayah Xynth itu mirip dengan Xynth?" tanya Fori lagi tiba-tiba setelah keduanya sempat kembali terdiam lama.
Dahi Capella berkerut seperti berusaha mengingat sesuatu. "Tidak ada yang bisa mengingat rupanya karena gambaran dirinya hilang dari kerajaan kami setelah masa hitam. Yang bisa kuingat hanya... Zegerux adalah panglima perang paling ditakuti dan memiliki jiwa petarung tinggi. Ia tenang, sangat cerdas, dan yang paling terutama adalah ia adalah bintang terkuat dalam sejarah keluarga bintang, bahkan sampai saat ini."
"Kau tahu, di langit ada level kekuatan," lanjut Capella lagi. "Normalnya level kekuatan para bintang ada di kisaran gamma satu sampai sepuluh. Levelku ada di kisaran gamma empat. Anak-anak remaja di Kiklios memiliki level gamma dua dan anak kecil biasanya memiliki level gamma satu.
"Yang ada di level tiga atau empat biasanya kalangan biasa yang sudah beranjak dewasa. Sol... meski dia salah satu tetua langit yang paling dihormati tetapi dia ada di level gamma lima. Kalau Vega ada di level gamma enam. Antares dan Betelgeuse sama-sama memiliki level gamma tujuh, sedangkan Rigel atau Alpheratz dari Andromeda memiliki level gamma delapan.
"Hanya satu orang di langit yang memiliki level gamma sepuluh, yaitu Alhine. Kekuatannya ada di atas Raja Moratar dan Panglima Perang Kiklios saat ini, yaitu Sirius. Keduanya sama-sama memiliki level gamma sembilan. Kalau kau belum tahu, Sirius itu adalah ayah dari Rigel."
"Bagaimana dengan Xynth?" tanya Fori penasaran.
"Kekuatan Xynth itu... agak sedikit aneh," ujar Capella secara perlahan. "Dia berada di level X. Terkadang ia seperti memiliki level yang sama dengan Rigel, terkadang juga seperti berada di bawah level Rigel. Biasanya kekuatan kaum bintang yang susah terukur di langit disebut level X. Para quasar umumnya juga memiliki level X karena tidak ada yang pernah tahu sekuat apa mereka, sampai seseorang kemudian bisa mengalahkan mereka.
"Nah, kalau ayah Xynth, Zegerux," lanjut Capella, "dia berada di level gamma infinite. Itu level kekuatan yang sama dengan milik Raja Quasar. Kekuatan jenis itu sangat... sangat langka dan jelas sudah melampaui batas level kekuatan apa pun. Pemilik kekuatan gamma infinite jelas sangat mengerikan dan akan sangat ditakuti. Mereka bisa mengakibatkan terjadinya ledakan big bang di langit.
"Namun saat Zegerux dan Raja Quasar dikabarkan mati, anehnya tidak terjadi big bang. Hanya muncul masa hitam di langit secara mendadak. Hingga kini belum ada lagi yang memiliki level kekuatan gamma infinite di langit. Semoga tidak ada lagi karena itu akan sangat berbahaya dan menakutkan bagi seluruh kaum bintang lainnya."
"Ah, big bang pernah terjadi kan sebelumnya?" ujar Fori teringat. "Bagi kami manusia, big bang adalah ledakan awal yang sangat besar sebelum alam semesta tercipta "
"Ya," jawab Capella. "Itu juga bisa berarti akhir dari periode alam semesta yang sebelumnya. Tidak ada yang pernah tahu big bang yang dulu sekali itu terjadi karena apa. Banyak yang mengatakan itu karena pertempuran sesama Raja Quasar terdahulu di saat mereka belum memiliki ikatan kuat. Tapi kurasa... tidak ada yang tahu pasti tentang itu. Itu sudah terjadi bahkan jauh sebelum Methuselah lahir."
Fori terlihat tercenung. "Seandainya benar rumor yang mengatakan bahwa Alhine mengambil kekuatan ayah Xynth, kenapa Alhine tidak memiliki level kekuatan yang sama dengan ayah Xynth, Zegerux?"
"Kekuatan sebesar itu tidak akan mudah diserap secara sembarangan. Siapa pun yang mencoba mengambilnya, tidak mungkin mampu menyerap secara penuh kekuatan gamma infinite. Mereka akan meledak jika memaksakan diri. Kurasa hanya tubuh terpilih yang paling kuat yang akan mampu menerima secara penuh kekuatan seperti gamma infinite.
"Gambaran mudahnya seperti ini. Quasar yang mencoba memasuki tubuh manusia akan kesusahan untuk menetap pada tubuh yang lemah. Itu akan mengakibatkan manusia lemah yang dimasuki kemudian mati. Kenapa? Karena tubuh manusia yang tidak cukup kuat menampung quasar, akan mati akibat rusaknya organ internal manusia. Berbeda jika mereka menemukan tubuh yang tepat dan bisa sesuai dengan kekuatan mereka. Kau salah satu contoh tubuh tepat yang bisa mereka masuki."
"A-aku tidak merasa kuat. Bahkan untuk sekadar mengangkat air mineral galon saja aku tidak sanggup," ujar Fori terheran-heran.
"Aku tidak bisa menjawabnya karena ini memang masih membingungkan. Bisa jadi karena tubuhmu ditakdirkan langit untuk menjadi...."
Capella menghentikan ucapannya. Ia melihat Fori memandangnya sambil mengangkat sebelah alis matanya.
"Aku ditakdirkan langit untuk menjadi...?"
"Ti-tidak," jawab Capella tergagap. "Maksudku tadi, mungkin karena tubuhmu sempat menyerap kekuatan putra mahkota. Setahuku, tubuhmu juga pernah diberkati oleh putra mahkota sendiri saat kau masih kecil."
"Ah ya!" seru Fori mendadak. "Saat memoriku dibuka oleh Alhine, aku juga ingat Xynth pernah mengucapkan kalimat seperti itu di danau. Dia bilang kalau dia telah memberkatiku dengan umur panjang. Apa maksud ucapannya itu?"
Capella menyipitkan matanya. "Kau tidak ingat pernah mengajukan permintaan kepadanya dulu? Karena kau mampu melihat sinarnya saat kau masih kecil dan juga berdoa untuk diberi umur panjang, Xynth tanpa sadar mengabulkan permintaanmu."
"Dia... memberiku umur panjang?" tanya Fori dengan raut lugu.
"Semacam itu. Manusia yang diberkati langit seharusnya berumur panjang."
"Apa jarang ada manusia yang bisa melihat sinar Xynth di langit selain aku?"
"Tidak ada manusia yang bisa melihat sinar putra mahkota di langit ataupun sinar bintang perak mana pun kecuali keturunan manusia pemuja bintang dan mereka-mereka yang terpilih. Kkalau kau... anehnya bukan termasuk keduanya."
"Jangan bertanya lebih soal ini!" ujar Capella lagi dengan cepat setelah melihat raut lebih bingung di wajah Fori. "Aku tidak bisa dan tidak akan menjawabnya!"
Fori terdiam seketika setelah Capella menghentikan niatnya bertanya. Namun setelah lama terdiam dengan pendangan menerawang, ia tiba-tiba merasakan penasaran akan sesuatu.
"Ngomong-ngomong... apa Alhine pernah mencintai ayah Xynth?" tanya Fori memecah keheningan saat mobil mereka sudah mendekati lokasi mal yang mereka tuju.
Capella terdiam sejenak. "Tidak ada yang tahu pasti soal itu. Di seluruh langit, pernikahan antar para bintang biasanya sudah ditentukan dan bukan karena keinginan masing-masing seperti di bumi. Dulu karena ada klausul penyatuan Kiklios dan Andromeda, kaisar dan Panglima Zegerux dinikahkan oleh para tetua kedua kerajaan.
"Aku tidak tahu apa mereka memang pernah saling mencintai karena keduanya berasal dari kerajaan yang terlibat konflik kekuasaan tersembunyi. Seharusnya, karena hal itu mereka justru saling membenci. Namun... dulu Zegerux sendiri menghadapi para quasar yang ingin membunuh istrinya. Itu berarti sebenarnya ia sangat melindungi kaisar dan Kiklios. "
"Kalau memang sebuah pernikahan antar bintang sudah ditentukan, berarti Xynth juga begitu?"
"Ya, tentu saja," jawab Capella dengan cepat. "Bukan kaisar yang menentukan pernikahan anaknya. Yang boleh menentukan sebuah pernikahan sakral kerajaan hanyalah para tetua langit. Biasanya sudah ada calon pasangan yang dipersiapkan untuk bakal kaisar langit atau bangsawan dari kerajaan-kerajaan di bawahnya. Itu biasanya menjadi keputusan sangat penting dan tidak bisa ditentang.
"Penentuan pasangan Xynth sendiri belum dilakukan oleh para tetua hingga saat ini," sambung Capella, "tetapi besar kemungkinan kakak Rigel yang bernama Shaula yang akan dinikahkan dengan Xynth nantinya. Dia dianggap yang paling ideal untuk menjadi seorang ratu langit."
Fori terhenyak di tempatnya dengan tubuh mematung. "Jadi... benar dia memiliki tunangan?"
"Mereka belum resmi ditunangkan, tetapi kurasa itu akan segera terjadi jika... putra mahkota berumur panjang. Apalagi, Shaula adalah anak pertama Sirius yang kedudukannya sangat penting di Kiklios. Putra mahkota dan Shaula sendiri juga sudah sangat dekat sejak kecil, jadi kurasa itu tidak akan sulit diwujudkan nantinya."
"Seperti apa Shaula?" tanya Fori dengan suara yang tiba-tiba seperti nyaris tertelan.
"Shaula gadis menyenangkan dan banyak disukai. Dia pintar dan sangat anggun. Ia sangat cantik seperti kaisar, tetapi kelakuannya jauh berbeda dengan kaisar. Kaisar tidak menyukainya. Tapi... kaisar memang tidak menyukai siapa pun yang menjadi pesaing kecantikannya karena dia sangat kompetitif," kata Capella kembali bergosip sambil menghentikan mobilnya di depan gardu valet parking yang ada di sebuah mal besar Jakarta.
"Meskipun dia anak baik...,"---ujar Capella lagi dengan wajah yang mendadak menerawang---"kurasa aku juga kurang cocok dengan Shaula. Aku selalu kesusahan membaca pikirannya dan dia... dia jauh berbeda dengan Rigel. Shaula sedikit lebih susah untuk ditebak."
Fori sudah tidak menyahut lagi kepada Capella. Ia langsung turun dari mobil yang mereka naiki begitu seorang juru parkir mendatangi mobil mereka. Wajahnya kini menjadi muram dan ia tenggelam dalam lamunannya sendiri.
"Fori, sepertinya ada yang terjadi di rumah kami," ucap Capella tiba-tiba begitu mereka keluar dari mobil. Mata pria botak itu memandang petir di langit yang kini terus menggelagar dengan keras. "Ada kekuatan besar yang datang ke rumah kami dan itu sedang membuat kaisar sangat marah."