Xynth - Tersangka?

2101 Kata
Lingga membuka matanya secara perlahan dari tidurnya dengan pandangan menerawang. Bagian belakang kepalanya terasa sangat sakit dan ia begitu pusing. Pria itu baru saja mengalami suatu mimpi yang membuat entah bagaimana dadanya terasa sesak. Namun saat terbangun, ia tidak mampu mengingat apa pun tentang mimpinya lagi. Pria itu kini menatap langit-langit di kamar yang ia tempati dan merasakan dinginnya cuaca di luar. Suara langit yang bergemuruh membuat pria itu tak ingin bergerak dari tempat tidurnya sama sekali. Ia merasa begitu selama beberapa lama sampai akhirnya matanya menyadari sesuatu. Ia tidak sedang memandangi langit-langit di kamarnya. Lingga mengangkat tubuhnya dengan cepat dan melihat ke sekelilingnya dengan waspada. Begitu ia melihat ke samping tempat tidurnya, ia langsung berseru kaget dan bergerak mundur sampai tubuhnya langsung terjatuh ke lantai. Ke-kenapa wanita sinting ini tidur di sampingku? Lingga menggumam dalam hati dengan wajah terkejut. Ia bangkit perlahan dan kemudian menunduk ke tempat tidur lagi untuk melihat wanita yang masih tertidur pulas di sana. Wajah cantik wanita itu terlihat sangat pucat, tetapi entah bagaimana ada bintik-bintik kemerahan yang aneh di wajahnya. Hidung wanita itu juga berdarah dan ia juga terlihat seperti terisak sedih dalam tidurnya. Kenapa dengan wanita ini? Lingga kembali berujar dalam hati dengan wajah tak tenang. Ia mengusap darah hampir mengering di hidung wanita itu dengan perlahan dan memandanginya lama dengan rasa iba. Apa wanita ini benar-benar sakit? Tubuh wanita itu mendadak terlihat bergerak dalam tidurnya dan ia mengeluarkan suara-suara dari mulutnya. Lingga menyangka ia akan kembali menangis sambil tidur, tetapi tak disangka beberapa detik kemudian wanita itu justru mengorok dengan kencang dan membuat Lingga seketika melongo. Ia pun kemudian tersenyum geli setelahnya akibat melihat posisi tidur wanita itu kini sangat serampangan. Dengan perlahan, Lingga menyelimuti tubuh wanita itu dan berjingkat keluar dari kamarnya. Pria itu kini berada di luar kamar yang tadi ia tempati dan melihat ke sekelilingnya. Ia pun berjalan perlahan memandangi setiap bagian dari rumah itu dengan teliti. Banyak laporan terkait rumah itu yang sejak dulu membuatnya curiga. Menurut beberapa yayasan penyalur jasa asisten rumah tangga, selama ini semua pekerja mereka yang pernah dikirim ke rumah itu mendadak menghilang begitu saja. Begitu juga dengan tenaga pengajar yang pernah ke rumah itu. Setahun belakangan ia sudah berusaha untuk menemui pemilik rumah itu tetapi tidak pernah berhasil. Ia hanya pernah menemui pelayan rumah itu yang tinggi dan botak. Namun anehnya, rekaman kamera di rumah mereka menunjukkan bahwa orang-orang yang dikatakan hilang terlihat sudah keluar dari rumah itu sesuai pernyataan sang pelayan. Yang aneh, rekaman CCTV di jalan raya yang tak jauh dari rumah itu tidak menunjukkan adanya penampakan orang-orang hilang tersebut di waktu saat mereka telah keluar dari rumah itu. Karena tubuh orang yang dilaporkan hilang di sana tidak pernah ditemukan dan kepolisian juga tidak berhasil mendapatkan saksi, maka kasus tersebut dianggap tidak cukup kuat diangkat lebih dalam. Meskipun begitu Lingga selalu memiliki firasat aneh tentang seisi rumah yang sering terlihat seolah kosong itu. Kini, Lingga beruntung bisa masuk dan ada di dalam rumah yang terkenal aneh tersebut. Ia pun bergerak antusias untuk langsung menyelidiki apa pun di sana. Pria itu berjalan menyusuri lorong-lorong dan membuka beberapa kamar di sana satu per satu. Hampir seluruh kamar di dalamnya kosong. Hanya ada satu yang terlihat berisi karena ada suara bunyi alat-alat tertentu dari bagian kamar itu. Saat ia masuk, yang terlihat oleh Lingga hanya seorang gadis berambut merah yang sepertinya sedang dirawat intensif karena sakit. Berbagai selang dan alat medis canggih ada di sekitar tempat tidur wanita itu, tetapi tidak ada satu orang pun yang menjaga wanita itu. Lingga kemudian menutup pintu kamar itu dan kini ia berjalan menyusuri lorong di seberangnya. Ada beberapa kamar lagi di sana yang besar-besar. Ketika ia membuka pintu pertama di lorong sayap kiri, ia melihat ada pria berambut pirang sedang terluka berat dan sedangmenjalani perawatan di tempat tidurnya. Sama seperti wanita berambut merah tadi, pria itu juga dikelilingi berbagai alat medis di sekitarnya. Namun tidak ada selang khusus di bagian tubuhnya. Tak berapa lama, Lingga bergerak lagi ke sebuah pintu di depan kamar tadi dan membukanya. Di bagian dalam, ia melihat ada pria dengan tampang klasik yang berambut panjang hitam juga terlihat tengah dirawat karena terluka berat. Pria itu juga terlihat seperti sedang menjalani perawatan khusus. Lingga merasa ada yang tidak beres di rumah itu dan berusaha melihat ke tempat-tempat lainnya. Namun saat ia akan berjalan ke dua kamar lainnya di ujung lorong, pria itu langsung terkejut dengan kehadiran seorang pria muda sedang berdiri di tengah lorong dan memandanginya dengan tajam. "Siapa kau? Apa yang sedang kau lakukan di rumahku?" tanya pria berusia sekitar dua puluhan tahun dengan tinggi tubuh yang setara dengannya itu. Pria di hadapan Lingga itu terlihat juga terluka berat dengan perban di sana-sini dan berdiri dengan bantuan tongkat. "Kau pemilik rumah ini?" tanya Lingga kepada pria muda itu. "Apa... kau yang bernama Xynth?" Xynth tidak menjawab. Wajahnya terlihat tegang karena mencium bau manusia dari diri Lingga dan ia memasang tampang curiga pada pria itu. "Aku dari kepolisian," ujar Lingga menjawab Xynth. "Aku juga tidak tahu kenapa aku ada di sini. Seingatku tadi aku berdiri di depan gerbang dan ada salah satu wanita di rumah ini yang mendatangiku. Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah itu dan saat bangun, tahu-tahu aku sudah berada di dalam rumah ini." Kini Xynth mengangkat sebelah tangannya dan menutupi wajahnya dengan kesal. "Jadi kau sudah bertemu dengan ibuku?" Xynth merendahkan intonasi suaranya. Ia merasa sedikit malu karena yakin ibunya pasti sudah melakukan sesuatu kepada pria itu dan kemungkinan besar memukulnya hingga pingsan. "Ibumu? Aku belum bertemu dengan ibumu, tetapi wajah wanita itu memang sedikit mirip denganmu. Kurasa dia... kakakmu?" Xynth tidak menjawab pria itu dan malah memelototi Lingga dengan wajah seperti merasa terganggu. "Kenapa polisi datang ke rumahku?" "Kami sedang menangani kasus kematian seorang mahasiswi bernama Hannah di kampus kalian," jawab Lingga dengan tenang. "Saat ini kami sedang menyelidiki penyebab kematiannya dan kami berusaha untuk meminta keterangan darimu soal itu. Sebelumnya kami sudah berusaha menghubungi kalian, tapi sepertinya tidak satu pun dari orang di rumah ini memiliki nomor yang benar. Jadi... kami memutuskan untuk langsung datang saja ke sini." "Kami? Kulihat kau hanya seorang diri di sini," desis Xynth dengan nada mengancam, tetapi pria di depannya tetap terlihat santai dan tidak terpengaruh oleh ucapan Xynth sama sekali. "Apa aku bisa bertanya kepadamu tentang beberapa hal di sini atau aku harus mengajukan panggilan terhadapmu ke kantor kami?" tanya Lingga balik mengancam. Uniknya saat mengucapkannya, raut wajah polisi itu hanya terlihat datar saja. Xynth tersenyum tipis. Ia mengangkat tongkatnya dengan perlahan dan mengajak pria itu mengikutinya berjalan menuju ruang duduk di lantai dua. "Errr, boleh kutahu apa yang terjadi denganmu?" tanya Lingga dengan tampang heran. "Kulihat ada beberapa orang lainnya sedang terluka berat di sini." "Kau melihat mereka? Apa polisi sekarang juga bisa sembarangan memasuki wilayah privasi orang dan mengintip tanpa ijin?" tanya Xynth dengan sindiran tajam ke arah Lingga. "Aku tidak memasuki wilayah privasi orang sembarangan," jawab Lingga dengan cuek. "Kakakmu tadi mendatangiku di luar. Pasti sesuatu terjadi kepada bagian kepalaku saat itu karena aku mendadak terbangun di bagian dalam rumah ini. "Karena saat terbangun kepalaku terasa sakit seperti sudah dipukul, aku langsung berusaha mencari orang-orang untuk membantuku. Anehnya di sekitarku tadi tidak ada siapa pun, jadi aku mencari orang-orang lain sampai ke kamar. Aku cukup kaget saat melihat hanya banyak pasien sedang dirawat di rumah ini." Xynth memandangi polisi di depannya yang mengusap bagian belakang kepalanya itu berkali-kali. Ia tahu bahwa polisi itu sadar betul bahwa ia telah dipukul salah satu orang di rumah ini sampai pingsan dan menggunakannya sebagai alasan mengancam balik. Kini Xynth duduk dengan menyilangkan kakinya di kursi dan melipat tangannya di d**a seolah berusaha menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu. Mata peraknya mengamati pria bernama Lingga itu dengan seksama. Pria ini tidak memiliki rasa takut sama sekali berada di rumah ini sendirian, pikir Xynth dalam hati. Kebanyakan manusia yang datang ke rumah itu akan sangat ketakutan karena berbagai rumor buruk rumah tersebut, tetapi polisi di depannya itu terlihat seperti tidak kenal rasa takut. Ia bahkan tidak gentar dengan ancaman tersembunyi dari perkataan Xynth. Apa ia bodoh atau memang bernyali besar? "Apa yang kau mau tahu?" tanyanya kepada polisi bernama Lingga itu dengan wajah dingin. "Apa benar mahasiswi yang bernama Hannah mencarimu di malam saat festival usai?" "Ya," jawab Xynth ringan. "Ia ingin meminta maaf karena sudah melakukan kesalahan kepada tim kami. Meskipun begitu aku mengatakan kepadanya bahwa ia harus bertemu dengan ketua tim kami dan bukan aku." Lingga mengangkat sebelah alis matanya. "Melakukan kesalahan kepada tim kalian?" "Hannah menyabotase beberapa alat milik tim kami saat festival dan membuat kami semua sempat sangat kacau," jawab Xynth lagi. "Bagaimana kalian tahu kalau dia yang melakukannya?" "Dia mengaku melakukannya." "Mengaku setelah festival usai atau sebelum festival berakhir?" "Rekaman black box yang kalian terima sebagai bukti itu menunjukkan dia datang ke area pembuangan sampah fakultas dan bertemu kami, kan? Di saat itu lah dia mengakui kalau memang dia yang melakukannya." "Hmmh, berarti sebelumnya kalian pun belum merasa pasti kalau dia pelakunya?" tanya Lingga lagi. "Boleh aku tahu bagaimana dia melakukan sabotase terhadap alat-alat kalian?" Xynth menghela napasnya. "Kami tidak tahu bagaimana dia melakukannya secara pasti. Namun saat aku dan Fori masuk ke dalam ruangan penyimpanan alat milik kami itu, kami lihat semua alat kami sudah dalam posisi acak-acakan dan hancur. Itu awal dari kecurigaan kami kepadanya." "Kenapa kalian curiga kepadanya? Ada alasan khusus?" "Yang akan diuntungkan dari adanya masalah di tim kami pada saat malam festival digelar hanya tim kuning yang dipimpin oleh Hannah. Fakultas kami sedang melakukan kompetisi masa orientasi di kampus. Ada beberapa hal yang sedang diperlombakan dan kedudukan skor di akhir hari kedua bagi semua tim sama. Karena itu hari ketiga mungkin menjadi hari yang menegangkan bagi semua tim karena saat festival digelar, salah satu harus menang... atau salah satu wajib menghindar dari dua posisi terbawah." "Wajib menghindar?" "Ya, karena dua posisi terbawah akan menjalani hukuman," jawab Xynth lagi. "Selain itu tentunya semua tim saat itu berlomba mati-matian untuk menang demi gengsi. Kebetulan di hari terakhir, tim kami secara khusus berhadapan dengan tim kuning Hannah. Jadi itu yang membuat kami mencurigai dia sebagai pelakunya. Yang kudengar dia memang sedikit memiliki jiwa bully dan kebetulan... timnya memang satu-satunya yang masih berada di aula saat semua tim lain sudah mengarah ke lokasi festival. "Mengingat dia memang tukang bully," sambung Xynth dengan dingin, "tentunya banyak yang membencinya. Mungkin seseorang dendam kepadanya dan membunuh gadis itu. Bisa jadi juga tidak ada yang membunuhnya dan sesuatu yang alami yang ternyata membuatnya tewas." "Boleh aku tahu, siapa yang mengatakan kalau dia memiliki jiwa bully? Setahuku kalian semua masih baru di kampus itu. Meskipun banyak dari kalian yang baru saling mengenal satu sama lain, tentunya ada juga yang sudah saling mengenal dari dulu, kan?" "Ketua tim kami mengenal dia sejak masa sekolah. Mereka satu sekolah selama bertahun-tahun." "Ketua tim kalian... gadis yang bernama Fortuna Ramaya?" "Ya, tapi saat ia akhirnya menemui Fori, aku juga kebetulan ada di sana. Hannah pergi tidak berapa lama setelah berbicara dengan Fori. Setelah ia pergi, aku dan Fori langsung sama-sama pulang," jawab Xynth terburu-buru saat sadar sudah menyinggung nama Fori kepada polisi di depannya itu. Sayangnya, Lingga sudah menatapnya dengan tajam. "Gadis bernama Fortuna atau Fori ini... dia juga ada bersama kalian di taman hiburan kemarin, kan?" "Ya," jawab Xynth lagi. Kali ini duduknya tampak tidak tenang. "Kami juga tidak bisa menghubunginya dan menemuinya. Kau tahu di mana dia berada saat ini? Dia juga disebut-sebut sebagai salah satu saksi." "Setahuku Siska yang terakhir bertemu dengan Hannah," jawab Xynth mengalihkan pertanyaan Lingga. "Benar," jawab Lingga sambil menghela napas. "Kalau dia tidak sedang kritis di rumah sakit, kami mungkin juga akan fokus ke gadis bernama Siska. Tapi anehnya... kemarin malam di taman hiburan, Siska ditemukan dalam kondisi kritis dengan organ bagian dalam tubuhnya seperti terbakar. Ini sangat mirip dengan kondisi Hannah. Bukankah di sana dia baru bertemu denganmu dan Fori?" "Ya," jawab Xynth lagi, kini dengan nada mulai khawatir. "Black box yang kami dapatkan memang menunjukkan kalau kau dan teman-temanmu meninggalkan kampus lebih cepat. Namun tidak demikian dengan Siska dan Fori. Pergerakan mereka tertangkap kamera sedang meninggalkan gedung di dekat tempat sampah, beberapa menit setelah kau pergi. Siska memang paling terakhir, mungkin hanya terpaut enam menit dari Fori." "Kurasa kau tidak memiliki kasus di sini, Pak Polisi," desis Xynth lagi. "Kalau kasus ini dianggap pembunuhan, tidak mungkin kan ada yang bisa membunuh dengan cara seperti itu?" Lingga terdiam sejenak. "Ya, kalau saja Siska tidak ditemukan dalam kondisi nyaris sama dengan Hannah setelah bertemu dengan dua saksi yang sama, mungkin ini sekedar hanya masuk kategori kematian sangat ganjil." "Tapi...?" tanya Xynth kkepadanya. "Tapi... bukankah di sekitarmu selama ini memang banyak kasus ganjil?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN