Xynth mengangkat alis matanya. "Kau sedang menuduhku?"
"Aku tidak bisa asal menuduh jika tidak ada hal yang benar-benar bisa dijadikan bukti. Meski mencurigai sesuatu, aku tidak akan langsung menarik kesimpulan dengan cepat," ujar pria itu kepada Xynth sambil memajukan setengah badannya di kursi. Ia lalu menopangkan dagunya di atas kedua sikunya dan memandang ke arah Xynth dengan sorot mata yang misterius.
"Tapi... reaksimu cukup berbeda dengan kebanyakan orang normal yang dimintai keterangan atas kasus hangat kematian seseorang di lingkungannya. Kebanyakan orang akan antusias menjawab... atau terlihat syok... atau panik... atau bahkan menghindar dari polisi sama sekali. Anehnya raut wajahmu justru terlihat terlalu tenang untuk ukuran orang yang berbicara dengan korban sebelum kematiannya. Kau bahkan tidak terlihat kaget atau bertanya soal Hannah dan Siska sama sekali."
"Aku tidak terlalu dekat dengan keduanya," jawab Xynth tetap dengan ekspresi datar.
"Ada alasan untuk itu?"
Xynth baru akan menjawab, tetapi mendadak matanya fokus menatap ke lantai dan badannya tiba-tiba menegang seperti merasakan sesuatu yang ganjil di sekitarnya.
"Ada yang sedang datang ke sini," ujar pria itu mendadak.
"Kau bilang apa?" tanya Lingga dengan bingung.
"Cepat pergi dari sini, kami akan segera menemui tamu yang lainnya," seru Xynth dengan tergesa-gesa ke arah Lingga. Namun Lingga hanya menatapnya dengan heran.
"Maksudmu?"
"Ah, sudah tidak ada waktu lagi," gumam Xynth kepadanya.
"Hah?"
Xynth berdiri dari kursinya dan menatap polisi di depannya dengan sedikit ragu sesaat. Namun sedetik kemudian, Xynth sudah bergerak cepat ke arah Lingga dan mendaratkan pukulan ke kepalanya hingga membuat pria itu kembali tak sadarkan diri dan sekali lagi pingsan di rumah Xynth.
"Ibu," teriak Xynth melalui telepati sambil berjalan cepat dengan tongkatnya. "Ibu ada yang akan berjunjung ke rumah kita!"
Di tempat tidurnya, Alhine membuka mata sembabnya dengan berat di tempat tidur. Saat ia mendengar teriakan Xynth dan merasakan ada sesuatu yang kuat sedang melesat menuju ke arah rumahnya, wanita itu terbangun cepat dan langsung menyeret kakinya untuk turun dari tempat tidur.
"Siapa orang bodoh yang berani datang ke sini tepat di saat suasana hatiku sedang buruk?" desisnya sambil menggerakkan otot lehernya dengan kesal.
"Capella!" teriak Alhine kemudian dengan lantang. "Capellaaa!!"
Tidak ada jawaban kepadanya dari bawah. Tidak pula ada suara jawaban dari telepati di kepalanya. Wanita itu langsung tahu kalau Capella sedang mematikan radar telepatinya dan bersembunyi.
"Di mana pria botak itu?!" gumam Alhine seorang diri dari atas balkon dengan tidak sabaran. "Dia pasti sedang keluar seenaknya tanpa pamit. Dasar tidak berguna!"
"Ibu," panggil Xynth dari balkon di seberangnya. Alhine menoleh dan melihat anaknya yang jalan terpincang-pincang ke arahnya. "Rigel dan Antares masih tertidur, sementara...."
Ucapan Xynth terpotong begitu saja saat ia memandang Ibunya. "Ibu, kenapa dengan wajahmu?!"
"Wajahku?" tanya Alhine dengan bingung. Ia langsung memegangi wajahnya dengan panik. "Ah, sialan! Bintik-bintik aneh ini masih belum hilang! Kata Vega aku punya alergi khusus dengan pria manusia itu. Vegaa! Capellaaa!!"
"Pria manusia?"
"Ya, polisi yang datang itu," jawab Alhine sekilas. "Di mana sebenarnya Vega dan Capella saat ini?!"
"Aku baru mau bilang, Capella tadi sepertinya bilang akan keluar dengan Lima Belas untuk mengambil barang-barang milik Lima Belas di asrama kampus," jawab Xynth masih menatap aneh pada wajah Ibunya. "Ada beberapa bintang sedang mendekat ke sini. Kau tahu tentang ini, kan?"
"Hanya pasukan kecil saja, aku bisa mengatasinya sendiri. Kau tidur saja lagi," jawab Alhine kemudian sambil menggertakkan jari-jarinya.
"Kurasa itu Alpheratz dan pasukan merahnya," ujar Xynth. "Aura Alpheratz selalu terasa sama. Aku yakin tentang ini."
"Anak kecil dari Andromeda itu ada di sini?" tanya Allhine balik kepada Xynth dengan kaget. "Ia juga di bumi?"
"Capella tidak memberitahumu?"
"Aku hanya dikasih tahu soal kedatangan quasar, tapi ...,"---ucapan Alhine mendadak terhenti dan ia langsung tertawa---"sempurna! Aku memang tidak suka dengan orang-orang Andromeda dan mereka datang tepat di saat aku kesal!"
Sedetik kemudian, Xynth melihat ibunya sudah melesat pergi dari pandangannya dan memilih langsung menyerang pasukan Alpheratz yang kini sudah tiba di pekarangan rumah mereka. Dari tempatnya, ia bisa melihat ibunya langsung menyeret jatuh seorang pasukan merah Alpheratz yang tengah melesat dan mematahkan lehernya dengan cepat.
Dengan gerakan kilat, ibunya kembali menyerang salah satu pasukan merah lainnya lalu menghanguskan tubuhnya tanpa ampun. Alpheratz sedang melintas cepat saat pandangan matanya seketika bertemu dengan bola mata Alhine dalam hitung sepersekian detik.
Saat menyadari bahwa sang kaisar langit ada di sana, ia berusaha membalikkan badan dengan cepat. Namun rupanya itu sudah sangat terlambat bagi Pangeran Andromeda tersebut. Alhine langsung memukul bagian perut pria itu dan membuat Alpheratz seketika terlempar ke bagian dalam rumahnya.
Pukulan dari Alhine sampai memecahkan dinding ruang utama rumah mereka sendiri dan membuat Alpheratz langsung tersungkur di bawah mata kaki Xynth yang sedang menonton pertarungan mereka dengan santai. Saat Alpheratz sudah mengangkat kepalanya dengan susah payah, ia melihat Xynth sudah memandangi dirinya dari atas.
"X-Xynth," ucap Alpheratz tergagap. "Sejak kapan ada kaisar di sini?!"
Xynth hanya memandang datar ke arah pria itu dengan bersandar pada tongkatnya. Ia lalu mengangkat tubuh Alpheratz ke udara dengan kekuatan sinarnya dan membanting Alpheratz ke tembok dengan keras --- hingga tembok di bagian samping rumahnya yang tebal dan kokoh seketika retak.
"He-hentikan Xynth!" seru Alpheratz lagi dengan cepat. "Kau dan ibumu harus berhenti. Kami tidak datang untuk menyerang. Ada yang ingin kubicarakan de---"
Bruuukkk!
Badan Alpheratz sudah kembali membentur dinding lain di sana dan kali ini dinding itu sampai bolong untuk kedua kalinya. Ketika ia menoleh ke arah orang yang menyerangnya, pria itu melihat Alhine sedang menatap tajam ke arahnya sambil membawa dua pasukan Alpheratz yang gemetaran dengan kedua tangganya.
"Ka-kakak Ipar..., ma-maksudku Kaisar, berhentilah," gumam Alpheratz sambil terbelalak melihat semua pasukannya yang lain sudah tewas seketika dan hanya tersisa dua yang sedang berada dalam cengkeraman Alhine.
Alpheratz merangkak mundur dengan perlahan. "Kumohon berhenti dan dengarkan aku dulu. Aku tidak ke sini dengan tujuan menyerang. Lagi pula kalau sesuatu terjadi kepadaku, perang besar akan tercipta antara Kiklios dan Andromeda."
"Kau tidak berpikir sebaliknya di masa-masa kau mencoba membunuh anakku?" tanya Alhine dengan tatapan tajam.
"Kakak Ipar, tenang dulu. Ayahku akan tahu jika kau membunuhku di sini," kata Alpheratz lagi mencoba menghentikan Alhine yang terlihat sangat ingin membunuhnya.
"Aku bukan lagi kakak iparmu, aku adalah kaisarmu!" bentak Alhine galak. "Kau pikir Moratar akan tahu jika kau kubunuh di sini? Aku berani bertaruh kalau kau belum memberi tahu siapa pun di Andromeda soal keberadaanmu di bumi. Tidak mungkin kan kau mengaku pada ayahmu bahwa kau ke bumi untuk membunuh Xynth? Kalau kau melakukannya, ayahmu akan terlebih dahulu membunuhmu sebelum kau bisa menginjakkan kaki di bumi."
Alpheratz merasa terpojok seketika. Ia melihat Alhine melempar dua pengawalnya begitu saja di lantai dan bergerak perlahan mendekatinya. Karena merasa terancam, Alpheratz segera melesat cepat ke arah Xynth dan berdiri di belakang Xynth sambil mengarahkan belati ke leher anak Alhine itu.
"Jangan mendekat," ujar Alpheratz ketakutan. "Jika kau mendekat, aku akan langsung menusuk leher Xynth."
"Alpheratz," desis Xynth sambil terkekeh meski belati Alpheratz sedang menyentuh kulit lehernya dan mengancam nyawanya. "Aku memang tidak suka berada di bawah perlindungan ibuku, tapi kalau aku jadi kau... aku tidak akan pernah nekad melakukan hal seperti ini. Ia akan merobek tubuhmu dalam hitungan detik."
Benar saja, mata Alhine yang berapi-api menatap tajam ke arah Alpheratz. Tanpa memperdulikan ancaman Alpheratz, ia segera bergerak melompat untuk membunuh Pangeran Andromeda itu. Namun yang terjadi kemudian, Alhine mendadak terjatuh dengan wajah membentur lantai yang keras. Ia terbangun dengan tergopoh-gopoh dan mengusap wajahnya dengan bingung.
"I-Ibu..?" ucap Xynth melongo kaget.
"Kakak Ipar?" ucap Alpheratz dengan wajah yang sama bengongnya.
"A-apa yang terjadi kepadaku?" gumam Alhine sambil memandangi tangannya sendiri di lantai.
Ia kemudian bergerak lagi dengan sigap dan melesat maju ke arah Alpheratz untuk menyerangnya. Namun, Alpheratz berhasil menghentikan wanita itu dengan meletakkan sebelah telunjuknya di dahi Alhine.
"Apa yang terjadi dengan kekuatan ibumu?" bisik Alpheratz kepada Xynth sambil memandangi Alhine yang sedang histeris sendiri.
Wanita itu terlihat berusaha keras menyingkirkan tangan Alpheratz di dahinya. Kedua tangannya tak berhenti bergerak untuk berusaha menyerang Alpheratz, tetapi ia bahkan tak bisa mendekat dari hadangan sebelah tangan Alpheratz itu.
"Ibu, apa yang sedang kau lakukan?! Kau kenapa?" tanya Xynth dengan tampang malu sambil melirik ke arah Alpheratz.
"Aku tiba-tiba tidak bisa menggunakan kekuatanku lagi," ucap Alhine kali ini dengan lebih histeris.
"Ada apa ini?" tanya sebuah suara yang mendadak terdengar dari bawah kaki tangga di dekat mereka.
Lingga sedang berjalan ke arah mereka sambil mengelus-ngelus kepalanya yang terasa sakit karena dipukul Xynth tadi. Ia kemudian terdiam bengong melihat suasana di antara tiga orang yang sedang saling berusaha menyerang di depannya.
"Kau... kenapa bisa tersadar secepat ini?" tanya Xynth dengan raut wajah yang kaget.
Namun ternyata Alhine lebih kaget lagi. Wanita itu kini berbalik dan menatap Lingga sambil melotot. Ia baru ingat bahwa ada pria itu di rumah mereka.
"Jangan mendekat ke sini! Pergi jauh-jauh!" teriak Alhine kepadanya. "Aku sedang membutuhkan kekuatanku!"
'Hah?" Lingga terlihat tidak mengerti maksud Alhine.
Wanita itu tetap meneriakkan hal yang sama berulang-ulang saat Lingga berjalan mendekati mereka semua. Mata Limgga kini terbelalak ketika melihat ada pria lain di sana dengan penampilan aneh --- yang sedang mengarahkan belatinya di leher Xynth.
"Ada apa dengan kalian? Apakah ini situasi yang serius?"
Alhine yang frustasi karena Lingga tidak mau mendengarnya, segera berlari ke arah meja terdekat untuk mengambil sebuah vas bunga. Ia bergegas kembali ke tempatnya tadi dan memukul kepala Alpheratz dengan vas bunga itu sampai vas tersebut pecah belah.
"Lepaskan anakku!" teriak Alhine geram ke arah Alpheratz.
Lingga yang sudah terkejut melihat adegan berbau kriminal di depannya, tambah terkejut lagi ketika mendengar ucapan Alhine barusan. Ia pun memandang ke arah Alhine yang tampak tersengal-sengal marah.
"Anakku?" gumamnya mengulang kalimat Alhine sambil memandang wanita itu seolah tak percaya dengan ucapannya. Wanita sinting ini sudah setua itu?
Ketiga pria di sana semua sama-sama bengong seketika. Xynth bengong melihat Ibunya yang mendadak terlihat lemah. Lingga bengong karena melihat kekerasan yang terjadi di rumah itu. Sementara Alpheratz bengong sambil menggaruk kepalanya akibat kaget karena Alhine menyerangnya tanpa kekuatan yang berarti.
Ia kemudian bergerak maju sedikit, lalu iseng mendorong Alhine dengan pelan hanya untuk mengetes level kekuatan wanita itu. Malang bagi Alhine, wanita itu segera terjatuh keras di lantai dan langsung menjerit kesakitan di bawah mereka.
"Ibu, apa yang terjadi kepadamu?" teriak Xynth tak percaya.
Ia baru akan melepaskan diri dari jeratan tangan Alpheratz ketika menyadari Lingga sudah berjalan terlebih dahulu mendekati ibunya. Pria itu segera mengangkat tubuh Alhine dari lantai serta mendudukkannya dengan perlahan di sofa.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Lingga kepada Alhine.
Alhine tidak menjawab dan hanya tercengang menatap pria itu. Ia juga bingung kenapa Lingga mau bersusah payah membantunya berdiri dari lantai dan membawanya duduk.
"Diam di sini dan jangan bergerak," ucap Lingga kemudian dengan tenang kepadanya.
Lingga lalu berbalik ke arah Alpheratz yang masih menodong Xynth dan memandangnya dengan raut wajah seolah tidak suka kepada anak itu. Tak berapa lama, ia berjalan mendekat ke arah keduanya.
"Dia berbau manusia. Apa yang seorang manusia lakukan di rumah ini?" tanya Alpheratz kepada Xynth sambil berbisik.
"Dia sedang menyelidikiku," jawab Xynth dengan jujur kepadanya.
"Anak muda,"---ujar Lingga kepada Alpheratz dengan nada tajam dan gerakan sangat tenang---"apa kau tidak malu menyerang pemuda yang sedang sakit itu dan wanita lemah tadi?"
Alpheratz melongo mendengar ucapan Lingga yang sudah berhenti tepat di hadapannya. Pria itu kini menatap Alpheratz dengan pandangan mata mengancam.
"Mereka... wanita lemah dan pemuda yang sedang sakit?" ulang Alpheratz dengan syok. "Mereka yang sejak awal membantingku terlebih dahulu!"
"Kau pikir hal seperti itu masuk akal? Dua orang ini membantingmu?" kata Lingga sambil menunjuk ke arah Xynth yang menggunakan tongkat dan Alhine yang duduk dengan lemas di sofa. "Kenapa kau tidak coba menghadapi orang yang pantas kau hadapi saja."
Alpheratz terdiam sejenak sebelum tertawa keras di tempatnya. Ia lalu melepaskan belatinya di leher Xynth lalu mengajak Xynth bicara.
"Apa manusia ini sudah gila?" tanyanya dengan heran. "Dia tidak paham situasi berbahaya untuknya di sini?"
"Aku tidak tahu," jawab Xynth lagi sambil mengusap lehernya yang terasa perih.
"Dengarkan aku manusia, aku akan mengatakannya baik-baik untuk keselamatanmu sendiri," cetus Alpheratz sambil mendekati Lingga dengan pandangan geli. "Sebaiknya kau segera pergi dari sini dan jangan---"
Plaaakk!
Sebuah tamparan kencang dilesakkan Lingga ke wajah Alpheratz dan membuat pria itu terhuyung di tempatnya dengan mata terbelalak kaget. Ia ternganga sesaat dan menatap Lingga, sebelum akhirnya ambruk di tempatnya dan langsung tak sadarkan diri. Alpheratz sang Pangeran Andromeda dengen level kekuatan Gamma delapan, pingsan hanya dalam sekali tamparan dari telapak tangan kanan Lingga.