Makan Malam di Rumah Xynth

2062 Kata
Suasana meja makan di rumah Xynth malam itu sungguh sangat tegang. Semua yang hadir saling memandang dengan curiga. Hanya Vega yang duduk santai dan terlihat tidak peduli sama sekali dengan sekelilingnya. Ia makan dengan tenang di tempatnya. Capella yang wajahnya penuh memar-memar akibat baru saja dipukuli Alhine sepulang dari mal bersama Fori malam itu, menyiapkan makanan bagi mereka semua. Ia mondar-mandir di sekitar meja dan mengantarka n makanan bersama dua pengawal Alpheratz yang kini diperbudak oleh Alhine. Pria botak itu terus mengawasi dengan judes kehadiran dua pasukan dari Andromeda yang dipaksa Alhine untuk membantu Capella di rumah mereka mulai saat itu. Sementara Fori sendiri tak lepas mengamati semua makanan mewah dan tampak lezat yang ada di atas meja panjang besar di hadapannya. Ia terlihat sedikit tegang karena bingung melihat deretan perlengkapan makan yang begitu banyak di sana. Sebelumnya, ia tidak pernah mempelajari etika table manner dan kini kebingungan. Di samping Fori, ada Lingga yang memandangi Fori dengan seksama. Pria itu terlihat bingung mengapa saksi kunci kasus kematian Hannah lainnya ada di rumah aneh itu saat ini. Sementara Alpheratz yang baru tersadar dari pingsannya duduk di hadapan Lingga dan tak berhenti memandang dengan curiga ke arah polisi manusia itu. Matanya terus menyipit dan terus memelototi Lingga. Rigel dan Antares juga ada di sana karena sejak sore mereka sudah tersadar dari koma mereka. Meski masih lemah dan duduk di kursi roda, keduanya menatap sengit ke arah Alpheratz yang entah mengapa ada di meja makan mereka saat ini. Di bagian paling ujung meja, ada Xynth dan Alhine yang sama-sama terus memandangi Alpheratz dan Lingga secara bergantian dengan tatapan curiga. Sepasang ibu dan anak itu bertanya-tanya tentang maksud kedatangan Alpheratz, juga bertanya-tanya mengapa ada manusia yang bisa merubuhkan seorang bintang dengan level gamma delapan --- dengan hanya menggunakan telapak tangannya. "Jadi...," ucap semuanya secara serempak di ruangan itu secara berbarengan. Semuanya kemudian sama-sama saling menatap ke arah satu sama lain, lalu tenggelam dalam hening ketika menyadari masing-masing dari mereka bermaksud untuk memecahkan keheningan, kecuali Vega, Fori, Capella, dan Lingga. Di saat suasana ruangan itu sedang kikuk, mendadak Alpheratz melesatkan sebuah pisau daging ke arah Lingga dan pria itu menangkap pisau dari Alpheratz itu dengan cepat. Lingga kemudian balik melemparkan pisau itu ke arah Alpheratz dan membuat pria itu langsung melongo melihat pisau dari Lingga menancap cepat di bantalan kursinya sendiri, tepat di samping kepalanya. "Kau tidak mungkin benar-benar manusia," gumam Alpheratz dengan raut wajah yang kaget, diikuti oleh tatapan semua yang di meja itu yang juga memandang Lingga dengan bingung. "Bagaimana mungkin kau bisa menangkap pisau yang dilemparkan dengan kecepatan 10 meter per detik dan mengembalikannya dengan kecepatan yang sama?" "Bagaimana mungkin kau bisa tidak tahu bahwa aku tidak melemparkan pisau dengan kecepatan yang sama denganmu? Aku melakukannya lebih cepat," jawab Lingga tanpa ekspresi. Ia sedang memperhatikan steak daging rusa yang diletakkan di piringnya dengan wajah waspada. "Secara hukum, apa yang baru saja kau lakukan masuk dalam kategori percobaan pembunuhan. Kau tahu itu, Anak Muda?" "Aku tidak peduli dengan hukum di bumi kalian." "Kau bisa masuk penjara karena menodong orang dengan pisau," ucap Lingga. "Ini juga berlaku kepada siapa pun yang menyerang aparat kepolisian ketika sedang bertugas." Pria itu kemudian melirik sekilas ke arah Alhine dan Xynth yang ia sindir, lalu kepada Alpheratz lagi sebelum melanjutkan ucapannya. "Jangan meremehkan hukum dan berpikir bisa menghindarinya hanya karena kalian kaya raya. Terlebih kau. Jangan sok jagoan menodong orang lain jika hanya dengan menghadapi sebuah tamparan pelan saja kau langsung jatuh pingsan." "Itu makanya aku bilang kalau kau pasti bukan manusia!" seru Alpheratz dengan wajah memerah karena menahan malu. "Hanya karena membuatmu pingsan kau menganggapku bukan manusia?" Antares tertawa sinis di tempatnya. "Alpheratz, kau tidak terima kenyataan bahwa kau sudah dipukul jatuh oleh seorang manusia?" "Kenapa kau tidak mencoba sendiri tamparan manusia itu?!" jawab Alpheratz dengan sewot dari kursinya. "Pria ini jelas bukan manusia!" "Kalian terus mengatakan kata manusia. Apa kalian bukan manusia?" tanya Lingga kepada semua orang yang ada di meja makan dengan cuek. "Bukan," jawab Vega sama cueknya dari tempatnya makan dan membuat semua yang di meja makan langsung beralih menatap ke arah wanita itu. "Apa kau sendiri manusia? Kenapa kau bisa sekuat itu?" Lingga hanya menatap datar ke arah Vega sambil mengiris daging di piringnya. "Aku belajar 29 jenis olahraga beladiri mematikan dunia sejak kecil. Aku juga mahir menggunakan berbagai senjata sejak dulu. Aku tidak tahu kalau hal-hal seeperti itu akan membuatku dicap bukan manusia." "Kakak senior!" seru Antares kepada Lingga dengan pandangan kagum. "Angkat aku sebagai muridmu!" "Ah, aku juga ingin coba melawannya sesekali untuk tahu seberapa kuat manusia yang merobohkan Alpheratz ini," gumam Rigel dari kursinya. "Kau kidal?" tanya Vega lagi kepada Lingga dengan tatapan misterius. Ia memperhatikan lekat-lekat pria yang memegang pisau daging dengan tangan kirinya itu. "Ini juga akan membuatku dicap bukan manusia?" ucap Lingga membalikkan pertanyaan kepada Vega sambil menelan potongan steak dari garpunya. "Yang aku bingung,"---ujar Xynth mendadak memotong pembicaraan Vega dan Lingga sambil mengerutkan dahinya---"kenapa kau ada di meja makan ini, Alpheratz? Tidak satu pun dari kami yang mengundangmu!" "Aku yang mengundangnya," timpal Alhine menjawab cepat pertanyaan anaknya. "Lebih baik ia berada disini dibanding kubiarkan pulang ke Andromeda dan membuat isu tertentu menyebar ke seluruh penjuru Kiklios dan langit." "Lalu kenapa dia masih hidup?" tanya Xynth pada ibunya. "Kenapa kau tidak membunuhnya saja?" "Kalau dia kubunuh, maka Moratar akan semakin gencar untuk mengambilmu sebagai putra mahkotanya. Jadi, biarkan pangeran tersisa dari Andromeda ini hidup di sini untuk sementara." "Terima kasih atas pengertianmu, Kakak Ipar," kata Alpheratz dengan wajah sumringah. "Aku adalah kaisarmu," desis Alhine dengan emosi tinggi saat melihat wajah puas Alpheratz. "Jaga sikapmu sebelum aku memutuskan untuk membunuhmu tanpa sisa sedikit pun!" "Sepertinya kalian terlalu santai membicarakan soal bunuh membunuh --- seakan itu wajar di rumah ini," ucap Lingga mendadak ke arah mereka. Ia mengamati pembicaraan semua orang di meja itu dengan pandangan curiga. "Kau sendiri kenapa kau masih di rumah kami?" tanya Xynth jengkel. "Aku ingin pulang,"---jawab Lingga sambil menyantap makanannya dengan santai---"tapi ibumu menahanku di sini untuk makan malam. Lagi pula... aku kebetulan melihat saksi lain kasus Hannah ternyata juga ada di rumah ini." Fori yang sedang berusaha memotong steak dengan susah payah, mengangkat kepalanya dan kini melihat semua pandangan mata di sana tengah tertuju padanya. "Ehm, tenang saja," lanjut Lingga lagi, "aku akan segera pulang setelah meminta keterangan dari Nona Fortuna. Kemungkinan aku juga akan meminta kedatangan kalian berdua ke kantor kami dalam waktu dekat." Alhine langsung mendelik di tempatnya. "Apakah tidak satu pun di meja makan ini yang curiga pada polisi ini selain aku dan Alpheratz?" "Benar!" jawab Alpheratz dengan cepat. "Dia sangat mencurigakan. Bagaimana mungkin ada manusia yang tidak memiliki sinar bintang sama sekali, tetapi bisa sangat kuat dan memiliki aura raja!" Lingga bengong di kursinya. "Sinar bintang? Aura raja?" "Baru kali ini aku sependapat denganmu. Dari awal aku juga merasa begitu tentangnya," kata Alhine lagi kepada Alpheratz. "Dia bisa saja---" "Ibu, dia bukan quasar!" bisik Xynth tiba-tiba ke arah ibunya dengan malu. Alhine lalu menoleh ke arah Xynth dengan kebingungan. "Dia bukan quasar? Kau yakin?" "Ya, saat dia memukul Alpheratz tadi, aku bisa merasakan energi kekuatannya. Memang sedikit aneh karena energinya sangat kuat, tapi dia bukan seorang quasar." Capella yang bisa membaca isi bisikan Xynth dan Alhine mendekat kepada mereka dengan segera. "Kaisar, aku bisa membaca pikirannya. Dia benar-benar manusia dan sejak tadi ia berpikir bahwa kita semua yang di sini adalah kumpulan orang yang tidak waras. Aku cukup yakin dia manusia." "Tidak waras katamu?" Alhine segera mencubit lengan Capella dengan kesal dan membuat pria botak itu menjerit kesakitan. "Kaisar, bukan aku yang memikirkannya!" "Tapi kau yang mengucapkannya!" "Rigel, Antares, Vega, apa pendapat kalian?" tanya Alhine kemudian setelah Capella melipir kabur dari samping kursi wanita itu dengan wajah meringis. Rigel dan Antares memberikan sinyal menggeleng pada Alhine --- yang artinya mereka mengganggap Lingga bukan bagian dari mereka. Sementara Vega hanya berdiam diri dan tidak bersuara sama sekali. "Kau mengerti apa yang sedang mereka bicarakan?" tanya Lingga kepada Fori yang duduk di sebelahnya. Pria itu kini bersandar di kursinya dengan kurang antusias. Ia sudah meletakkan garpunya di piring karena tidak selera melanjutkan makannya dan menatap ke arah Fori yang menggeleng. "Kau sudah selesai makan, kan?" "Belum," jawab Fori kepada polisi di sampingnya. Gadis itu melihat masih banyak makanan lezat yang tersedia di atas meja makan di sana dan ia ingin mencicipi semuanya. "Aku masih ingin mencoba beberapa---" "Kalau sudah selesai bagus. Ayo kita keluar! Ada beberapa pertannyaan yang ingin kuajukan kepadamu," potong Lingga dengan cepat tanpa memperdulikan keberatan Fori. Ia lalu menoleh ke arah Alhine di ujung meja dan segera berdiri. "Terima kasih atas jamuan makan malam darimu. Kami berdua sudah selesai memakan hidangan di sini. Kalau tidak keberatan, boleh kami berdua keluar sebentar dan berbicara? Aku membutuhkan keterangan dari Nona Fortuna ini atas kasus yang sedang kuselidiki." Alhine belum sempat menjawabnya, tetapi Lingga rupanya tidak menunggu jawaban dari wanita itu. Lingga segera menarik tangan Fori yang terlihat frustrasi menyia-nyiakan sisa makanan yang banyak di meja itu. Mereka lalu meninggalkan orang-orang yang duduk di sana dan segera keluar dari ruang makan itu dengan diikuti oleh tatapan aneh dari semua yang tersisa di sana." "Apa dia tersinggung dengan ucapanku?" tanya Alhine terganggu setelah melihat Lingga tidak menghabiskan makanan di piringnya. Ia memiringkan kepalanya dengan bingung. "Capella!" Xynth menatap tajam ke arah pria botak itu dan menggerakkan kedua bola matanya. Capella yang mengerti isyarat yang diberikan Xynth segera mengangguk dan kemudian berjalan mengikuti Lingga dan Fori yang sudah melangkah ke luar. "Kasus apa yang dimaksud oleh polisi manusia itu?" tanya Alpheratz kepada yang lain begitu melihat tiga orang sudah keluar dari ruang makan mereka. Namun tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaan Alpheratz di sana. "Apa tujuanmu datang ke sini, Alpheratz?" tanya Vega kepada pria itu mendadak. "Apa aku harus menjawab pertanyaan dari pengkhianat sepertimu?" jawab Alpheratz seraya melirik dengan sinis ke arah Vega. "Aku tidak pernah berkhianat dari Andromeda," jawab Vega dengan intonasi yang tetap tenang. "Aku hanya mengikuti perintah Panglima Zegerux dan bukan ayahmu --- semenjak ayahmu ingin membunuhku. Kau mungkin tidak tahu, ayahmu pernah mau menghukum aku mati karena menuduhku meracuni kakak pertamamu sampai mati. Padahal aku hanya berusaha menyembuhkan kakakmu. "Kalau bukan karena Panglima Zegerux," lanjut wanita itu, "aku mungkin sudah dibunuh oleh ayahmu. Hanya karena panglima memintaku mengobati kaisar saat ini atau Putri Mahkota Kiklios yang saat itu sakit, ayahmu mengusirku dari Andromeda." "Tidak ada bukti saat itu bahwa kau tidak membunuh kakak pertamaku," kata Alpheratz. "Dia jelas diracun dan satu-satunya yang selalu menjaga kakakku dan bertanggung jawab atas apa pun yang masuk ke mulutnya hanya kau. Jelas ayahku menganggapmu yang melakukannya." "Kau lupa bahwa selain aku, ayahmu dan istrinya sendiri saat itu sering mengunjunginya. Para pelayan juga sering masuk ke istana pangeran pertama." "Kau mau menuduh ayah dan ibuku sendiri yang membunuh kakakku? Kau gila?" desis Alpheratz dengan wajah sinis dan geli bersamaan. "Saat itu kau masih belum lahir dan tidak paham situasi yang berkembang di sana," jawab Vega. "Saat ini kau juga hanya mengambil asumsi dari pemikiran orang. Kau sama dengan mereka semua dulu. Hanya Panglima Zegerux yang tahu apa yang terjadi sebenarnya dan dia yang menyelamatkanku sebelum aku dihukum mati." "Apa bedanya?! Kau tetap pengkhianat yang akhirnya memilih untuk menyeberang ke Kiklios!" "Aku tidak jauh berbeda dengan ayahmu, kan?" celetuk Vega masih tenang. "Kalau kau menganggapku yang menyelamatkan hidupku dari Andromeda ke Kiklios sebagai pengkhianatan, bagaimana pendapatmu tentang ayahmu? Dia juga memilih putra mahkota dari Kiklios untuk menjadi penerus Andromeda saat ini dan tidak bersedia mengangkatmu yang berdarah asli Andromeda sebagai penerus takhtanya." Alpheratz seketika terdiam mendapat pukulan telak dari Vega. Wajahnya langsung merah padam karena baru dipermalukan oleh Vega di hadapan semuanya. "Sudah... sudah!" seru Alhine dengan tampang kesal. "Kalian pikir kami akan senang mendengar drama Andromeda kalian?! Hentikan, kalian sudah merusak selera makanku!" "Tapi Alpheratz... bagaimana kau bisa memasuki bumi tanpa diketahui oleh Pak Tua Sol?" tanya Rigel kepada Alpheratz. Ia tidak saja berusaha untuk mencairkan ketegangan di antara Vega dan Alpheratz, tetapi juga merasa penasaran akan fakta di balik pertanyaannya kepada Alpheratz. "Itu yang ingin aku bicarakan kepada kalian sejak awal," jawab Alpheratz dengan intonasi suara yang tinggi. "Aku yakin bukan hanya aku yang tahu bahwa ada quasar di bumi saat ini, kan?!" Alpheratz menarik napas berusaha menghilangkan emosinya akibat ucapan Vega tadi. "Beberapa hari lalu ada penyihir dari Mata Hitam yang mendatangiku di Andromeda melalui visual. Namanya Bermuda. Ia mengatakan kepadaku semua tentang keberadaan Xynth di bumi dan informasi tentang... manusia Lima Belas."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN