Di Balik Cerita Alpheratz

2149 Kata
Alpheratz kini melirik ke arah Xynth yang memandangnya. "Karena kalian semua tentu tahu aku tidak pernah menyukai Xynth, aku jelas tertarik mendengar ocehan Bermuda. Ia memberikanku sebuah ring hitam dan mengatakan bahwa aku bisa melaluinya untuk langsung menuju perut bumi. "Awalnya aku tidak mempercayainya dan menyuruh salah satu pasukanku untuk melaluinya terlebih dahulu," lanjutnya. "Ternyata ucapan Bermuda benar. Anak buahku kembali dan mengatakan bahwa benar itu jalan langsung menuju perut bumi. Saat itu juga aku memutuskan untuk menuju ke bumi dan langsung bermain-main sebentar dengan Xynth dan manusia Lima Belas. Anehnya sesuatu terjadi tepat setelah aku tiba di bumi --- atau tepatnya setelah aku menyerang Xynth." Alhine berdeham. "Berani sekali kau menyerang Xynth!" "Saat itu aku hanya merasa perlu bermain-main sebentar dan mengecek keberadaan Xynth dan kebenaran cerita soal manusia Lima Belas," kata Alpheratz. "Namun sesuatu yang aneh terjadi saat itu." "Apa yang aneh?" tanya Antares. Alpheratz terdiam sejenak dan terlihat seperti berusaha mengingat sesuatu. "Selama ini jika sesama bintang saling membunuh sekalipun, kita semua akan masih melihat jejak sinarnya yang meredup di langit. Namun kali ini, aku tidak menemukan jejak sinar salah satu anak buahku tepat setelah aku menyerang Xynth. "Jejaknya di langit menghilang begitu saja seakan ditelan habis. Di titik itu, aku mulai curiga akan adanya kehadiran quasar di bumi. Karena curiga, tadi aku mencari jejak Bermuda dan ... aku kembali ke titik lokasi awal saat aku datang ke bumi. Ternyata di sana sudah tidak ada lagi ring milik Bermuda dan yang ada justru dua tentara kerajaan Mata Hitam yang terlihat berjaga. Ini sedikit aneh bukan?" "Orang-orang Mata Hitam ada di bumi?" tanya Alhine dengan mata mendelik. "Ya, ternyata Bermuda juga sedang berusaha mendatangkan Raja Mata Hitam, Garaoh. Sama sepertiku, katanya Raja Garaoh memerintahkan tentaranya terlebih dahulu mengecek jalan yang diberikan oleh Bermuda. Namun begitu mereka mau kembali untuk melaporkan kepada raja mereka, ring itu sudah tidak ada lagi di sana dan mereka tidak bisa kembali ke tempat mereka." "Apa yang terjadi?" tanya Xynth kepadanya. "Aku tidak tahu. Besar kemungkinan sesuatu terjadi di pihak Bermuda sehingga ia cepat-cepat memindahkan pintu masuk langit itu," jawab Alpheratz. "Yang lebih mengejutkan, tentara Mata Hitam itu mengatakan sesuatu kepadaku yang membuatku sangat kaget." Alpheratz melihat ke orang-orang di sekeliling meja di sana yang masih menunggu ia menyelesaikan kalimatnya. "Para quasar ternyata memiliki agenda lain di bumi. Mereka sedang berusaha menghidupkan kembali Raja Quasar mereka di bumi. Kalian tahu tentang hal ini?" Tidak ada satu pun yang bergerak saat mendengar Alpheratz menyebutkan tentang Raja Quasar kepada mereka. Semuanya terdiam membisu dengan mata yang terbelalak kaget. "Aku tidak pernah tahu sejarah perang terakhir dengan Raja Quasar dan kurasa banyak yang tidak ingat soal itu. Namun yang kudengar, bukankah Raja Quasar memiliki kekuatan yang sama dengan kakakku Zegerux? Tidakkah itu akan bahaya bagi kita nanti mengingat dari pihak kaum bintang tidak ada lagi yang punya kekuatan gamma infinite?" "Ibu,"---ujar Xynth menoleh ke arah Alhine dengan serius---"bagaimana cara quasar akan menghidupkan raja mereka lagi. Bukankah ayah dulu sudah membunuhnya?" "Aku tidak tahu," jawab Alhine kesusahan berkata-kata. "Aku tidak mampu mengingat apa pun yang terjadi dulu, tetapi Raja Quasar seharusnya sudah mati." "Kalau mereka mau membangkitkannya di bumi, apa itu artinya jenazah Raja Quasar selama ada di sini?" Vega ikut bersuara dan bertanya. "Aku tidak tahu. Tidak ada yang tahu pasti soal itu selain Methuselah," jawab Alhine. "Kau tadi menyebutkan soal para quasar? Itu berarti akan banyak quasar yang mendatangi bumi ke depannya nanti?" Rigel melemparkan pertanyaan ke arah Alpheratz. Alpheratz kini memasang tampang lebih serius. "Bermuda katanya bermaksud mendatangkan pasukan blazar ke bumi." "Pasukan blazar?!" Antares ternganga di kursi rodanya. "Bukankah mereka sangat kuat? Meski kaisar juga kuat, satu kaisar tidak akan mampu menghadapi mereka sekaligus dan kondisi kita saja sudah banyak yang terluka akibat satu quasar." Alpheratz terkejut mendengar ucapan Antares. "Jadi kalian semua saat ini terluka karena berhadapan dengan Leviathan?" "Tidak saja aku, Rigel, dan Xynth. Betelgeuse bahkan kehilangan kekuatannya akibat quasar dan masih tak sadarkan diri sampai saat ini," kata Antares lagi. "Quasar muncul di hadapan kami secara langsung dan menyebabkan ini semua terjadi." "Penyihir Kiklios itu juga ada di bumi?" tanya Alpheratz lagi. Alpheratz membenci Xynth, tetapi sejak ia kecil, ia juga tidak menyukai Betelgeuse. Perempuan peramal dari Kiklios itu selalu bisa membaca pergerakan Alpheratz sejak dulu dan selalu membuatnya kerepotan. "Kau menyebut quasar itu dengan sebutan Leviathan. Apa maksudmu quasar yang sudah ada di bumi saat ini adalah Leviathan, sang panglima perang mereka?" tanya Alhine kepada Alpheratz dengan nada suara yang berbeda. "Tentara Mata Hitam itu jelas mengatakan bahwa Leviathan sudah terlebih dahulu memasuki bumi. Itu berarti quasar yang kalian lihat memang Leviathan, pemimpin utama para blazar dan sejauh ini merupakan quasar terkuat setelah Raja Quasar tewas." "Di mana tentara Mata Hitam itu sekarang?" tanya Alhine sekali lagi kepada Alpheratz. "Kita harus bertanya lebih jelas pada mereka soal ini." "Aku membunuh mereka karena mereka mencoba menyerangku." Alhine terdiam. "Apa ada informasi lain yang mereka katakan padamu?" "Tidak ada," jawab Alpheratz lagi. "Aku tidak berharap ada informasi lain yang bisa membuatku lebih takut dari ini. Aku datang ke tempat kalian pun karena mendengar ini. Apa pun terkait quasar, sudah jelas merupakan masalah besar bersama kaum bintang." Mau tak mau semua yang di sana setuju dengan ucapan Alpheratz. Apa pun yang melibatkan para quasar bukanlah hal remeh sejak dulu dan mereka semua merasakan firasat bahwa akan tercipta perang besar di bumi sebentar lagi. "Vega,"---panggil Alhine dengan tampang misterius---"kau harus meminta Sol memanggil Sirius ke bumi. Suruh dia datang dengan segera tanpa menunggu apa pun lagi." "Apa tidak aku saja yang pergi ke Kiklios untuk memanggil Sirius?" Vega langsung menawarkan diri untuk pergi dengan wajah sama tegangnya. "Tidak, kau harus cepat menyembuhkan Betelgeuse. Bagaimanapun caranya, Betelgeuse harus cepat sadar lagi. Ia harus mendapatkan kembali kekuatannya untuk memimpin ritual pergantian tubuh Xynth sesegera mungkin. Kita juga memerlukan matanya untuk membaca situasi lawan." "Jadi...," gumam Alpheratz sambil melirik ke arah Xynth dengan tampang geli. "Aku akan melihat Xynth sebagai perempuan mulai sekarang?" Xynth memandang ke arah Alpheratz dengan penuh emosi, tetapi kemudian ia teringat sesuatu yang sangat penting dan langsung menoleh ke arah ibunya. "Ngomong-ngomong, jika mereka sudah membaca kepala Betelgeuse dan melihat bahwa Lima Belas adalah tubuhku selanjutnya, bukankah mereka akan melakukan apa pun untuk mencegah pertukaran tubuhku dengan Lima Belas nanti?" Alhine tidak bergerak di tempatnya. Wanita itu hanya menunduk, tetapi tangannya ternyata baru saja berdarah karena memecahkan gelas dalam genggamannya. "Itu akan menjadi urusanku dan Sirius nanti. Aku akan langsung mencari Bermuda begitu Sirius tiba di bumi." Alhine kemudian beranjak dari kursinya tanpa bersuara lagi. Namun sebelum ia mencapai pintu, wanita itu membalikkan badannya ke arah Xynth dan menatap tajam ke arah anaknya itu. "Xynth, persiapkan dirimu sebaik mungkin untuk ritual dengan Lima Belas. Kita akan berusaha menyadarkan Betelgeuse lebih cepat." "Apa kita tidak menunggu sebentar lagi? Aku belum siap memasuki tubuh perempuan itu karena---" Plaakk! Alhine sudah menampar anaknya dengan keras dari jauh dengan mata yang berapi-api dan raut wajah yang kini sangat menyeramkan. Aura sinarnya yang tajam mendadak menjadi suram saat melakukannya. "Jangan pernah ... sekali lagi, jangan pernah membantahku soal ini! Itu adalah perintah langsung dariku. Pelajari segalanya tentang Lima Belas dan persiapkan dirimu lebih cepat. Yang harus kau sadari saat ini adalah ... kau adalah calon tunggal kaisar langit. Lakukan tanggung jawabmu kepada langit dengan cara bertahan hidup apa pun caranya. Dulu aku juga melakukan hal yang sama denganmu dan sekarang giliranmu untuk bertahan sampai saatnya tiba." Xynth tercengang menatap kemarahan besar ibunya. Ia mengusap darah yang mengalir dari hidungnya akibat tamparan keras ibunya tanpa bersuara dan menahan diri untuk tidak mengekspresikan apa pun. Orang-orang lainnya di sana sendiri mendadak terdiam tegang sambil menunduk dan tidak ada satu pun yang berani bergerak sampai Alhine telah menghilang di balik pintu. "A-aku akan segera menuju kamar Betelgeuse," ucap Vega sambil beranjak dari tempatnya. Ia berusaha keluar dari suasana kikuk yang mendadak tercipta di ruangan itu. "Kau bisa membantuku ke kamarku?" tanya Rigel kepada Vega. Vega mengangguk cepat. Ia pun segera mendekati Rigel dan menggerakkan kursi roda pria itu untuk keluar dari ruang makan. "Anu ... di mana aku bisa tidur malam ini?" tanya Alpheratz kepada mereka dengan sedikit bingung karena melihat apa yang baru saja terjadi kepada Xynth. "Kau bisa menanyakannya ke Capella nanti," jawab Vega dengan nadad datar ke arah pria itu. Vega lalu menoleh ke arah Antares. "Tunggu di sini sebentar Antares, aku akan meminta Capella untuk membantumu ke kamar." Seluruh isi ruangan itu kemudian pergi perlahan tanpa ada satu pun yang berani menatap ke arah Xynth. Mereka semua tahu kalau putra mahkota itu sedang luar biasa emosional dan tidak ada yang berani mengatakan apa pun untuk mengganggunya. --- Samudra Atlantik Utara, 7 jam sebelum kedatangan Alpheratz ke rumah Xynth Kawasan Segitiga Bermuda malam itu terasa begitu tenang. Hanya ada suara riak ombak di sana serta deru angin yang seolah meniupnya. Namun kondisi berbeda terjadi di bagian dasar laut. Alpheratz ada di sana dan ia sedang memegang cambuk apinya ke arah dua pasukan Mata Hitam yang ia temukan sedang berjaga di sana. "Jadi orang-orang dari Mata Hitam juga sudah berada di bumi?" desis Alpheratz sambil menatap tajam ke arah dua tentara Mata Hitam yang terkejut dengan kehadiran Alpheratz di sana. "Katakan kepadaku di mana penyihir kalian itu? Di mana Bermuda?!" Salah satu dari tentara Mata Hitam bergerak untuk kabur, tetapi Alpheratz sudah melayangkan cambuknya ke arah tentara tersebut dengan cepat. Badan tentara itu pun segera terbelah dua dan hangus dilalap api berwarna putih. Sementara satu tentara Mata Hitam yang tersisa terjatuh mundur dengan kaget. Badannya bergetar di depan Alpheratz. "Ka-kami juga ke sini untuk mencari Bermuda tetapi kami tidak bisa menemukannya. Tadinya kami pikir kami bisa kembali ke langit, tapi... lubang pintu itu tiba-tiba sudah tidak ada di sini." "Pa-pangeran Alpheratz," lanjut tentara itu lagi. "Kami benar-benar tidak tahu apa pun. Kami ke sini karena Raja Garaoh meminta kami terlebih dahulu mengecek jalan ini. Saat kami baru akan kembali, lubang itu sudah tidak ada." "Raja Mata Hitam berniat datang ke bumi?" Alpheratz terdiam sejenak sambil berpikir. Ia kemudian menunduk ke arah tentara yang gemetar itu dan berjongkok di dekatnya. "Jadi, apa yang membuat Garaoh berniat datang?" Pasukan itu terdiam dan tak berani menjawabnya. Alpheratz kemudian mencengkeram leher tentara berseragam hitam tersebut dengan kencang dan membuat tentara tersebut menggelepar di sana. "Ra-raja Quasar," gumam tentara itu dengan susah payah. "Raja Garaoh mencari sumber kekuatan Raja Quasar yang terlempar ke bumi ketika ia mati. Menurut Bermuda, sumber kekuatan Raja Quasar ada di bumi." Alpheratz melonggarkan cengkeramannya di leher tentara itu dan menatapnya dengan kaget. "Kekuatan Raja Quasar ada di bumi?" Tentara itu terbatuk-batuk dengan wajah memutih dan memegang lehernya yang seketika membiru. "Raja Garaoh berusaha mencari kekuatan itu untuk menyerapnya." "Di mana letak sumber kekuatan Raja Quasar?" tanya Alpheratz dengan tatapan mengancam ke arahnya. "A-aku tidak tahu. Raja Garaoh juga baru berniat mencarinya. Begitu juga dengan para quasar." Alpheratz terdiam sejenak sebelum lanjut bertanya. "Jadi benar dugaanku ... para quasar juga sedang berada di bumi?" "Ba-baru Leviathan saja yang kami dengar. Namun kemungkinan seluruh pasukan terkuat mereka akan datang dalam waktu dekat untuk ikut melakukan pencarian kekuatan Raja Quasar." "Pasukan terkuat? Maksudmu para blazar? Kenapa Leviathan sampai mengirimkan jumlah besar pasukan terkuat hanya untuk mengambil kekuatan raja mereka?" "Ka-karena ... yang kudengar para quasar bermaksud menghidupkan kembali raja mereka di bumi." Mata Alpheratz terbelalak kaget. "Mereka berniat menghidupkannya kembali?" Tubuh Alpheratz mematung saat mendengar rencana gila tersebut. Setelah terdiam cukup lama, pria itu kemudian tertawa di tempatnya. "Aku mengerti sekarang," gumam Alpheratz. "Jadi sejak awal, Bermuda tidak mendatangkanku ke bumi hanya untuk menyerang Xynth. Ia ingin siapa pun lawan Kiklios datang untuk mencari sumber kekuatan itu dengan suatu tujuan." Pangeran Andromeda itu kemudian mengerutkan dahinya. "Hmmh, tapi... kalau dia sekedar ingin ada yang menemukan kekuatan Raja Quasar di bumi ... ia bisa saja memberitahu semua pihak di langit. Siapa pun pasti akan berduyun-duyun datang untuk berebut mengambil kekuatan itu jika mendengar soal ini. Lalu kenapa Bermuda hanya mengundangku, Raja Garaoh dan para quasar? Apa kesamaan di antara kami bertiga? "Aku ingin Xynth hancur tetapi aku tidak cukup peduli tentang Kiklios. Raja Garaoh ingin menghancurkan Dinasti Kiklios, tetapi tidak peduli secara khusus terhadap Xynth. Sedangkan tujuan quasar sejak dulu hanya ingin menghancurkan kaum bintang. Jadi apa kesamaan kami sampai Bermuda diam-diam sengaja mendatangkan kami untuk mencari kekuatan Raja Quasar? Apa mungkin...." Alpheratz tidak meanjutkan ucapannya. Mendadak pria itu berbalik ke arah tentara tadi. "Apa Bermuda juga mengatakan pada Raja Garaoh soal kondisi putra mahkota langit dan pertukaran tubuhnya dengan manusia?" Tentara itu menatap Alpheratz dengan kaget. "Iya, dia mengatakan sesuatu tentang manusia yang disebut Lima Belas. Tapi ... bagaimana...." Sebelum tentara itu menyelesaikan ucapannya, Alpheratz sudah mencengkeram batang leher tentara itu di sana. Matanya melotot ketika melihat sang prajurit meronta-ronta dengan wajah membengkak ketika Alpheratz memperkuat cengkeramannya. "Sudah kuduga," ujar Alpheratz tersenyum dengan mata berkilat sambil mencekik mati tentara dari Kerajaan Mata Hitam tersebut tanpa ampun. "Ada sesuatu yang penting tentang manusia Lima Belas itu yang menjadi perhatian khusus dari Bermuda."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN