"Fori, kau mau ke mana?" tanya Capella pagi itu ketika melihat Fori seolah sedang bersiap-siap mau berangkat ke kampusnya. "Kami sudah mengirimkan surat ijin untukmu dan yang lain ke kampus kalian. Untuk sementara jangan dulu datang ke kampus sebelum putra mahkota dan dua pengawalnya sembuh total. "
"Hah?! Jadi kami semua harus membolos?" tanya Fori dengan kaget sambil melihat Capella sedang membuka tirai-tirai jendela di rumah itu dan membiarkan sinar matahari masuk ke bagian dalamnya.
"Ini bukan membolos untuk kenakalan. Ini hanya bersifat sementara untuk kepentingan nyawa kalian. Tidak ada yang diperbolehkan berangkat kuliah sementara masa perawatan putra mahkota beserta dua pengawalnya masih berjalan. Itu akan sangat bahaya untukmu," jawab Capella dengan tampang serius.
"Apa itu tidak akan masalah nantinya? Kemarin aku juga sudah tidak masuk di kuliah hari pertama kami," tanya Fori dengan raut wajah yang bingung.
"Siapa yang akan berani mempermasalahkan soal kalian di sana? Keluarga kami donatur terbesar Yayasan Immaculata. Bahkan jika putra mahkota dan dua pengawalnya tidak masuk kuliah selama setahun, tidak akan ada yang terjadi kepada mereka."
"Ah, iya!" Fori berseru teringat. "Aku lupa soal itu. Kalian nyaris menjadi pemilik kampus itu. Aku sih senang-senang saja tidak perlu masuk kuliah. Toh kata orang-orang lainnya, minggu awal kuliah pasti hanya akan berisi banyak perkenalan dari para dosen dan silabus mata kuliah saja."
"Meskipun begitu ... apa yang harus kulakukan di rumah ini selama masa absen kuliah?" lanjut Fori lagi dengan bertanya.
"Kau bisa membantuku sebentar?" tanya Capella kepada Fori.
Capella tahu bahwa anak itu selalu kebingungan harus melakukan apa di rumah mereka dan selama ini hanya banyak diam saja di kamar. Sedikit banyak, pria botak itu kasihan melihat sikap kikuk Fori di rumah mereka.
"Aku harus menyiapkan sarapan kalian," kata Capella. "Kau bisa membantu membawa Rigel dan Antares ke ruang latihan mereka? Mereka harus kembali melatih syaraf dan otot mereka tetapi masih kesusahan memakai kursi roda."
"Ruang latihan? Di mana itu?"
Capella menunjuk ke arah bagian tengah balkon yang memisahkan antara sayap kiri dan sayap kanan lantai dua. "Di sana selain terdiri dari beberapa kamar juga ada tempat latihan fisik mereka --- letak persisnya di bagian paling ujung."
"Apa mereka sudah bangun jam segini?" tanya Fori lagi.
"Seharusnya kalau Rigel sudah. Dia terbiasa berlatih setiap pagi. Kalau Antares mungkin belum bangun, karena itu kau bangunkan saja dia. Kamar mereka ada di seberang balkon ini --- di bagian yang paling dekat tangga."
Pria botak itu lalu menatap Fori lagi. "Kurasa ... kau juga bisa berbincang-bincang dengan Antares untuk menghilangkan kebosanan dan rasa kesepianmu. Aku yakin kau akan cocok berteman dengannya. Dia yang paling mendekati manusia di sini."
"Aku tidak kesepian," ucap Fori malu.
Capella mengangkat sebelah alis matanya. "Kau masih berpikir kalau aku tidak bisa membaca isi pikiranmu?"
Fori menggelengkan kepalanya. "Sepertinya kau sibuk sekali. Apa semua orang di sini selalu memiliki aktivitas masing-masing dan hanya berkumpul saat makan malam saja?"
"Seringnya begitu, tetapi tidak seperti bayanganmu, kami dulunya sering berkumpul bersama di luar sekadar jam makan malam," jawab Capella kepadanya. "Sekarang kasus kedatangan quasar membuat situasi jauh berbeda. Kurasa rumah kami akan kedatangan beberapa orang lagi besok dari Kiklios, jadi aku harus mempersiapkan banyak hal. Apalagi ... sedang ada tamu tak diundang di bumi dan ia akan tinggal sementara di rumah kami."
Fori tertawa. Ia tahu siapa yang dimaksud Capella dengan 'tamu tak diundang' itu tetapi tidak memberi komentar apa pun. Gadis itu kemudian langsung pamit ke Capella dan segera berjalan menyeberangi balkon ke arah sayap kiri rumah besar itu.
Ia melihat ada dua kamar saling berhadapan di dekat kamar Xynth tetapi tidak bisa menentukan yang mana kamar Rigel dan mana yang kamar Antares. Gadis itu lalu mengetuk salah satunya dan mendengar seseorang mempersilakannya masuk.
Begitu ia membuka pintu dan berjalan masuk, Fori langsung ternganga melihat interior bagian dalam kamar yang berwarna biru seperti lautan tersebut. Bagian dalam kamar itu sangat besar dan rapi.
Bedanya dengan kamar Xynth, bagian dalam kamar yang saat ini dimasuki Fori memiliki lebih banyak perabotan. Sebuah ranjang king size lengkap dengan besi tabung infus ada di sana, tetapi tidak ada seorang pun yang sedang berbaring di atasnya.
Saat sedang mengamati seisi kamar itu, Fori tiba-tiba merasa ada tatapan tajam dan suara geraman makhluk buas dari sudut ruangan. Begitu menoleh secara refleks, tubuh Fori pun langsung mematung melihat ada anjing sangat besar berwarna hitam yang sedang menatapnya dengan bengis.
Anjing itu berdiri dari tempatnya dengan perlahan dan menggeram ke arah Fori. Gadis itu sudah akan lari dari sana karena ketakutan, tetapi sebuah suara tiba-tiba menghentikan pergerakannya.
"Jangan bergerak," ujar sumber suara yang ternyata berasal dari arah luar balkon kamar tersebut.
Fori melirik ke belakang dan melihat Rigel. Pria berambut panjang dengan penampilan bak pangeran kerajaan kuno itu sedang menatap tajam ke arahnya.
Rigel tampak mulai menggerakkan roda kursinya dengan susah payah dan meluncur mendekat ke arah Fori, sebelum menoleh ke arah anjing besar tadi. Pria klasik dan tampan itu kemudian mengangkat sebelah telapak tangannya dengan hanya sekilas. Namun, mendadak anjing itu kembali duduk dan hanya memandang lurus ke arah Fori dalam diam.
"Di mana Capella?" tanya Rigel ke arah Fori.
"Di-dia sedang sibuk, jadi dia menyuruhku ke sini untuk membantumu menuju ruang latihan," jawab Fori masih berdiri kaku di posisinya tadi dengan badan yang gemetaran. Rigel tidak mengatakan apa pun, tetapi kemudian ia menggerakkan kursi rodanya lagi yang terasa berat dan segera menuju ke dekat pintu. Di sana, ia terlihat langsung kembali berdiam diri.
"Kau tidak akan mendorongku?" tanya Rigel setelah sekian lama Fori hanya memandanginya tanpa bergerak.
"Ah, iya!" jawab Fori kemudian tersadar dan langsung berjingkat pelan ke arah Rigel.
Fori masih terlihat ketakutan meski anjing di pojok ruangan itu kini sudah duduk tenang tanpa menggeram lagi ke arahnya. Rigel sendiri sepertinya bisa menerka apa yang sedang berkecamuk di benak Fori.
"Itu Skyloz, dia anjing milik ayahku yang selama ini menjaga rumah kami," ujar Rigel menjawab isi pikiran Fori.
"Kurasa dulu aku pernah bertemu dengannya saat aku masih kecil," kata Fori masih bergidik.
Fori ingat dulu ada anjing buas itu yang pernah hampir menerkamnya ketika ia memasuki rumah Xynth. Jika saja Xynth tidak membantunya, Fori tidak tahu apa yang akan terjadi kepadanya saat itu.
Gadis itu kemudian membuka lebar-lebar pintu kamar Rigel dan kini berusaha mendorong kursi roda pria itu dari belakang. Namun tak seperti bayangannya sebelumnya, kursi roda itu ternyata susah sekali digerakkan dan badan Rigel terasa begitu berat.
Fori mencoba berkali-kali, tetapi kursi itu tetap susah bergerak seolah-olah Fori sedang berhadapan dengan satu gentong besar semen padat. Rigel pun kemudian melirik ke arah belakang dan melihat ke wajah Fori dengan tajam.
"Apa kau benar-benar bisa membantuku?" tanya pria itu dengan raut wajah yang sangsi.
"Bukan begitu tetapi...."
Ucapan Fori terputus sebelum ia kemudian berbicara lagi dengan lebih blakblakan. "Sebenarnya terbuat dari apa tubuh kalian semua? Dulu saat aku mengangkat tubuh Xynth di Gunung Salak, aku seperti sedang mengangkat sebongkah besar logam berat. Sekarang kau.... Apa kalian semua memiliki rangka tulang dari logam dan badan dari semen?!"
"Maaf," gumam Rigel setelah terdiam dengan bingung. "Mungkin sebaiknya memang bukan manusia yang membantu kami. Aku akan memanggil Capella dan---"
"Tidak apa-apa, aku akan mencobanya," potong Fori dengan cepat. Gadis itu tidak ingin merepotkan Capella yang sedang sibuk.
"Kau yakin?" tanya Rigel dengan nada ragu.
Fori tidak lagi menjawabnya. Ia dengan segera menghimpun seluruh kekuatannya dan mendorong kursi itu sekuat tenaga sampai wajahnya memerah karena susah payah.
Fori melihat punggung Rigel yang tegap dan merasakan aura dingin dari diri pria itu. Menurut Fori, pria itu sedikit mirip dengan Xynth. Namun Rigel terkesan lebih tak acuh.
Ia tidak banyak bicara kepada Fori atau siapa pun. Kalau Fori ingat-ingat, selama ini pria itu mau berbicara banyak hanya kepada Xynth atau Antares saja.
Saat di taman hiburan dua hari lalu juga Rigel nyaris tidak berbicara dengan Siska sama sekali. Itu yang membuat Fori saat ini sedikit merasa canggung karena harus berhadapan dengan Rigel seorang diri.
"Kau harus berhati-hati jika bertemu dengan Skyloz lagi," ucap Rigel mendadak memecahkan kesunyian. "Dia tidak suka dengan siapa pun yang mencurigakan dan dia tidak terlalu suka dengan manusia."
Fori mengangguk dari belakang. Ia tidak sanggup berbicara sama sekali karena pipinya mengembung berusaha mendorong kursi roda Rigel yang luar biasa berat. Sesampainya mereka di lorong menuju pintu ruangan yang disebut Capella sebagai ruang latihan, Fori sudah bersimbah keringat dan napasnya terengah-engah.
Ia sudah hanya terpaut beberapa meter saja dari pintu ruang latihan tersebut, tetapi sesuatu mendadak membuatnya bengong seketika. Bola mata Fori kini melotot saat melihat lantai ke arah pintu ruang latihan yang ternyata sedikit mendaki.
"Apa-apaan lantai ini?! Kenapa posisinya harus dibentuk naik begini?!" seru Fori kesal dan dengan napas memburu.
"Hmmh...?"
Fori menatap Rigel yang seolah tidak sadar akan situasi mereka dan asyik melamun di kursinya. "Tidak, tidak apa-apa."
Gadis itu kini melipat lengan bajunya ke atas dan kembali menghimpun kekuatannya. Setelah siap, ia mendorong naik kursi roda Rigel dengan sekuat tenaga dan berjalan tertatih selangkah demi selangkah.
Namun setelah hampir sampai di depan pintu ruang latihan, Rigel yang tidak peka dengan penderitaan maksimal Fori, secara tiba-tiba menyenderkan punggungnya di kursi rodanya. Itu membuat seluruh beban kursi rodanya mendadak semakin tertumpu ke belakang dan Fori yang sedang mengatup bibirnya karena berusaha mengeluarkan tenaga, langsung terbelalak dengan syok.
"Ri-Rigel, ja...ngan ber...san...dar," ucap Fori dengan susah payah.
Rigel sepertinya tidak menyadari ucapan Fori tersebut dan tetap memandang lintasan mendaki di depannya dengan syahdu. Hal itu membuat pipi Fori semakin mengembung sampai merah karena berusaha mendorong dengan seluruh nyawanya. Karena terlalu memforsir tenaganya sedemikian rupa, ia merasakan seolah tenaganya akan meledak di sana.
"Ri...gel...," ucap Fori lagi berusaha menahan sesuatu yang mendadak bergejolak hebat di dalam tubuhnya.
Sayangnya usaha gadis itu sudah terlambat. Sesuatu dari dalam tubuhnya itu kini benar-benar meledak tanpa pamit di sana --- sebelum gadis itu bahkan berhasil mengucapkan kalimatnya.
Tuutttt!
Fori baru saja mengeluarkan suara kentut yang sangat keras karena terlalu berusaha mengeluarkan tenaga maksimal yang melebihi kapasitas tenaga kuda. Suasana pun menjadi hening mendadak dan anehnya... di saat paling memalukan seperti itu, Rigel ternyata malah mendengar suara kentut Fori. Pria itu menoleh perlahan dengan wajah melongo ke arahnya.
"Lima Belas, a-apa kau baru saja...?"
Brruuukkk!
Fori seketika melempar kursi roda pria itu di depan pintu ruang latihan mereka --- sebelum Rigel sempat menyelesaikan kalimatnya. Rigel pun langsung jatuh terjungkal dengan wajah yang membentur lantai.
"Kenapa kau sangat berat, hah?! Apa yang kau makan selama ini sampai badanmu seberat beton?! Kau pikir aku makhluk jadi-jadian seperti kalian yang berkekuatan besar?!" teriak Fori berusaha berkelit dari rasa malunya dengan cara mengamuk kepada Rigel.
Rigel yang kini sudah membalikkan badannya di lantai langsung bengong. Ia menatap wajah Fori yang merah padam dengan ekspresi masih tidak peka.
"Ta-tapi... dari mana asal tenagamu untuk melemparku barusan?" tanya Rigel dengan nada suara yang tertekan.
"Apa kau tahu kalau aku susah payah mendorongmu sejak tadi?! Kenapa kau malah bersandar dan membuat bebannya semakin berat untukku yang manusia murni?!"
"Aku? Berat...?" gumam Rigel mengulang ucapan Fori dengan wajah masih bingung.
Fori berdecak kesal di tempatnya dan mengusap keringat di wajahnya dengan cepat. Ia lalu berusaha mengangkat tubuh Rigel dari lantai dan menaikkan kembali pria itu ke kursi roda.
Kali ini Rigel yang masih heran, membantu usaha Fori dengan menumpukan kedua tangannya di besi kursi rodanya. Gadis itu lalu membuka pintu ruang latihan di sampingnya dan mendorong kursi roda Rigel untuk masuk ke dalam tanpa bersuara lagi. Usahanya kini lebih ringan karena Rigel juga membantu memutar rodanya dari depan.
"Berhenti di sini saja," ujar Rigel kepadanya, setelah keduanya tenggelam dalam situasi kikuk. "Aku akan berlatih di sini sendirian. Kau bisa meninggalkanku sekarang."
"Kau tidak akan apa-apa?" tanya Fori dengan intonasi lebih rendah dan langsung dijawab dengan anggukan oleh Rigel. "Baiklah kalau begitu, sekarang aku akan menjemput Antares."
"Lima Belas,"---panggil Rigel mendadak sebelum Fori berjalan keluar dari ruangan itu---"terima kasih banyak."
Fori mengangguk dengan senyum tipis. Namun begitu gadis itu berlari menghilang dari sana, Rigel langsung menutup mulutnya sendiri dan tertawa geli sendiri di tempatnya.
Fori sendiri segera menghentikan larinya begitu tiba kembali di lorong koridor kamar sayap kiri. Gadis itu meletakkan satu tangannya di dinding dan membungkuk dengan napas tersengal-sengal.
Kenapa dia tidak sejak awal saja membantu memutar kursi rodanya? Dia benar-benar serupa dengan Xynth, tidak peka sama sekali! Gadis itu menggumam dalam hati dan kembali berdecak jengkel.
Fori kini membenamkan kepalanya di dinding lorong dan menepuk temboknya dengan kesal. Ah, kenapa aku sampai kentut tadi? Ini memalukan sekali! Mengapa lambungku seenaknya saja mengeluarkan gas tanpa ijin?!
"Apa tadi dia mendengarnya?" Fori mengucapkan isi benaknya dengan perasaan malu. Ia memukul-mukul jidatnya sendiri dengan frustrasi ke dinding.
"Mendengar apa?" tanya sebuah suara secara tiba-tiba dari belakang Fori.
Fori pun menoleh dan melihat Antares baru saja keluar dari kamarnya dengan memakai kursi roda. Pria itu kini terlihat memandang ke arah Fori dengan curiga.
"Kau... sudah bisa mendorong sendiri kursi rodamu?" tanya Fori kepada Antares dengan kaget. Ia menunjuk ke arah lorong di belakangnya. "Tadi aku baru saja mengantar Rigel ke ruang latihan karena dia kesusahan mendorong kursinya. Ia ada di sana sekarang dan masih kesusahan menggunakan kursi roda seorang diri."
"Aku pulih lebih cepat dibanding dengan Rigel," jawab Antares suka-suka. "Wajar jika Rigel kesusahan, dia dihantam di bagian dalam tubuhnya oleh quasar. Kekuatannya mungkin belum bisa digunakan.
"Tapi...," gumam Antares lagi, "kenapa kau yang mengantarnya? Ke mana Capella?"
"Dia sedang sibuk jadi dia memintaku membantu mendorong kursi roda kalian," jawab Fori. "Kurasa karena kau sudah lancar menggunakan tanganmu untuk menggerakkan sesuatu, kau bisa jalan sendiri ke sana, kan?"
"Berhenti di sana, Nona Lima Belas," ujar Antares menghentikan langkah Fori yang baru saja akan kabur darinya. "Aku mau jalan-jalan di taman saja. Kurasa kau harus membantuku karena di sana banyak bebatuan dan rumput."
"Ta-tapi...," ujar Fori dengan suara tertelan. Ia langsung menghentikan kalimatnya saat melihat Antares sudah bergerak maju dengan tampang cengengesan.
"Ayo, temani aku," kata pria tampan berambut pirang itu pada Fori.