Taman Labirin

2374 Kata
"Kita akan naik lift saja," ujar Antares dengan riang. "Eh? Ada lift di sini?" tanya Fori sedikit terkejut. "Tentu saja ada, semua orang di rumah ini sering cedera berat," jawab Antares dengan santai. Pria itu lalu mengajak Fori berjalan ke sisi bagian kanan lorong tengah dan menuju ke sebuah lorong lebih kecil. Selama beberapa hari di sana Fori mengira itu hanya lorong menuju toilet, tetapi ternyata benar ada lift di sana. Setelah mereka menaikinya, keduanya pun kemudian turun tepat di taman bagian belakang rumah itu yang jauh lebih luas dari bagian depannya. "Apa kau selalu ke taman jika pagi-pagi hari begini?" tanya Fori kepada Antares yang terlihat senang menikmati udara luar yang sejuk. "Tidak juga. Biasanya justru Rigel dan Xynth yang ke taman. Rigel setiap pagi selalu berlatih fisik atau memanah, kalau Xynth lebih suka berenang atau membaca di taman. Aku sendiri lebih sering menonton acara televisi manusia setiap pagi." Fori mendelik kaget. "Kau suka menonton saluran TV kami?" "Ya," jawab Antares sambil nyengir. "Kau tahu, aku suka sekali menonton tayangan kartun. Banyak warna-warna cerah yang bisa kulihat di sana." Fori langsung tertawa mendengar ucapan Antares. "Kau bercanda, kan?" "Tidak. Itu memang kebiasaanku setiap pagi. Kadang aku juga menonton sitkom atau komedi situasi. Bagiku acara-acara di televisi manusia semuanya menarik." Fori bengong di tempatnya. "Apa yang lain juga sama sepertimu?" "Yang lain sepertinya biasa saja," jawab Antares sambil mengingat-ingat. "Tapi ... Capella sering menonton drama dan acara gosip. Itu makanya sikapnya sangat dramatis dan berlebihan. Kalau Vega sering menonton dokumenter terkait temuan-temuan medis manusia. Dia suka bereksperimen soal obat. Ah, kau harus hati-hati, terkadang ... Vega akan memakai orang di rumah ini sebagai bahan eksperimennya." Fori tertawa. "Dulu saat kalian tidak pergi ke sekolah umum, apa kalian selalu menghabiskan waktu seperti itu di rumah kalian?" "Hmmh... aku dan Rigel adalah pengawal Xynth jadi kami diwajibkan Panglima Sirius --- ayah Rigel --- untuk berlatih fisik setiap pagi. Dulu, aku dan Rigel wajib berlari mengelilingi bumi beberapa kali sebelum sarapan." "Berlari mengelilingi bumi?!" tanya Fori setengah berteriak karena kaget. Antares kembali nyengir. "Ya, kalau kami diperbolehkan keluar dari bumi, mungkin panglima akan meminta kami juga berlari sampai matahari. Untungnya Panglima Sirius lebih sering bertugas di Kiklios. Yang kudengar ... ia akan datang lagi dalam waktu dekat. Ah, kami pasti akan kembali ditempa dengan kejam." "Xynth tidak ikut berlatih dengan kalian?" "Panglima Sirius tidak bisa menyuruhnya seperti menyuruh kami. Xynth masih pria dengan status tertinggi di langit. Hanya kaisar yang bisa memberikan perintah kepadanya. Tapi ... Xynth itu aneh, dia lebih banyak membaca dibanding dengan berlatih fisik." "Wah, rupanya dia suka sekali membaca. Pantas dia sangat pintar," celetuk Fori terkesima. "Errr, itu tidak seperti yang kau bayangkan. Xynth membaca hanya untuk menggerutu. Dia lebih suka menertawakan buku atau mengkritisi banyak hal di dalam sebuah buku. Namun anehnya, dia juga suka mengikuti banyak olimpiade sains hanya karena sifatnya kompetitif. "Di antara kami semua," lanjut Antares, "Xynth itu gambaran orang yang paling tidak punya kerjaan. Makanya dia aneh. Meskipun begitu kau benar saat permainan hari pertama orientasi kampus kita waktu itu. Kau ingat saat kau menganggapnya menggambar secara berlebihan? Dia sebenarnya memang suka melukis." "Benarkah? Tapi ... kenapa aku tidak melihat hasil lukisannya? Tidak ada lukisan khusus yang pernah kulihat di rumah ini," gumam Fori dengan bingung. Antares kembali tertawa. "Di kami, lukisan bukan sesuatu yang dipajang di dinding. Orang-orang di Kiklios itu rata-rata melukis langit. Hasil lukisan kami ada di langit. Terkadang manusia akan melihatnya dan terkagum-kagum. Namun tidak ada manusia yang pernah menyadari kalau langit yang kalian lihat di bumi itu adalah hasil lukisan orang-orang kami." Fori tertegun di tempatnya. "Pantas saja selama ini langit selalu terlihat indah ... atau misterius." "Ya," jawab Antares sambil tersenyum. "Pelukis paling handal di langit itu adalah kakak perempuan Rigel. Namanya Shaula. Dulu dia dan Xynth sering melukis bersama." "Shaula...," ulang Fori dengan suara suara menggumam. "Xynth dulu sangat menyukainya, tapi memang banyak yang menyukai Shaula. Dia mungkin adalah bintang yang paling anggun di Kiklios." "Xynth suka pada Shaula?" tanya Fori hati-hati. Ia merasa tidak terlalu nyaman mendengar informasi dari Antares dan itu membuatnya sedikit penasaran karena Cappela sebelumnya juga sudah pernah menyebut nama Shaula. "Sepertinya dulu begitu," jawab Antares kepadanya. "Tapi ... aku tidak tahu kalau sekarang. Mereka kan sudah lama tidak bertemu." Antares lalu menoleh ke arah Fori. Ia melihat gadis itu kini terdiam memandang ke arah sesuatu. "Hati-hati, kau tidak boleh masuk ke sana," ucap Antares mendadak kepada Fori yang tertegun memandang taman labirin sangat besar di dekat mereka. Ada sebuah papan bertuliskan 'dilarang masuk' yang tertera di depan taman itu. "Mengapa kalian membangun taman labirin itu jika melarang orang-orang masuk ke dalamnya?" "Itu bukan untuk orang-orang sembarangan," jawab Antares dengan dahi mengernyit. "Itu jalur keluar masuk ke bumi yang resmi bagi kami dari Kiklios. Bahaya bagi manusia jika nekad masuk ke sana. Mereka akan mati dan menghilang. Itu makanya kami jarang memperbolehkan manusia masuk lagi ke rumah kami, karena sejak dulu banyak dari mereka yang menghilang di sana dan tidak pernah kembali lagi." "Apa kau sedang berbicara soal manusia-manusia yang dikabarkan menghilang di rumah kalian selama ini?" tanya Fori kaget mendadak teringat kasus-kasus orang mengilang di rumah itu. "Ya, mereka semua menghilang karena semakin lama di rumah ini, lambat laun mereka penasaran dengan apa yang ada di dalam labirin. Mereka tidak tahu bahwa itu adalah pintu langit bagi kami atau jalan menuju angkasa luar bagi kalian. "Jika manusia masuk ke sana," lanjut Antares, "kalian bisa mati karena dimensi di luar angkasa sangat minim oksigen. Ada beberapa yang bahkan tidak memiliki oksigen sama sekali dan ada yang memiliki kadar oksigen terlalu tinggi sampai seratus persen. Manusia mana pun yang masuk ke dalamnya bisa sesak napas dan potensial mengalami gagal jantung." "Apa itu yang sesungguhnya terjadi kepada manusia-manusia yang hilang itu?" "Sebenarnya mereka sudah dilarang ke sana," ujar Antares lagi. "Tapi ... mungkin karena berpikir ada sesuatu yang disembunyikan di sana, mereka lalu nekad menerobos masuk. Jelas kami juga tidak bisa melakukan apa pun karena tubuh mereka sudah menghilang di angkasa luar. Karena itulah, muncul berbagai isu kalau kami membunuh mereka. Kami jelas tidak bisa memberikan jawaban terkait itu karena itu bukan sesuatu yang bisa dipahami oleh manusia." Pandangan mata Fori mengawang melihat taman labirin yang cantik tersebut. "Jadi ... bukan Alhine yang membunuh mereka selama ini?" Antares tertawa. "Sebenarnya sedikit banyak, pengaruh Alhine ada di balik kematian mereka. Sebagian dari manusia itu berlari kabur masuk ke taman labirin karena melihat hal-hal aneh dari Alhine dan ketakutan." "Sekali lagi, kusarankan kau jangan ke sana sama sekali," sambung Antares serius sambil memberi penekanan kepada Fori yang melamun, seolah sedang memikirkan sesuatu dari taman itu. "Sebenarnya saat ingatanku dibuka oleh Alhine,"---gumam Fori sambil merenung---"aku ingat kalau aku juga pernah masuk ke sana." Antares langsung membalikkan badannya ke arah Fori dengan kaget. "Apa?! Kau pernah masuk ke sana?!" Baru saja Fori akan berbicara lagi, mendadak ada suara-suara dari arah kolam renang besar yang tak jauh dari mereka. Keduanya lalu menoleh dan melihat Alpheratz tengah berenang ditemani oleh dua orang pengawalnya di pinggir kolam. Dengan cepat, Antares pun segera meluncur ke sana. "Kulihat kau kerasan lebih cepat di rumah yang bukan milikmu," sindir Antares ke arah Alpheratz sambil berjalan mendekati kolam renang. Ia memutar kursi rodanya ke bagian tepi kolam dan kemudian memandang dengan tajam ke arah dua pengawal Alpheratz di sana. "Kenapa kalian di sini?" desis Antares. "Capella akan memanggang kalian untuk menu makan malam jika kalian ketahuan ada di sini. Pria botak itu sedang sangat sibuk dan kalian malah bersenang-senang di sini dengan tuan kalian?" Dua pengawal Alpheratz tadi langsung saling menatap dengan khawatir. Tidak berapa lama, keduanya segera lari tunggang langgang ke dalam rumah dan meninggalkan tuan mereka di kolam sendirian. "Manusia Lima Belas, kau tidak mau berenang bersamaku?" tanya Alpheratz tak mengacuhkan ucapan dan gertakan Antares terhadap para pengawalnya tadi. "Kau mau menenggelamkannya seperti kejadian di danau waktu itu?" sindir Antares dengan sengit. "Tunggu!" ucap Fori mendadak. "Dia yang membuatku tenggelam di danau?" "Aku tidak membuatmu tenggelam, aku hanya mengeluarkan pikiran tergelap di dalam otakmu," jawab Alpheratz kepada Fori sambil tertawa dan merayap mendekat ke kaki mereka dari permukaan kolam. "Tidak kusangka kau memilih untuk melompat sendiri ke danau." "Dasar b******k!" umpat Fori dengan kesal. "Tapi ... siapa sebenarnya Sega?" lanjut Alpheratz sambil bertanya kepada Fori. "Kalau kuingat, kau berkali-kali menyebut namanya dalam ilusimu." "Sega?" gumam Antares mendengarkan ucapan Alpheratz. "Dia pemilik asli tubuh Xynth saat ini. Kenapa dengan Sega?" "Ah...!" Alpheratz berseru sambil tertawa. "Sekarang aku mengerti. Dia laki-laki yang disukai---" Belum selesai Alpheratz mengucapkan kalimatnya, Fori yang panik mendadak membenamkan kepala Alpheratz dari pinggir kolam sampai Alpheratz terkejut dan tidak bisa melanjutkan perkataannya. "Tu-tutup mulutmu, pembohong! Lidahmu seringan serbet warteg!" Antares seketika melongo melihat tindakan Fori yang membuat Alpheratz tenggelam di dalam air. Ia kemudian langsung terpingkal-pingkal saat melihat Alpheratz berteriak panik dari pinggir kolam renang mereka. "Serbet warteg? Apa itu?" ucap Antares sambil tertawa keras. Fori mengangkat bahu. Ia kini melepaskan Alpheratz lagi yang sudah kemasukan banyak air di mulutnya. "Alpheratz, ini bahkan belum 24 jam setelah seorang manusia memukulmu sampai K-O! Sekarang seorang manusia lainnya sudah menyerang kepalamu!" kata Antares sambil tertawa terbahak-bahak. Alpheratz yang sekarang terbatuk-batuk di permukaan kolam menatap Antares dengan jengkel. Tidak berapa lama, ia menghantam kursi roda Antares dengan kekuatannya sampai pria berambut pirang itu terjungkal masuk ke dalam kolam. "A-apa yang kau lakukan, makhluk Andromeda sialan!? Kakiku belum bisa digerakkan!" teriak Antares berusaha timbul ke permukaan air sambil menjambak rambut Alpheratz. "Kenapa kau juga menjambakku?! Kau mau dihukum mati karena menyentuh kepalaku?!" teriak Alpheratz mulai ikut panik. Keduanya kemudian saling menjambak dan menggigit untuk berusaha tidak tenggelam di kolam. Kini, giliran Fori yang melongo menyaksikan tingkah kacau mereka. Di saat keduanya tengah baku hantam di kolam, tiba-tiba sebuah petir menyambar air kolam renang dengan suara menggelegar. Baik Alpheratz maupun Antares sama-sama langsung menggelepar karena setruman kencang listrik dari air kolam, sementara Fori terbengong-bengong di tempatnya berdiri. "Diam kalian semua!" teriak Alhine dan Xynth serempak dari jendela kamar masing-masing. Rupanya jendela kamar Alhine dan Xynth di lantai dua sama-sama menghadap ke arah kolam renang. Keduanya menyaksikan keributan di antara Alpheratz dan Antares dari kamar mereka. Setelah suasana hening dan kejang-kejang keduanya menghilang, Alpheratz menendang perut Antares dan langsung tergopoh-gopoh merayap ke atas pinggiran kolam. Ia bergerak cepat untuk keluar dari sana, tetapi rupanya Antares yang ingin menyelamatkan diri karena belum bisa menggerakkan kakinya, mencengkeram kaki Alpheratz dengan kuat. Pria itu mengangkat tubuhnya untuk naik, tetapi tanpa sadar, ia juga membuat celana renang Alpheratz melorot turun begitu saja ke bawah. Alpheratz b***l seketika dan membuat suasana di sana sontak kembali hening. "Ce-celanaku...," gumam Alpheratz dengan syok. Ia melihat ke bawah kakinya dengan tampang terpukul, lalu mendongak perlahan ke jendela kamar Alhine di atas. "Kaisar melihat burungku...." Baik Antares, Fori, Xynth, dan Alhine yang masih memandang ke arah Alpheratz, ikut mematung. Tidak satu pun suara keluar dari mulut mereka. "Ti-tidaakk!" teriak Alpheratz mendadak sambil berlari histeris masuk ke dalam rumah Xynth, seraya menutupi onderdil tubuh terpentingnya dengan kedua tangannya. --- 11 Tahun Lalu di Rumah Xynth (Kilas Balik Bab 1) "Se-sega?" gumam Fori kecil kepada temannya. Ia terbelalak kaget melihat kedua bola mata temannya itu kini sudah berubah menjadi warna perak. "Who are you?" ucap anak laki-laki yang baru sehari sebelumnya masih menjadi sahabat terbaik Fori itu - dengan tatapan yang dingin dan asing. Siapa orang ini? Dia ... bukan Sega? Fori cilik menggumam dalam hati. Anak itu kemudian teringat sesuatu yang seperti ritual pemujaan setan semalam dan mulai ketakutan. Ia menyeret mundur tubuhnya dan kemudian berdiri cepat untuk berlari dari sana. "Wait!" teriak Xynth ke arahnya. Namun Fori yang ketakutan sudah berlari menjauh darinya dan menuju ke arah taman labirin yang dibangun Sol untuk seluruh orang Kiklios di rumah itu. "Wait, don't go there!" Fori masih berlari panik dan menabrak sebuah papan bertuliskan 'dilarang masuk' yang ada di depan jalur masuk taman labirin. Ia terus berlari sampai akhirnya tersadar bahwa ia berada di tempat yang sama berulang-ulang. Secara perlahan, Fori berhenti dari larinya dan melihat ke sekitarnya. Tanaman hijau serupa tembok besar mengelilinginya dan itu membuatnya kebingungan. Ia kemudian terjatuh di tempatnya dan langsung panik. Te-tempat apa ini? Gadis kecil itu berujar dalam hati dengan tubuh mulai gemetaran. Fori kemudian berdiri lagi dan berjalan pelan menelusuri taman. Semakin lama ia berjalan masuk, Fori melihat keadaan di sekitarnya semakin gelap dan lama-lama ... ia seperti berdiri di tengah langit gelap yang sangat luas dan penuh dengan cahaya bintang. I-ini.... Saat Fori tersadar bahwa ia sedang berada di angkasa luar, tenggorokan gadis itu langsung tercekat. Anak kecil itu tiba-tiba merasa kesulitan bernapas dan langsung berusaha mencari udara di sekitarnya. Ketika merasa bahwa ia semakin tidak bisa bernapas, gadis kecil itu pun semakin panik dan mulai megap-megap ke udara kosong. Ia menyentuh dadanya yang seolah seperti mau meledak dan wajahnya mulai membiru. Di saat ia berpikir bahwa ia akan mati, mendadak Fori cilik merasakan sentuhan tangan yang hangat di antara kedua pipi gembilnya. Anak laki-laki asing yang menyerupai Sega sudah ada di hadapannya dan tersenyum kepadanya. "Don't panic," ujar Xynth kepadanya dengan suara pelan dan menggema di antara langit gelap penuh bintang. "Pejamkan matamu," kata Xynth lagi, kali ini dengan bahasa yang lebih dimengerti Fori. Fori memandangnya dengan terbelalak. "Pejamkan matamu dan pegang tanganku." Entah bagaimana, Fori akhirnya memejamkan matanya dan memegang kedua tangan hangat di depannya. Ia kini mendengar suara Xynth menggaung dari dalam kepalanya. "Percayalah kepadaku dan ikuti langkahku secara perlahan," ujar Xynth lagi. Fori pun mengangguk pasrah dan mulai mengayunkan langkah kakinya di langit penuh bintang lalu melaju selangkah demi selangkah. Tiba-tiba, ia merasa lebih nyaman dan tidak lagi ketakutan. Sesaat setelah ia melangkah lebih jauh bersama teman kecilnya itu, Fori mulai bisa merasakan oksigen di sekitarnya. Ketika ia membuka matanya, ia ternyata sudah kembali berdiri di depan taman labirin dan temannya tadi ada di depannya sedang memegang kedua tangannya. "Kita sudah pulang," ujar Xynth menenangkannya. Kaki Fori yang lemas pun langsung terjatuh di atas rerumputan ketika tersadar bahwa ia baru saja selamat dari ancaman kematian. "Is she okay?" tanya seseorang yang bertubuh tinggi tegap kepada Xynth sambil berjalan mendekat. "She just got back from Kiklios," jawab Xynth ke arah pria itu dengan bahasa yang kembali tidak dipahami Fori. "Sirius, she must not remember this." "Understood. I will take care of it, Your Highness."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN