Pangeran Aneh Andromeda

2017 Kata
Aarrggh, menyebalkan! Fori berseru dalam hati di teras rumah Xynth siang itu. Kenapa di saat-saat begini aku harus datang bulan dan lupa membawa pembalut?! Gadis itu berjalan menelusuri jalan besar yang mengarah ke luar gerbang rumah Xynth sambil melirik ke kiri dan ke kanan. Tidak akan masalah kan kalau aku keluar sebentar ke mini market dan membeli pembalut? Kurasa tidak akan ada quasar yang akan menyerangku dalam jarak sedekat itu. Gadis itu menggumam dalam hati seorang diri. Ia lalu melihat pintu gerbang rumah Xynth yang sedikit terbuka dengan bingung. Aneh, bukannya gerbang ini selalu tertutup? Apa ada orang yang baru saja masuk atau keluar juga dan lupa menutupnya kembali? Setelah terdiam sesaat, Fori kemudian mengangkat bahunya lalu berjalan ke luar dari gerbang rumah Xynth dan melangkahkan kakinya menjauh dari sana. Ia kini menyusuri jalanan aspal menurun dari depan rumah megah itu. Fori yang memang sejak kecil tinggal di wilayah sekitar sana, tahu benar kalau tidak jauh dari rumah Xynth ada sebuah mini market. Gadis itu bermaksud membeli pembalut di sana. Namun hanya beberapa meter dari mini market tempat tujuannya, Fori terkejut saat melihat Alpheratz ada di jalanan yang sama dengannya. Pria aneh itu sedang terlihat bingung mengutak-atik mesin minuman otomatis di pinggir jalan. "Sedang apa kau di situ?" tanya Fori kepada Alpheratz. Pria itu lalu menoleh ke arah Fori dan terkejut dengan kehadiran gadis itu. Sesaat, ia hanya menatap tajam saja ke arah Fori. Namun kemudian pria itu mengarahkan telunjuknya ke arah mesin. "Kulihat tadi ada anak manusia yang mengambil minuman dingin dari sini dengan mudah. Aku hanya ingin ikut mencobanya," jawab Alpheratz, "tapi aneh sekali ... kenapa benda ini tidak mau memberikanku minuman?" "Itu alat minuman otomatis," cetus Fori pada Pangeran Andromeda tersebut. "Kau harus memakai koin agar mesin ini mau mengeluarkan minuman. Kau punya uang koin?" "Uang?" tanya Alpheratz bingung. "Apa itu?" Fori menghela napas. "Apa ini pertama kalinya kau ke bumi? Kenapa kau bahkan tidak tahu apa itu uang?!" "Aku memang baru kali ini ke bumi," jawab Alpheratz tidak paham. Wajahnya terlihat masih bingung. "Sini, biar aku saja yang membelinya," ujar Fori berusaha bersikap baik. Walau kesal pada Alpheratz, ia membuka dompetnya dan mengeluarkan sejumlah koin seribuan dari dalamnya. "Yang mana yang kau mau?" "Yang seperti manusia tadi," jawab Alpheratz ringkas. Dahi Fori berkerut. "Mana aku tahu manusia tadi memilih yang mana!" "Ehm, dia tadi mengambil kaleng berembun. Sepertinya minuman itu segar dan mengandung gas dingin." "Semua yang ada di sini minuman dingin!" Fori memutar bola matanya dengan kesal. "Ya sudah, aku akan memberikanmu s**u coklat dingin saja!" Fori memasukkan koinnya ke mesin tersebut dan menekan pilihannya di sana. Ia sengaja mengajarkan kepada Alpheratz, tutorial cara membeli minuman di mesin itu dan kemudian berdiri menunggu minuman mereka. Sayangnya, meski lama menunggu di depan mesin, entah bagaimana minuman pesanan mereka tidak juga keluar dari mesin koin tersebut. "Kau yakin minuman itu akan keluar dari sana?" tanya Alpheratz dengan tampang sedikit ragu. "Hahaha..., kita tunggu saja," jawab Fori berusaha terlihat yakin meski ia juga mulai sangsi. Setelah menunggu lebih lama, Fori kini mulai melotot. Ia melihat mesin itu tetap tidak juga mengeluarkan minuman pilihannya setelah hampir lima menit menunggu di sana. "Mesin b******k!" maki Fori setelah menunggu lama dengan kesal. Ia lalu mengguncang-guncang mesin itu dan menendanginya "Kenapa kau menelan uangku begitu saja?! Dasar mesin penipu bermental koruptor!" "Jadi, apakah ada minuman yang akan keluar dari benda itu?" tanya Alpheratz sambil melirik dengan curiga ke arah Fori. "Ahaha, mesin ini sepertinya sedang rusak," jawab Fori berkelit sambil menggaruk kepalanya dengan malu. "Kalau begitu, biar kuledakkan saja mesin ini," desis Alpheratz sambil menatap kesal ke arah mesin otomatis tersebut. "Awas!" "Tu-tunggu, kau tidak bisa---" Praangg! Kaca dari mesin otomatis di depan mereka sudah meledak dan runtuh seketika sebelum Fori sempat menyelesaikan kalimatnya. Gadis itu melongo kaget dan langsung mematung di tempatnya. "Jadi, yang mana yang enak di antara semua minuman manusia ini?" Alpheratz kemudian bertanya dengan santai ke arah Fori dengan raut wajah yang seolah tidak bersalah. "K-kau ... kau gila ya?! Ini tindakan kriminal. Itu sama saja dengan mencuri!" teriak Fori histeris. "Bukankah benda ini yang tadi menelan uangmu? Kudengar kau sebut dia penipu tadi." "Ta-tapi tetap saja---" "Kau mau ini, manusia Lima Belas?" tanya Alpheratz memotong kalimat Fori sambil menyodorkan sekaleng soda pada gadis itu. Ia terlihat tidak mempedulikan protes Fori kepadanya. "Aku tidak suka soda. Aku lebih suka coklat!" teriak Fori keceplosan. Ia lalu menutup mulutnya sendiri dan melirik ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada orang yang melihat mereka di sana. "Kemari kau! Ikut aku sebelum ada yang lihat kita merusak properti umum di sini!" ujar gadis itu lagi sambil menyeret lengan Alpheratz mengikutinya. Alpheratz hanya terbingung-bingung sambil melihat kaleng dingin di tangannya. Wajahnya menunjukkan kalau ia masih tidak paham bagaimana cara minum dari kaleng tertutup itu. "Kau membawaku ke mana, manusia?" tanya Alpheratz kesal setelah sadar bahwa Fori menggiringnya dengan paksa. Kaleng di tangannya sudah meledak sejak tadi karena ia tidak bisa membukanya. Kini, wajah mulus Alpheratz sudah dipenuhi muncratan cairan s**u coklat "Kita harus segera kabur dari sini. Kau mau ditangkap polisi karena merusak properti publik dan mencuri?!" ucap Fori dengan jengkel. "Kenapa mereka menangkapku?! Seharusnya mereka menangkap benda tadi!" "Diam! Kalau kau mau minuman itu, aku akan membelikanmu dari dalam mini market saja!" Fori melangkah masuk ke mini market sambil menggandeng tangan Alpheratz untuk mengikutinya. Ia lalu berjalan menuju kulkas minuman besar tempat kaleng minuman dijejer berderet --- dan mengeluarkan sekaleng s**u coklat lagi dari sana. Kali ini, gadis itu membuka tutupnya terlebih dahulu sebelum menyodorkan kaleng itu untuk Alpheratz. "Minum ini,"kata Fori sambil memberikan kaleng s**u coklat dingin di tangannya ke depan wajah Alpheratz. "Heran, orang yang tidak paham soal bumi dan manusia sepertimu kenapa bisa berkeliaran sembarangan?!" Alpheratz tidak mendengarkan Fori. Ia mengangkat kaleng dari tangan gadis itu dan memandangi benda itu dengan antusias. Pangeran Andromeda itu pun kemudian meminum s**u coklatmya sampai habis dan langsung berseru girang. "Kenapa minuman ini enak sekali? Rasanya manis dan sangat dingin." Fori menatap Alpheratz dengan heran. "Tidak ada manusia normal yang langsung meneguk habis minuman seperti itu dalam waktu beberapa detik saja," gumamnya pelan. "Berikan aku satu lagi, manusia!" seru Alpheratz padanya dengan wajah datar. "Apa kau sedang memberikan perintah kepadaku saat ini?" tanya Fori dengan wajah melongo. "Ya, aku mau satu lagi!" Gadis itu melotot selama beberapa saat ke arah Alpheratz, tetapi kemudian ia mengambil minuman itu lagi dan memberikannya kepada pria itu karena kasihan. "Kenapa kau keluar sendirian dari rumah Xynth?" "Aku bosan dan tadi haus,"---jawab Alpheratz dengan enteng sambil tetap memandangi kaleng minumannya---"tapi kalau aku mengambil minuman ke bawah, aku khawatir akan berpapasan dengan kakak iparku." "Kau malu kepada Alhine karena hal pagi tadi tapi tidak malu kepadaku?" tanya Fori sambil melirik curiga ke arah pria itu. "Jangan-jangan.... Alpheratz, apa kau menyukai Alhine?" Minuman dari mulut Alpheratz seketika langsung menyembur ke wajah Fori dan wajah pria itu spontan memerah malu --- meski juga langsung terlihat marah. "A-apa katamu? Dia itu kaisar langit - kakak iparku! Lagi pula dia ibu Xynth! Kau pikir aku mau jadi ayah tiri Xynth?! Yang benar saja! Aku tidak pernah suka pada anaknya dan aku jauh lebih muda dari mereka semua! Dasar manusia berpikiran kotor!" Fori memejamkan mata sambil mengusap cairan s**u di wajahnya dengan kesal. "Untuk ukuran orang yang mengaku tidak suka, jawabanmu terlalu panjang!" Ia lalu berjalan ke arah etalase tempat tisu lalu membuka salah satu tisu untuk mengelap wajahnya yang basah. Gadis itu kemudian melirik ke arah Alpheratz yang wajahnya juga masih penuh tetes s**u coklat. "Kemari sebentar," ucap Fori pada Alpheratz sambil menarik bahu pria itu. Ia lalu mengusap tisu yang dipegangnya ke wajah Alpheratz dengan perlahan. "Kenapa kau seperti bayi besar? Wajahmu belepotan s**u coklat tapi kau tidak peduli karena asyik meminum minuman itu." Alpheratz tercengang di tempatnya. Meskipun begitu ia diam saja dan membiarkan Fori membersihkan wajah mulusnya. "Kau tahu manusia," gumam Alpheratz dari balik tangan Fori. "Kau sudah dua kali menyentuh area kepalaku. Kalau kau bukan manusia lemah, aku sudah membunuhmu sejak pagi tadi!" "Kau sudah pernah berniat membunuhku saat di danau," balas Fori dengan nada menyindir. Alpheratz menggeram kesal. "Sudah kubilang, aku hanya memberikan ilusi gelap yang ada di kepalamu sendiri! Aku tidak tahu kalau kau akan melompat! Kejadian seperti itu hanya akan terjadi jika seseorang memang pernah memiliki hasrat mati meski hanya sedikit saja. "Seumur hidupku," lanjutnya, "meski aku bermusuhan dengan Xynth, aku tidak pernah mau meladeni kaum lemah! Aku hanya bermain-main saja waktu itu dan kalau aku ingin membunuhmu, kau sudah mati sejak awal!" Fori menatap wajah pria di depannya. "Itu ... ilusi gelap yang ada di kepalaku sendiri?" "Ya," jawab Alpheratz setelah mengatur napas lebih tenang. Ia lalu merendahkan intonasi bicaranya. "Tapi, Lima Belas... kenapa kau bisa memiliki keinginan terpendam untuk mati?" Fori terdiam sejenak sebelum menjawabnya. "Dulu saat aku masih kecil ... orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Aku tidak punya siapa pun saat itu dan tidak ada yang memperhatikanku. Aku dimasukkan ke panti asuhan begitu saja tanpa mengenal siapa pun yang di sana. Jadi kurasa, saat itu aku sempat berpikir untuk ... ikut ayah dan ibuku saja." Wajah Fori terlihat mengawang sesaat. "Untungnya sekarang aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu lagi." Alpheratz terdiam dan menatap Fori cukup lama dari tempatnya. "Aku tidak bisa mengerti kenapa ada orang yang bisa sampai memiliki pemikiran untuk mati." "Kau tidak tahu rasanya karena kau pangeran di Andromeda dan hidup dengan berkelimpahan,' jawab Fori dengan asal. "Semua orang pasti memperhatikanmu karena kau anak seorang raja! Kau tidak akan pernah merasakan bagaimana sepinya harus berjuang seorang diri di dunia." Alpheratz mendadak terdiam. Raut wajahnya terlihat seperti merasa sedikit tidak nyaman dengan ucapan Fori barusan. "Ibuku meninggal setelah melahirkanku," ucap Alpheratz secara mendadak kepada Fori. "Sejak aku kecil, ayahku tidak pernah mau menyentuhku sedikit pun. Ia tidak pernah mau mengunjungiku --- atau juga menyebut namaku sebagai anaknya tiap pertemuan petinggi Andromeda digelar. Ia hanya akan selalu menyebut nama Xynth sebagai cucunya. Apa pun yang kulakukan untuk membuatnya bangga, tidak akan pernah berhasil." "Sejak aku kecil, semua orang di Andromeda menganggap Xynth yang akan menjadi penerus ayahku," sambung Alpheratz. "Mereka menganggapku pangeran buangan dan tidak terlalu mengistimewakanku seperti bayanganmu. Aku berlatih sendiri, mengobati lukaku sendiri dan ayahku tetap menempatkanku di istana terpencil yang jauh darinya. "Ia juga tidak pernah memberikanku ucapan selamat meski aku memenangkan beberapa perang untuknya. Berbeda denganku, Xynth memiliki ibunya dan orang-orang yang menyayanginya. Orang-orang juga banyak berharap kepadanya. Tapi aku tidak punya semua itu. Seumur hidupku, aku hanya selalu berusaha membuat ayahku melihat ke arahku. Menurutmu, itu hidup yang istimewa?" Fori terdiam seketika dan memandang iba ke arah Alpheratz. "Itu kenapa kau sangat membenci Xynth?" Alpheratz tidak menjawab lagi. Ia membalikkan badan dan berjalan mengelilingi etalase-etalase di dalam mini market dengan diam. Karena kasihan, Fori kemudian mengambil sebatang coklat dan memberikannya kepada pria itu. "Kulihat sepertinya kau suka coklat, jadi kuberikan ini untukmu," kata Fori sambil tersenyum dan menyodorkan sebungkus coklat untuk Alpheratz. "Kau tahu, coklat bisa membantu meningkatkan mood. Kau harus mencobanya." Gadis itu kemudian berjalan meninggalkan Alpheratz untuk mengambil pembalut. Namun saat ia berdiri di depan etalase kebutuhan wanita tersebut, mendadak ia merasakan kepalanya sangat pusing dan terasa berat. Fori berusaha memanggil Alpheratz, tetapi tangannya gemetaran dan ia tidak sadar sudah membuat jatuh semua pembalut di sana. Bunyi berdebum keras terdengar di sana. Fori memegang kepalanya dengan kedua tangannya sambil meringis. Pandangan matanya mendadak gelap dan Fori mulai berjalan terhuyung-huyung di sepanjang lorong etalase, sebelum akhirnya ia terjatuh di atas lantai yang dingin. Alpheratz sendiri masih di tempatnya berdiri dan sedang berusaha mencari tahu cara memakan coklat di tangannya dan kebingungan. Di saat ia menoleh untuk mencari Fori, Alpheratz melihat gadis itu sudah tidak lagi ada di sana. Alpheratz kemudian bergerak untuk mencarinya di setiap lorong. Lalu saat ia menemukan Fori yang sedang terduduk di lantai sambil menunduk, pria itu seketika bingung. "Manusia Lima Belas, kenapa kau duduk di sana?" tanya Alpheratz sambil berjalan mendekatinya. "Kau belum memberitahuku caranya --- bagaimana memakan makanan ini." Fori secara perlahan mengangkat kepalanya dan mendadak menatap Alpheratz dengan bola mata berkilat-kilat. "Kenapa kau juga ada di sini, pria Andromeda sialan?!" desis Fori ke arah Alpheratz di sana dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah gelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN