Satu Jam Sebelumnya
"Xynth, kurasa tidak ada salahnya kau mencoba ini."
Antares berujar kepada Xynth di kamarnya siang itu. Baik Xynth, Antares, dan Rigel sedang sama-sama memandangi sesuatu di tangan Vega dengan serius dan dahi mengkerut.
"Tidak, aku tidak akan pernah melakukannya," jawab Xynth menggelengkan kepalanya sambil bergerak mundur dari posisinya "Kalian gila?! Untuk apa aku minum obat yang bahkan belum teruji dengan baik. Aku bukan bahan eksperimen Vega! Bagaimana kalau aku terkena efek samping?!"
"Vega, bagaimana kau bisa sampai menciptakan obat seaneh ini?" tanya Rigel dengan raut wajah yang sangat serius ke arah Vega.
"Selama ini aku sedang melakukan riset tentang penyakit manusia putra mahkota ... dan belakangan juga ditambah dengan melakukan riset obat untuk memulihkan Betelgeuse," jawab Vega tanpa ekspresi. "Namun soal para quasar ini cukup menggangguku. Putra mahkota selama ini hanya bisa menjalani pertukaran tubuh dan menetap di tubuh manusia, setelah menjalani ritual dengan Betelgeuse.
"Sayangnya, para bintang tidak bisa memasuki manusia seperti cara quasar dan harus menunggu petunjuk langit untuk bertukar tubuh. Itu makanya aku coba membuat obat ini karena terinspirasi oleh para quasar. Dengan obat ini, kau bisa memasuki sementara tubuh manusia tanpa terdeteksi siapa pun seperti para quasar.'
"Bagaimana kau bisa yakin kalau obat ini akan berhasil?" Kali ini giliran Xynth yang bertanya kepada Vega.
"Aku tidak tahu," jawab Vega dengan enteng. "Namun campuran formula di dalamnya seharusnya menghasilkan hal seperti itu."
Dahi Xynth mengernyit. "Kau sudah mengetes daya kerja obat ini?"
"Baru kepada dua pengawal Alpheratz."
"Hah?! Apa reaksi mereka?" tanya Antares terkejut.
"Aku tidak tahu. Mereka semua memakai cadar merah jadi aku tidak bisa menbedakan yang mana mereka sebenarnya untuk tahu lebih jelas reaksi masing-masingnya."
"Kalau kau tidak bisa membedakan mereka, sejak awal kenapa kau memberikan obatnya kepada mereka?!" teriak Xynth dengan emosi.
"Iseng saja, tapi kurasa...,"---ujar Vega sambil memiringkan kepalanya---" obat itu mungkin berhasil pada dua pengawal Alpheratz itu. Tidak beberapa lama setelah meminum obat itu, mereka memandang satu sama lain dan menjerit."
"Kapan kau memberikan obat itu pada mereka?" tanya Rigel lagi.
"Barusan."
"Ba-barusan?!" seru Xynth dengan mata melotot. "Kau baru saja mengetes obatnya pada mereka, lalu kini kau menawarkan obat itu kepadaku? Jadi kau anggap apa aku?! Kelinci percobaanmu?! Berani sekali kau menyuruhku meminum obat eksperimen belum teruji ini untuk bertukar tubuh dengan Lima Belas?!"
"Ibumu menyuruhmu mempelajari soal Lima Belas kemarin, jadi kurasa obat ini akan membantumu beradaptasi lebih cepat dengan tubuh Lima Belas. Tidak ada salahnya mencobanya, Putra Mahkota. Toh kau butuh tahu rasanya berada di tubuh perempuan, kan?"
"Jangan malu, Xynth, quasar juga kemarin memasuki tubuh manusia perempuan yang bernama Siska. Tidak ada yang menertawakan quasar saat melakukannya. Jadi kau tidak perlu merasa terlalu terpukul untuk menjadi perempuan juga," kata Antares sambil berusaha menyembunyikan tawanya.
Xynth mendelik ke arah Antares. "Kau mau kubunuh? Kenapa tidak kau saja yang memakan obat ini?!"
"Loh, yang butuh mempelajari soal Lima Belas kan bukan aku."
"Aku sudah mempelajari soal Lima Belas, aku sudah membaca biodatanya. Lagi pula, dia anak yatim piatu tanpa keluarga dan teman. Tidak akan ada yang akan memperhatikan semua perubahannya nanti," jawab Xynth kepada mereka semua.
"Putra Mahkota, kau tidak sedang memasuki tubuh anak kecil seperti biasanya," ujar Vega dengan nada tajam. "Kali ini kau akan memasuki tubuh dewasa seorang manusia. Pasti sudah banyak hal yang terjadi kepadanya selama ini. Meski dia tidak terlalu dekat dengan orang lain, tapi orang lain pasti banyak tahu tentangnya. Itu akan membuatmu lebih kesulitan nanti. Apalagi dia perempuan yang sudah dewasa, banyak yang tidak kau ketahui soal perempuan."
"Betul sekali," celetuk Antares. "Kau bahkan tidak tahu apa dia pernah punya pacar atau tidak, pernah suka orang atau tidak. Lalu saat sedang membeli kebutuhan sehari-hari nanti, apa kau tahu berapa ukuran kakinya? Ukuran bajunya atau ukuran behanya?"
"Ukuran beha?! Kenapa aku harus tahu sampai ke sana?" cetus Xynth dengan canggung.
Antares mengangkat jari telunjuknya dan menggoyangkannya di depan Xynth. "Cck ... cck, Xynth, kau tidak sadar bahwa nanti juga kau akan memakai beha? Kalau kau membeli beha di toserba dan pramuniaga bertanya berapa ukuran behamu, kau akan jawab dengan bagaimana?"
Xynth yang kesal langsung mencekik Antares dengan emosi membuncah. "Kenapa pikiranmu sudah sampai saja ke lingkar d**a perempuan, hah?!"
"Setahuku...," sela Rigel dengan tiba-tiba, "dia tinggal di panti asuhan selama ini, pasti semua yang di sana sudah cukup dekat dengannya, kan? Dia juga mahasiswi di kampus dan sempat menjadi ketua tim di masa orientasi Banyak yang kenal padanya. Kurasa Vega dan Antares benar, Xynth, kali ini kau harus belajar lebih ekstra tentang Lima Belas. Setidaknya kau bisa mencoba mengenal dulu tubuh perempuannya. Kita juga tidak tahu kebiasaan tubuhnya, penyakit bawaannya dan lain-lainnya, kan?"
"Ah iya, Vega," seru Antares tiba-tiba teringat sesuatu. "Berapa lama pengaruh pemakaian obat ini?"
"Seharusnya hanya tujuh jam," jawab Vega.
Antares manggut-manggut. "Lalu kalau Xynth berhasil masuk ke tubuh Lima Belas, apa yang akan terjadi kepada Lima Belas. Jiwanya kan masih hidup. Apa dia akan masuk ke tubuh Xynth juga?"
"Pada kasus pengawal Alpheratz kurasa begitu. Namun itu seharusnya tidak boleh terjadi kepada Lima Belas. Dia tidak boleh sadar jika ia mendadak terperangkap di tubuh putra mahkota. Kurasa jika meminumnya, tubuh putra mahkota harus langsung dibius selama tujuh jam untuk mencegah Lima Belas tahu bahwa ia tidak sedang berada di tubuhnya sendiri. Kalau dia tahu, dia akan banyak bertanya dan kabur karena takut. Itu bisa berbahaya untuk ritual resmi pertukaran tubuh mereka secara permanen nanti."
"Aku jelas tidak akan pernah meminum obat eksperimen yang tidak teruji ini," kata Xynth sambil membalikkan badannya dan duduk di tempat tidurnya.
"Vega, apa efek samping obat ini?" tanya Rigel pada Vega yang sejak tadi hanya memandang dengan datar ke arah ketiganya.
"Efek sampingnya mungkin hanya gatal-gatal karena alergi," jawab Vega.
Rigel mengangkat alisnya. "Gatal-gatal lagi? Kenapa kau selalu membuat obat yang mengakibatkan orang jadi gatal-gatal?"
"Efek samping hanya berlaku bagi mereka yang alergi dengan komponen obatnya. Jika dia tidak alergi, dia tidak akan mengalami gatal-gatal dan akan baik-baik saja."
"Lalu, bagaimana cara Lima Belas akan bertukar tubuh dengan Xynth? Bukankah Lima Belas juga harus meminum obat ini?" lanjut Rigel.
"Aku sudah memberikannya di minuman Lima Belas sejak makan siang tadi," jawab Vega cuek sambil memegang satu kapsul lagi di tangannya. "Semua obat ini memiliki nomor seri berpasangan. Jadi dia hanya akan bertukar tubuh dengan siapa pun yang memakan obat pasangannya ini. Selagi tidak ada yang memakan obat ini, tidak akan ada yang akan terjadi padanya."
"Bagaimana reaksi Lima Belas saat menelannya tadi?"
"Biasa saja," jawab Vega pada Rigel. "Seperti sudah kuutarakan sebelumnya, tidak ada yang akan terjadi kepadanya jika tidak ada yang meminum obat pasangannya ini."
"Xynth, kurasa kau harus mencobanya. Efek sampingnya toh hanya gatal-gatal," seru Antares kepada temannya itu.
"Kau saja. Nanti kau bisa melaporkan kepadaku tentang pengalamanmu," jawab Xynth acuh tak acuh.
"Aku sih tidak keberatan. Aku selalu ingin tahu dunia wanita seperti apa. Mungkin nanti saat mandi aku juga bisa sekalian membantu mengecek ukuran tubuh Lima Belas untukmu," ujar Antares disertai seringai lebar yang nakal. Semua yang disana spontan langsung melirik sinis ke arah Antares.
"Rigel, kau saja yang mencobanya," perintah Xynth sambil menoleh ke arah Rigel.
"Aku juga tidak masalah kalau sekedar mencoba --- jika benar efeknya hanya gatal-gatal. Tapi masalahnya ... aku bukan tipe yang penasaran dengan dunia orang lain. Aku juga tidak terlalu peka dengan detail apa pun terkait manusia. Apa itu tidak akan masalah nanti? Bukankah tujuan asli proyek ini adalah untuk tahu banyak seputar Lima Belas?"
"Ya, Rigel terlalu cuek," timpal Antares. "Kurasa dia malah akan tertidur seharian jika ada di tubuh Lima Belas. Semuanya akan sia-sia nanti."
"Aku juga tidak keberatan mencobanya. Kurasa begitu juga dengan Capella jika dia tahu tentang ini," ujar Vega sambil memandang ke arah Xynth. "Tapi, aku sedang ditugaskan ibumu untuk fokus mengurus Betelgeuse secepatnya dan kurasa Capella cukup sibuk mempersiapkan kedatangan Sirius dan lain-lainnya. Kudengar, Sirius akan membawa pasukan besar dari Kiklios."
"Xynth, kurasa tidak ada salahnya kau mencoba obat ini. Toh ini sebenarnya untukmu juga," saran Rigel dengan serius kepada pria yang kini berdiri dari tempat tidur itu. Namun Xynth tetap menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak akan pernah sudi---"
Gleeppp!
Sebelum Xynth selesai berbicara, Antares sudah melempar kapsul dari tangan Vega ke dalam mulut pria dengan bola mata perak itu. Xynth yang kaget pun segera melotot ke arah Antares yang cengengesan.
Ia bergerak mau menyerang Antares, tetapi akhirnya pria itu lebih memilih untuk langsung membungkukkan badannya di sana. Dengan panik, Xynth langsung berusaha memuntahkan obat itu dari tenggorokannya.
Sayangnya, obat eksperimental Vega itu dilempar Antares tepat di tengah tenggorokan Xynth dan sudah meluncur mulus masuk ke perutnya. Alhasil, Xynth berangsur-angsur melemah. Setelah terhuyung-huyung sesaat, ia pun mendadak terjatuh di tempatnya dan tak sadarkan diri lagi.
"Emh, Antares ... kurasa dia akan membunuhmu nanti," ucap Rigel sambil melihat tubuh Xynth yang terjatuh tak sadarkan diri di lantai. Namun Antares tidak memperdulikan ucapan Rigel dan malah tersenyum lebar.
"Ah, di mana tubuh Lima Belas sekarang? Aku harus menyaksikan apa yang terjadi pada Xynth di sana. Ini pasti akan sangat menarik!"
"Kau benar-benar pembuat onar sejati," gumam Rigel kepada Antares dengan tampang yang sengit. Ia lalu menoleh ke arah Vega yang sedang mengangkat tubuh Xynth ke atas kasur dengan jari-jarinya.
"Vega, kau yakin tidak ada efek samping pada Xynth nanti selain gatal-gatal, kan?"
"Tidak ada efek samping lainnya, tapi...," jawab Vega perlahan, "kalau efek setelah pemakaian obat ada."
Rigel mengangkat alis matanya. "Eh? Apa efek pemakaiannya?"
"Setelah tujuh jam berakhir, lambat laun akan tercipta emotional bonding atau ikatan emosional di antara kedua tubuh yang meminum obatnya."
Rigel terbelalak mendengar ucapan Vega. Namun saat ia akan bertanya lebih jauh mendadak tubuh Xynth di atas kasur bergerak. Pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya di atas tempat tidur sambil memandang ke atas langit kamarnya dengan heran.
"Eh? Aku di mana? Kenapa tiba-tiba aku bisa ada di sini?"
Buuukk!
Antares memukul kepala Xynth dengan cepat sebelum pria itu menoleh ke arah mereka dan membuat Xynth langsung tergeletak tak sadarkan diri sekali lagi.
"Itu tadi Lima Belas kan yang ada di dalam badan Xynth?" tanya Antares pada Vega.
"Ya," jawab Vega sambil mengamati tubuh Xynth. "Berarti di sana, Xynth juga sudah masuk ke tubuh Lima Belas."